Sabda Katalog Yayasan Lembaga SABDA Pendidikan Elektronik Study Teologia Awam e-Learning - Situs Sumber Bahan Pelajaran Kristen dan Pendidikan Elektronik e-Learning - Situs Sumber Bahan Pelajaran Kristen dan Pendidikan Elektronik e-Learning - Situs Sumber Bahan Pelajaran Kristen dan Pendidikan Elektronik e-Learning - Situs Sumber Bahan Pelajaran Kristen dan Pendidikan Elektronik e-Learning - Situs Sumber Bahan Pelajaran Kristen dan Pendidikan Elektronik e-Learning - Situs Sumber Bahan Pelajaran Kristen dan Pendidikan Elektronik
e-Learning - Situs Sumber Bahan Pelajaran Kristen dan Pendidikan Elektronik e-Learning - Situs Sumber Bahan Pelajaran Kristen dan Pendidikan Elektronik
Home | Bahan | Seri

Kursus Apologetika Untuk Awam I [AUA I] - Sistematika

Kategori: Sistematika | Biblika | Praktika | Historika


Kursus Apologetika Untuk Awam I [AUA I]

KURSUS APOLOGETIKA UNTUK AWAM I [AUA I]

Download Materi : TEXT | HTML | PDF
  1. Penjelasan Lengkap:

    Kursus AUA I adalah bagian pertama dari 2 bagian Kursus Apologetika untuk Awam yang disiapkan. Di AUA I ini akan dipelajari pokok-pokok penting bagaimana membangun "rumah apologetika" Kristen, khususnya dengan mempelajari tentang Allah dan karakter manusia ketika diciptakan, jatuh dalam dosa dan ditebus oleh Kristus. Akan dipelajari pula perbedaan mendasar antara filsafat Kristen dan non-Kristen.

    [Modul ini adalah modifikasi dari buku "Menaklukkan Segala Pikiran kepada Kristus" oleh Richard L. Pratt Jr. , terbitan Seminar Alkitab Asia Tenggara, Malang]

  2. Tujuan Pelajaran

    Sesudah mengerjakan seluruh pelajaran dan tugas-tugas yang diberikan dan menyelesaikan Kursus DIK, maka diharapkan peserta akan dapat:

    1. Menjelaskan "rumah apologetika" bagaimana yang seharusnya dibangun oleh orang Kristen
    2. Mengulang beberapa pokok pengajaran penting tentang karakter manusia yang diciptakan oleh Tuhan, baik ketika diciptakan, jatuh dalam dosa dan ditebus oleh Kristus.
    3. Menyebutkan dengan jelas perbedaan antara filsafat Kristen dan non-Kristen.
  3. Materi Pelajaran (6 Pelajaran)

    1. PELAJARAN 01: DASAR YANG KOKOH
      Tujuan: Dalam pelajaran ini peserta diharapkan akan mempelajari tentang pengertian apologetika secara alkitabiah dan kepentingannya.
      Baca Online : Pelajaran 01 | Pertanyaan 01 | Referensi 01a | Referensi 01b | Referensi 01c
    2. PELAJARAN 02: PERMULAAN DARI SEGALANYA
      Tujuan: Dalam pelajaran ini peserta diharapkan dapat mengerti konsep Allah sebagai Pencipta dan perbedaan esensial antara Pencita dan yang dicipta.
      Baca Online : Pelajaran 02 | Pertanyaan 02 | Referensi 02a | Referensi 02b | Referensi 02c
    3. PELAJARAN 03: KARAKTER MANUSIA SEBELUM JATUH DALAM DOSA
      Tujuan: Dalam pelajaran ini peserta diharapkan dapat mengetahui dengan jelas karakter manusia ketika diciptakan Tuhan, yaitu sebagai gambar Allah yang sempurna.
      Baca Online : Pelajaran 03 | Pertanyaan 03 | Referensi 03a | Referensi 03b | Referensi 03c
    4. PELAJARAN 04: KARAKTER MANUSIA YANG BERDOSA
      Tujuan: Dalam pelajaran ini peserta diharapkan dapat mempelajari tentang akibat kejatuhan manusia dalam dosa dan pengaruhnya dalam setiap aspek kehidupan manusia.
      Baca Online : Pelajaran 04 | Pertanyaan 04 | Referensi 04a | Referensi 04b | Referensi 04c
    5. PELAJARAN 05: KARAKTER MANUSIA SETELAH DITEBUS KRISTUS
      Tujuan: Dalam pelajaran ini peserta diharapkan dapat mengerti dengan jelas kebaikan Allah menyelamatkan manusia dari kutuk dosa dan menempatkannya kembali sebagai gambar Allah seperti semula.
      Baca Online : Pelajaran 05 | Pertanyaan 05 | Referensi 05a | Referensi 05b
    6. PELAJARAN 06: FILSAFAT NON-KRISTEN DAN KRISTEN
      Tujuan: Dalam pelajaran ini peserta diharapkan dapat membedakan dengan jelas antara filsafat non-Kristen dan Kristen dan mengerti dilema yang diharapi orang non-Kristen agar dapat ditemukan titik temu untuk menginjili mereka.
      Baca Online : Pelajaran 06 | Pertanyaan 06 | Referensi 06a | Referensi 06b


Materi Pelajaran | Pertanyaan 01 | Referensi 01a | Referensi 01b | Referensi 01c

PESTA // PENDIDIKAN ELEKTRONIK STUDI TEOLOGIA AWAM \\ PESTA

Nama Kursus: APOLOGETIKA UNTUK AWAM I (AUA I)
Nama Pelajaran: Dasar yang Kokoh
Kode Pelajaran: AUA I-P01

Pelajaran 01 - DASAR YANG KOKOH

Daftar Isi

  1. Rumah Apologetika
  2. Pengertian Apologetika Alkitabiah
  3. Kepentingan Apologetika

Doa

DASAR YANG KOKOH

"Tetapi kuduskanlah Kristus di dalam hatimu sebagai Tuhan dan siap sedialah pada segala sesuatu untuk memberi pertanggungan jawab kepada tiap-tiap orang yang meminta pertanggungan jawab dari kamu tentang pengharapan yang ada padamu, tetapi haruslah dengan lemah lembut dan hormat." (1 Pet. 3:15)

Kehidupan yang taat pada firman Tuhan adalah seperti rumah yang dibangun di atas dasar yang teguh. Akhir dari khotbah Tuhan Yesus di atas bukit berkata:

"Setiap orang yang mendengar perkataan-Ku ini dan melakukannya, ia sama dengan orang yang bijaksana, yang mendirikan rumahnya di atas batu. Kemudian turunlah hujan dan datanglah banjir, lalu angin melanda rumah itu, tetapi rumah itu tidak rubuh sebab didirikan di atas batu. Tetapi setiap orang yang mendengar perkataan-Ku ini dan tidak melakukannya, ia sama dengan orang yang bodoh, yang mendirikan rumahnya di atas pasir. Kemudian turunlah hujan dan datanglah banjir, lalu angin melanda rumah itu, sehingga rubuhlah rumah itu dan hebatlah kerusakkannya." (Mat. 7:24-27)

Tuhan Yesus menunjuk pada suatu fakta yang nyata, yakni kekuatan fondasi menentukan kemampuan rumah itu untuk dapat bertahan dari deras dan kuatnya angin yang menerjang. Jika seseorang membangun rumahnya di atas pasir, rumah itu akan runtuh; tetapi jika ia membangunnya di atas batu yang kokoh, rumah itu akan tetap berdiri teguh, walaupun diterjang angin badai yang dahsyat. Mempelajari pelajaran-pelajaran ini seperti membangun sebuah rumah di mana kita akan tinggal tenang ketika ada hujan dan angin dari orang-orang tak percaya yang menyerang rumah tersebut karena kita yakin bahwa kita membangun dasar rumah kita dari batu yang kokoh -- firman Kristus.

Sebelum meletakkan dasar, sebaiknya kita mengetahui rumah macam apa yang akan kita bangun. Karena itu, mari kita mulai dengan memikirkan dasar ini.

  1. Rumah Apologetika

    Istilah "apologetika" sering kali disalahmengerti karena biasanya dipakai saat kita bersalah kepada seseorang dan kita merasa perlu mendatangi orang tersebut untuk meminta maaf. Namun dalam pelajaran-pelajaran berikut, istilah ini akan dipakai secara terbatas untuk pengertian khusus.

    Kata "apologetika" berasal dari bahasa Yunani "apologia". Kata ini sering dipakai dalam literatur non-Kristen dan Kristen (Perjanjian Baru). Contohnya, "The Apology of Socrates" adalah sebuah catatan pembelaan Socrates yang disajikannya dalam sidang di Athena. Justin Martyr, dalam "Apology"nya, berusaha memberikan pembelaan untuk saudara-saudara seimannya dari tuduhan orang-orang tidak percaya. Pada waktu Paulus berdiri di hadapan banyak orang di Yerusalem, ia berkata, "Hai saudara-saudara dan bapa-bapa, dengarkanlah apa yang hendak kukatakan kepadamu sebagai pembelaan diri." (Kis. 22:1). Berapologetika, dalam hal ini berarti memberikan pembelaan; jadi "apologetika" adalah studi yang mempelajari bagaimana mengembangkan dan menggunakan pembelaan itu secara langsung.

    Apologetika memang merupakan suatu bidang yang mendapatkan perhatian secara khusus dari berbagai agama dan filsafat. Tetapi dalam pelajaran-pelajaran ini, perhatian kita hanya akan ditujukan pada pembelaan kebenaran kristiani yang telah diwahyukan kepada manusia melalui firman Tuhan dalam Alkitab. Apologetika semacam ini disebut "apologetika Kristen", yakni pembelaan filsafat hidup Kristen terhadap berbagai bentuk filsafat hidup non-Kristen (Cornelius Van Til, Apologetics). Karena itu, kita tidak akan mempelajari apologetika secara umum, namun hanya apologetika yang berkaitan dengan kekristenan. Sesuai dengan analogi yang telah diberikan di atas, rumah yang akan kita bangun dalam pelajaran-pelajaran berikut ini adalah rumah apologetika Kristen.

  2. Pengertian Apologetika Alkitabiah

    Ketika Tuhan Yesus berbicara mengenai fondasi kokoh yang harus mendasari setiap area kehidupan kita, fondasi kokoh itu adalah firman Allah. Firman Allah adalah satu-satunya fondasi yang dapat memberikan kekuatan yang kita butuhkan untuk tetap berdiri teguh di tengah badai dosa yang dahsyat dan menghancurkan. Alkitab Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru adalah firman Allah. Merupakan pengakuan umum semua orang Kristen bahwa Alkitab adalah:

    "Segala tulisan yang diilhamkan Allah, memang bermanfaat untuk mengajar, untuk menyatakan kesalahan, untuk memperbaiki kelakuan dan untuk mendidik orang dalam kebenaran. Dengan demikian tiap-tiap manusia kepunyaan Allah diperlengkapi untuk setiap perbuatan baik." (2 Tim. 3:16, 17)

    Alkitab adalah penuntun berotoritas yang mutlak bagi setiap orang percaya; tanpa Alkitab, kita hanya akan menerka-nerka pikiran Allah, tetapi dengan Alkitab, semua petunjuk dan pimpinan Allah dalam setiap aspek kehidupan menjadi pasti dan jelas. Seperti pemazmur katakan:

    "Firman-Mu itu pelita bagi kakiku dan terang bagi jalanku." (Maz. 119:105)

    Tidaklah cukup kalau hanya menyebutkan Alkitab sebagai fondasi untuk berapologetika karena orang percaya yang tidak terlatih pun tahu bahwa otoritas Alkitab merupakan hal yang terpenting dalam kebutuhan pembelaan iman. Serangan terbesar dalam iman Kristen ditujukan kepada Alkitab itu sendiri. Alkitab sering kali dituduh mengandung banyak kesalahan dan hanya memunyai sedikit otoritas yang tidak berbeda dengan tulisan literatur lainnya. Karena kita harus sering membela keyakinan bahwa Alkitab adalah firman Tuhan, hubungan apologetika dengan Alkitab kadang-kadang disalahmengerti. Sebagai firman Tuhan, Alkitab adalah fondasi di mana kita membangun pembelaan kita dan juga merupakan salah satu kepercayaan yang harus kita pertahankan. Dua peran Alkitab ini yang kadang kita lupakan.

    Ada orang-orang Kristen yang memiliki pandangan yang keliru mengenai karakter Alkitab sebagai fondasi dan cenderung membangun pembelaan mereka hanya di atas dasar hikmat dan kemampuan berpikir manusia. Firman Tuhan ditempatkan sebagai atap dari bangunan yang didukung oleh apologetika mereka. Kesulitan untuk mendukung firman Tuhan dengan bangunan yang didasarkan pada hikmat manusia sebagai otoritas yang tertinggi, sering kali menjadi terlampau berat. Pembangun-pembangun rumah semacam itu mungkin akan menutup mata dan mengatakan hal yang sebaliknya atau menyangkalinya, tetapi kehancuran rumah tidak dapat dihindarkan, bagaikan rumah yang dibangun di atas pasir.

    Sebagai pengikut Kristus, kita harus selalu ingat untuk membangun pembelaan iman Kristen kita di atas fondasi yang kuat, yaitu Alkitab. Dengan demikian, tidak akan ada beban yang terlampau berat untuk ditunjang dan tidak akan ada angin yang terlalu kencang untuk ditahan. Apologetika harus membela Alkitab dengan ketaatan secara mutlak kepada prinsip-prinsip pembelaan dan petunjuk yang diwahyukan oleh Alkitab sendiri.

    Peranan Alkitab sebagai penuntun dalam berapologetika dapat terlihat dengan jelas dalam 1 Pet. 3:15:

    "Tetapi kuduskanlah Kristus di dalam hatimu sebagai Tuhan! Dan siap sedialah pada segala waktu untuk memberi pertanggungan jawab kepada tiap-tiap orang yang meminta pertanggungan jawab dari kamu tentang pengharapan yang ada padamu, tetapi haruslah dengan lemah lembut dan hormat.

    Pada konteks sebelumnya, Petrus menulis tentang penderitaan yang harus dihadapi orang-orang Kristen pada masa itu. Petrus tahu bahwa dalam masa penderitaan, serangan-serangan dari dunia yang berdosa sering kali dapat membuat kita lupa bahwa kita sedang melayani Kristus dan harus tetap percaya dan taat pada-Nya. Petrus berharap para pembaca suratnya akan memberikan tanggapan yang tepat atas pertanyaan-pertanyaan yang para penganiaya mereka mungkin akan lontarkan. Karena itu, Petrus memberikan petunjuk untuk mempersiapkan diri menghadapi penderitaan itu dengan memohon supaya mereka memunyai sikap yang tepat terhadap Kristus.

    Kita harus memerhatikan dengan saksama bagaimana Petrus menyusun petunjuk dalam ayat-ayat berikut ini. Pertama, Petrus berkata, "Kuduskanlah Kristus di dalam hatimu sebagai Tuhan!" dan kemudian ia menambahkan, "siap sedialah pada segala waktu untuk memberi pertanggungan jawab ...." Sebelum pembelaan atau jawaban diberikan, Kristus harus dikuduskan terlebih dulu sebagai Tuhan yang memerintah dan mengatur setiap segi kehidupan kita.

    Perhatikanlah bahwa kita harus menguduskan Kristus sebagai Tuhan dalam hati kita. Ini tidak berarti hanya emosi saja yang harus didasarkan pada Kristus, sementara pikiran kita bebas melakukan apa yang dikehendakinya. Tidak juga berarti bahwa ke-Tuhanan Kristus harus tinggal hanya dalam hati kita yang terdalam dan tidak pernah memengaruhi jawaban-jawaban kita atas pertanyaan-pertanyaan dari dunia. Firman Tuhan mengajarkan bahwa hati adalah pusat personalitas kita, yang darinya "terpancar kehidupan" (Ams. 4:23). Hati tidak hanya memerintah emosi, tetapi juga pikiran dan setiap aspek kehidupan lainnya. Lebih dari itu, menguduskan Kristus sebagai Tuhan dalam hati kita berarti ke-Tuhanan-Nya juga akan efektif dalam semua yang kita ekspresikan, termasuk pembelaan iman kita. Karena itu, menurut Petrus, penaklukkan terhadap otoritas Kristus merupakan hal yang sangat penting dalam melakukan pembelaan yang benar dan tepat. Sebagai Tuhan, Kristus akan memimpin pada saat kita melakukan pembelaan iman. Pimpinan ini datang melalui firman-Nya, dan tanpa pimpinan-Nya, segala sesuatu akan menjadi sia-sia.

    Dalam pelajaran berikut, kita akan memerhatikan bagaimana membangun pembelaan untuk iman Kristen yang didasarkan pada batu karang yang teguh, yaitu Alkitab. Ada beragam buku yang mengajarkan bagaimana membela kebenaran iman Kristen. Keanekaragaman ini sering kali membingungkan orang Kristen. Namun di tengah kebingungan ini, ada satu hal yang tetap jelas bagi kita, yaitu jangan mengadopsi cara berapologetika hanya karena orang-orang terkenal menggunakannya, atau karena ternyata banyak yang berhasil, atau karena memberikan kekuatan kepada iman percaya kita. Jika kita rindu membangun pembelaan yang akan selalu tegak berdiri dan tidak pernah goyah dan jatuh, kita harus membangunnya di atas dasar firman Allah.

  3. Kepentingan Apologetika

    Mempelajari apologetika dan mengembangkan kemampuan berapologetika secara benar adalah tanggung jawab setiap orang percaya. Dari yang tertua sampai yang termuda, terkaya sampai yang termiskin, terpandai sampai yang sederhana, setiap orang yang telah percaya pada keselamatan dalam Yesus Kristus bertanggung jawab untuk mempelajari apologetika. Namun sering kali, maksud baik orang Kristen melaksanakan tanggung jawab ini gagal secara serius.

    Salah satu alasan yang biasa dikemukakan untuk mengabaikan apologetika terletak pada kesalahmengertian dari apa yang Tuhan Yesus katakan dalam Mat. 10:19: "Apabila mereka menyerahkan kamu, janganlah kamu kuatir akan bagaimana dan akan apa yang harus kamu katakan, karena semuanya itu akan dikaruniakan kepadamu pada saat itu juga."

    Kesalahmengertian yang serius berkenaan dengan ayat ini, khususnya jika kita membaca terjemahan dari King James: "... give no thought how or what ye shall speak ...." ("... tidak perlu dipikirkan bagaimana atau apa yang harus kita katakan ...."). Ayat tersebut sering kali ditafsirkan bahwa kita harus bersandar mutlak pada pimpinan Roh Kudus saat membela iman kita. Karena itu, kita tidak perlu mempersiapkan diri dengan mempelajari cara berapologetika.

    Lebih jauh dikatakan bahwa orang yang mempelajari apologetika malah menunjukkan bahwa ia kurang beriman dan hatinya tidak sungguh-sungguh berserah pada Allah. Penafsiran seperti ini tidak dapat dipertanggungjawabkan sebab tidak memertimbangkan pengamatan secara menyeluruh terhadap konteks dari ayat tersebut dan juga firman Tuhan secara keseluruhan.

    Perlu diperhatikan bahwa Tuhan Yesus tidak mengatakan "jangan pikirkan tentang apa yang akan kamu katakan" seperti yang sering dimengerti oleh pembaca terjemahan King James. Ayat ini sebenarnya berkenaan dengan peringatan Tuhan Yesus supaya orang-orang percaya jangan cemas dan kuatir. Pada ayat-ayat sebelumnya (Mat. 10:19), Tuhan Yesus mengatakan bahwa murid-murid-Nya akan diserahkan ke hadapan para gubernur dan raja. Kenyataan bahwa mereka akan berhadapan dengan orang-orang penting seperti itu tentu merupakan pengalaman yang sangat menggentarkan. Karena itu, Tuhan Yesus mendorong dan memberi semangat kepada para murid-Nya untuk tidak cemas dan takut. Segala ketakutan harus lenyap sebab mereka tidak akan sendiri. Tuhan Yesus mengatakan bahwa Roh Kudus dari Allah akan memberikan kepada kita kekuatan dan hikmat saat kita membutuhkannya. Seperti apa yang rasul Paulus katakan: "Pada waktu pembelaanku yang pertama tidak seorang pun yang membantu aku ... tetapi Tuhan telah mendampingi aku dan menguatkan aku ...." (2 Tim. 4:16, 17)

    Sangatlah penting untuk dimengerti bahwa jaminan akan diberikannya kekuatan dari Roh Kudus tidak boleh dipakai untuk mengganti ketekunan dan kesetiaan dalam mempelajari dan mempersiapkan diri untuk berapologetika. Contoh lain, meski kita dianjurkan untuk tidak kuatir akan makanan dan pakaian (lihat Mat. 6:25, dst.), kita tetap diminta berjerih payah bekerja untuk mendapatkannya. Demikian juga halnya dengan berapologetika, kita harus memenuhi tanggung jawab kita untuk mempersiapkan diri.

    Petrus menulis bahwa kita harus "selalu bersiap sedia (sudah mempersiapkan diri) untuk memberikan jawaban" (1 Pet. 3:15). Karena itu, mereka yang mengabaikan hal ini berarti tidak taat secara mutlak kepada ke-Tuhanan Kristus dan tidak bergantung pada Roh Kudus, sebab ketaatan dan penyerahan yang sungguh-sungguh akan dinyatakan dengan mempelajari apologetika secara serius.

    Alasan lain yang sering dipakai untuk mengabaikan apologetika adalah alasan bahwa pembelaan iman merupakan pekerjaan mereka yang terlatih (seperti pendeta atau sarjana teologi), bukan tugas orang Kristen awam. Dosen teologi dan pendeta diharapkan dapat memberikan jawaban secara sistematis, sebab apologetika bersifat terlalu filosofis, abstrak, dan tidak praktis bagi kaum awam. Oleh karena itu, banyak orang Kristen yang berpikir bahwa tugas mereka hanyalah mengabarkan Injil. Dan kalau ada pertanyaan mengenai kredibilitas iman Kristen, mereka akan membawa orang itu kepada pendeta, yang dianggap sebagai "tenaga ahli".

    Memang benar bahwa dosen teologi dan pendeta memunyai tanggung jawab yang lebih berat dalam berapologetika daripada kebanyakan kaum awam, namun ini tidak berarti berapologetika adalah tanggung jawab pendeta dan dosen saja. Setiap orang percaya bertanggung jawab untuk dapat berapologetika. Ayat yang telah kita pelajari mengatakan bahwa tidak ada pengecualian bagi orang Kristen dalam berapologetika (1 Pet. 3:15). Setiap orang harus siap untuk menderita bagi Kristus dan memberikan jawaban serta pembelaan atas pengharapan mereka di dalam Kristus.

    Lebih dari itu, Paulus secara jelas menyatakan bahwa setiap orang percaya harus menjadi pembela iman. Sebagai rasul, Paulus secara khusus "dipilih untuk menjadi pembela Injil" (Flp. 1:16). Tetapi Paulus mengerti bahwa pekerjaan berapologetika bukan hanya tanggung jawabnya sendiri. Karena itu, ia berkata pada orang-orang Filipi:

    "Memang sudahlah sepatutnya aku berpikir demikian akan kamu semua, sebab kamu ada di dalam hatiku, oleh karena kamu semua turut mendapat bagian dalam kasih karunia yang diberikan kepadaku, baik pada waktu aku dipenjarakan, maupun pada waktu aku membela dan meneguhkan Berita Injil." (Flp. 1:7)

    Paulus dipenjara karena berkhotbah mengenai Injil, tetapi orang-orang Kristen di Filipi tidak meninggalkannya. Mereka mengirimkan pemberian-pemberian yang disampaikan oleh wakil gereja mereka. Malahan, mereka sangat terlibat dengan pelayanan Paulus sehingga mereka juga "mengalami hal yang sama" (Flp. 1:30) seperti Paulus. Salah satu yang mereka alami dijelaskan sebagai "pembelaan dan pengukuhan dari Injil" (Flp. 1:7). Orang-orang Filipi dihargai dan dipuji karena mereka membela iman Kristen dengan serius. Demikian pula setiap orang yang membela iman Kristennya akan dihargai dan dipuji oleh Allah.

    Kepentingan apologetika dapat dilihat dari berbagai segi lain. Kemampuan untuk memertahankan kepercayaan kita akan membuat penginjilan lebih efektif. Kita tidak perlu takut mengemukakan masalah kekristenan di antara kawan-kawan dan tetangga kita bila kita mampu memberi jawaban atas pertanyaan-pertanyaan mereka. Kita tidak perlu takut menghadapi orang tidak percaya dari kalangan intelektual bila kita mampu memertahankan iman kepercayaan kita. Semangat penginjilan akan bertambah dengan memelajari apologetika. Lebih dari itu, keraguan orang yang mendengar Injil sering kali menjadi sirna setelah mendengar jawaban yang benar atas pertanyaan dari keraguan mereka.

    Selain itu, apologetika alkitabiah dapat menguatkan iman orang-orang percaya. Banyak orang Kristen yang terkena wabah keragu-raguan. Keraguan ini sering menjadi penyebab orang percaya kehilangan kemampuannya melayani Kristus. Apologetika memampukan orang percaya mengatasi berbagai macam pencobaan, seperti jatuh dalam ketidaksetiaan yang mungkin akan dialami. Kemampuan ini juga akan memungkinkan mereka kreatif dalam pelayanan.

    Bagi orang Kristen yang belum pernah mengalami keraguan, mempelajari apologetika secara sungguh-sungguh akan membuatnya semakin bertambah yakin dan bersemangat untuk lebih taat menjadi anak Tuhan. Apologetika adalah subjek yang sangat penting, yang seharusnya menjadi perhatian semua orang percaya.

    Dalam pelajaran yang berikut, kita akan membangun satu bata demi satu bata dari rumah apologetika yang sangat penting ini. Rumah ini akan dibangun secara kokoh atas dasar firman Tuhan. Satu pengharapan kami adalah orang percaya akan diperlengkapi untuk lebih baik lagi melayani Tuhan dan untuk membangun kerajaan-Nya dengan ketaatan pada-Nya. Serta secara efektif dapat memenangkan jiwa-jiwa yang terhilang.

-Akhir Pelajaran (AUA I-P01)--

Doa

Ya, Tuhan, Engkaulah dasar iman dan pengharapan kami. Ajarkan kepada kami untuk memiliki sikap yang siap sedia memertanggungjawabkan iman kami kepada mereka yang memintanya. Tapi terlebih dahulu, berikan kami kekuatan untuk menguduskan Engkau dalam hati kami sebagai Tuhan dan Juru Selamat supaya hidup kami sungguh mememuliakan Engkau. Amin.

(Catatan: Pertanyaan tertulis ada di bagian terpisah)

PESTA=========Pendidikan Elektronik Studi Teologia Awam==========PESTA


Materi Pelajaran | Pelajaran 01 | Referensi 01a | Referensi 01b | Referensi 01c

PESTA // PENDIDIKAN ELEKTRONIK STUDI TEOLOGIA AWAM \\ PESTA

Nama Kursus: APOLOGETIKA UNTUK AWAM I (AUA I)
Nama Pelajaran: Dasar yang Kokoh
Kode Pelajaran: AUA I-P01

Pelajaran 01 - DASAR YANG KOKOH

*Instruksi*

Harap setiap peserta mengikuti petunjuk mengerjakan tugas sbb.:

  1. Bacalah Bahan Pelajaran dan semua Referensi Pelajaran 05 dengan teliti.
  2. Bacalah Pertanyaan (A) dan (B) di bawah ini, kemudian jawablah dengan benar dan lengkap.
  3. Apabila Anda mendapatkan kesulitan sehubungan dengan isi Bahan Pelajaran, silakan menghubungi Pembimbing di:
    < yulia(at)in-christ.net >

Selamat mengerjakan!

Perhatian:

Setelah Anda menjawab tugas tertulis ini, mohon kirim kembali tugas ini dalam bentuk plain text (e-mail biasa) dan BUKAN DALAM BENTUK ATTACHMENT ke:

==> < staf-pesta(at)sabda.org >

PERTANYAAN (A):

  1. Kata Apologetika berasal dari kata Yunani, Apologia, artinya [...........].
  2. Mempelajari bidang Apologetika diumpamakan seperti membangun rumah, dimana bagian terpenting dari pembangunan ini adalah [...........].
  3. Firman Tuhan adalah satu-satunya [..........] untuk membangun rumah apologetika Kristen yang kuat.
  4. Serangan yang terbesar pada iman Kristen ditujukan kepada [........].
  5. Menurut Petrus (1 Pet. 3:15), hal pertama yang harus dilakukan orang Kristen untuk dapat melakukan apologetika dengan benar adalah [............]
  6. Tugas apologetika seharusnya dilakukan oleh [..........]
  7. Ayat yang sering disalahmengerti dan dipakai orang Kristen untuk menghindarkan diri dari tugas apologetika adalah [............]
  8. Kepentingan apologetika dapat dilihat dari beberapa segi. Sebutkan tiga kepentingan berapologetika bagi orang-orang Kristen yang melakukan:

  9. [........]
  10. [........]
  11. [........]

PERTANYAAN (B):

  1. Apakah betul bahwa banyak orang Kristen yang merasa tidak mampu untuk melakukan tugas berapologetika? Mengapa? Bagaimana mengatasinya?
  2. Sebutkan contoh tokoh-tokoh dalam Alkitab yang melakukan apologetika dan bagaimana hasilnya?

Kirimkan kembali tugas ini dalam bentuk plain text (e-mail biasa) dan BUKAN DALAM BENTUK ATTACHMENT ke:

==> < staf-pesta(at)sabda.org >

PESTA=========Pendidikan Elektronik Studi Teologia Awam==========PESTA


Materi Pelajaran | Pelajaran 01 | Pertanyaan 01 | Referensi 01b | Referensi 01c

PESTA // PENDIDIKAN ELEKTRONIK STUDI TEOLOGIA AWAM \\ PESTA

Nama Kursus: APOLOGETIKA UNTUK AWAM I (AUA I)
Nama Pelajaran: Dasar yang Kokoh
Kode Referensi: AUA I-R01a

Referensi AUA I-R01a diambil dari:

Judul buku: Pedoman Apologetika Kristen
Judul artikel: Mengenai Apologetika
Pengarang: Peter Kreeft dan Ronald K. Tacelli
Penerbit: Yayasan Kalam Hidup, Bandung, 2006
Halaman: 23 -- 31

MENGENAI APOLOGETIKA

  1. Jawaban-Jawaban terhadap Keberatan-Keberatan dalam Melakukan Apologetik. Kebanyakan orang tidak senang atau mengabaikan apologetik karena hal itu tampaknya bersifat terlalu intelektual, abstrak, dan rasional. Mereka mengemukakan bahwa kehidupan, kasih, moralitas, dan kekudusan itu jauh lebih penting daripada akal.

    Mereka yang memiliki pola berpikir sedemikian memang benar; namun mereka tidak sempat memperhatikan bahwa sebenarnya mereka pun sedang terlibat dalam proses berpikir. Kita tak dapat menghindar dari hal ini. Yang hanya dapat kita hindari adalah melakukannya secara baik. Selain itu, akal itu sebenarnya adalah sahabat, bukan musuh iman dan menjadi sahabat kekudusan, karena akal itu adalah jalan menuju kebenaran, dan kekudusan berarti mengasihi Allah yang adalah Kebenaran.

    Bukan hanya berpikir secara apologetik mengantar seseorang kepada iman dan kekudusan, melainkan iman dan kekudusan juga mengantar kepada berpikir secara apologetik. Karena kekudusan berarti mengasihi Allah, dan mengasihi Allah berarti menaati kehendak Allah, dan kehendak Allah bagi kita adalah mengenal Dia dan "siap sedia memberi pertanggungan jawab kepada tiap-tiap orang yang meminta pertanggungan jawab dari kamu tentang pengharapan yang ada padamu" (1 Ptr. 3:15).

    Akhirnya, fakta bahwa apologetik tidak sepenting seperti kasih tidak berarti bahwa apologetik itu tidak sangat, sangat penting. Fakta bahwa kesehatan tidak sepenting seperti hikmat tidak berarti bahwa kesehatan itu tidak sangat penting - misalnya jauh lebih penting cari uang.

    Seluruh argumentasi yang dikemukakan dalam buku ini, dan di dalam buku-buku lain mengenai apologetik yang pernah ditulis, kurang nilainya di hadapan Allah dibandingkan dengan perbuatan kasih kepadanya atau kepada sesama Anda. Tetapi walaupun salah satu dari argumentasi ini sangat baik, argumentasi itu sendiri memiliki nilai yang melebihi nilai uang yang Anda belanjakan.

    Sebuah alasan lain yang lebih dalam mengapa sebagian orang tidak menyenangi hal berpikir secara apologetik adalah karena mereka memutuskan untuk percaya atau tidak dengan hati mereka ketimbang dengan kepala mereka. Bahkan argumentasi yang paling sempurna pun tidak menggerakkan hati orang seperti emosi, keinginan, dan pengalaman nyata. Kebanyakan dari kita mengetahui bahwa hati kita, bukan kepala kita, yang menjadi pusat kita. Tetapi apologetik masuk sampai ke hati kita melalui kepala kita. Kepala itu sangat penting karena berfungsi menjadi pintu yang menuju ke hati. Kita hanya akan dapat mengasihi apa yang kita kenal atau ketahui.

    Selanjutnya, akal itu minimal memiliki kuasa untuk memveto. Kita tak dapat mempercayai sesuatu yang kita ketahui tidak benar, dan kita tak dapat mengasihi sesuatu yang kita percayai tidak nyata. Argumentasi-argumentasi mungkin tidak akan mengantar Anda kepada iman, tetapi pasti hal-hal itu dapat menjauhkan Anda dari iman. Karena itu kita harus terjun dan ikut serta dalam peperangan argumentasi ini.

    Argumentasi-argumentasi dapat mengantar Anda kepada iman, sama seperti sebuah mobil dapat mengantar Anda ke tepi pantai. Mobil itu rak yang dapat berenang; Anda harus meloncat masuk ke dalam air untuk dapat berenang. Namun Anda tak dapat meloncat ke dalam air apabila Anda berada ratusan kilometer dari pantai laut. Anda pertama-tama membutuhkan mobil yang akan membawa Anda ke tempat di mana Anda dapat membuat loncatan iman ke dalam air laut. Iman adalah sebuah loncatan, namun itu adalah loncatan dalam terang, bukan dalam kegelapan.

    Kepala itu laksana seorang navigator kapal. Hati itu laksana kapten kapal. (Yang dimaksud Kitab Suci dengan "hati" lebih dekat dengan "kehendak" daripada "perasaan".) Keduanya penting. Masing-masing saling menaati satu dengan yang lain dengan cara yang berbeda.

  2. Alasan-Alasan untuk Melakukan Apologetik

    Alasan pertama, bagi orang Kristen adalah karena ketaatan kepada kehendak Allah yang dinyatakan dalam firman-Nya. Penolakan untuk memberi pertanggungjawaban (alasan) bagi iman merupakan ketidaktaatan kepada Allah. Sekurang-kurangnya ada dua alasan praktis mengapa kita melakukan apologetik, yaitu: untuk meyakinkan orang tidak percaya dan untuk mengajar dan membangun orang percaya. Kalaupun tak ada orang tak percaya yang perlu diyakinkan, kita masih harus memberikan pertanggungjawaban atas iman kita, karena iman itu tidak berdiri sendiri, melainkan menghasilkan atasan- atasan sama seperti iman itu menghasilkan perbuatan baik. Iman itu mendidik akal dan akal memeriksa isi dari "iman yang telah disampaikan kepada orang- orang kudus" (Yud. 3).

    Selain itu, iman bagi orang Kristen adalah iman kepada Allah yang adalah kasih, Kekasih jiwa kita, dan Yang kita kasihi; dan semakin hati kita mengasihi seseorang, semakin besar keinginan pikiran kita untuk mengenal pribadi yang kita kasihi itu. Iman dengan sendirinya mengantar kepada akal melalui perantaraan kasih. Jadi iman itu mengantar kepada akal, dan akal mengantar kepada iman - itulah yang ingin diperlihatkan oleh buku ini. Demikianlah akal dan iman adalah sahabat, sekawan, pasangan, partner.

    Apologetik itu juga dapat diumpamakan seperti peperangan karena iman dan akal sebagai dua sahabat itu memiliki musuhmusuh yang sama. Argumentasi-argumentasi apologetik adalah seumpama perlengkapan peperangan. Perhatikan bagaimana Paulus menjelaskan tentang peperangan rohani di mana apologetik itu juga turut terlibat:

    "Memang kami masih hidup di dunia, tetapi kami tidak berjuang secara duniawi, karena senjata kami dalam perjuangan bukanlah senjata duniawi, melainkan senjata yang diperlengkapi dengan kuasa Allah, yang sanggup untuk meruntuhkan benteng-benteng. Kami mematahkan setiap siasat orang dan merobohkan setiap kubu yang dibangun oleh keangkuhan manusia untuk menentang pengenalan akan Allah. Kami menawan segala pikiran dan menaklukkannya kepada Kristus" (2 Kor. 10:3-5).

    Dalam peperangan ini kita mempertahankan iman maupun akal, karena akal adalah sahabat kebenaran, dan ketiadaan iman itu adalah ketiadaan kebenaran. Dalam mempertahankan iman, kita menguasai kembali teritorial pikiran yang kita miliki, atau yang menjadi milik Allah. Seluruh teritorial itu adalah milik Allah. Sebagaimana yang dikatakan Arthur Holmes, "Seluruh kebenaran adalah kebenaran Allah."

    Namun peperangan itu adalah untuk melawan ketidakpercayaan, bukan untuk melawan orang tidak percaya, sama seperti insulin yang diperuntukkan bagi penyakit diabetes, bukannya untuk penderita diabetes. Sasaran dari apologetik bukanlah kemenangan, melainkan kebenaran. Kedua pihak akan menang. Ucapan Abraham Lincoln juga dapat diterapkan kepada argumentasi apologetik: "Cara yang terbaik untuk dapat mengalahkan musuh Anda adalah menjadikannya teman Anda."

    Kami mengundang para kritik!ts, mereka yang skeptis, untuk berdialog dengan kami dan menulis kepada kami - demi mewujudkan kebersamaan dalam mencari kebenaran, dan demi untuk (kurang penting) memperbaiki edisi-edisi masa depan buku ini. Salah satu dari beberapa hal dalam kehidupan ini yang tak dapat membahayakan kita, adalah mencari kebenaran itu secara jujur.

  3. Mengenai Metodologi

    Suatu pendahuluan atau perkenalan kepada apologetik biasanya membahas mengenai metodologi. Namun kami tidak melakukan hal ini. Kami percaya bahwa dewasa ini pertanyaan-pertanyaan yang sekunder mengenai metodologi sering menyelewengkan perhatian kita dari pertanyaan-pertanyaan primer mengenai kebenaran. Tujuan kami adalah "kembali kepada hal-hal dasar". Kami tidak memiliki kapak metodologi khusus untuk menebang. Kami coba menggunakan standar- standar rasionalitas yang masuk akal dan prinsip-prinsip logika yang diterima secara universal dalam pembahasan-pembahasan kami. Kami mengumpulkan dan mempertajam argumentasi-argumentasi seperti orang-orang yang senang koleksi batu-batu permata berharga yang mengumpulkan dan kemudian memoles batu-batu itu supaya kelihatan lebih indah; para pembaca dapat menyusunnya sesuai dengan berbagai situasi atau latar belakang mereka sendiri.

    Namun kami harus menyampaikan satu hal mengenai metodologi, yaitu: bagaimana untuk tidak menggunakan buku [bahan] ini.

    Kami telah mengatakan bahwa argumentasi-argumentasi apologetik adalah seperti perlengkapan perang. Ini merupakan metafora yang berbahaya, karena perlengkapan perang ini tak pernah digunakan untuk memukul kepala orang. Argumentasi adalah kegiatan manusia yang merupakan bagian dari konteks sosial dan psikologis yang lebih luas. Konteks ini mencakup (1) jiwa seutuhnya (psyche) dari dua orang yang terlibat dalam suatu kegiatan dialog, (2) hubungan antara dua orang, (3) situasi di mana mereka sendiri sedang berada, dan (4) situasi sosial, kultural, dan historikal yang lebih luas di sekitar mereka. Bahkan faktor-faktor nasional, politik, rasial, dan seksual pun mempengaruhi situasi apologetis. Seseorang tidak boleh menggunakan argumentasi-argumentasi sama yang digunakan dalam berdiskusi dengan wanita India ketika berhadapan dengan seorang remaja Afrika-Amerika dari Los Angeles.

    Dengan perkataan lain, walaupun argumentasi-argumentasi itu adalah senjata-senjata, fungsinya lebih menyerupai sebuah pedang daripada sebuah bom. Kita ketahui bahwa bom tidak akan mempedulikan sasarannya. Juga tidak perlu banyak menjadi masalah tentang siapa yang menjatuhkan bom itu. Namun untuk sebuah pedang, sangat penting sekali siapa yang mengayunkannya, karena pedang itu adalah kepanjangan tangan dari orang yang memegangnya. Demikian pula, sebuah argumentasi dalam apologetik, bila benar-benar digunakan dalam dialog, merupakan kepanjangan tangan dari orang yang terlibat dalam argumentasi itu. Nada suara, kesungguhan, kepedulian, perhatian, sikap main mendengar, dan menghargai dari orang yang berargumentasi sangat penting dan menentukan seperti logikanya, bahkan terkadang lebih penting. Dunia ini dapat dimenangkan bagi Kristus bukan melalui argumentasi-argumentasi, melainkan melalui kekudusan: "Ucapan Anda terdengar sedemikian nyaring sehingga saya hampir tak dapat mendengarkan apa yang Anda katakan."

  4. Kebutuhan Akan Apologetik Dewasa Ini

    Apologetik secara khusus sangat dibutuhkan dewasa ini, khususnya di saat dunia sedang diperhadapkan pada tiga persimpangan jalan dan berbagai krisis.

    1. Peradaban Barat untuk pertama kalinya dalam sejarah sedang menghadapi bahaya sekarat. Alasannya bersifat spiritual. Peradabannya sedang kehilangan kehidupannya, jiwanya; dan jiwa yang dimaksud adalah iman Kristen. Infeksi yang sedang mematikannya bukan multikulturalisme kemajemukan budaya atau agama dan kepercayan lain - melainkan monokulturalisme sekularisme - ketiadaan iman, ketiadaan jiwa. Abad kita ini ditandai oleh pembasmian kelompok orang tertentu, kekacauan seksual, dan penyembahan uang. Apabila para nabi tidak mengucapkan kebohongan, maka kita akan mengalami kehancuran, kecuali jika kita bertobat dan "memutar kembali jarum jamnya" (bukan secara teknologi, melainkan secara spiritual). Gereja Yesus Kristus tidak akan pernah mati, namun peradaban kita bisa mati. Apabila pintu-pintu neraka tidak akan dapat menguasai gereja, maka dunia ini pun pasti tidak akan bisa melakukannya. Kami melaksanakan apologetik bukan untuk menyelamatkan gereja, melainkan untuk menyelamatkan dunia.
    2. Kita bukan hanya sedang nenghadapi krisis kultural dan kemasyarakatan, melainkan kita pun sedang berada di tengah krisis filosofis dan intelektual. Krisis yang kita sedang hadapi adalah "krisis kebenaran". Ide mengenai kebenaran objektif semakin diabaikan, ditinggalkan atau diserang - bukan hanya dari sisi praktis, melainkan juga dari sisi teoritis, secara langsung dan terbuka, terutama oleh lembaga-lembaga pendidikan dan media, yang membentuk pikiran-pikiran kita.
    3. Hal yang terakhir, tingkat yang terdalam dari krisis yang kita hadapi bukanlah bersifat kultural atau intelektual, melainkan spiritual. Yang dipertaruhkan adalah jiwa-jiwa manusia, lelaki maupun wanita yang baginya Kristus telah mati. Sebagian orang berpikir bahwa hari kiamat telah dekat. Kami bersikap skeptis terhadap ramalan seperti itu, namun kami mengetahui satu hal yang pasti: setiap orang sedang mendekati ajalnya, kematian dan hukuman kekal setiap hari. Peradaban kita bisa saja bertahan lagi sampai satu abad lagi, tetapi Anda sendiri tidak akan dapat bertahan. Anda segera akan menghadap Tuhan tanpa dapat menyembunyikan sesuatu. Sebaiknya Anda mulai belajar mengasihi dan mencari terang itu selama masih ada kesempatan, supaya Anda akan menikmati sukacita dan bukan ketakutan untuk selama-lamanya. Adalah hal yang tak sesuai dewasa ini untuk menulis hal-hal seperti ini pada masa kini -- suatu kenyataan yang berbicara banyak sekali tentang kesehatan spiritual dari masa gaya burung unta yang sedang kita hadapi ini.

  5. Kekristenan Belaka atau Ortodoks

    Kami membatasi diri kami dalam buku ini pada kepercayaan kepercayaan inti yang dikenal oleh seluruh orang Kristen ortodoks - yang disebut oleh C.S. Lewis "Kekristenan Belaka". Istilah belaka tidak diartikan sesuatu "denominasi yang terendah" yang abstrak, melainkan menunjukkan intisari atau pokok iman seperti yang disimpulkan dalam Pengakuan Iman Rasuli. Intisari pengajaran yang kuno dan tak berubah ini telah mempersatukan orang-orang, percaya yang berbeda-beda satu dengan yang lain dan telah dipergunakan pula untuk menentang orang yang tidak percaya yang berada di banyak gereja dan denominasi maupun yang berada di luar. Para teolog liberal (atau modernis, atau demytologis atau revisionis) tidak akan senang dengan buku ini, terutama tentang argumentasi- argumentasinya mengenai mukjizat-mukjizat, keabsahan Kitab Suci, realita kebangkitan, keilahian Kristus, dan realita mengenai surga dan neraka. Kami mengundang mereka untuk bergabung bersama-sama dengan mereka yang mengaku diri bukan orang-orang percaya untuk coba mengemukakan sanggahan-sanggahan terhadap argumentasi- argumentasi ini. Kami juga mengundang mereka untuk mulai mempraktekkan "pemberian label kebenaran" yang lebih akurat dalam menjelaskan posisi mereka sendiri.

    Para pembaca liberal mungkin akan mencap buku ini sebagai buku "konservatif" atau "sayap kanan". Istilah-istilah itu tidak tepat atau tak cocok.

    Istilah "konservatif" yang berlawanan dengan "progresif", mengacu kepada sesuatu dalam waktu dan sejarah, bukan kebenaran-kebenaran kekal, melainkan pendapat-pendapat atau cara-cara masa lampau yang bertentangan dengan mash depan. Sesuatu yang "progresif" pada suatu waktu dapat menjadi "konservatif" pada waktu yang lain. Pertanyaan apakah Allah, surga, atau mukjizat-mukjizat ada merupakan pertanyaan yang tidak menyangkut pendapat-pendapat yang terikat dengan waktu, melainkan menyangkut realita-realita yang tidak berubah.

    Istilah "sayap kanan" mengacu kepada orientasi politik. pasca Revolusi Perancis, yang bertentangan dengan "sayap kiri" (kira-kira sosialis), yang sama sekali tak ada kaitannya dengan apologetik Kristen. Kebenaran atau kekeliruan sosialisme dalam politik tak ada kaitannya dengan eksistensi atau noneksistensi Allah.

    Istilah teologis yang tepat bagi mereka yang menamakan diri teolog "liberal" atau "sayap kiri" atau "progresif" adalah "heretik". Secara definisi, seorang heretik adalah seorang yang menyeleweng atau meninggalkan doktrin yang esensial (dari istilah Yunani haireomai yang berarti "memilih sendiri"). Oleh karena kebanyakan kaum heretik masa kini tidak lagi percaya kepada pokok-pokok doktrin esensial, maka mereka tidak menerima label ini.

    Keberatan yang mereka kemukakan masih memiliki bobot karena gereja pernah ternoda oleh Peristiwa Inquisisi, di mana gereja melakukan kesalahan yang sama seperti yang dilakukan kaurri liberal yaitu: mengacaukan ajaran sesat dengan orang-orang sesat. Peristiwa Inquisisi Spanyol keliru menghancurkan orang-orang heretik demi untuk dengan benar menghancurkan ajaran heretik; kaum "liberal" modern keliru mengasihi ajaran heretik demi untuk dengan benar mengasihi kawan heretik.

    Apologetik bertujuan membela kekristenan ortodoks. Para penyeleweng dari kebenaran tidak senang berapologetik untuk kekristenan ortodoks karena mereka tidak mempercayai kekristenan ortodoks itu. Mereka lebih senang meminta maaf untuk itu, daripada berupaya membelanya.

----------------------------------------------------------------------
PESTA ======Pendidikan Elektronik Studi Teologia Kaum Awam====== PESTA


Materi Pelajaran | Pelajaran 01 | Pertanyaan 01 | Referensi 01a | Referensi 01c

PESTA // PENDIDIKAN ELEKTRONIK STUDI TEOLOGIA AWAM \\ PESTA

Nama Kursus: APOLOGETIKA UNTUK AWAM I (AUA I)
Nama Pelajaran: Dasar yang Kokoh
Kode Referensi: AUA I-R01b

Referensi AUA I-R01b diterjemahkan dari:

Nama situs: Carm
URL: https://www.carm.org/apologetics.htm
Judul artikel: Introduction to Apologetics
Pengarang: Matthew J. Slick
Penerbit: 1995 - 2007

PENGANTAR APOLOGETIKA Istilah "apologetika" berasal dari kata Yunani, "apologia". Artinya suatu pembelaan-pembelaan lisan. Istilah ini dipakai delapan kali di Perjanjian Baru: Kis. 22:1; 25:16; 1Kor. 9:3; 2Kor. 7:11; Flp. 1:7-8; 2 Tim. 4:16 dan 1Pet. 3:15.

"Kuduskanlah KRISTUS di dalam hatimu sebagai TUHAN! Dan siap sedialah pada segala waktu untuk memberi pertanggungan jawab kepada tiap-tiap orang yang meminta pertanggungan jawab dari kamu tentang pengharapan yang ada padamu, tetapi haruslah dengan lemah lembut dan hormat." (1 Petrus 3:15. TB.)

"Apologetika" adalah pekerjaan untuk meyakinkan orang agar mengubah cara pandang mereka". Apologetika Kristen adalah cabang kekristenan yang berkenaan dengan hal menjawab segala kritik yang melawan atau pertanyaan tentang wahyu Allah di dalam Kristus dan Alkitab. Hal ini termasuk mempelajari transmisi manuskrip alkitabiah, filsafat, biologi, matematika, evolusi, dan logika. Tetapi apologetika dapat juga berisi suatu jawaban sederhana terhadap pertanyan tentang Yesus atau sebuah ayat Alkitab.

Apologetika bisa bersifat defensif dan opensif. Filipi 1:7-8, memberikan kepada kita sifat defensifnya, "Memang sudahlah sepatutnya aku berpikir demikian akan kamu semua, sebab kamu ada di dalam hatiku, oleh karena kamu semua turut mendapat bagian dalam kasih karunia yang diberikan kepadaku, baik pada waktu aku dipenjarakan, maupun pada waktu aku membela dan meneguhkan Berita Injil. Sebab Allah adalah saksiku betapa aku dengan kasih mesra Kristus Yesus merindukan kamu sekalian." 2 Korintus 10:5-6 memberikan kepada kita sifat ofensifnya, "Kami mematahkan setiap siasat orang dan merubuhkan setiap kubu yang dibangun oleh keangkuhan manusia untuk menentang pengenalan akan Allah. Kami menawan segala pikiran dan menaklukkannya kepada Kristus dan kami siap sedia juga untuk menghukum setiap kedurhakaan, bila ketaatan kamu telah menjadi sempurna." Seorang pembela dapat dan harus membela alasannya untuk percaya (1 Pet. 3:15). Tetapi dia juga boleh menyerang. Ia dapat mencari orang-orang yang melawan Kekristenan (2 Kor. 10:5). Tentu, ia harus mengadakan persiapan sebelumnya dan semua pembelaan harus dilakukan dengan kelemahlembutan.

Apologetika adalah pekerjaan untuk meyakinkan orang agar mengubah cara pandang mereka. Hal ini mirip dengan berkhotbah karena tujuan akhirnya adalah membela dan menyajikan keabsahan dan pentingnya Injil. Ini adalah sebuah upaya untuk membujuk pendengar untuk mengubah keyakinan dan hidup mereka untuk menerimaan kebenaran alkitabiah dan menerima keselamatan dari Kristus.

Pada dasarnya, apologetika adalah sebuah pembuktian atau presupposisi[onal]. Apologetika evidesial berhubungan dengan bukti- bukti kekristenan, seperti: kebangkitan Yesus, manuskrip Alkitab, penggenapan nubuatan, mujizat-mujizat, dll. Apologetika presuposisional berhubungan dengan presuposisi-presuposisi dari pihak-pihak yang menantang Kekristenan, karena presuposisi- presuposisi itu berpengaruh pada bagaimana sudut pandang seseorang dalam melihat bukti dan alasan. Di beberapa debat dalam apologetika Kristen berkaitan dengan penggunaan bukti-bukti, alasan-alasan, filsafat-filsafat, dsb.

Haruskah seorang apologis hanya menggunakan kriteria yang dapat diterima oleh orang yang tidak percaya? Apakah kita boleh menggunakan Alkitab sebagai sebuah pembelaan posisi kita atau haruskah kita membuktikan Kekristenan tanpa Alkitab? Apakah alasan saja dapat membuktikan kebenaran keberadaan Allah atau kebenaran kekristenan? Ada berapa seharusnya alasan dan bukti yang digunakan di dalam terang pengajaran Kitab Suci sehingga Allahlah yang membukakan pikiran untuk dapat memahami? Apakah doa, penggunaan Alkitab, dan sifat keberdosaan dari orang tidak percaya berperan di dalam kesaksian? Bagaimana faktor-faktor itu berpengaruh dalam membawa seseorang yang tidak percaya untuk beriman? Pertanyaan-pertanyaan ini mudah; jawabannya ialah tidak.

Yesus memilih seorang yang cerdas-seorang terdidik secara agamawi sebagai rasul. Dia adalah Paulus. Rasul yang lain adalah nelayan sederhana, seorang pemungut pajak, seorang doktor, dll. Mereka adalah orang-orang biasa pada masanya yang bersedia dan rindu untuk dipakai oleh Tuhan. Mereka dilengkapi oleh Roh Allah dan mereka menjadi seperti bejana Allah. Allah menggunakan segala sesuatu untuk kemuliaan-Nya. Jadi, kita melakukan tugas apologetika atas dasar iman.

Tuhan sudah memanggil setiap orang Kristen untuk mempersiapkan suatu pembelaan tentang imannya. Artinya, Anda dipanggil untuk memberikan alasan terhadap pertanyaan tentang kekeristenan. Anda tidak harus seorang bergelar Ph.D. atau Anda telah kuliah di Seminari. Tetapi Anda harus siap, paling tidak memberikan sebuah jawaban untuk kepercayaan Anda. Jika Anda menemui bahwa Anda tidak dapat melakukannya, berdoalah sungguh-sungguh dan mulailah belajar.

Apa Yang Anda Pelajari?
-----------------------

Anda dapat berdoa dan meminta Tuhan untuk mengajar Anda tentang apa yang Dia inginkan untuk Anda ketahui. Mintalah kepada-Nya untuk memberikan kepada Anda suatu beban untuk sesuatu yang Anda pelajari. Tidak masalah, apapun itu. Minta saja! Apa saja yang membuat Anda tertarik di dalamnya adalah apa yang harus Anda pelajari tentangnya karena kemungkinan sesuatu yang Allah ingin Anda ketahui untuk dipakai kelak. Seperti alat-alat, lebih banyak yang Anda punya, maka lebih banyak yang dapat Anda kerjakan.

Cara lain untuk menemukan kehendak Allah bagi Anda adalah belajar dalam segala keadaan. Andaikanlah, ada seorang Saksi Yehova datang di depan pintu rumah Anda dan berdebat tentang keilahian Kristus dengan Anda dan Anda tidak mengetahui bagaimana caranya untuk membela secara Alkitabiah. Dalam kasus ini, Anda sadar bahwa Anda perlu belajar ayat-ayat pelajaran Alkitabiah yang mengajarkan bahwa Yesus adalah Allah yang menjadi Manusia. Atau mungkin seorang teman kerja bertanya kepada Anda tentang bagaimana Anda tahu bahwa Alkitab itu benar? Jika Anda tidak mempunyai suatu jawaban, berdoa dan mulailah mencari jawabannya. Pergilah ke toko buku Kristen dan belilah beberapa judul buku yang dimaksud. Ceritakan ke Pastor Anda. Anda akan belajar.

Suatu saat Allah akan membuat ayat atau judul di dalam Alkitab menjadi "hidup" bagi Anda dan mungkin ayat itu akan nampak aneh atau menarik perhatian Anda. Anda bisa mencari komentari atau buku tafsiran dan mempelajarinya. Anda juga dapat bertanya kepada yang lain tentang hal ini. Dengan demikian, Anda telah mempersiapkan diri Anda sendiri dengan belajar untuk persiapan menjawab pertanyaan- pertanyaan dan hal-hal penting lain dari seseorang untuk digiring kepada kebenaran. Anda akan terpesona betapa banyak detail-detail yang dapat digunakan oleh Allah untuk menolong Anda dalam kesaksian Anda, bahkan melaui semuanya itu, ayat-ayat yang Anda anggap asing tiba-tiba "hidup."

----------------------------------------------------------------------
PESTA ======Pendidikan Elektronik Studi Teologia Kaum Awam====== PESTA


Materi Pelajaran | Pelajaran 01 | Pertanyaan 01 | Referensi 01a | Referensi 01b

PESTA // PENDIDIKAN ELEKTRONIK STUDI TEOLOGIA AWAM \\ PESTA

Nama Kursus: APOLOGETIKA UNTUK AWAM I (AUA I)
Nama Pelajaran: Dasar yang Kokoh
Kode Referensi: AUA I-R01c

Referensi AUA I-R01c diambil dari:

Judul buku: Pedoman Apologetik Kristen 1
Judul artikel: Alasan-alasan untuk Melakukan Apologetika
Penulis: Peter Kreeft dan Ronald K. Tacelli
Penerbit: Yayasan Kalam Hidup, Bandung 2006
Halaman: 25 -- 29

ALASAN-ALASAN UNTUK MELAKUKAN APOLOGETIKA

Alasan pertama, bagi orang Kristen adalah karena ketaatan kepada kehendak Allah yang dinyatakan dalam firman-Nya. Penolakan untuk memberi pertanggungjawaban (alasan) bagi iman merupakan ketidaktaatan kepada Allah. Sekurang-kurangnya ada dua alasan praktis mengapa kita melakukan apologetik, yaitu: untuk meyakinkan orang tidak percaya dan untuk mengajar dan membangun orang percaya.

Kalaupun tak ada orang tak percaya yang perlu diyakinkan, kita masih harus memberikan pertanggungjawaban atas iman kita, karena iman itu tidak berdiri sendiri, melainkan menghasilkan alasan-alasan sama seperti iman itu menghasilkan perbuatan baik. iman itu mendidik akal dan akal memeriksa isi dari "iman yang telah disampaikan kepada orang- orang kudus" (Yud. 3).

Selain itu, iman bagi orang Kristen adalah iman kepada Allah yang adalah kasih, Kekasih jiwa kita, dan Yang kita kasihi; dan semakin hati kita mengasihi seseorang, semakin besar keinginan pikiran kita untuk mengenal pribadi yang kita kasihi itu. Iman dengan sendirinya mengantar kepada akal melalui perantaraan kasih. Jadi iman itu mengantar kepada akal, dan akal mengantar kepada iman - itulah yang ingin diperlihatkan oleh buku ini. Demikianlah akal dan iman adalah sahabat, sekawan, pasangan, partner.

Apologetik itu juga dapat diumpamakan seperti peperangan karena iman dan akal sebagai dua sahabat itu memiliki musuh-musuh yang sama. Argumentasi-argumentasi apologetik adalah seumpama perlengkapan peperangan. Perhatikan bagaimana Paulus menjelaskan tentang peperangan rohani di mana apologetik itu juga turut terlibat:

"Memang kami masih hidup di dunia, tetapi kami tidak berjuang secara duniawi, karena senjata kami dalam perjuangan bukanlah senjata duniawi, melainkan senjata yang diperlengkapi dengan kuasa Allah, yang sanggup untuk meruntuhkan benteng-benteng. Kami mematahkan setiap siasat orang dan merobohkan setiap kubu yang dibangun oleh keangkuhan manusia untuk menentang pengenalan akan Allah. Kami menawan segala pikiran dan menaklukkannya kepada Kristus" (2 Kor. 10:3-5).

Dalam peperangan ini kita mempertahankan iman maupun akal, karena akal adalah sahabat kebenaran, dan ketiadaan iman itu adalah ketiadaan kebenaran. Dalam mempertahankan iman, kita menguasai kembali teritorial pikiran yang kita miliki, atau yang menjadi milik Allah. Seluruh teritorial itu adalah milik Allah. Sebagaimana yang dikatakan Arthur Holmes, "Seluruh kebenaran adalah kebenaran Allah."

Namun peperangan itu adalah untuk melawan ketidakpercayaan, bukan untuk melawan orang tidak percaya, sama seperti insulin yang diperuntukkan bagi penyakit diabetes, bukannya untuk penderita diabetes. Sasaran dari apologetik bukanlah kemenangan, melainkan kebenaran. Kedua pihak akan menang. Ucapan Abraham Lincoln juga dapat diterapkan kepada argumentasi apologetik: "Cara yang terbaik untuk dapat mengalahkan musuh Anda adalah menjadikannya teman Anda."

Kami mengundang para kritikus: mereka yang skeptis, untuk berdialog dengan kami dan menulis kepada kami - demi mewujudkan kebersamaan dalam mencari kebenaran, dan demi untuk (kurang penting) memperbaiki edisi-edisi masa depan buku ini. Salah satu dari beberapa hal dalam kehidupan ini yang tak dapat membahayakan kita, adalah mencari kebenaran itu secara jujur.

Mengenai Metodologi

Suatu pendahuluan atau perkenalan kepada apologetik biasanya membahas mengenai metodologi. Namun kami tidak melakukan hal ini. Kami percaya bahwa dewasa ini pertanyaan-pertanyaan yang sekunder mengenai metodologi sering menyelewengkan perhatian kita dari pertanyaan- pertanyaan primer mengenai kebenaran. Tujuan kami adalah "kembali kepada hal-hal dasar". Kami tidak memiliki kapak metodologi khusus untuk menebang. Kami coba menggunakan standar-standar rasionalitas yang masuk akal dan prinsip-prinsip logika yang diterima secara universal dalam pembahasan-pembahasan kami. Kami mengumpulkan dan mempertajam argumentasi-argumentasi seperti orang-orang yang senang koleksi batu-batu permata berharga yang mengumpulkan dan kemudian memoles batu-batu itu supaya kelihatan lebih indah; para pembaca dapat menyusunnya sesuai dengan berbagai situasi atau latar belakang mereka sendiri.

Namun kami harus menyampaikan satu hal mengenai metodologi, yaitu: bagaimana untuk tidak menggunakan buku ini.

Kami telah mengatakan bahwa argumentasi-argumentasi apologetik adalah seperti perlengkapan perang. Ini merupakan metafora yang berbahaya, karena perlengkapan perang ini tak pernah digunakan untuk memukul kepala orang. Argumentasi adalah kegiatan manusia yang merupakan bagian dari konteks sosial dan psikologis yang lebih luas. Konteks ini mencakup (1) jiwa seutuhnya (psyche) dari dua orang yang terlibat dalam suatu kegiatan dialog, (2) hubungan antara dua orang, (3) situasi di mana mereka sendiri sedang berada, dan (4) situasi sosial, kultural, dan historikal yang lebih luas di sekitar mereka. Bahkan faktor-faktor nasional, politik, rasial, dan seksual pun mempengaruhi situasi apologetis. Seseorang tidak boleh menggunakan argumentasi- argumentasi sama yang digunakan dalam berdiskusi dengan wanita India ketika berhadapan dengan seorang remaja Afrika-Amerika dari Los Angeles.

Dengan perkataan lain, walaupun argumentasi-argumentasi itu adalah senjata-senjata, fungsinya lebih menyerupai sebuah pedang daripada sebuah bom. Kita ketahui bahwa bom tidak akan mempedulikan sasarannya. Juga tidak perlu banyak menjadi masalah tentang siapa yang menjatuhkan bom itu. Namun untuk sebuah pedang, sangat penting sekali siapa yang mengayunkannya, karena pedang itu adalah kepanjangan tangan dari orang yang memegangnya. Demikian pula, sebuah argumentasi dalam apologetik, bila benar-benar digunakan dalam dialog, merupakan kepanjangan tangan dari orang yang terlibat dalam argumentasi itu. Nada suara, kesungguhan, kepedulian, perhatian, sikap mau mendengar, dan menghargai dari orang yang berargumentasi sangat penting dan menentukan seperti logikanya, bahkan terkadang lebih penting. Dunia ini dapat dimenangkan bagi Kristus bukan melalui argumentasi- argumentasi, melainkan melalui kekudusan: "Ucapan Anda terdengar sedemikian nyaring sehingga saya hampir tak dapat mendengarkan apa yang Anda katakan."

Kebutuhan Akan Apologetik Dewasa Ini

Apologetik secara khusus sangat dibutuhkan dewasa ini, khususnya di saat dunia sedang diperhadapkan pada tiga persimpangan jalan dan berbagai krisis.

  1. Peradaban Barat untuk pertama kalinya dalam sejarah sedang menghadapi bahaya sekarat. Alasannya bersifat spiritual. Peradabannya sedang kehilangan kehidupannya, jiwanya; dan jiwa yang dimaksud adalah iman Kristen. Infeksi yang sedang mematikannya bukan multikulturalisme kemajemukan budaya atau agama dan kepercayan lain - melainkan monokulturalisme sekularisme - ketiadaan iman, ketiadaan jiwa. Abad kita ini ditandai oleh pembasmian kelompok orang tertentu, kekacauan seksual, dan penyembahan uang. Apabila para nabi tidak mengucapkan kebohongan, maka kita akan mengalami kehancuran, kecuali jika kita bertobat dan "memutar kembali jarum jamnya" (bukan secara teknologi, melainkan secara spiritual). Gereja Yesus Kristus tidak akan pernah mati, namun peradaban kita bisa mati. Apabila pintu-pintu neraka tidak akan dapat menguasai gereja, maka dunia ini pun pasti tidak akan bisa melakukannya. Kami melaksanakan apologetik bukan untuk menyelamatkan gereja, melainkan untuk menyelamatkan dunia.
  2. Kita bukan hanya sedang menghadapi krisis kultural dan kemasyarakatan, melainkan kita pun sedang berada di tengah krisis filosofis dan intelektual. Krisis yang kita sedang hadapi adalah "krisis kebenaran" (menggunakan istilah dari Ralph Martin). Ide mengenai kebenaran objektif semakin diabaikan, ditinggalkan atau diserang - bukan hanya dari sisi praktis, melainkan juga dari sisi teoritis, secara langsung dan terbuka, terutama oleh lembaga-lembaga pendidikan dan media, yang membentuk pikiran-pikiran kita. (Lihat Pasal 16 untuk pembelaan mengenai konsep mendasar tentang kebenaran objektif.)
  3. Hal yang terakhir, tingkat yang terdalam dari krisis yang kita hadapi bukanlah bersifat kultural atau intelektual, melainkan spiritual. Yang dipertaruhkan adalah jiwa-jiwa manusia, lelaki maupun wanita yang baginya Kristus telah mati. Sebagian orang berpikir bahwa hari kiamat telah dekat. Kami bersikap skeptis terhadap ramalan seperti itu, namun kami mengetahui satu hal yang pasti: setiap orang sedang mendekati ajalnya, kematian dan hukuman kekal setiap hari. Peradaban kita bisa saja bertahan lagi sampai satu abad lagi, tetapi Anda sendiri tidak akan dapat bertahan. Anda segera akan menghadap Tuhan tanpa dapat menyembunyikan sesuatu. Sebaiknya Anda mulai belajar mengasihi dan mencari terang itu selama masih ada kesempatan, supaya Anda akan menikmati sukacita dan bukan ketakutan untuk selama-lamanya. Adalah hal yang tak sesuai dewasa ini untuk menulis hal-hal seperti ini pada masa kini -- suatu kenyataan yang berbicara banyak sekali tentang kesehatan spiritual dari masa gaya burung unta yang sedang kita hadapi ini.

Buku ini diupayakan untuk berfungsi seperti peta penunjuk jalan dalam mencari kebenaran tentang Allah. Peta penunjuk jalan sangat berguna setiap waktu, khususnya pada masa-masa ini di mana terjadi banyak perubahan besar sehingga banyak orang berkeliling-keliling dalam keadaan tersesat, sedangkan peta yang tua itu (Alkitab) dihina, dirusak atau ditinggalkan.

----------------------------------------------------------------------
PESTA ======Pendidikan Elektronik Studi Teologia Kaum Awam====== PESTA


Materi Pelajaran | Pertanyaan 02 | Referensi 02a | Referensi 02b | Referensi 02c

PESTA // PENDIDIKAN ELEKTRONIK STUDI TEOLOGIA AWAM \\ PESTA

Nama Kursus: APOLOGETIKA UNTUK AWAM I (AUA I)
Nama Pelajaran: Permulaan dari Segalanya
Kode Pelajaran: AUA I-P02

Pelajaran 02 - PERMULAAN DARI SEGALANYA

Daftar Isi

  1. Allah dan Ciptaan-Nya
    1. Allah adalah Allah yang Tidak Bergantung atas Apa Pun (Siapa Pun)
    2. Ciptaan Bergantung pada Allah
    3. Allah Menyatakan Diri kepada Manusia
      1. Melalui Setiap Aspek dari Ciptaan-Nya
      2. Melalui Penyataan Khusus Allah
  2. Ketergantungan Manusia kepada Allah
    1. Ketergantungan Pengetahuan Manusia
    2. Ketergantungan Moralitas Manusia

Doa

PERMULAAN DARI SEGALANYA

"Pada mulanya Allah menciptakan langit dan bumi." (Kej. 1:1)

Dalam pelajaran kedua ini, kita akan mengembangkan prinsip-prinsip dan penerapan pembelaan iman Kristen berdasarkan kebenaran Alkitab sebagai firman Tuhan. Sesuai dengan keyakinan ini, ada beberapa hal yang harus dibahas. Pertama, kita akan memulainya dengan mempelajari konsep penciptaan secara alkitabiah.

  1. Allah dan Ciptaan-Nya

    Alkitab menempatkan kebenaran bahwa Allah adalah Pencipta segala sesuatu sebagai kalimat pembukaannya. Hal ini menyatakan betapa pentingnya mengakui bahwa Allah adalah Pencipta segala sesuatu. Oleh karena itu, tidaklah berlebihan bila dikatakan bahwa seluruh Alkitab berisi penjelasan mengenai kebenaran yang satu ini, yakni Allah sebagai Pencipta dan Tuhan.

    Taman Eden merupakan penyataan (wahyu) dari keharmonisan Allah dengan ciptaan-Nya. Dosa merupakan pemberontakan ciptaan melawan Penciptanya. Keselamatan merupakan pembebasan dari dosa dan hak ciptaan untuk dapat berdiri di hadapan Allah. Rasul Yohanes berbicara mengenai sifat yang hakiki dari aktivitas penciptaan Allah sebagai berikut: "Segala sesuatu dijadikan oleh Dia dan tanpa Dia tidak ada suatupun yang telah jadi dari segala yang telah dijadikan." (Yoh. 1:3)

    Jika kita mengamati Kej. 1:1, kita dapat melihat bahwa aktivitas penciptaan terdiri dari dua bagian. Di satu pihak, kita melihat Seseorang yang menciptakan. Di pihak lain, kita melihat ciptaan yang Ia ciptakan. Akibatnya, kita dapat melihat garis pemisah atau pembeda antara Allah sebagai Pencipta dengan ciptaan-Nya. Kita akan menyebut hal ini sebagai "perbedaan antara Pencipta dengan ciptaan". Ini merupakan konsep yang akan diselidiki lebih jauh dan merupakan referensi yang akan selalu kita lihat kembali.

    Perbedaan antara Pencipta dan ciptaan-Nya ini tidak boleh kita lupakan atau kesampingkan barang sedetik pun dalam usaha mengembangkan apologetika alkitabiah.

    1. Allah adalah Allah yang Tidak Bergantung atas Apa Pun (Siapa Pun)

      Orang-orang Kristen pada zaman ini kadang masih berpikir bahwa Allah hanyalah gambaran dari seorang kakek tua yang duduk di atas awan sambil memerhatikan semua peristiwa menyedihkan yang terjadi di dunia ini tanpa mampu berbuat apa-apa. Karena itu, Allah sering dilihat sebagai Allah yang tidak berguna dan tidak penting bagi dunia ini, kecuali jika manusia sendiri yang memiliki kerinduan dan kebutuhan pribadi yang ingin dipenuhi oleh Allah.

      Dalam pikiran kebanyakan orang, Allah tidak ada hubungannya dengan proses yang terjadi di dunia. Mereka mengatakan bahwa "Allah dibutuhkan hanya jika ada malapetaka atau masalah pribadi yang berat". Lebih dari itu, Allah sendiri sering dimengerti sebagai Allah yang bergantung pada ciptaan-Nya. Dia merindukan sesuatu terjadi di tengah dunia ini, namun yang Ia dapatkan adalah sebaliknya, yang tidak Ia duga, karena kepandaian tingkah manusia. Pikiran-pikiran demikian, yang jauh dari gambaran firman Tuhan, juga tumbuh di gereja.

      Allah bukanlah Allah yang tidak dapat berdiri sendiri atau seperti "ayah yang hanya bisa duduk manis"; padahal Ia adalah Pencipta yang Mahakuasa serta terus-menerus terlibat dan bertanggung jawab atas ciptaan-Nya. Roma 11:36 berbicara mengenai hal ini:

      "Sebab segala sesuatu adalah dari Dia, dan oleh Dia, dan kepada Dia: Bagi Dialah kemuliaan sampai selama-lamanya!"

      Pengamatan yang lebih teliti pada bagian firman Tuhan ini akan menyatakan kedalaman dari pengetahuan tentang Allah. Pertama, Paulus berkata bahwa semua ciptaan adalah "dari Dia". Ayat ini berarti Allah menciptakan dari yang tidak ada menjadi ada dan semua ciptaan tidak terjadi dengan sendirinya. Kedua, Paulus mengatakan ciptaan diciptakan "bagi Dia". Ini berarti ciptaan diciptakan untuk kemuliaan Allah dan untuk menyenangkan Allah, bukan untuk manusia atau ciptaan lain.

      Penciptaan adalah "melalui Dia". Di sini, Paulus tidak berbicara mengenai awal atau akhir dari hubungan Allah dengan ciptaan-Nya. Ia berbicara mengenai Allah sebagai Pencipta yang memelihara dan menunjang keberadaan ciptaan-Nya setiap saat sampai akhir. Ciptaan dapat terus melangsungkan keberadaannya oleh karena Allah.

      Inti dari kebenaran ini adalah: Sebagaimana Allah berkuasa menciptakan dari permulaan, Dia juga berkuasa memungkinkan atau mendukung ciptaan ini untuk terus ada sampai sekarang. Demikian juga Allah tidak diciptakan oleh ciptaan-Nya, Dia sekarang pun tidak didukung oleh ciptaan-Nya dalam hal apa pun juga.

      "dan (Allah) juga tidak dilayani oleh tangan manusia, seolah-olah Ia kekurangan apa-apa, karena Dialah yang memberikan hidup dan nafas dan segala sesuatu kepada semua orang." (Kis. 17:25)

      Sangat jelas dikatakan bahwa Allah tidak membutuhkan apa pun yang harus atau dapat dipenuhi oleh ciptaan-Nya, karena pada kenyataannya yang terjadi adalah sebaliknya, segala sesuatu yang dibutuhkan oleh ciptaan dipenuhi oleh Allah. Allah adalah Allah yang tidak bergantung atas apa pun atau siapa pun.

    2. Ciptaan Bergantung pada Allah

      Jika kita mengatakan bahwa Allah adalah Allah yang tidak bergantung pada apa pun (siapa pun), di lain pihak kita harus menegaskan ketergantungan ciptaan pada Allah sebagai Pencipta. Kita tahu bahwa ketergantungan anak pada orang tua akan semakin berkurang saat mereka tumbuh menjadi dewasa. Bahkan bayi yang baru lahir pun, pada waktu yang singkat masih dapat hidup tanpa orang tuanya. Tetapi tidak demikian halnya dengan ketergantungan ciptaan kepada Allah. Ciptaan tidak dapat memisahkan keberadaannya dari Allah atau tidak dapat berdiri sendiri sedetik pun tanpa kuasa pemeliharaan Allah. Demikian kata firman Tuhan:

      "Dialah yang memberikan hidup dan nafas dan segala sesuatu kepada semua orang." (Kis. 17:25)

      "Ia ada terlebih dahulu dari segala sesuatu dan segala sesuatu ada di dalam Dia." (Kol. 1:17)

      Allah mengatur, memenuhi kebutuhan, dan memelihara segala sesuatu tanpa terkecuali. Dari yang terbesar sampai yang terkecil, setiap aspek dari ciptaan secara keseluruhan bergantung kepada Allah untuk kelangsungan keberadaannya.

      Kita harus setuju dengan John Calvin, bahwa kepercayaan pada Allah sebagai Pencipta harus disertai dengan kepercayaan bahwa Allah adalah Pengontrol sejarah. Dunia tidak dapat berlangsung dengan kekuatannya sendiri. Segala keberadaan adalah dari Allah dan melalui Allah. Karena itu, kita harus berpikir bahwa ciptaan secara keseluruhan bergantung kepada Allah.

      Kita dapat melihat dalam pelajaran yang berikutnya bahwa kesadaran akan perbedaan antara Allah yang berdiri sendiri dengan ciptaan yang bergantung pada Penciptanya merupakan hal yang membedakan antara orang-orang Kristen dengan non-Kristen. Orang Kristen berusaha melihat segala sesuatu dari sudut pandang ciptaan yang bergantung pada sang Pencipta, sedangkan orang non-Kristen mencoba untuk menyangkal ketergantungannya dari sang Pencipta.

      Penyangkalan yang sangat keras atas perbedaan Pencipta dan ciptaan dari orang-orang tidak percaya akan dapat dilihat dari ketidakpercayaan mereka pada keselamatan dalam Kristus. Mereka menempatkan Allah dan ciptaan-Nya saling bergantung dan mengatakan bahwa ciptaan bergantung pada Allah hanya dalam taraf tertentu saja. Orang tidak percaya mengemukakannya dengan berbagai cara, tetapi pada intinya adalah sama -- penyangkalan akan perbedaan antara Pencipta dan ciptaan.

    3. Allah Menyatakan Diri kepada Manusia

      Sebagai orang Kristen, kita harus menekankan perbedaan antara Allah (Pencipta) dan ciptaan-Nya. Kita juga tidak boleh melupakan bahwa Allah telah menyatakan diri-Nya sendiri dan kehendak-Nya kepada manusia. Walaupun Allah telah mengadopsi berbagai cara untuk menyatakan diri-Nya pada waktu yang berbeda, kita akan memerhatikan dua cara yang Allah pilih untuk menyatakan diri-Nya sepanjang waktu.

      1. Melalui Setiap Aspek dari Ciptaan-Nya

        Secara luar biasa, Allah telah membangun seluruh jaga raya ini sehingga setiap bagiannya menyatakan diri-Nya kepada manusia. Setiap elemen dari dunia, tanpa kecuali, menyatakan Allah dan kehendak-Nya kepada manusia.

        "Langit menceritakan kemuliaan Allah, dan cakrawala memberitakan pekerjaan tangan-Nya; hari meneruskan berita itu kepada hari, dan malam menyampaikan pengetahuan itu kepada malam." (Maz. 19:1-2)

        Ciptaan dengan segala keindahan dan kemegahannya menyatakan kemegahan dan kualitas Allah dan tuntutan kebenaran yang Ia minta dari manusia. Sebagaimana yang dikatakan Paulus dalam Roma 1:20, 32:

        "Sebab apa yang tidak nampak daripada-Nya, yaitu kekuatan-Nya yang kekal dan Keilahian-Nya, dapat nampak kepada pikiran dari karya-Nya sejak dunia diciptakan, sehingga mereka tidak dapat berdalih .... Sebab walaupun mereka mengetahui tuntutan-tuntutan hukum Allah, yaitu bahwa setiap orang yang melakukan hal-hal demikian patut dihukum mati, mereka bukan saja melakukannya sendiri, tetapi mereka juga setuju dengan mereka yang melakukannya."

        Meskipun manusia, yang telah jatuh dalam dosa, menyangkalinya dan orang-orang Kristen sering kali menemukan kesulitan untuk melihatnya, Alkitab mengajarkan secara jelas bahwa Allah telah menyatakan diri-Nya dalam setiap aspek ciptaan dan semua manusia, bahkan rupa manusia sendiri menyatakan semua itu.

        Penyataan Allah ini tidak dapat dihindari atau disangkali. Kita tidak dapat mengetahui satu aspek dari ciptaan tanpa memikirkan Penciptanya. "Langit memberitakan keadilan-Nya, dan segala bangsa melihat kemuliaan-Nya." (Maz. 97:6)

        Contohnya, tidaklah cukup untuk mengetahui bahwa sapi makan rumput. Pengertian yang benar akan sapi dan rumput akan menyatakan kuasa pemeliharaan Allah serta tanggung jawab manusia untuk menaklukkan ciptaan yang lain bagi kemuliaan Allah (lihat Kej. 1:28). Jarak terdekat antara bumi dan salah satu bintang akan dapat dimengerti hanya dengan kesadaran terhadap penyataan Allah. Begitu besarnya jarak tahun cahaya semata-mata merupakan pekerjaan tangan Allah dan memerlihatkan kepada manusia akan kebutuhan mereka untuk merendahkan diri di hadapan Allah dan bersyukur atas anugerah-Nya (lihat Maz. 8:1-5).

        Sebagaimana ciptaan tidak dapat terpisah dari Allah, ciptaan tidak dapat berdiam diri mengenai keberadaan Allah. Semakin seseorang mengerti tentang fakta-fakta dari jagat raya ini, semakin kita menyadari bahwa semua itu menyatakan Allah dan kehendak-Nya.

      2. Melalui Penyataan Khusus Allah

        Dalam banyak hal, Allah selalu membarengi penyataan-Nya akan ciptaan dengan penyataan-Nya secara khusus mengenai diri-Nya. Di taman Eden, Allah berbicara dengan suara-Nya kepada Adam mengenai pohon pengetahuan yang baik dan jahat. Kepada para patriakh (Abraham, Musa, dll.), Allah menyatakan diri-Nya melalui mimpi-mimpi dan penglihatan-penglihatan. Kepada Musa, Allah berbicara di semak duri yang menyala dan di atas kitab batu. Kepada para rasul, Ia berbicara melalui kehidupan dan perkataan Tuhan Yesus, Putra-Nya. Pada masa kini, Allah berbicara melalui Alkitab sebagai firman Tuhan yang telah diinspirasikan oleh Roh Kudus.

        Penggunaan beberapa aspek tertentu dari ciptaan untuk menyatakan wahyu dimaksudkan untuk menambahkan kualitas pewahyuan dari ciptaan yang lain. Sebelum dosa masuk ke dalam dunia, ketaatan manusia diuji dengan wahyu khusus. Setelah kejatuhan manusia ke dalam dosa, penyataan secara khusus memunyai dua maksud, yakni untuk memerlihatkan jalan keselamatan melalui Kristus dan untuk menolong manusia mengerti lebih baik tentang penyataan akan Allah dan kehendak-Nya dalam aspek-aspek ciptaan lain.

        Dosa telah menempatkan manusia di bawah penghakiman dan membutakan kesadaran manusia terhadap penyataan Allah melalui semua ciptaan. Akibatnya, firman Allah berfungsi sebagai alat di mana melaluinya manusia mengerti akan dirinya sendiri, dunia, dan Allah.

        "Segala tulisan yang diilhamkan Allah, memang bermanfaat untuk mengajar, untuk menyatakan kesalahan, untuk memperbaiki kelakuan dan untuk mendidik orang dalam kebenaran. Dengan demikian tiap-tiap manusia kepunyaan Allah diperlengkapi untuk setiap perbuatan baik." (2 Tim. 3:16, 17)

        Penyataan (wahyu) Allah melalui firman Tuhan diberikan kepada kita untuk memimpin kita kepada pengetahuan yang benar. Penyataan Allah melalui semua ciptaan dan firman Tuhan tidak menghapuskan kepastian perbedaan antara Pencipta dan ciptaan. Sebagaimana kita ketahui, semua bentuk penyataan Allah pada manusia justru menunjukkan perbedaan atau pemisahan yang harus diakui oleh manusia.

  2. Ketergantungan Manusia kepada Allah

    Pemazmur mengingat kedudukan kita sebagai manusia dengan perkataan ini:

    "Ketahuilah, bahwa Tuhanlah Allah: Dialah vang menjadikan kita dan punya Dialah kita, umat-Nya dan kawanan domba gembalaan-Nya." (Maz. 100:3)

    Manusia tidak lebih dan tidak kurang dalam hal ketergantungannya pada Allah dibandingkan ciptaan Allah yang lain; keduanya adalah ciptaan Allah yang perlu Ia dukung. Manusia merupakan mahkota dari aktivitas penciptaan Allah, tetapi ia tetap merupakan makhluk ciptaan dan akan kembali kepada debu nantinya (Kej. 2:7).

    "Di dalam Dia kita hidup dan bergerak." (Kis. 17:28). Karena itu, bila terpisah dari Allah, kita bukanlah apa-apa. Segala sesuatu yang dimiliki manusia merupakan pemberian Allah. Layaknya ciptaan lain, bila Allah lepas tangan atas kita, kita akan berhenti dari keberadaan kita karena kita ada semata-mata hanya karena kehendak-Nya.

    Ketergantungan manusia secara mutlak pada Allah memunyai banyak implikasi, namun ada dua aspek dari kebutuhan kita akan Allah yang secara khusus penting untuk pekerjaan apologetika selanjutnya.

    1. Ketergantungan Pengetahuan Manusia

      Perbedaan antara Pencipta dan ciptaan memengaruhi pandangan iman Kristen akan kemampuan manusia untuk mengetahui dirinya sendiri, dunia di sekelilingnya, dan Allah. Dalam pelajaran berikut ini, kita akan memerhatikan diri kita sendiri dalam hal pengetahuan, khususnya setelah dicemari oleh dosa.

      Jika manusia secara mutlak bergantung pada Allah, maka demikian juga dalam hal pengetahuan. Pengetahuan Allah akan diri-Nya dan ciptaan adalah berdiri sendiri, namun pengetahuan manusia tidak. Pemazmur mengatakan:

      "Sebab pada-Mu ada sumber hayat, di dalam terang-Mu kami melihat terang." (Maz. 36:10)

      Lepas dari pengetahuan Allah melalui penyataan-Nya dalam ciptaan dan firman Tuhan, kita tidak akan pernah mengerti pengetahuan apa pun. Allah mengetahui segala sesuatu, karena itu kita bergantung pada pengetahuan-Nya untuk dapat mengetahui sesuatu. Setiap pengertian yang benar yang telah manusia dapatkan, baik secara sadar atau tidak sadar, semua itu didapatkan dari Allah. Hal ini berlaku bagi manusia pertama dan semua orang sampai sekarang. Tuhan Yesus sendiri mengakuinya:

      "Kata Yesus kepadanya: Akulah jalan dan kebenaran dan hidup." (Yoh. 14:6)

      Rasul Paulus menegaskan hal ini dengan mengatakan:

      "sebab di dalam Dialah tersembunyi segala harta hikmat dan pengetahuan." (Kol. 2:3)

      Segala sesuatu yang dapat dinyatakan sebagai kebenaran, termasuk kebenaran yang tidak secara langsung berkenaan dengan agama atau kerohanian, bersumber dari Allah. Manusia hanya dapat mengetahuinya apabila manusia datang kepada penyataan Allah akan diri-Nya sebagai sumber kebenaran. Oleh karena Allahlah yang mengajarkan kepada manusia akan segala pengetahuan (Maz. 94:10).

      Kita akan melihat kemudian bahwa ketergantungan manusia pada Allah dalam ruang lingkup pengetahuan tidaklah berarti bahwa manusia tidak memiliki kemampuan untuk berpikir dan mengasah pikirannya. Juga tidak berarti bahwa manusia diprogram oleh Allah seperti halnya sebuah komputer dalam memproses pengumpulan data sehingga komputer mengetahui sesuatu. Manusia memang memunyai kemampuan untuk dapat berpikir, namun pengetahuan yang benar bergantung pada pengetahuan dari Allah yang telah dinyatakan pada manusia.

    2. Ketergantungan Moralitas Manusia

      Sebagaimana halnya manusia harus bergantung pada Allah untuk pengetahuan secara umum, demikian juga halnya dengan petunjuk dalam moralitas. Pada saat nilai-nilai dan tujuan-tujuan tradisi dipertanyakan, kita dipaksa untuk memikirkan bagaimana manusia dapat membedakan antara yang benar dan yang salah, atau yang baik dan yang jahat.

      Salah satu cara untuk menemukan jawaban atas berbagai pertanyaan kita harus sekali lagi kembali pada pengakuan akan perbedaan antara Pencipta dengan ciptaan. Sebagai Pencipta, sejak semula Allah adalah Pemberi hukum yang berdiri di atas hukum-Nya dan yang mengharapkan ketaatan dari makhluk ciptaan-Nya.

      Pada saat Allah berkata, "Ini adalah baik," Ia menyatakan diri-Nya sebagai satu-satunya Hakim yang benar yang dapat membedakan antara yang baik dan yang jahat. Dia juga mengaplikasikan hak itu bagi diri- Nya sendiri sampai sekarang. Kepada Adam dan Hawa, Ia berkata, "tetapi pohon pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat itu, janganlah kaumakan buahnya ...." (Kej. 2:17). Kepada Musa, Ia menyatakan, "Aku adalah Tuhan Allahmu ... dan jangan ada allah lain di hadapan-Ku." (Kel. 20:2, 3). Mengenai Yesus, Allah mengatakan, "Inilah Anak-Ku yang Kukasihi dan kepada-Nyalah Aku berkenan; dengarkanlah Dia." (Mat. 17:5)

      Tidak akan pernah ada sidang pengadilan yang dapat menghakimi Allah; karena Ia adalah Hakim yang tertinggi. Oleh karena itu, penyataan-Nya mengenai moralitas berlaku bagi semua orang, dan apabila kita ingin mengetahui mengenai hal yang baik dan yang jahat, kita harus ingat akan ketergantungan kita pada Allah.

-Akhir Pelajaran (AUA I-P02)--

Doa

Ya, Tuhan, beri kami ketetapan hati untuk mengakui Engkau sebagai Pencipta langit dan bumi, yang terus-menerus terlibat dan bertanggung jawab atas ciptaan-Mu. Bimbinglah kami untuk selalu menyadari akan kedaulatan-Mu supaya kami memiliki hati yang bijaksana. Biarlah hidup kami boleh berpusat pada Engkau, melalui Engkau, dan bagi Engkau. Amin.

(Catatan: Pertanyaan tertulis ada di bagian terpisah)

PESTA=========Pendidikan Elektronik Studi Teologia Awam==========PESTA


Materi Pelajaran | Pelajaran 02 | Referensi 02a | Referensi 02b | Referensi 02c

PESTA // PENDIDIKAN ELEKTRONIK STUDI TEOLOGIA AWAM \\ PESTA

Nama Kursus: APOLOGETIKA UNTUK AWAM I (AUA I)
Nama Pelajaran: Permulaan dari Segalanya
Kode Pelajaran: AUA I-P02

Pelajaran 02 - PERMULAAN DARI SEGALANYA

*Instruksi*

Harap setiap peserta mengikuti petunjuk mengerjakan tugas sbb.:

  1. Bacalah Bahan Pelajaran dan semua Referensi Pelajaran 05 dengan teliti.
  2. Bacalah Pertanyaan (A) dan (B) di bawah ini, kemudian jawablah dengan benar dan lengkap.
  3. Apabila Anda mendapatkan kesulitan sehubungan dengan isi Bahan Pelajaran, silakan menghubungi Pembimbing di:
    < yulia(at)in-christ.net >

Selamat mengerjakan!

Perhatian:

Setelah Anda menjawab tugas tertulis ini, mohon kirim kembali tugas ini dalam bentuk plain text (e-mail biasa) dan BUKAN DALAM BENTUK ATTACHMENT ke:

==> < staf-pesta(at)sabda.org >

PERTANYAAN (A):

  1. Permulaan Alkitab (Kejadian 1:1) merupakan deklarasi seluruh isi Alkitab, yang menyatakan bahwa [ ............. ]
  2. Prinsip pertama apologetika yang harus kita pahami adalah adanya perbedaan antara Allah sebagai [.............] dan manusia sebagai [...........].
  3. Ayat yang memberikan konfirmasi bahwa Allah sampai hari ini terus menerus terlibat dan bertanggung jawab atas ciptaan-Nya adalah [ ..........].
  4. Kesimpulan tentang Allah yang terdapat dalam ayat Kis. 17:25 adalah [ .......... ].
  5. Ketergantungan manusia para Allah bersifat [...........].
  6. Berikan beberapa contoh tentang cara yang Allah pilih untuk menyatakan diri-Nya secara umum sepanjang waktu? [............]
  7. Cara khusus yang Allah pilih untuk menyatakan diri-Nya adalah melalui [.............]
  8. Penyataan-penyataan yang Allah ingin sampaikan kepada manusia sering terhalangi oleh [..........] sehingga manusia dibutakan dari kehendak Allah.
  9. Lepas dari [............], manusia pada dasarnya tidak mungkin akan pernah mengerti pengetahuan apa pun dengan benar.
  10. Pada saat Allah berkata, "Ini adalah baik," Dia menyatakan diri- Nya sebagai satu-satunya [...........] yang benar, yang dapat memutuskan apa yang baik dan apa yang jahat.

PERTANYAAN (B):

  1. Jika Alkitab berkata bahwa Allah adalah Pencipta alam semesta, apakah berarti bahwa agama-agama lain harus mengakutinya? Mengapa?
  2. Apakah implikasi dari pernyataan bahwa Allah adalah sumber moralitas bagi orang Kristen?

Kirimkan kembali tugas ini dalam bentuk plain text (e-mail biasa) dan BUKAN DALAM BENTUK ATTACHMENT ke:

==> < staf-pesta(at)sabda.org >


PESTA=========Pendidikan Elektronik Studi Teologia Awam==========PESTA


Materi Pelajaran | Pelajaran 02 | Pertanyaan 02 | Referensi 02b | Referensi 02c

PESTA // PENDIDIKAN ELEKTRONIK STUDI TEOLOGIA AWAM \\ PESTA

Nama Kursus: APOLOGETIKA UNTUK AWAM I (AUA I)
Nama Pelajaran: Permulaan dari Segalanya
Kode Referensi: AUA I-R02a

Referensi AUA I-R02a diambil dari:

Judul buku: Kebenaran-Kebenaran Dasar Iman Kristen
Judul artikel: Wahyu Khusus dan Alkitab
Pengarang: R.C. Sproul
Penerbit: Seminari Alkitab Asia Tenggara
Halaman: 17 -- 19

WAHYU KHUSUS DAN ALKITAB

Pada waktu Tuhan Yesus dicobai oleh setan di padang gurun, Ia menghardik setan dengan perkataan: "Manusia tidak hidup dari roti saja, tetapi dari setiap perkataan yang keluar dari mulut Allah." (Matius 4:4). Secara historis, gereja telah meneruskan pengajaran Tuhan Yesus dengan meneguhkan bahwa Alkitab merupakan vox Dei, yaitu "suara Allah" atau verbum Dei, yaitu "Firman Allah". Menyebut Alkitab sebagai Firman Allah tidak menyatakan bahwa Alkitab ditulis oleh tangan Allah sendiri atau Alkitab itu jatuh dari surga dengan parasut. Alkitab sendiri menyatakan ada