Sabda Katalog Yayasan Lembaga SABDA Pendidikan Elektronik Study Teologia Awam e-Learning - Situs Sumber Bahan Pelajaran Kristen dan Pendidikan Elektronik e-Learning - Situs Sumber Bahan Pelajaran Kristen dan Pendidikan Elektronik e-Learning - Situs Sumber Bahan Pelajaran Kristen dan Pendidikan Elektronik e-Learning - Situs Sumber Bahan Pelajaran Kristen dan Pendidikan Elektronik e-Learning - Situs Sumber Bahan Pelajaran Kristen dan Pendidikan Elektronik e-Learning - Situs Sumber Bahan Pelajaran Kristen dan Pendidikan Elektronik
e-Learning - Situs Sumber Bahan Pelajaran Kristen dan Pendidikan Elektronik e-Learning - Situs Sumber Bahan Pelajaran Kristen dan Pendidikan Elektronik
Home | Bahan | Seri

Pernikahan Kristen dan Kehidupan Keluarga - Praktika

Kategori: Sistematika | Biblika | Praktika | Historika


Kembali Ke Daftar Isi
Pelajaran 11 - Berbagai Macam Bentuk Dari Keluarga

PERNIKAHAN KRISTEN DAN KEHIDUPAN KELUARGA

Pelajaran 11 - BERBAGAI MACAM BENTUK DARI KELUARGA

Daftar Isi

Bacaan Alkitab

Pendahuluan

  1. Keluarga Tanpa Anak
  2. Orang Yang Tidak Pernah Menikah
  3. Rumah Tangga Dengan Orang Tua Yang Hanya Satu
  4. Orang Yang Bercerai
  5. Jika Hanya Satu Yang Kristen
  6. Kesimpulan
  7. Ayat-ayat

Doa

Bacaan Alkitab

1Korintus 7:17.

PENDAHULUAN

Ketika kita berpikir tentang sebuah keluarga, biasanya kita berpikir tentang dua orang tua dan anak-anak mereka. Dalam pelajaran ini kita akan berpikir tentang pola keluarga yang berbeda. Beberapa pasangan suami istri tidak mempunyai anak; dalam beberapa keluarga hanya ada satu orang tua. Meskipun banyak orang yang menikah, beberapa orang tetap tinggal sendiri (membujang). Allah bisa menghormati dan memberkati semua pola keluarga ini jika semua anggota keluarga tersebut mau menyerahkan diri kepada Tuhan.

1. KELUARGA TANPA ANAK

  1. Pola Perjanjian Lama
    Pada masa Perjanjian Lama, mempunyai banyak anak dianggap sebagai berkat Tuhan bagi keluarga-keluarga dalam kehidupan bangsa Israel. Mereka berpendapat bahwa mempunyai banyak anak adalah karena Tuhan senang kepada mereka. Istrimu akan menjadi seperti pohon anggur yang subur di dalam rumahmu; anak- anakmu seperti tunas pohon zaitun sekeliling mejamu! Sesungguhnya demikianlah akan diberkati orang laki-laki yang takut akan TUHAN. Mazmur 128:3-4. Sebaliknya, tidak mempunyai anak dianggap sebagai aib, suatu tanda bahwa Allah tidak senang terhadap mereka. Namun dalam Perjanjian Lama, beberapa orang melihat bahwa pernikahan tanpa anak mempunyai nilai yang tinggi. Elkana bertanya kepada istrinya Hana yang tidak Mempunyai anak, "Bukankah aku lebih berharga bagimu daripada sepuluh anak laki-laki?" 1Samuel 1:8.

    Bangsa Israel tinggal diantara orang-orang yang menyembah berbagai dewa kesuburan. Bangsa Israel hanya memandang Allah sendiri sebagai pemberi hidup. Mereka tahu bahwa hanya Allah sendiri yang dapat meningkatkan hasil "buah kandunganmu, hasil bumimu dan hasil ternakmu." Ulangan 28:4. Bacalah Kejadian 30:1-2 untuk mendengarkan tangisan Rahel yang mengeluh pada suaminya. Yakub, suaminya, tentu saja marah. Jawabannya adalah "Akukah pengganti Allah yang telah menghalangi engkau mengandung?"

  2. Penekanan yang Baru Bersama Yesus
    Dalam Perjanjian Baru, setelah kedatangan Sang Mesias, Penebus, ada perubahan sikap terhadap ibu. Ada perubahan secara berangsur-angsur dari pemikiran yang berkata bahwa mempunyai anak adalah suatu hal yang paling utama bagi wanita.

    Nilai dari seorang wanita tidak lagi tergantung pada jumlah anak yang dilahirkannya. Titik berat beralih dari kelahiran secara fisik menjadi kelahiran secara rohani - yaitu jalan masuk ke dalam keluarga Allah melalui iman kepada Tuhan Yesus Kristus. Tentang hal mempunyai anak disebutkan dalam 1Timotius 5. Paulus menasihatkan untuk menangani masalah janda-janda yang masih muda, mengikuti apa yang diinginkan oleh budaya setempat, supaya menikah lagi dan mempunyai anak. Alasannya adalah masalah moral (ayat 11) dan arti dari suatu kehidupan (ayat 16). Mereka tidak ingin gereja dibebani dengan menghidupi orang- orang muda tanpa sumber penghasilan selama masa yang panjang.
  3. Banyak Karunia
    Tuhan Yesus menghormati dan merawat ibu-Nya. Tapi, Yesus menunjukkan bahwa seorang wanita tidak dihargai dalam pandangan Allah karena kemampuannya secara fisik untuk melahirkan anak, namun karena melakukan kehendak Tuhan. Bacalah dalam Lukas 11:27 tentang wanita yang berteriak diantara orang banyak, "Berbahagialah ibu yang telah mengandung Engkau dan susu yang telah menyusui Engkau." Yesus menjawab, "Yang berbahagia ialah mereka yang mendengarkan Firman Allah dan yang memeliharanya." Ada banyak karunia yang lain yang dapat diberikan oleh orang kepada dunia disamping anak-anak, dan karunia tersebut sama pentingnya. Seseorang dapat menyenangkan Allah dengan mempunyai anak atau tanpa anak. "Aku datang, supaya mereka mempunyai hidup, dan mempunyainya dalam segala kelimpahan." Johanas 10:10.

  4. Beberapa Kepercayaan yang Salah.

    • Kepercayaan Salah yang Pertama: "Tidak punya anak selalu merupakan kesalahan istri."

      Yang Benar: Tidak demikian! Tidak mempunyai anak tidak seharusnya dianggap sebagai "kesalahan" suami atau istri. Ini tidak selalu tergantung pada keadaan dari sang istri. Kenyataannya ini mungkin keadaan sang suami. Saat ini, banyak yang dapat dilakukan secara medis untuk menolong pasangan yang tidak mempunyai anak, dan mereka hendaknya tidak ragu-ragu untuk meminta nasihat dari dokter yang sesuai.
    • Kepercayaan Salah yang Kedua: "Tidak mempunyai anak dalam suatu pernikahan berarti pernikahan itu gagal."

      Yang Benar: Tidak demikian! Meskipun tidak ada anak-anak yang dilahirkan, ada banyak alasan yang baik dalam suatu pernikahan untuk tetap bertahan, bahagia dan diberkati. Mempunyai anak adalah hanya salah satu alasan adanya pernikahan. Dapat saling memberikan kasih, membantu untuk menjadi apa yang Allah inginkan, menguatkan dan menghibur - semuanya itu dapat memberikan kepuasan yang penuh. Kemampuan untuk dapat melahirkan anak tidak membuktikan apa-apa kecuali bahwa anda memang bisa melahirkan anak. Ada jauh lebih banyak lagi yang diperlukan untuk membuat seseorang menjadi seorang suami atau istri yang baik, seorang ibu atau ayah yang baik.
    • Kepercayaan Salah yang Ketiga: "Tidak mempunyai anak merupakan hukuman Allah atas dosa."

      Yang Benar: Tidak demikian! Tidak adanya karunia anak bukanlah tanda bahwa Allah tidak senang. Anak-anak memang merupakan karunia Allah, tapi Allah mempunyai banyak karunia lain yang bisa diberikan.
    • Kepercayaan Salah yang Keempat: "Jika mereka berdoa dengan sungguh-sungguh, mereka pasti akan mendapatkan anak."

      Yang Benar: Tidak selalu! Jika suatu pasangan mengasihi Allah, mereka harus percaya bahwa apapun yang diberikan kepada mereka adalah yang terbaik, dan bukan terbaik nomor dua, tetapi yang terbaik. Jika suatu pasangan telah berkonsultasi dengan dokter yang baik dan sudah melaksanakan nasihatnya dan berdoa dengan sungguh-sungguh supaya diberikan anak - namun kemudian tidak ada anak yang dilahirkan, Tuhan mempunyai sesuatu bagi pasangan tersebut yang justru lebih baik.

2. ORANG YANG TIDAK PERNAH MENIKAH

Biasanya seorang pria atau wanita pasti menikah. Namun ada perkecualian. Anda tidak harus menikah untuk menuju pada kehidupan yang penuh dan bahagia. Rasul Paulus memberikan suatu nasihat yang baik dalam 1Korintus 7:17 saat dia berkata, "Selanjutnya hendaklah tiap-tiap orang hidup tetap seperti yang telah ditentukan Tuhan baginya dan dalam keadaan seperti waktu ia dipanggil Allah." Orang-orang yang mempunyai karunia untuk hidup sendiri "demi Kerajaan Allah" mampu untuk bertumbuh dalam kedewasaan sebagai pribadi-pribadi yang mengasihi tanpa pertolongan manusia yang biasa didapatkan dalam sebuah pernikahan. Mereka mempersembahkan seluruh hidup mereka untuk melayani Tuhan. Paulus mengatakan bahwa ada keterbatasan untuk melayani Tuhan dalam suatu pernikahan dan bukan dalam kesendirian. "Tetapi kepada orang-orang yang tidak kawin dan kepada janda-janda aku anjurkan, supaya baiklah mereka tinggal dalam keadaan seperti aku." 1Korintus 7:8.

Orang yang tidak menikah secara khusus harus memandang Allah sebagai sumber kekuatannya. Sangat mudah pada masa sekarang ini bagi orang yang masih sendiri untuk menginginkan perzinahan masih dalam hidupnya. Kalau Allah memberikan karunia kesendirian, maka Dia juga akan memberikan kepada anda kekuatan untuk hidup dengan moral yang baik dan benar yang akan membawa kesaksian bagi-Nya. Selanjutnya hendaklah tiap-tiap orang tetap hidup seperti yang telah ditentukan Tuhan baginya dan dalam keadaan seperti waktu ia dipanggil Allah. Inilah ketetapan yang kuberikan kepada semua jemaat. 1Korintus 7:17 Mintalah Allah untuk menolong anda dalam menerima kehidupan yang sudah diberikan kepada anda.

3. RUMAH TANGGA DENGAN ORANG TUA YANG HANYA SATU

Beberapa rumah tangga hanya Mempunyai satu orang tua. Hal ini bisa disebabkan oleh kematian, perceraian, atau pasangan yang seperti suami istri namun tidak menikah (kumpul kebo). Yang cocok bagi Allah adalah jika tiap rumah tangga mempunyai ayah dan ibu yang mengasihi. Tetapi, banyak orang, terutama ibu-ibu yang membesarkan anak-anak mereka, seorang diri. Kita patut berterima kasih kepada satu orang tua yang rela menerima tanggung jawab dari dua orang tua.

Untuk membangun orang dewasa yang utuh dan stabil, anak-anak memerlukan contoh dari kedua orang tua untuk diikuti. Pengajaran dan latihan tidak lengkap jika tidak dikerjakan oleh kedua orang tua. Para jemaat di gereja perlu memberikan bimbingan dan bantuan semaksimal mungkin pada keluarga dengan satu orang tua.

Ketika anak-anak kehilangan satu orang tua karena kematian, maka orang tua yang masih hidup mempunyai tugas yang berat untuk mengasuh anak-anak sendirian sementara masih berduka dan menyesuaikan diri dalam keadaan yang berbeda. Ketika orang Kristen gagal untuk mengikuti rencana Allah dan anak-anak di rumah tinggal tanpa ayah atau ibu yang mengasihi dan bertanggung jawab, hal ini dapat menyebabkan masalah yang besar bagi banyak orang. Perceraian atau pasangan yang tidak menikah mencuri kehidupan yang baik bagi anak-anak dan dewasa yang sudah Tuhan rencanakan. Tetapi Allah kita menerima kita apa adanya. Karena Dia mengasihi kita, Dia mengampuni kehidupan kita yang di luar rencana-Nya dan gagal menerima berkat- berkat yang sudah disiapkan bagi kita. Dia menerima pertobatan kita dan memberikan pengampunan. Maka kita harus menerima pengampunan itu dan mulai hidup dalam jalan- Nya. Cita-cita dari setiap orang tua harus mengikuti Amsal 22:6. Didiklah orang muda menurut jalan yang patut baginya, maka pada masa tuanyapun ia tidak akan menyimpang dari pada jalan itu. Pelajarilah ayat ini dan jadikanlah sebagai cita- cita anda.

4. ORANG YANG BERCERAI

Perceraian bukanlah dosa yang tidak bisa diampuni. Allah masih mengasihi orang yang telah bercerai. Seseorang tetap bersalah jika dia tidak mencari dan menerima anugerah dan pengampunan dari Allah. Namun, perceraian bukanlah cara untuk menangani berbagai masalah pernikahan. Perceraian melemahkan semangat, menghancurkan impian- impian dan mencerai-beraikan keluarga. Perceraian juga melemahkan kehidupan dengan kesepian, kepedihan, dan kedukaan. Hanya kematian pasangan dalam pernikahan yang lebih menyedihkan dibandingkan trauma karena perceraian. Bacalah Maleakhi 2:13-16 untuk menemukan alasan- alasan mengapa Tuhan membenci perceraian. Tulislah alasan-alasan tersebut dibawah ini.

________________________________________________________________________

________________________________________________________________________

Perceraian merupakan pengumuman secara hukum dan di hadapan umum tentang kehancuran dari suatu keluarga. Hal ini jahat di mata Tuhan, Pencipta dari suatu keluarga. "Aku membenci perceraian," Firman Allah dalam ayat 16!

Bacalah Markus 10:2-12 untuk belajar apa yang Yesus ajarkan tentang perceraian. Perhatikan pertanyaan yang ditanyakan oleh orang-orang Farisi, "Apakah seorang suami diperbolehkan menceraikan istrinya?" Apakah mereka juga menganggap seorang wanita berhak untuk menceraikan suaminya? Memang tidak. Bagi mereka, para wanita hanya mempunyai hak-hak yang sedikit. Yesus mengutip dari tulisan Musa dalam Perjanjian Lama. Dalam ayat 6 Dia menunjuk pada rencana Allah saat permulaan penciptaan. "Allah menjadikan mereka laki-laki dan perempuan." Kemudian Yesus mengutip dari Kejadian 2:24, "Sebab itu laki-laki akan meninggalkan ayahnya dan ibunya dan bersatu dengan istrinya, sehingga keduanya itu menjadi satu daging." Kesetaraan antara wanita dan pria dalam penciptaan dan pernikahan ditegaskan di sini. Suami dan istri dibuat setara. Bacalah ayat 11 dan 12 lagi. Apakah Yesus memberikan hak dan tanggung jawab yang sama pada laki- laki dan perempuan? ______________ Apakah anda merasa bahwa para wanita mempunyai tanggung jawab dan hak yang sama seperti pria? _______________ Tuhan Yesus berFirman "Karena apa yang telah dipersatukan Allah, tidak boleh diceraikan manusia." ayat 6. Secara positif Tuhan Yesus mengatakan bahwa pernikahan adalah dari Allah dan tidak boleh dihancurkan.

5. JIKA HANYA SATU YANG KRISTEN

Kita sudah mempelajari pentingnya memilih seorang Kristen sebagai pasangan hidup. Namun kadang-kadang seseorang menikah dengan pasangan yang tidak seiman. Mungkin pasangannya itu akan diselamatkan setelah menikah, atau orang telah membuat suatu pilihan tanpa memperhatikan dengan serius pada rencana Allah. Dalam 1Korintus 7 Paulus berbicara kepada orang Kristen tentang menikah dengan orang yang belum diselamatkan. Dalam ayat 15 dia mengingatkan kepada kita, "Tuhan memanggil kamu untuk hidup dalam damai sejahtera." Orang Kristen yang memiliki pasangan yang belum diselamatkan mempunyai tanggung jawab yang besar untuk mempraktekkan prinsip-prinsip kekristenan tanpa dukungan dari pasangannya. Dalam hal ini, orang Kristen tersebut harus ingat untuk tetap berhubungan dengan kasih, lemah lembut, dan rendah hati dengan pasangannya. Petrus secara khusus berbicara kepada seorang istri yang suaminya belum diselamatkan, mendorongnya untuk hidup dengan jalan yang memungkinkan bisa membawa suaminya untuk mengenal Tuhan. Demikian juga kamu, hai isteri-isteri, tunduklah kepada suamimu, supaya jika ada di antara mereka yang tidak taat kepada Firman, mereka juga tanpa perkataan dimenangkan oleh kelakuan isterinya...1Petrus 3:1.

Paulus memerintahkan pada pihak yang Kristen dalam pernikahan untuk tidak menghancurkan pernikahan, tapi membebaskan pihak Kristen dari tanggung jawab jika pasangannya yang belum percaya tersebut meninggalkannya. Bacalah 1Korintus 7:12-15. Ketika pasangannya yang memilih untuk pergi, orang Kristen tersebut memiliki kebutuhan yang besar akan kasih dan dukungan dari lingkungan Kristen.

6. KESIMPULAN

Kita sudah mempelajari beberapa pola keluarga yang berbeda dan tantangan-tantangan khusus yang dihadapi. Dalam pelajaran awal kita telah belajar bahwa setiap pribadi adalah lengkap di dalam Kristus. Orang Kristen dapat mengandalkan Tuhan untuk mendapatkan kekuatan dan petunjuk, bagaimanapun juga keadaan keluarga mereka. Tuhan Yesus mendorong para pengikut-Nya dengan mengingatkan mereka akan maksud Allah yang indah bagi mereka: "Janganlah takut, hai kamu kawanan kecil! Karena Bapamu telah berkenan memberikan kamu Kerajaan itu." Lukas 12:32

PASTIKAN ANDA SUDAH MEMBACA AYAT-AYAT ALKITAB BERIKUT INI

  • 1Korintus 7
  • 1Samuel 1:8
  • Kejadian 30:1-2
  • Lukas 11:27
  • Amsal 22:6
  • Markus 10:2-12
  • 1Petrus 3:1
  • Mazmur 128:3-4
  • Ulangan 28:4
  • 1Timotius 5:11, 16
  • Yohanes 10:10
  • Maleakhi 2:13-16
  • Kejadian 2:24
  • Lukas 12:32

Ke Atas


sabdaspace.org Tentang Kami | Kontak Kami | Bukutamu | Link |

Laporan Masalah/Saran | Disclaimer | Hak Cipta 2005-2018 Yayasan Lembaga SABDA (YLSA) | E-mail: webmastersabda.org
Bank BCA Cabang Pasar Legi Solo - No. Rekening: 0790266579 - a.n. Yulia Oeniyati