Sabda Katalog Yayasan Lembaga SABDA Pendidikan Elektronik Study Teologia Awam e-Learning - Situs Sumber Bahan Pelajaran Kristen dan Pendidikan Elektronik e-Learning - Situs Sumber Bahan Pelajaran Kristen dan Pendidikan Elektronik e-Learning - Situs Sumber Bahan Pelajaran Kristen dan Pendidikan Elektronik e-Learning - Situs Sumber Bahan Pelajaran Kristen dan Pendidikan Elektronik e-Learning - Situs Sumber Bahan Pelajaran Kristen dan Pendidikan Elektronik e-Learning - Situs Sumber Bahan Pelajaran Kristen dan Pendidikan Elektronik
e-Learning - Situs Sumber Bahan Pelajaran Kristen dan Pendidikan Elektronik e-Learning - Situs Sumber Bahan Pelajaran Kristen dan Pendidikan Elektronik
Home | Bahan | Seri

Menaklukkan Segala Pikiran Kepada Kristus - Praktika

Kategori: Sistematika | Biblika | Praktika | Historika


[Untitled]



KATA PENGANTAR
CATATAN DARI PENULIS
CATATAN DARI PENULIS UNTUK PENERJEMAHAN BUKU INI
PENGHARGAAN
PELAJARAN 1 DASAR YANG KOKOH
A. "Rumah Apologetika"
B. Pengertian dari "Apologetika Alkitabiah"
C. Kepentingan dari Apologetika
PELAJARAN 2 PERMULAAN DARI SEGALANYA
A. Allah dan Ciptaan-Nya
B. Kebergantungan Manusia kepada Allah
PELAJARAN 3 KARAKTER MANUSIA SEBELUM JATUH DALAM DOSA
A. Manusia dalam Rupa dan Gambar Allah
B. Tanpa Dosa dan Fana
C. Logika, Allah dan Manusia
PELAJARAN 4 KARAKTER MANUSIA YANG BERDOSA
A. Kejatuhan Umat Manusia
B. Akibat Kejatuhan Manusia dalam Dosa
C. Ketidakkonsistenan dan Permukaan Kebenaran
PELAJARAN 5 KARAKTER MANUSIA SETELAH DITEBUS OLEH KRISTUS
A. Kebalikan dari Kejatuhan
B. Pembaharuan Melalui Kelahiran Baru
C. Orang Percaya dan Dosa yang Masih Tertinggal
PELAJARAN 6 PANDANGAN ORANG TIDAK PERCAYA
A. Struktur Filsafat Non Kristiani
B. Dilema Orang-orang Tidak Percaya
PELAJARAN 7 PANDANGAN ORANG KRISTEN
A. Struktur Pandangan Orang Kristen
B. Jawaban Bagi Dilema Orang Tidak Percaya
C. Mitos dari Netralitas
PELAJARAN 8 SIKAP DAN TINDAKAN
A. Kehidupan yang Konsisten
B. Pendekatan yang Hati-hati
C. Prosedur yang Benar dan Tepat
PELAJARAN 9 TAKTIK YANG TERKENAL
A. Peranan Akal Budi Manusia
B. Cara Pembelaan
PELAJARAN 10 STRUKTUR DASAR DARI PEMBELAAN ALKITABIAH
A. Penginjilan dan Apologetika
B. Dua Hal Pembenaran
PELAJARAN 11 PEMBELAAN IMAN (1)
A. Sanggahan-sanggahan Berkenaan dengan Allah
B. Sanggahan-sanggahan Berkenaan dengan Ajaran Mengenai Kristus
PELAJARAN 12 PEMBELAAN IMAN (2)
A. Sanggahan Terhadap Otoritas Alkitab
B. Sanggahan Berkenaan dengan Manusia
PELAJARAN 13 PEMBELAAN IMAN (3)
A. Sanggahan-sanggahan yang Berkenaan dengan Dunia
B. Sanggahan-sanggahan Mengenai Kebutuhan Iman
PELAJARAN 14 SEBUAH PERUMPAMAAN BERAPOLOGETIKA
Pelajaran 14 Sebuah Perumpamaan Berapologetika (lanjutan 1)
Pelajaran 14 Sebuah Perumpamaan Berapologetika (lanjutan 2)
Pelajaran 14 Sebuah Perumpamaan Berapologetika (lanjutan 3)
Pelajaran 14 Sebuah Perumpamaan Berapologetika (lanjutan 4)


Menaklukkan Segala Pikiran kepada Kristus -- Info [Indeks 00000]

[Hak Cipta 00002] [Halaman Judul 00003] [Daftar Isi 00004]

Info: Menaklukkan Segala Pikiran kepada Kristus

Buku "Menaklukkan Segala Pikiran kepada Kristus" ini menyuguhkan apologetika reformasi Van Tillian yang melatih pembacanya untuk berapologetik dengan bahasa yang sederhana dan mudah diikuti.

Dalam versi elektronik, Indeks buku ini dibagi menjadi "Indeks Bagian" di mana kita bisa melihat secara penuh setiap satu bagian, dan "Indeks Bab" dimana kita bisa melihat secara lengkap dan detail setiap satu bab.

Gunakan Kursor Kanan untuk melanjutkan materi dan kursor kiri untuk materi sebelumnya. Sistem pengindeksan semacam ini merupakan standar kami untuk materi berbentuk buku, dan akan Anda temui dalam buku-buku lain.

-YLSA-


Menaklukkan Segala Pikiran kepada Kristus -- Hak Cipta [Indeks 00000]

[Info 00001] [Halaman Judul 00003] [Daftar Isi 00004]

HAK CIPTA
~~~~~~~~~      * VERSI BUKU (TINTA-KERTAS) *
JUDUL         : Menaklukkan Segala Pikiran kepada Kristus
JUDUL ASLI    : Every Thought Captive
PENULIS       : Richard L. Pratt Jr.
PENERJEMAH    : DR. Rahmiati Tanudjaja
TAHUN         : 1995 (1994)
PENERBIT      : Seminari Alkitab Asia Tenggara, Malang
URL           : -
PERCETAKAN    : -
COPYRIGHT     : Richard L. Pratt Jr., 1993      (Lihat Halaman Judul di bawah)
JML HALAMAN   : ix, 203

HAK CIPTA
~~~~~~~~~      * VERSI ELEKTRONIK (SABDA) *
JUDUL         : Menaklukkan Segala Pikiran kepada Kristus
JUDUL ASLI    : Every Thought Captive
COPYRIGHT     : Richard L. Pratt Jr., 1993
PENERBIT      : Seminari Alkitab Asia Tenggara, Malang 1995
DIPROSES OLEH : Yayasan Lembaga SABDA (YLSA)

DESKRIPSI :

Richard L. Pratt Jr. menyajikan sebuah buku apologetika dalam bahasa yang mudah dimengerti. Buku yang terdiri dari empat belas pelajaran dan sebuah bab ilustrasi ini ditulis dengan dua dasar. Pertama, bahwa orang-orang Kristen berkewajiban untuk menantang dan menghancurkan pengetahuan-pengetahuan yang tidak berasal dari Allah. Kedua, orang-orang Kristen tidak hanya harus menghapuskan pencemaran yang dihasilkan ketidakpercayaan pada Allah, tapi juga menaklukkan segala pikiran dalam ketaatan pada Kristus.

PERHATIAN!

Pemegang Hak Cipta utama bahan ini adalah Seminari Alkitab Asia Tenggara Malang. YLSA memproses teks bahan ini ke dalam VERSI ELEKTRONIK untuk digunakan dalam program SABDA©. Pengguna program SABDA© dilarang mengutip, menerbitkan kembali, atau memperbanyak sebagian atau pun seluruh teks bahan ini dalam bentuk dan cara apa pun juga untuk tujuan komersiil tanpa izin tertulis dari pemegang Hak Cipta bahan.

-YLSA-


Menaklukkan Segala Pikiran kepada Kristus -- Halaman Judul [Indeks 00000]

[Info 00001] [Hak Cipta 00002] [Daftar Isi 00004]

MENAKLUKKAN SEGALA PIKIRAN KEPADA KRISTUS

Sebuah Buku Pegangan Untuk Membela Kebenaran Iman Kristiani

RICHARD L. PRATT Jr.

SEMINARI ALKITAB ASIA TENGGARA MALANG

MENAKLUKKAN SEGALA PIKIRAN KEPADA KRISTUS

Judul Asli: EVERY THOUGHT CAPTIVE Copyright 1993 By Richard L. Pratt Jr.

Hak Cipta Terjemahan Indonesia SEMINARI ALKITAB ASIA TENGGARA MALANG

Alih Bahasa: DR. Rahmiati Tanudjaja

Cetakan I: 1994 Cetakan II: 1995


Menaklukkan Segala Pikiran kepada Kristus -- Daftar Isi [Indeks 00000]

DAFTAR ISI

00005 KATA PENGANTAR
00006 CATATAN DARI PENULIS
00007 CATATAN DARI PENULIS UNTUK PENERJEMAHAN BUKU INI
00008 PENGHARGAAN
00009 PELAJARAN 1 DASAR YANG KOKOH
00010 A. "Rumah Apologetika"
00011 B. Pengertian dari "Apologetika Alkitabiah"
00012 C. Kepentingan dari Apologetika
00013 PELAJARAN 2 PERMULAAN DARI SEGALANYA
00013 A. Allah dan Ciptaan-Nya
00014 1. Allah adalah Allah yang Berdiri Sendiri
00015 2. Ciptaan Bergantung kepada Allah
00016 3. Allah Menyatakan Diri kepada Manusia
00017 B. Kebergantungan Manusia kepada Allah
00018 1. Kebergantungan Pengetahuan Manusia
00019 2. Kebergantungan Moralitas Manusia
00020 PELAJARAN 3 KARAKTER MANUSIA SEBELUM JATUH DALAM DOSA
00021 A. Manusia dalam Rupa dan Gambar Allah
00022 B. Tanpa Dosa dan Fana
00023 C. Logika, Allah dan Manusia
00024 PELAJARAN 4 KARAKTER MANUSIA YANG BERDOSA
00025 A. Kejatuhan Umat Manusia
00026 B. Akibat Kejatuhan Manusia dalam Dosa
00027 C. Ketidakkonsistenan dan Permukaan Kebenaran
00028 PELAJARAN 5 KARAKTER MANUSIA SETELAH DITEBUS OLEH KRISTUS
00028 A. Kebalikan dari Kejatuhan
00029 B. Pembaharuan Melalui Kelahiran Baru
00030 C. Orang Percaya dan Dosa yang Masih Tertinggal
00031 PELAJARAN 6 PANDANGAN ORANG TIDAK PERCAYA
00032 A. Struktur Filsafat Non Kristiani
00033 B. Dilema Orang-orang Tidak Percaya
00034 1. Pemikiran Berkenaan dengan Allah
00035 2. Pemikiran Mengenai Dunia di Luar Diri Manusia
00036 3. Pemikiran Mengenai Manusia
00037 PELAJARAN 7 PANDANGAN ORANG KRISTEN
00037 A. Struktur Pandangan Orang Kristen
00038 B. Jawaban Bagi Dilema Orang Tidak Percaya
00038 1. Mengenai Allah
00038 2. Mengenai Dunia
00038 3. Mengenai Manusia
00039 C. Mitos dari Netralitas
00040 PELAJARAN 8 SIKAP DAN TINDAKAN
00041 A. Kehidupan yang Konsisten
00042 B. Pendekatan yang Hati-hati
00043 1. Ketegasan yang Lembut
00044 2. Tantangan yang Disertai dengan Rasa Hormat
00045 3. Jawaban yang Langsung pada Sasaran
00046 4. Perhatian yang Serius pada Persiapan
00047 C. Prosedur yang Benar dan Tepat
00048 PELAJARAN 9 TAKTIK YANG TERKENAL
00049 A. Peranan Akal Budi Manusia
00050 B. Cara Pembelaan
00050 1. Keberadaan Allah
00051 2. Ke-Tuhanan Kristus
00052 3. Otoritas dari Alkitab
00053 PELAJARAN 10 STRUKTUR DASAR DARI PEMBELAAN ALKITABIAH
00054 A. Penginjilan dan Apologetika
00055 B. Dua Hal Pembenaran
00056 1. Argumentasi dengan Kebenaran
00057 2. Argumentasi Berdasarkan Kebodohan
00058 PELAJARAN 11 PEMBELAAN IMAN (1)
00059 A. Sanggahan-sanggahan Berkenaan dengan Allah
00059 1. Keberadaan Allah
00060 2. Problema dari Kejahatan
00061 B. Sanggahan-sanggahan Berkenaan dengan Ajaran Mengenai Kristus
00061 1. Ke-Tuhanan Kristus
00062 2. Kebangkitan Kristus
00063 PELAJARAN 12 PEMBELAAN IMAN (2)
00063 A. Sanggahan Terhadap Otoritas Alkitab
00064 1. Otoritas dari Alkitab
00065 2. Buku-buku Agama Lain
00066 B. Sanggahan Berkenaan dengan Manusia
00066 1. Manusia dan Dosa
00067 2. Tanggung Jawab Manusia
00068 PELAJARAN 13 PEMBELAAN IMAN (3)
00068 A. Sanggahan-sanggahan yang Berkenaan dengan Dunia
00068 1. Asal Mula dari Dunia
00069 2. Akhir dari Dunia
00070 B. Sanggahan-sanggahan Mengenai Kebutuhan Iman
00071 1. Ketidakpastian Kristiani
00072 2. Kepastian Kekristenan
00073 PELAJARAN 14 SEBUAH PERUMPAMAAN BERAPOLOGETIKA
00074 Pelajaran 14 Sebuah Perumpamaan Berapologetika (lanjutan 1)
00075 Pelajaran 14 Sebuah Perumpamaan Berapologetika (lanjutan 2)
00076 Pelajaran 14 Sebuah Perumpamaan Berapologetika (lanjutan 3)
00077 Pelajaran 14 Sebuah Perumpamaan Berapologetika (lanjutan 4)


Menaklukkan Segala Pikiran kepada Kristus -- Kata Pengantar [Indeks 00000]

[Daftar Isi 00004]

Kata Pengantar

JOHN M. FRAME

Dosen Apologetika dan Sistematik Teologi di Westminster Theological Seminary, USA.

Bagi seseorang yang masih tergolong sangat muda, prestasi yang telah dicapai oleh Richard Pratt merupakan suatu hal yang menakjubkan. Meskipun dia belum lulus dari Seminar, namun dia telah menggembalakan jemaat selama beberapa tahun. Pada saat buku ini ditulis dia sedang menyelesaikan "Program Kehormatan" (yang hanya diperuntukkan bagi mahasiswa-mahasiswa yang terpandai) di Westminster Seminary. Sekarang dia telah menulis sebuah buku yang ditujukan untuk melatih kawula muda untuk menjadi seorang pembela iman yang terlatih. Buku ini telah dipakai di kalangan kawula muda di gereja di mana dia melayani. Buku ini sangat baik dalam berbagai segi, dan memberikan suatu dasar bagi penulis untuk menghasilkan karya yang baik di kemudian hari. (Catatan penerjemah: Richard Pratt telah menerbitkan dua buah buku setelah ini yaitu "Pray With Your Eyes Open" dan "He Gave Us Stories").

Buku ini sangat menarik ditinjau dari tiga segi. Pertama, buku ini menyuguhkan apologetika reformasi (atau "Van Tillian") dalam bahasa yang mudah dimengerti oleh pembaca secara umum. Hal ini pernah diusahakan oleh penulis-penulis terdahulu tetapi mereka telah jatuh pada bahasa filsafat yang tidak dapat dimengerti oleh para pembaca. Hal ini disebabkan oleh mitos yang mengatakan bahwa tidak ada seorang pun yang dapat menjelaskan Van Til secara akurat tanpa menggunakan istilah yang dipakai oleh Van Til. Dan Mitos ini telah menyebar luas di kalangan orang-orang yang mencoba untuk menjelaskan pandangan Van Til. Dalam hal ini buku dari Richard Pratt merupakan suatu titik permulaan yang menembus mitos yang telah ada selama ini. Saya mengharapkan bahwa sukses ini akan menyebabkan buku ini dapat dibaca secara luas oleh berbagai macam lapisan pembaca.

Kedua, buku ini bukan eksposisi dari pemikiran Van Til (di mana mengenai hal ini sudah banyak ditulis), tetapi suatu pedoman untuk melatih berapologetik. Orang- orang Reformasi biasanya dikenal sangat lemah dalam melatih satu dengan yang lain untuk menjadi pembela iman yang tangguh. Pada umumnya kita hanya menyuguhkan atau mengajarkan teori dengan harapan bahwa soal penerapan dapat dipikirkan sendiri. Sikap seperti ini telah membuat apologetika reformasi dalam status permainan para cendekiawan. Hal ini seharusnya tidak boleh terjadi. Kontribusi pandangan Van Til merupakan pandangan yang memperbaharui kehidupan seseorang dan dunia. Sekaranglah waktunya bagi para pembela iman yang berkharisma digerakkan untuk menyatakan dan menerapkan pandangan Alkitab pada teman-teman, tetangga dan atas seluruh pandangan yang mempengaruhi proses pembentukan kebudayaan kita.

Akhirnya, buku ini ditujukan untuk murid-murid SMA! Sangat mengejutkan bagi saya bahwa ada seseorang yang berusaha untuk mengajarkan apologetika reformasi pada kalangan tersebut, dan Richard Pratt telah melaksanakannya. Karismanya dalam berkomunikasi dengan kawula muda sangat luar biasa. Dia telah membuktikan bahwa hal ini dapat dilaksanakan. Tentu saja kalau memang dapat dilaksanakan, hal ini harus dilaksanakan. Masa SMA merupakan masa yang ideal untuk mengajarkan apa yang harus dipercayai dan mengapa kita mempercayainya. Masa ini merupakan masa di mana banyak pertanyaan-pertanyaan besar dan penting muncul dalam bentuk diskusi intelektual. Murid-murid SMA biasanya tertarik untuk mencari jawaban dari pertanyaan "mengapa" mengenai iman Kristen, dan mereka dapat mengabarkan Injil kepada teman-teman mereka dengan bersemangat dan dengan sangat efektif.

Banyak di antara kita, dalam usia itu, dapat menyaksikan bahwa Alkitab sungguh menjadi hidup bagi kita untuk pertama kalinya pada masa ini. Di mana kita dapat melihat dengan sesungguhnya bahwa kekristenan adalah benar dan kita mulai memikirkan dengan serius teman-teman yang tidak mengenal Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamat. Diskusi apologetika merupakan diskusi yang menarik dalam usia itu. Gereja akan kehilangan banyak apabila gereja gagal untuk melayani semangat dan kemampuan yang besar dari kawula mudanya.

Oleh karena itu, saya sangat senang melihat penerbitan Every Thought Captive. Ini dapat menjadi suatu tanda perpindahan apologetika Reformasi dari ruang kelas di sekolah teologia, tidak hanya di kalangan murid-murid SMA, tetapi juga di tengah dunia. Kiranya Allah yang berdaulat akan melaksanakannya.


Menaklukkan Segala Pikiran kepada Kristus -- Catatan dari Penulis [Indeks 00000]

[Daftar Isi 00004]

Catatan dari Penulis

Dalam surat 2Ko 10:5 rasul Paulus menjelaskan tugasnya sebagai seorang rasul sebagai berikut:

Kami mematahkan setiap siasat orang dan merubuhkan setiap kubu yang dibangun oleh keangkuhan manusia untuk menentang pengenalan akan Allah. Kami menawan segala pikiran dan menaklukkannya kepada Kristus.

Dalam beberapa kata ini Paulus memberikan dua tujuan yang saya pakai sebagai dasar dalam buku pedoman ini. Yang pertama, sebagai orang-orang yang mengasihi Allah dan Firman orang-orang percaya di dalam Kristus harus "mematahkan setiap kubu yang dibangun untuk melawan pengenalan akan Allah," Orang-orang tidak percaya selalu berusaha untuk menggantikan pengetahuan yang daripada Allah dengan ide atau pikiran yang lain. Orang-orang Kristen menyadari kepentingan untuk mengakui Allah dalam setiap aspek kehidupan mereka, oleh karena itu mereka berkewajiban untuk menantang dan hancurkan pengetahuan-pengetahuan yang tidak berasal dari Allah tersebut. Kasih kepada Allah seharusnya mendorong untuk menghancurkan semua berhala-berhala yang diproduksi oleh manusia.

Yang kedua, orang-orang percaya menyadari bahwa tugas bukan hanya menghapuskan pencemaran yang dihasilkan dari ketidakpercayaan manusia kepada Allah, tetapi juga "menawan segala pikiran dan menaklukkannya ke dalam ketaatan kepada Kristus." Orang-orang tidak percaya sangat membutuhkan keselamatan dari konsekuensi dosa dan pemberontakan mereka terhadap Allah. Keselamatan ini hanya terjadi melalui kepercayaan dan dedikasi secara sepenuh hati kepada Kristus. Apabila seseorang telah mengambil keputusan untuk memiliki kepercayaan dan dedikasi yang sedemikian kepada Kristus, maka pemikiran seseorang yang tadinya melawan Allah dan musuh Allah akan berubah menjadi pemikiran seseorang yang menaklukkan dirinya kepada "ketaatan kepada Kristus."

Orang-orang percaya dalam dunia ini selalu diperhadapkan pada peperangan rohani. Oleh karena itu pada halaman-halaman berikut ini saya bermaksud untuk memimpin orang-orang percaya pada dua macam tugas. Pertama, kita harus menghancurkan spekulasi-spekulasi yang memamerkan kesia-siaan dan kefanaan. Kedua, kita harus menyempurnakan tugas kita dengan menaklukkan setiap pikiran pada ketaatan kepada Kristus.

Dengan sudah diterbitkannya berbagai macam buku mengenai apologetika rupanya perlu ada penjelasan mengapa harus ada penambahan buku dalam subjek yang sama. Yang jelas dari segi keotentikan buku ini bukan buku baru mengenai apologetika. Sebab bukan maksud saya untuk menulis suatu cara yang baru untuk membela kekristenan. Dengan pembacaan sekilas saja akan terlihat dengan jelas bahwa saya sangat berhutang pada pekerjaan Dr. Cornelius Van Til. Kebergantungan saya pada hasil-hasil karya tulisnya sangat besar, oleh karena itu sangatlah berlebihan apabila saya menonjolkan hal-hal kecil yang saya kemukakan dalam buku ini. Perlu dicatat bahwa dari semua usaha ini saya mengakui tanpa keraguan bahwa Dr. Van Til adalah pembela iman Kristen terbesar di abad kita ini.

Apabila buku pedoman ini dapat menjadi salah satu buku untuk ditambahkan pada perpustakaan seseorang, hal itu disebabkan buku ini ditulis secara alkitabiah dalam pendekatannya dan mudah dimengerti dalam penyajiannya. Saya selalu prihatin melihat fakta bahwa buku-buku yang baik mengenai hal ini telah ditulis dengan penyajian yang tidak dapat dijangkau oleh pembaca secara umum. Dengan ditujukannya buku ini bagi murid-murid SMA diharapkan dapat menyederhanakan dan menjelaskan hal-hal dasar dari pembelaan iman Kristen secara alkitabiah sehingga dapat mencapai sebagian besar saudara-saudara saya seiman.

Pedoman ini telah dibagi ke dalam tiga belas pelajaran instruksi dan yang keempat belas adalah ilustrasi praktis. Penyusunan ini dibuat sedemikian rupa supaya pelajaran-pelajaran ini dapat dipergunakan di Sekolah Minggu (catatan penerjemah: di Amerika Sekolah Minggu diadakan bagi semua usia, yaitu anak-anak sampai kaum dewasa) atau program pemahaman Alkitab. Setiap pelajaran disusun atas pelajaran sebelumnya dan harus dipelajari secara berurutan.

Pertanyaan-pertanyaan diberikan di setiap akhir pelajaran sebagai bahan evaluasi dan bahan diskusi.

Harapan saya dari pelajaran-pelajaran ini sangat banyak. Saya berdoa kiranya semua itu dapat berguna untuk membawa Injil Kristus pada orang-orang yang tidak percaya dengan cara yang efektif dan meyakinkan. Lebih daripada itu, saya rindu melihat pelajaran-pelajaran ini digunakan untuk menguatkan dan mendorong orang- orang percaya agar yakin dan berani dalam memproklamasikan keselamatan dalam Kristus. Akhirnya, saya menyadari bahwa penyajian ini tidak sempurna. Oleh karena itu, saya berharap bahwa orang yang lebih mampu dari saya di kemudian hari setelah diperkenalkan pada pembelaan iman Kristiani melalui pelajaran- pelajaran ini, mereka akan melangkah lebih jauh dan mengajarkan kepada kita bagaimana untuk menaklukkan segala pikiran kepada Kristus dengan lebih baik.

R.L.P


Menaklukkan Segala Pikiran kepada Kristus -- Catatan Penulis untuk Penerjemahan Buku ini [Indeks 00000]

[Daftar Isi 00004]

Catatan Penulis untuk Penerjemahan Buku ini

Merupakan hal yang menyenangkan bagi saya melihat buku Every Thought Captive diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia. Oleh karena saya percaya bahwa kebenaran-kebenaran yang dikomunikasikan dalam buku ini dapat diterapkan kepada semua umat Allah di seluruh dunia. Kita dipanggil untuk membagikan iman kita kepada orang lain. Kita telah dipanggil untuk "selalu bersiap sedia untuk memberi pertanggungan jawab kepada tiap-tiap orang yang meminta pertanggungan jawab." (1Pe 3:15).

Doa saya kiranya Allah menggunakan terjemahan ini untuk mendorong umat-Nya di Indonesia dan untuk menyebarkan kebenaran dari Kristus kepada mereka yang belum menyerahkan hidupnya kepada DIA.

Ucapan terima kasih saya tujukan kepada Rahmiati Tanudjaja atas pekerjaannya untuk menerjemahkan buku ini. Tetapi lebih daripada itu ucapan terima kasih hanya kepada Allah yang telah memanggil umat-Nya untuk "menawan segala pikiran dan menaklukkannya kepada Kristus."

Richard Pratt, Jr. Reformed Theological Seminary Jackson, M.S. USA 30 Mei 1989


Menaklukkan Segala Pikiran kepada Kristus -- Penghargaan [Indeks 00000]

[Daftar Isi 00004]

Penghargaan

Ada banyak pihak yang telah menyumbangkan pemikiran dalam penyusunan buku pedoman ini. Saya secara khusus mengucapkan terima kasih kepada Dr. Cornelius Van Til di mana hasil karyanya telah menjadi batu pedoman dalam sejarah gereja.

Saya juga mengucapkan terima kasih kepada John Frame yang mana penafsirannya akan Van Til sangat tepat, kreatif, dan sangat dibutuhkan. Selain itu saya mengucapkan penghargaan kepada Dr. Jack L. Arnold, di mana karunia penggembalaannya sangat berarti bagi saya dalam perjalanan studi saya sebagai orang Kristen.


Menaklukkan Segala Pikiran kepada Kristus -- Pelajaran 1 Dasar yang Kokoh [Indeks 00000]

PELAJARAN 1 DASAR YANG KOKOH [Daftar Isi 00004]
00010 A. "Rumah Apologetika"
00011 B. Pengertian dari "Apologetika Alkitabiah"
00012 C. Kepentingan dari Apologetika

Tetapi kuduskanlah Kristus di dalam hatimu sebagai Tuhan Dan siap sedialah pada segala sesuatu untuk memberi pertanggungan jawab kepada tiap-tiap orang yang meminta pertanggungan jawab dari kamu tentang pengharapan yang ada padamu, tetapi haruslah dengan lemah lembut dan hormat. (1Pe 3:15).

Kehidupan yang taat kepada Firman Tuhan adalah seperti rumah yang dibangun di atas dasar yang teguh. Di akhir dari khotbah di atas bukit Tuhan Yesus berkata:

Setiap orang yang mendengar perkataan-Ku ini dan melakukannya, ia sama dengan orang yang bijaksana, yang mendirikan rumahnya di atas batu. Kemudian turunlah hujan dan datanglah banjir, lalu angin melanda rumah itu, tetapi rumah itu tidak rubuh sebab didirikan di atas batu. Tetapi setiap orang yang mendengar perkataan-Ku ini dan tidak melakukannya, ia sama dengan orang yang bodoh, yang mendirikan rumahnya di atas pasir. Kemudian turunlah hujan dan datanglah banjir, lalu angin melanda rumah itu, sehingga rubuhlah rumah itu dan hebatlah kerusakkannya (Mat 7:24-27).

Tuhan Yesus menunjuk pada suatu fakta yang nyata, yaitu kekuatan dari suatu fondasi menentukan kemampuan dari rumah untuk dapat atau tidak dapat bertahan dalam yang deras dan angin yang kuat. Jika seseorang membangun rumahnya di atas pasir, maka rumah itu akan runtuh; tetapi jika ia membangunnya di atas batu yang kokoh, maka rumah itu akan tetap berdiri teguh walaupun di tengah angin badai yang dahsyat. Dalam pelajaran-pelajaran ini, kita seperti akan membangun sebuah rumah di mana apabila hujan dan angin dari orang-orang tidak percaya menyerang rumah kita, kita akan tinggal tenang sebab kita yakin bahwa dasar pekerjaan rumah yang kita bangun adalah dari batu yang kokoh, yaitu Firman Kristus.

Sebelum meletakkan dasar adalah baik bagi kita untuk mengetahui rumah macam apa yang akan kita bangun. Oleh karena itu mari kita mulai dengan pemikiran dasar ini.


Menaklukkan Segala Pikiran kepada Kristus -- Pelajaran 1 Dasar yang Kokoh [Indeks 00000]

PELAJARAN 1 DASAR YANG KOKOH [Daftar Isi 00004]
00010 A. "Rumah Apologetika"
00011 B. Pengertian dari "Apologetika Alkitabiah"
00012 C. Kepentingan dari Apologetika

A. "Rumah Apologetika"

Istilah "apologetika" seringkali disalahmengertikan. Biasanya dimengerti saat di mana kita bersalah kepada seorang teman atau kepada orang yang kita kasihi dan kita merasa perlu untuk mendatangi orang tersebut dan menyampaikan perkataan "saya minta maaf." Meskipun ini adalah pengertian "apologi" yang biasa dipakai dalam percakapan sehari-hari, namun dalam pelajaran-pelajaran berikut, istilah ini akan dipakai terbatas pada pengertian teknis.

Kata "apologetika" sekeluarga dengan kata-kata sebagai berikut (dalam bahasa Inggris) apology, apologize, dan lain-lain. Kata ini berasal dari bahasa Yunani APOLOGIA. Kata ini sering dipakai dalam literatur non-Kristen, Kristen, dan dalam Perjanjian Baru.

Contohnya: "The Apology of Socrates" adalah sebuah catatan pembelaan yang disajikan di hadapan sidang di Athena. Justin Martyr, dalam "Apology"nya, berusaha untuk membela saudara-saudara seimannya dari tuduhan yang salah yang telah dilontarkan oleh orang-orang tidak percaya. Pada waktu Paulus berdiri di hadapan orang banyak di Yerusalem, dia berkata, "Hai saudara-saudara dan bapa- bapa, dengarkanlah apa yang hendak kukatakan kepadamu sebagai pembelaan diri." (Kis 22:1). Berapologetika, dalam hal ini berarti memberikan pembelaan; suatu "apologi" artinya pembelaan yang diberikan; dan "apologetika" adalah studi yang mempelajari secara langsung bagaimana mengembangkan dan menggunakan pembelaan itu.

Apologetika memang merupakan suatu bidang yang mendapatkan perhatian secara khusus dari pelbagai agama dan filsafat di dunia. Tetapi dalam pelajaran- pelajaran ini perhatian hanya akan ditujukan pada pembelaan kebenaran kristiani yang telah diwahyukan kepada manusia melalui Firman Tuhan baik dalam Perjanjian Lama maupun Perjanjian Baru. Apologetika semacam ini disebut "apologetika kristiani," yaitu pembelaan filsafat hidup Kristen terhadap berbagai bentuk filsafat hidup non Kristen.[1] Oleh karena itu kita tidak akan mempelajari apologetika secara umum tetapi hanya yang berkenaan dengan kekristenan. Sesuai dengan analogi yang telah diberikan di atas maka rumah yang akan kita bangun dalam pelajaran-pelajaran berikut ini adalah rumah apologetika kristiani.


Menaklukkan Segala Pikiran kepada Kristus -- Pelajaran 1 Dasar yang Kokoh [Indeks 00000]

PELAJARAN 1 DASAR YANG KOKOH [Daftar Isi 00004]
00010 A. "Rumah Apologetika"
00011 B. Pengertian dari "Apologetika Alkitabiah"
00012 C. Kepentingan dari Apologetika

B. Pengertian dari "Apologetika Alkitabiah"

Ketika Tuhan Yesus berbicara mengenai fondasi kokoh yang harus mendasari setiap area dalam kehidupan kita, fondasi kokoh itu adalah Firman Allah. Firman Allah adalah fondasi satunya yang dapat memberikan kepada kita kekuatan yang kita butuhkan untuk tetap berdiri teguh di tengah badai dosa yang dahsyat dan menghancurkan. Alkitab Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru adalah Firman Allah. Merupakan pengakuan umum semua orang Kristen bahwa:

Segala tulisan yang diilhamkan Allah, memang bermanfaat untuk mengajar, untuk menyatakan kesalahan, untuk memperbaiki kelakuan dan untuk mendidik orang dalam kebenaran. Dengan demikian tiap-tiap manusia kepunyaan Allah diperlengkapi untuk setiap perbuatan baik. (2Ti 3:16, 17)

Alkitab adalah penuntun berotoritas yang mutlak bagi semua orang percaya; tanpa Alkitab kita hanya dapat menerka-nerka pikiran daripada Allah, tetapi dengan Alkitab semua petunjuk dan pimpinan Allah dalam setiap aspek kehidupan kita menjadi pasti dan jelas. Seperti yang dikatakan oleh pemazmur, kita dapat berkata:

Firman-Mu itu pelita bagi kakiku dan terang bagi jalanku (Maz 119:105).

Dalam pengertian inilah Tuhan Yesus menegaskan dan meneguhkan dengan perkataan- Nya bahwa seluruh Firman Tuhan adalah satu-satunya fondasi untuk membangun rumah apologetika kita. Alkitab adalah fondasi satu-satunya di mana tanpa fondasi Firman Tuhan, maka segala usaha kita untuk membangun sesuatu di atasnya akan runtuh menjadi puing-puing.

Tidaklah lengkap kalau dikatakan bahwa Alkitab hanya bertindak sebagai fondasi untuk berapologetika, bahkan orang percaya yang tidak terlatih dapat melihat bahwa otoritas Alkitab merupakan sesuatu yang terpenting dalam kebutuhan untuk membela kepercayaannya. Serangan yang terbesar pada iman kristiani ditujukan kepada Alkitab. Alkitab sering kali dituduh mengandung banyak kesalahan dan hanya mempunyai sedikit otoritas yang tidak berbeda dengan tulisan literatur yang lain. Oleh karena sering kali kita harus membela kepercayaan kepada Alkitab sebagai Firman Tuhan, maka hubungan apologetika dengan Alkitab kadang-kadang disalahmengertikan. Alkitab sebagai Firman Tuhan adalah fondasi di mana kita membangun pembelaan kita dan juga merupakan salah satu kepercayaan yang harus kita pertahankan. Sering kali dua peran yang harus dimainkan oleh Alkitab dilupakan orang.

Orang-orang Kristen yang bertujuan baik ada yang keliru dalam pandangan mereka mengenai karakter Alkitab sebagai fondasi dan cenderung untuk membangun pembelaan mereka hanya di atas dasar hikmat dan kemampuan berpikir manusia. Firman Tuhan ditempatkan sebagai atap dari bangunan mereka yang didukung oleh apologetika mereka. Kesulitan untuk mendukung Firman Tuhan dengan bangunan yang didasarkan pada hikmat manusia sebagai otoritas yang tertinggi sering kali menjadi terlampau berat. Pembangun-pembangun rumah yang semacam itu mungkin akan menutup mata dan mengatakan yang sebaliknya atau menyangkal hal ini, tetapi kehancuran dari rumah semacam itu tidak dapat dihindarkan, yaitu seperti rumah yang dibangun di atas dasar pasir.

Sebagai pengikut Kristus kita harus selalu ingat untuk membangun pembelaan iman kristiani di atas fondasi yang kuat yaitu Alkitab. Apabila kita melakukannya secara demikian maka tidak akan ada beban yang terlampau berat untuk ditunjang; dan tidak akan ada angin yang terlalu kencang yang tidak dapat ditahan.

Apologetika alkitabiah dapat dibandingkan dengan hubungan seorang raja dengan jenderal-jenderalnya. Kita tahu bahwa jenderal-jenderal itu bertanggung jawab untuk membela dan mempertahankan raja mereka, seperti halnya apologetika terhadap Alkitab. Dan kita juga tahu bahwa jenderal-jenderal yang patuh dan terhormat akan membela raja mereka sesuai dengan perintah atau komando dan petunjuk dari raja mereka. Lebih daripada itu apologetika harus membela Alkitab dengan ketaatan secara mutlak kepada prinsip-prinsip pembelaan dan petunjuk yang diwahyukan di Alkitab.

Peranan Alkitab sebagai penuntun dalam berapologetika dapat terlihat dengan jelas dalam 1Pe 3:15:

Tetapi kuduskanlah Kristus di dalam hatimu sebagai Tuhan! Dan siap sedialah pada segala waktu untuk memberi pertanggungan jawab kepada tiap-tiap orang yang meminta pertanggungan jawab dari kamu tentang pengharapan yang ada padamu, tetapi haruslah dengan lemah lembut dan hormat.

Pada konteks sebelumnya Petrus menulis tentang penderitaan yang harus dihadapi oleh orang-orang Kristen. Petrus tahu bahwa dalam masa penderitaan, serangan- serangan dari dunia yang penuh dengan dosa sering kali dapat membuat kita lupa bahwa kita sedang melayani Kristus di mana kita harus tetap percaya dan taat pada Dia dalam segala macam pencobaan. Petrus berharap para pembaca suratnya akan memberikan tanggapan yang tepat kepada pertanyaan-pertanyaan yang mungkin akan dilontarkan oleh para penganiaya mereka. Oleh karena itu Petrus memberikan petunjuk kepada para pembacanya untuk mempersiapkan diri menghadapi penderitaan itu dengan memohon supaya mereka mempunyai sikap yang tepat terhadap Kristus.

Kita harus memperhatikan dengan seksama bagaimana Petrus menyusun petunjuk dalam ayat-ayat berikut ini. Pertama, Petrus berkata, "Kuduskanlah Kristus di dalam hatimu sebagai Tuhan!" dan kemudian dia menambahkan, "siap sedialah pada segala waktu untuk memberi pertanggungan jawab ..." Sebelum pembelaan atau jawaban diberikan, Kristus harus dikuduskan terlebih dahulu sebagai Tuhan yang memerintahkan dan mengatur dalam setiap segi kehidupan kita.

Perhatikanlah bahwa kita harus menguduskan Kristus sebagai Tuhan dalam hati kita. Ini tidak berarti seperti yang banyak dimengerti oleh cara berpikir kita pada masa kini yaitu hanya stabilitas emosi kita yang harus berdasar pada Kristus sementara pemikiran kita dapat bebas untuk melakukan apa yang dikehendakinya dalam berapologetika. Tidak juga berarti bahwa ke-Tuhanan Kristus harus tinggal hanya dalam hati kita yang terdalam, dan tidak pernah mempengaruhi jawaban-jawaban kita pada pertanyaan-pertanyaan dunia. Firman Tuhan mengajarkan kepada kita bahwa hati adalah pusat dari personalitas kita dari mana "terpancar kehidupan" (Ams 4:23). Apa yang kita lakukan di hati kita memerintah tidak hanya emosi kita, tetapi juga pemikiran kita, dan setiap aspek kehidupan kita yang lainnya. Lebih daripada itu menguduskan Kristus sebagai Tuhan dalam hati kita berarti ke-Tuhanan-Nya juga akan efektif dalam semua apa yang kita ekspresikan keluar, termasuk pembelaan iman kita. Oleh karena itu, menurut Petrus, penaklukkan terhadap otoritas Kristus merupakan hal yang sangat penting dalam melakukan pembelaan yang benar dan tepat. Sebagai Tuhan kita, Kristus akan memimpin kita pada saat kita melakukan pembelaan iman. Pimpinan ini datang melalui Firman-Nya, dan tanpa pimpinan-Nya maka segala sesuatu akan menjadi sia- sia.

Dalam pelajaran yang berikutnya kita akan memperhatikan bagaimana membangun pembelaan untuk iman kristiani yang yang didasarkan kepada batu karang yang kokoh yaitu Alkitab. Ada berbagai macam buku di mana yang satu lebih dari yang lain dalam memberikan berbagai macam cara untuk membela kebenaran kristiani. Keanekaragaman ini sering kali membingungkan orang-orang Kristen. Namun di tengah kebingungan ini ada satu hal yang tetap jelas bagi kita, yaitu janganlah kita mengadopsi suatu cara berapologetika oleh karena orang-orang terkenal menggunakannya, atau oleh karena ternyata menghasilkan banyak keberhasilan, atau oleh karena kekuatannya telah memberikan kepada kita iman kepercayaan. Kita harus mengadopsi cara yang berdasarkan prinsip-prinsip dari Alkitab. Apabila kita berkerinduan untuk membangun pembelaan yang akan selalu tegak berdiri dan tidak pernah goyah dan jatuh, maka kita harus membangunnya di atas dasar Firman Allah.


Menaklukkan Segala Pikiran kepada Kristus -- Pelajaran 1 Dasar yang Kokoh [Indeks 00000]

PELAJARAN 1 DASAR YANG KOKOH [Daftar Isi 00004]
00010 A. "Rumah Apologetika"
00011 B. Pengertian dari "Apologetika Alkitabiah"
00012 C. Kepentingan dari Apologetika

C. Kepentingan dari Apologetika

Mempelajari apologetika dan mempelajari perkembangan kemampuan untuk berapologetika secara benar dalam membela kebenaran kristiani adalah tanggung jawab setiap orang percaya. Dari yang tertua sampai yang termuda, yang terkaya sampai yang termiskin, dari yang terpandai sampai yang sederhana, setiap orang yang telah percaya pada keselamatan dalam Yesus Kristus bertanggung jawab untuk mempelajari apologetika. Namun sering kali orang-orang Kristen yang bermaksud baik gagal untuk melaksanakan tanggung jawab ini secara serius.

Salah satu alasan yang biasa dikemukakan untuk mengabaikan apologetika terletak pada kesalahmengertian seseorang akan apa yang dikatakan oleh Tuhan Yesus di dalam Mat 10:19: "Apabila mereka menyerahkan kamu, janganlah kamu kuatir akan bagaimana dan akan apa yang harus kamu katakan, karena semuanya itu akan dikaruniakan kepadamu pada saat itu juga."

Kesalahmengertian yang serius telah timbul berkenaan dengan ayat ini, khususnya apabila kita membaca terjemahan dari King James yang diterjemahkan sebagai berikut: "give no thought how or what ye shall speak" (yang dapat diartikan sebagai berikut: "tidak perlu dipikirkan bagaimana atau apa yang harus kita katakan"). Berdasarkan ayat tersebut, maka sering kali ditafsirkan bahwa ayat itu mengajarkan kita perlu bersandar secara mutlak kepada pimpinan Roh Kudus pada saat membela iman kita oleh karena itu kita tidak perlu untuk mempersiapkan diri untuk mempelajari bagaimana berapologetika.

Lebih jauh dikatakan bahwa orang yang mempelajari apologetika memperlihatkan kurang berimannya seseorang dan ketidaksepenuhan hati dari seseorang dalam penyerahan kepada Allah. Penafsiran seperti ini terhadap ayat tersebut tidak dapat dipertanggungjawabkan sebab tidak mempertimbangkan pengamatan secara menyeluruh terhadap konteks dari ayat tersebut dan juga Firman Tuhan secara keseluruhan.

Perlu diperhatikan bahwa Tuhan Yesus tidak mengatakan "jangan pikirkan tentang apa yang akan kamu katakan," seperti yang sering dimengerti oleh pembaca masa kini berdasarkan terjemahan King James. Melainkan seperti terjemahan yang paling akhir, ayat ini berkenaan dengan peringatan Tuhan Yesus supaya orang-orang percaya jangan cemas dan kuatir. Dalam ayat-ayat sebelumnya (Mat 10:19) Tuhan Yesus mengatakan bahwa murid-murid-Nya akan diserahkan ke hadapan gubernur- gubernur dan raja-raja. Kenyataan bahwa mereka akan berhadapan dengan orang- orang penting seperti itu tentu merupakan pengalaman yang sangat menggentarkan. Oleh karena itu Tuhan Yesus mendorong dan memberi semangat kepada para murid sebelumnya untuk tidak cemas dan takut. Segala ketakutan harus lenyap dari mereka yang membela iman sebab mereka tidak akan pernah berdiri sendiri. Tuhan Yesus mengatakan bahwa Roh Kudus dari Allah akan memberikan kepada kita kekuatan dan hikmat pada saat kita membutuhkannya. Seperti apa yang dikatakan oleh rasul Paulus: "Pada waktu pembelaanku yang pertama tidak seorang pun yang membantu aku ... tetapi Tuhan telah mendampingi aku dan menguatkan aku..." (2Ti 4:16, 17).

Sangatlah penting untuk dimengerti bahwa jaminan akan diberikannya kekuatan dari Roh Kudus jangan diartikan sebagai pengganti dari ketekunan dan kesetiaan dalam mempelajari dan mempersiapkan diri untuk berapologetika. Walaupun kita anjurkan untuk tidak kuatir akan makanan dan pakaian (lihat Mat 6:25 dan selanjutnya), kita tetap dianjurkan untuk bekerja berjerih-payah untuk mendapatkan semua itu. Demikian juga halnya dengan berapologetika, kita harus memenuhi tanggung jawab kita untuk mempersiapkan diri.

Petrus menulis bahwa kita harus "selalu bersiap sedia (sudah mempersiapkan diri) untuk memberikan jawab" (2Pe 3:15). Oleh karena itu mereka yang mengabaikan hal ini berarti tidak taat secara mutlak kepada ke-Tuhanan Kristus dan tidak bergantung pada Roh Kudus, sebab ketaatan dan penyerahan yang sungguh-sungguh akan dinyatakan dengan mempelajari apologetika secara serius.

Alasan lain yang sering kali dipakai untuk mengabaikan apologetika adalah alasan bahwa pembelaan iman merupakan pekerjaan orang-orang yang terlatih (misalnya: para pendeta atau lulusan dari sekolah teologia) dan bukan tugas dari orang- orang Kristen secara umum. Guru-guru dan pendeta diharapkan untuk dapat memberikan jawaban secara sistematis, sebab apologetika terlalu berfilsafat dan abstrak dan tidak praktis bagi orang-orang biasa. Oleh karena itu banyak orang Kristen yang berpikir bahwa tugas mereka hanya untuk mengabarkan Injil dan kalau ada pertanyaan mengenai kredibilitas dari iman kristiani maka mereka akan membawa orang itu kepada pendeta mereka, yang dianggap sebagai seorang "tenaga ahli."

Memang benar bahwa guru dan pendeta mempunyai tanggung jawab yang lebih berat dalam berapologetika dibandingkan dengan kebanyakan orang-orang percaya, tetapi ini tidak berarti bahwa berapologetika hanyalah merupakan tanggung jawab para pendeta dan para guru. Setiap orang percaya bertanggung jawab untuk dapat berapologetika. 1Pe 3:15, ayat yang telah kita pelajari menyatakan bahwa tidak ada kekecualian bagi orang Kristen dalam berapologetika. Setiap orang harus siap untuk menderita bagi Kristus dan setiap orang harus bersiap sedia untuk memberikan jawaban dan membela pengharapan mereka di dalam Kristus.

Lebih daripada itu Paulus secara jelas menyatakan bahwa setiap orang percaya harus menjadi pembela iman. Sebagai seorang rasul Paulus secara khusus "dipilih untuk menjadi pembela daripada Injil." (Fili 1:16). Tetapi Paulus mengerti bahwa pekerjaan untuk berapologetika bukan hanya tanggung jawabnya sendiri. Oleh karena itu ia berkata pada orang-orang Filipi:

Memang sudahlah sepatutnya aku berpikir demikian akan kamu semua, sebab kamu ada di dalam hatiku, oleh karena kamu semua turut mendapat bagian dalam kasih karunia yang diberikan kepadaku, baik pada waktu aku dipenjarakan, maupun pada waktu aku membela dan meneguhkan Berita Injil (Fili 1:7).

Paulus telah dipenjarakan oleh karena berkhotbah mengenai Injil, tetapi orang- orang Kristen di Filipi tidak meninggalkan dia. Mereka telah mengirimkan pemberian-pemberian yang disampaikan oleh wakil dari gereja mereka. Malahan mereka telah begitu sangat terlibat dengan pelayanan Paulus sebagai seorang rasul sehingga mereka juga "mengalami hal yang sama" (Fili 1:30) seperti Paulus. Salah satu yang mereka jalani atau alami bersama dengan Paulus dijelaskan sebagai "pembelaan dan pengukuhan dari Injil" (Fili 1:7). Orang-orang Filipi dihargai dan dipuji oleh karena mereka melaksanakan dengan serius pekerjaan membela iman kristiani. Demikian pula setiap orang yang membela iman kristiani akan dihargai dan dipuji oleh Firman Tuhan. Apologetika bukan hanya tanggung jawab orang-orang tertentu saja melainkan tanggung jawab setiap orang Kristen.

Kepentingan dari apologetika dapat dilihat dari berbagai segi yang lain. Kemampuan untuk mempertahankan kepercayaan kita akan membuat penginjilan kita menjadi lebih efektif. Kita tidak perlu takut untuk mengemukakan masalah kekristenan di antara kawan-kawan kita dan tetangga kita apabila kita mampu untuk memberi jawab atas pertanyaan-pertanyaan mereka. Kita tidak perlu takut untuk menghadapi orang yang tidak percaya dari kalangan intelektual apabila kita mampu untuk mempertahankan iman kepercayaan kita. Semangat penginjilan akan bertambah dengan mempelajari apologetika. Lebih daripada itu orang yang mendengar Injil sering kali keraguannya menjadi sirna dengan mendengar jawaban yang benar atas pertanyaan atau keraguan mereka.

Selain itu apologetika alkitabiah dapat menguatkan iman orang-orang percaya. Banyak orang Kristen yang terkena wabah keragu-raguan. Keraguan ini sering kali merupakan penyebab orang percaya kehilangan kemampuannya untuk melayani Kristus. Apologetika memampukan orang percaya untuk mengatasi berbagai macam pencobaan untuk jatuh dalam ketidaksetiaan yang mungkin dapat dialami. Kemampuan ini sebaliknya akan memungkinkan dia untuk memperhatikan hal lain yang perlu dipelajari dalam pelayanan.

Orang Kristen yang belum pernah mengalami problema keraguan, dengan mempelajari apologetika secara sungguh-sungguh akan membuat dia bertambah yakin dan semangat untuk lebih taat sebagai anak Tuhan. Apologetika adalah subjek yang sangat penting yang seharusnya menjadi perhatian semua orang percaya.

Dalam pelajaran yang berikut ini kita akan membangun satu bata demi satu bata dari rumah apologetika yang sangat penting ini. Dan bangunan ini akan dirasakan secara kokoh pada Firman Tuhan. Dengan satu pengharapan bahwa orang-orang percaya akan diperlengkapi dengan lebih baik lagi untuk melayani Tuhan dan untuk membangun kerajaan-Nya dengan ketaatan kepada Dia dan dengan secara efektif memenangkan jiwa-jiwa yang terhilang.

Pertanyaan-pertanyaan Sebagai Bahan Evaluasi:

  1. Apakah artinya istilah "apologetika kristiani" yang akan dipergunakan dalam pelajaran-pelajaran ini?
  2. Jelaskan dua aspek hubungan antara Alkitab dengan apologetika?
  3. Apakah dua bantahan yang sering kali timbul melawan usaha mempelajari apologetika? Bagaimana saudara akan menjawab tantangan ini?
  4. Apakah keuntungan pribadi yang dapat ditarik oleh saudara dalam mempelajari apologetika?
  5. Tunjukkan beberapa cara di mana 1Pe 3:15 dapat dijadikan penuntun dalam berapologetika?

Catatan Kaki:

[1] Cornelius Van Til Apologetics (Diktat Kelas), h. 1.


Menaklukkan Segala Pikiran kepada Kristus -- Pelajaran 2 Permulaan Dari Segalanya [Indeks 00000]

PELAJARAN 2 PERMULAAN DARI SEGALANYA [Daftar Isi 00004]
00013 A. Allah dan Ciptaan-Nya
00014 1. Allah adalah Allah yang Berdiri Sendiri
00015 2. Ciptaan Bergantung kepada Allah
00016 3. Allah Menyatakan Diri kepada Manusia
00017 B. Kebergantungan Manusia kepada Allah
00018 1. Kebergantungan Pengetahuan Manusia
00019 2. Kebergantungan Moralitas Manusia

Pada mulanya Allah menciptakan langit dan bumi (Kej 1:1).

Pada pelajaran yang terdahulu kita telah mempelajari hubungan Alkitab dengan pembelaan kita atas iman kristiani. Dalam pelajaran kedua ini kita akan mengembangkan prinsip-prinsip dan penerapan pembelaan iman kristiani berdasarkan kebenaran Alkitab sebagai Firman Tuhan. Sesuai dengan keyakinan ini, maka ada beberapa hal yang harus dibahas. Pertama, kita akan memulainya dengan mempelajari konsep penciptaan secara alkitabiah.

A. Allah dan Ciptaan-Nya

Alkitab sebagai buku rohani yang disusun untuk memperlihatkan jalan dari agama yang benar, menempatkan kebenaran Allah adalah Pencipta segala sesuatu sebagai kalimat Pembukaan. Penempatan kebenaran ini (yang tidak dapat dikompromikan dengan apapun juga) sebagai kalimat pembukaan dari Alkitab menyatakan betapa pentingnya untuk menyadari bahwa Allah adalah Pencipta segala sesuatu. Oleh karena itu tidaklah berlebihan apabila dikatakan bahwa seluruh Alkitab berisi penjelasan mengenai kebenaran yang satu ini, yaitu Allah sebagai Pencipta dan Tuhan.

Manusia tidak akan pernah dapat tinggal di taman Eden sebelum kejatuhan. Kejatuhan manusia ke dalam dosa tidak akan pernah terjadi. Dan pekerjaan keselamatan yang digenapi oleh kematian dan kebangkitan Tuhan Yesus menjadi tidak berarti apabila tidak pernah ada penciptaan yang dilakukan oleh Allah.

Taman Eden merupakan penyataan dari keharmonisan Allah dengan ciptaan-Nya. Dosa merupakan pemberontakan dari ciptaan melawan Penciptanya. Keselamatan merupakan pembebasan dari dosa dan hak ciptaan untuk dapat berdiri di hadapan Allah. Rasul Yohanes berbicara mengenai sifat yang hakiki dari aktivitas penciptaan Allah sebagai berikut: "Segala sesuatu dijadikan oleh Dia dan tanpa Dia tidak ada suatupun yang telah jadi dari segala yang telah dijadikan." (Yoh 1:3).

Apabila kita coba mengamati Kej 1:1, maka kita dapat melihat bahwa aktivitas penciptaan terdiri dari dua pembagian. Di satu pihak kita melihat seseorang yang menciptakan, dan di pihak lain kita melihat ciptaan yang Dia ciptakan. Akibatnya kita dapat melihat garis pemisah atau perbedaan yang tercipta antara Allah sebagai Pencipta dengan ciptaan Allah. Kita akan sebut ini sebagai "perbedaan antara Pencipta dengan ciptaan." Ini merupakan konsep yang akan diselidiki lebih jauh dan merupakan referensi yang akan selalu dilihat kembali.

Perbedaan antara Pencipta dan ciptaan-Nya ini tidak pernah boleh kita lupakan atau dikesampingkan barang sedetik pun dalam usaha mengembangkan apologetika alkitabiah.


Menaklukkan Segala Pikiran kepada Kristus -- Pelajaran 2 Permulaan Dari Segalanya [Indeks 00000]

PELAJARAN 2 PERMULAAN DARI SEGALANYA [Daftar Isi 00004]
00013 A. Allah dan Ciptaan-Nya
00014 1. Allah adalah Allah yang Berdiri Sendiri
00015 2. Ciptaan Bergantung kepada Allah
00016 3. Allah Menyatakan Diri kepada Manusia
00017 B. Kebergantungan Manusia kepada Allah
00018 1. Kebergantungan Pengetahuan Manusia
00019 2. Kebergantungan Moralitas Manusia

1. Allah adalah Allah yang Berdiri Sendiri

Orang-orang Kristen pada jaman ini jarang sekali berpikir bahwa Allah tidak hanya sekedar seorang kakek tua yang duduk di atas awan sambil memperhatikan segala peristiwa-peristiwa yang menyedihkan di dunia tanpa mampu berbuat apa- apa. Oleh karena itu Allah sering kali dilihat hanya sebagai Allah yang tidak ada gunanya dan tidak penting bagi dunia ini, kecuali apabila ada manusia yang memiliki kerinduan dan kebutuhan pribadi yang ingin dipenuhi oleh Allah.

Dalam pikiran kebanyakan orang, Allah tidak ada hubungannya dengan proses yang terjadi di dunia. Mereka mengatakan bahwa: "Allah dibutuhkan hanya pada saat malapetaka dan masalah pribadi yang berat." Lebih daripada itu Allah sendiri sering dimengerti sebagai Allah yang bergantung kepada ciptaan-Nya. Dia merindukan sesuatu kiranya dapat terjadi di tengah dunia ini, namun hal sebaliknya yang tidak Ia duga dapat terjadi oleh karena tingkah manusia yang pandai. Pikiran-pikiran yang demikian telah tumbuh di gereja. Pikiran semacam ini sangat jauh dari gambaran Firman Tuhan mengenai Allah.

Allah bukan Allah yang tidak dapat berdiri sendiri atau seperti "ayah yang manis"; Dia adalah Pencipta yang Mahakuasa dan yang terus menerus berkecimpung dan bertanggung jawab atas ciptaanNya. Rom 11:36 berbicara mengenai hal ini:

Sebab segala sesuatu adalah dari Dia, dan oleh Dia, dan kepada Dia: Bagi Dialah kemuliaan sampai selama-lamanya!

Pengamatan yang lebih teliti pada bagian Firman Tuhan ini akan menyatakan kedalaman dari pengetahuan tentang Allah yang disajikan dalam ayat ini. Pertama, Paulus berkata bahwa semua ciptaan adalah "dari DIA." Ayat ini berarti Allah menciptakan dari yang tidak ada menjadi ada dan semua ciptaan tidak terjadi dengan sendirinya.

Terakhir Paulus menyatakan ciptaan diciptakan "bagi DIA." Ini berarti ciptaan diciptakan untuk kemuliaan Allah dan untuk menyenangkan Allah, bukan untuk manusia atau untuk ciptaan yang lain. Lebih daripada itu penjelasan yang kedua ini mengandung suatu perintah.

Penciptaan adalah "melalui DIA." Di sini Paulus tidak berbicara mengenai awal atau akhir dari hubungan Allah dengan ciptaan. Dia berbicara mengenai Allah sebagai Pencipta yang memelihara dan menunjang keberadaan ciptaan-Nya setiap saat. Ciptaan dapat terus berlangsung keberadaannya oleh karena Allah.

Inti dari kebenaran ini adalah sebagai berikut: Sebagaimana Allah adalah kuasa yang menciptakan dari permulaan, Dia juga adalah kuasa yang memungkinkan atau mendukung ciptaan ini terus berada sampai sekarang. Demikian juga halnya dengan sebagaimana Allah tidak diciptakan oleh ciptaan- Nya, maka Dia sekarang tidak didukung oleh ciptaan dalam hal apapun juga.

Dalam Kis 17:25 kita dapat baca sebagai berikut:

dan juga tidak dilayani oleh tangan manusia, seolah-olah Ia kekurangan apa- apa, karena Dialah yang memberikan hidup dan nafas dan segala sesuatu kepada semua orang.

Sangat jelas dikatakan bahwa Allah tidak membutuhkan sesuatu apapun yang harus atau dapat dipenuhi oleh ciptaan, oleh karena secara kenyataan yang terjadi adalah sebaliknya. Segala sesuatu yang dibutuhkan oleh ciptaan dipenuhi oleh Allah. Allah adalah Allah yang berdiri sendiri.


Menaklukkan Segala Pikiran kepada Kristus -- Pelajaran 2 Permulaan Dari Segalanya [Indeks 00000]

PELAJARAN 2 PERMULAAN DARI SEGALANYA [Daftar Isi 00004]
00013 A. Allah dan Ciptaan-Nya
00014 1. Allah adalah Allah yang Berdiri Sendiri
00015 2. Ciptaan Bergantung kepada Allah
00016 3. Allah Menyatakan Diri kepada Manusia
00017 B. Kebergantungan Manusia kepada Allah
00018 1. Kebergantungan Pengetahuan Manusia
00019 2. Kebergantungan Moralitas Manusia

2. Ciptaan Bergantung kepada Allah

Apabila kita mengatakan bahwa Allah adalah Allah yang berdiri sendiri, maka di lain pihak kita harus menegaskan kebergantungan secara total dari ciptaan atas Allah sebagai Pencipta. Kita ketahui bahwa kebergantungan anak-anak kepada orang tua mereka semakin berkurang saat mereka tumbuh menjadi dewasa. Bahkan bayi yang baru lahir pun pada waktu yang singkat dapat tetap hidup tanpa orang tuanya. Tetapi tidak demikian halnya dengan kebergantungan ciptaan kepada Allah. Ciptaan tidak dapat terpisah keberadaannya dari Allah atau tidak dapat berdiri sendiri barang sedetik pun tanpa kebergantungan kepada kuasa pemeliharaan Allah. Sehubungan dengan ini Firman Tuhan menyatakan sebagai berikut:

Dialah yang memberikan hidup dan nafas dan segala sesuatu kepada semua orang (Kis 17:25).

Ia ada terlebih dahulu dari segala sesuatu dan segala sesuatu ada di dalam Dia (Kol 1:17).

Allah mengatur, memenuhi kebutuhan dan memelihara segala sesuatu tanpa terkecuali. Dari yang terbesar sampai yang terkecil, setiap aspek dari ciptaan secara keseluruhan bergantung kepada Allah untuk keberlangsungan keberadaannya.

Kita harus setuju dengan John Calvin yang percaya bahwa Allah sebagai Pencipta harus disertai kepercayaan kepada Allah sebagai Tuhan yang mengontrol sejarah. Dunia tidak dapat berlangsung dengan kekuatannya sendiri. Segala keberadaan adalah dari Allah dan melalui Allah. Oleh karena itu kita harus berpikir bahwa ciptaan secara keseluruhan bergantung kepada Allah.

Kita dapat melihat dalam pelajaran yang berikutnya bahwa kesadaran akan perbedaan antara Allah yang berdiri sendiri dengan ciptaan yang bergantung kepada Penciptanya merupakan hal yang membedakan antara orang-orang percaya dengan orang-orang yang tidak percaya. Orang-orang Kristen berusaha untuk melihat segala sesuatu dari sudut pandang ciptaan yang bergantung kepada sang Pencipta, sedangkan orang-orang yang tidak percaya mencoba untuk menyangkal kebergantungan daripada ciptaan kepada sang Pencipta.

Penyangkalan yang sangat keras atas perbedaan Penciptaan dan ciptaan dari orang-orang tidak percaya akan dapat dilihat dari ketidakpercayaan mereka kepada keselamatan dalam Kristus dan menempatkan Allah dan ciptaan-Nya dalam saling bergantung satu dengan yang lain dan menyatakan bahwa ciptaan hanya bergantung kepada Allah dalam taraf tertentu saja. Orang-orang tidak percaya mengemukakan dengan berbagai cara tetapi intinya adalah sama, yaitu penyangkalan akan perbedaan antara ciptaan dengan ciptaan-Nya.


Menaklukkan Segala Pikiran kepada Kristus -- Pelajaran 2 Permulaan Dari Segalanya [Indeks 00000]

PELAJARAN 2 PERMULAAN DARI SEGALANYA [Daftar Isi 00004]
00013 A. Allah dan Ciptaan-Nya
00014 1. Allah adalah Allah yang Berdiri Sendiri
00015 2. Ciptaan Bergantung kepada Allah
00016 3. Allah Menyatakan Diri kepada Manusia
00017 B. Kebergantungan Manusia kepada Allah
00018 1. Kebergantungan Pengetahuan Manusia
00019 2. Kebergantungan Moralitas Manusia

3. Allah Menyatakan Diri kepada Manusia

Sebagai orang Kristen kita harus menekankan perbedaan antara Allah dengan ciptaan-Nya. Dan kita juga tidak boleh melupakan bahwa Allah telah menyatakan diri-Nya sendiri dan kehendak-Nya kepada manusia. Walaupun Allah telah mengadopsi berbagai macam cara untuk menyatakan diri-Nya dalam waktu yang berbeda, kita akan memperhatikan dua cara yang Allah telah pilih untuk menyatakan diri-Nya dalam segala waktu.

a. Melalui Setiap Aspek dari Ciptaan-Nya

Allah secara luar biasa telah membangun seluruh jagad raya ini sehingga setiap bagiannya menyatakan diri-Nya kepada manusia. Setiap elemen dari dunia tanpa pengecualian menyatakan Allah dan kehendak-Nya kepada manusia.

Langit menceritakan kemuliaan Allah, dan cakrawala memberitakan pekerjaan tangan-Nya; hari meneruskan berita itu kepada hari, dan malam menyampaikan pengetahuan itu kepada malam (Maz 19:1-2).

Ciptaan dengan segala keindahan dan kemegahan menyatakan kepada kita kemegahan dari kualitas Allah dan tuntutan kebenaran yang Dia pinta dari manusia. Sebagaimana Paulus katakan dalam Rom 1:20, 32:

Sebab apa yang tidak nampak daripada-Nya, yaitu kekuatan-Nya yang kekal dan Keilahian-Nya, dapat nampak kepada pikiran dari karya-Nya sejak dunia diciptakan, sehingga mereka tidak dapat berdalih ... Sebab walaupun mereka mengetahui tuntutan-tuntutan hukum Allah, yaitu bahwa setiap orang yang melakukan hal-hal demikian patut dihukum mati, mereka bukan saja melakukannya sendiri, tetapi mereka juga setuju dengan mereka yang melakukannya.

Meskipun manusia yang telah jatuh ke dalam dosa menyangkalinya dan orang- orang Kristen sering kali menemukan kesulitan untuk melihatnya, Alkitab mengajarkan secara jelas bahwa Allah telah menyatakan diri-Nya dalam setiap aspek ciptaan kepada semua manusia bahkan rupa manusia sendiri menyatakan semua itu.

Penyataan Allah ini tidak dapat dihindari atau disangkali. Kita tidak dapat mengetahui satu aspek dari ciptaan tanpa difokuskan untuk memikirkan Penciptanya. "Langit memberitakan keadilan-Nya, dan segala bangsa melihat kemuliaan-Nya." (Maz 97:6).

Manusia dapat mengerti akan dirinya sendiri dan semua ciptaan di sekelilingnya hanya dengan kesadaran akan perbedaan antara Pencipta dan ciptaan yang dinyatakan melalui semua itu. Dan manusia dapat mengerti kehendak Allah secara lebih jelas melalui pengamatan mereka akan ciptaan. Contohnya, tidaklah cukup untuk mengetahui bahwa sapi memakan rumput. Pengertian yang benar akan sapi-sapi dan rumput akan menyatakan kuasa pemeliharaan dan pemenuhan Allah serta tanggung jawab manusia untuk menaklukkan ciptaan yang lain bagi kemuliaan Allah (lihat Kej 1:28). Jarak terdekat antara bumi dan salah satu bintang akan dapat dimengerti dengan sesungguhnya hanya dengan kesadaran terhadap pernyataan akan Allah. Begitu besarnya jarak tahun cahaya semata-mata merupakan pekerjaan tangan Allah dan memperlihatkan kepada manusia akan kebutuhan mereka untuk merendahkan diri di hadapan Allah dan berterimakasih atas anugerah-Nya (lihat Maz 8:1-5).

Sebagaimana ciptaan tidak dapat terpisah dari Allah, maka ciptaan tidak dapat berdiam diri mengenai keberadaan Allah. Semakin seseorang mengerti tentang fakta-fakta dari jagad raya ini, semakin semua itu menyatakan akan Allah dan kehendak-Nya kepada dia.

b. Melalui Wahyu Khusus dari Allah

Allah dalam banyak hal terlihat selalu membarengi penyataan-Nya dalam ciptaan, yaitu dengan penyataan-Nya secara khusus mengenai diri-Nya. Dalam taman Eden Dia berbicara dengan suara-Nya kepada Adam mengenai pohon pengetahuan baik dan jahat. Kepada para patriakh (Abraham, Musa dan lain- lain) Allah menyatakan diri-Nya melalui mimpi-mimpi, penampilan- penampilan, dan penglihatan-penglihatan. Kepada Musa Allah berbicara di semak yang menyala dan di atas kitab batu. Kepada para rasul Dia berbicara melalui kehidupan dan perkataan Tuhan Yesus, Putra-Nya. Pada masa di mana kita hidup Allah telah berbicara melalui Alkitab sebagai Firman Tuhan yang telah diinspirasikan oleh Roh Kudus.

Penggunaan beberapa aspek tertentu dari ciptaan untuk wahyu dimaksudkan untuk menambahkan kualitas pewahyuan dari ciptaan yang lain. Sebelum dosa masuk ke dalam dunia ketaatan manusia diuji dengan wahyu khusus. Setelah kejatuhan manusia ke dalam dosa, penyataan secara khusus mempunyai dua maksud yaitu untuk memperlihatkan jalan keselamatan melalui Kristus; dan untuk menolong manusia mengerti dengan lebih baik penyataan akan Allah dan kehendak-Nya dalam aspek-aspek ciptaan yang lain.

Dosa telah menempatkan manusia di bawah penghakiman dan membutakan manusia pada kesadaran akan penyataan Allah melalui semua ciptaan. Sebagai akibatnya, Firman Allah berfungsi sebagai alat di mana melaluinya manusia mengerti akan dirinya sendiri, dunia, dan Allah.

Segala tulisan yang diilhamkan Allah, memang bermanfaat untuk mengajar, untuk menyatakan kesalahan, untuk memperbaiki kelakuan dan untuk mendidik orang dalam kebenaran. Dengan demikian tiap-tiap manusia kepunyaan Allah diperlengkapi untuk setiap perbuatan baik (2Ti 3:16, 17).

Wahyu Allah melalui Firman Tuhan diberikan kepada kita untuk memimpin kita kepada pengetahuan yang benar.

Wahyu Allah melalui semua ciptaan dan Firman Tuhan tidak menghapuskan kepastian perbedaan Pencipta dengan ciptaan. Sebagaimana yang kita ketahui semua bentuk penyataan Allah kepada manusia justru menunjukkan perbedaan atau pemisahan yang harus diakui oleh manusia.


Menaklukkan Segala Pikiran kepada Kristus -- Pelajaran 2 Permulaan Dari Segalanya [Indeks 00000]

PELAJARAN 2 PERMULAAN DARI SEGALANYA [Daftar Isi 00004]
00013 A. Allah dan Ciptaan-Nya
00014 1. Allah adalah Allah yang Berdiri Sendiri
00015 2. Ciptaan Bergantung kepada Allah
00016 3. Allah Menyatakan Diri kepada Manusia
00017 B. Kebergantungan Manusia kepada Allah
00018 1. Kebergantungan Pengetahuan Manusia
00019 2. Kebergantungan Moralitas Manusia

B. Kebergantungan Manusia kepada Allah

Pemazmur menunjukkan kepada kita untuk mengingat kedudukan kita sebagai manusia dengan perkataan ini:

Ketahuilah, bahwa Tuhanlah Allah: Dialah vang menjadikan kita dan punya Dialah kita, umat-Nya dan kawanan domba gembalaan-Nya (Maz 100:3).

Manusia tidak lebih kurang dalam kebergantungannya kepada Allah dibandingkan dengan ciptaan Allah yang lain. Oleh karena keduanya adalah ciptaan Allah yang perlu didukung oleh Allah. Manusia merupakan mahkota dari aktivitas penciptaan Allah, tetapi ia tetap merupakan makhluk ciptaan dan akan kembali kepada debu pada suatu waktu (Kej 2:7).

"Di dalam Dia kita hidup dan bergerak." (Kis 17:28). Oleh karena itu apabila terpisah dari Allah kita bukanlah apa-apa. Segala sesuatu yang dimiliki oleh manusia merupakan pemberian dari Allah. Sebagaimana halnya dengan ciptaan yang lain, apabila Allah lepas tangan daripada kita maka kita akan berhenti dari keberadaan kita. Kita berada semata-mata hanya oleh karena kehendak Allah.

Kebergantungan secara mutlak dari manusia kepada Allah mempunyai banyak implikasi, tetapi ada dua aspek dari kebutuhan kita akan Allah yang khususnya penting untuk pekerjaan apologetika selanjutnya.


Menaklukkan Segala Pikiran kepada Kristus -- Pelajaran 2 Permulaan Dari Segalanya [Indeks 00000]

PELAJARAN 2 PERMULAAN DARI SEGALANYA [Daftar Isi 00004]
00013 A. Allah dan Ciptaan-Nya
00014 1. Allah adalah Allah yang Berdiri Sendiri
00015 2. Ciptaan Bergantung kepada Allah
00016 3. Allah Menyatakan Diri kepada Manusia
00017 B. Kebergantungan Manusia kepada Allah
00018 1. Kebergantungan Pengetahuan Manusia
00019 2. Kebergantungan Moralitas Manusia

1. Kebergantungan Pengetahuan Manusia

Perbedaan antara Pencipta dan ciptaan mempengaruhi pandangan kristiani akan kemampuan manusia untuk mengetahui dirinya sendiri, dunia di sekelilingnya, dan Allah. Dalam pelajaran berikut ini kita akan memperhatikan diri kita sendiri dalam hal pengetahuan secara terinci, khususnya setelah dicemari oleh dosa. Tetapi sangat penting untuk terlebih dahulu membicarakan pengetahuan manusia dalam hal yang lebih khusus.

Seperti yang telah kita mengerti manusia secara mutlak bergantung kepada Allah. Ini termasuk pengetahuannya. Pengertian Allah akan diri-Nya dan ciptaan adalah berdiri sendiri tetapi pengetahuan manusia tidak berdiri sendiri. Pemazmur menyatakannya sebagai berikut:

Sebab pada-Mu ada sumber hayat, di dalam terang-Mu kami melihat terang (Maz 36:10).

Terlepas dari terang Allah melalui penyataan-Nya dalam ciptaan dan Firman Tuhan, kita tidak akan pernah mengerti tentang terang. Allah mengetahui segala sesuatu, oleh karena itu kita harus bergantung kepada pengetahuan-Nya untuk dapat mengetahui sesuatu. Setiap pengertian yang benar yang telah manusia dapatkan baik secara sadar atau tidak sadar, semua itu didapatkan daripada Allah. Hal ini berlaku bagi manusia pertama dan semua orang sampai sekarang. Tuhan Yesus sendiri mengakui sebagai berikut:

"Kata Yesus kepadanya: Akulah jalan dan kebenaran dan hidup." (Yoh 14:6).

Rasul Paulus menegaskan hal ini dengan mengatakan:

sebab di dalam Dialah tersembunyi segala harta hikmat dan pengetahuan (Kol 2:3).

Segala sesuatu yang dapat dinyatakan sebagai kebenaran, termasuk kebenaran yang tidak secara langsung berkenaan dengan agama atau kerohanian bersumber daripada Allah. Dan manusia hanya mengetahuinya apabila manusia datang kepada penyataan Allah akan diri-Nya sebagai sumber dari kebenaran. Oleh karena Allahlah yang mengajarkan kepada manusia akan segala pengetahuan (Maz 94:10).

Kita akan melihat kemudian bahwa kebergantungan manusia kepada Allah dalam ruang lingkup pengetahuan tidaklah berarti bahwa manusia tidak memiliki kemampuan untuk berpikir dan mengasah pemikirannya. Dan juga tidak berarti bahwa manusia diprogram oleh Allah seperti halnya dengan sebuah komputer dalam proses pengumpulan data sehingga komputer mengetahui sesuatu. Manusia memang mempunyai kemampuan untuk dapat berpikir namun pengetahuan yang benar bergantung kepada pengetahuan Allah, dan berasal dari pengetahuan Allah yang telah dinyatakan kepada manusia.


Menaklukkan Segala Pikiran kepada Kristus -- Pelajaran 2 Permulaan Dari Segalanya [Indeks 00000]

PELAJARAN 2 PERMULAAN DARI SEGALANYA [Daftar Isi 00004]
00013 A. Allah dan Ciptaan-Nya
00014 1. Allah adalah Allah yang Berdiri Sendiri
00015 2. Ciptaan Bergantung kepada Allah
00016 3. Allah Menyatakan Diri kepada Manusia
00017 B. Kebergantungan Manusia kepada Allah
00018 1. Kebergantungan Pengetahuan Manusia
00019 2. Kebergantungan Moralitas Manusia

2. Kebergantungan Moralitas Manusia

Sebagaimana halnya manusia harus bergantung kepada Allah untuk pengetahuan secara umum, demikian juga halnya dengan petunjuk dalam bidang moralitas. Pada saat di mana nilai-nilai dan tujuan-tujuan tradisi dipertanyakan, maka kita dipaksa untuk memikirkan bagaimana manusia dapat membedakan antara benar dan salah, atau baik dan jahat.

Salah satu cara untuk dapat berhasil menemukan jawaban untuk pertanyaan ini dan pertanyaan-pertanyaan semacamnya sekali lagi kita harus berdasar pada pengakuan perbedaan Pencipta dengan ciptaan. Sebagai Pencipta, Allah sejak semula adalah Pemberi hukum yang berdiri di atas hukum-Nya, dan yang mengharapkan ketaatan dari makhluk ciptaan-Nya.

Pada saat Allah berkata, "Ini adalah baik," Dia menyatakan diri-Nya sebagai satu-satunya Hakim yang benar yang dapat membedakan antara yang baik dan yang jahat dan Dia tetap mengaplikasikan hak itu bagi diri-Nya sendiri sampai sekarang. Kepada Adam dan Hawa Dia berkata, "dari buah pohon tentang pengetahuan yang baik dan yang jahat jangan engkau memakan buahnya" (Kej 2:17). Kepada Musa Ia menyatakan, "Aku adalah Tuhan Allahmu ... dan jangan ada allah lain di hadapan-Ku." (Kel 20:2, 3). Mengenai Yesus, Allah mengatakan, "Ini adalah Anak yang Kukasihi dan kepada-Nyalah Aku berkenan; dengarkanlah Dia" (Mat 17:5).

Tidak akan pernah ada sidang pengadilan untuk menghakimi Allah; karena Dia adalah Hakim yang tertinggi. Oleh karena itu penyataan-Nya mengenai moralitas berlaku bagi semua orang, dan apabila kita ingin mengetahui mengenai hal yang baik dan yang jahat, kita harus mengingat akan kebergantungan kita sebagai makhluk ciptaan kepada Allah.

Untuk sampai kepada cara alkitabiah dalam berapologetika merupakan tugas yang sulit. Allah adalah Pencipta dan apabila kita sebagai makhluk ciptaan-Nya ingin mengetahui yang benar dan dapat memilih yang benar kita harus secara mutlak bergantung kepada penyataan-Nya.

Pertanyaan-pertanyaan Sebagai Bahan Evaluasi:

  1. Apakah pentingnya Alkitab dibuka dengan kalimat seperti tertulis didalam Kejadian 1:1?
  2. Apakah yang dimaksudkan dengan perbedaan antara Pencipta dengan ciptaan-Nya?
  3. Apakah arti dari Allah adalah Allah yang berdiri sendiri? Apakah ini berarti Allah tidak mempunyai kontak dengan dunia?
  4. Apakah pengertian dari kebergantungan ciptaan kepada Allah? Apakah Saudara dapat mendukung jawaban saudara dengan Firman Tuhan?
  5. Apakah dua cara dasar yang Allah gunakan untuk menyatakan diri-Nya pada jaman sekarang? Yang mana di antara dua penyataan yang harus kita butuhkan untuk dapat mengerti yang lain dengan tepat?


Menaklukkan Segala Pikiran kepada Kristus -- Pelajaran 3 Karakter Manusia Sebelum Jatuh Dalam Dosa [Indeks 00000]

PELAJARAN 3 KARAKTER MANUSIA SEBELUM JATUH DALAM DOSA [Daftar Isi 00004]
00021 A. Manusia dalam Rupa dan Gambar Allah
00022 B. Tanpa Dosa dan Fana
00023 C. Logika, Allah dan Manusia

Maka Allah menciptakan manusia itu menurut gambar-Nya, menurut gambar Allah diciptakan-Nya dia; laki-laki dan perempuan diciptakan-Nya mereka (Kej 1:27).

Sebuah pengertian apologetika alkitabiah terletak pada pandangan yang tepat akan kebenaran mengenai karakter manusia. "Kenalilah dirimu sendiri" telah merupakan suatu semboyan yang populer di antara para pemikir sejak awal permulaan dari sejarah filsafat. Pengetahuan akan diri sendiri akan melengkapi kita dengan lebih baik untuk melaksanakan berbagai macam tugas kita di dalam dunia ini.

Alkitab melihat sejarah dunia dan manusia dalam tiga tahap: penciptaan, kejatuhan, dan penebusan. Dunia diciptakan lalu jatuh dalam kutuk dosa, dan kemudian ditebus dengan kematian dan kebangkitan Yesus Kristus. Sejajar dengan tiga macam perspektif ini kita akan mengamati karakteristik manusia dalam tiga kategori. Dalam pelajaran ketiga ini kita akan mengamati manusia sebelum kejatuhan, dan dalam dua pelajaran yang berikutnya kita akan mempelajari manusia yang telah jatuh ke dalam dosa dan manusia yang telah ditebus.


Menaklukkan Segala Pikiran kepada Kristus -- Pelajaran 3 Karakter Manusia Sebelum Jatuh Dalam Dosa [Indeks 00000]

PELAJARAN 3 KARAKTER MANUSIA SEBELUM JATUH DALAM DOSA [Daftar Isi 00004]
00021 A. Manusia dalam Rupa dan Gambar Allah
00022 B. Tanpa Dosa dan Fana
00023 C. Logika, Allah dan Manusia

A. Manusia dalam Rupa dan Gambar Allah

Penciptaan manusia menurut gambar dan rupa Allah merupakan suatu karakteristik yang membedakan manusia dengan ciptaan yang lain (lihat Kej 1:27). Fakta ini mempunyai banyak sekali implikasi yang dapat kita pelajari. Kita harus membatasi diri kita sendiri dalam hal ini dengan hanya mempelajari sebagian dari keberartian manusia diciptakan menurut gambar dan rupa Allah.

Dari luar, manusia seperti Allah daiam hal kemampuan dan karakteristiknya secara fisik. Dari dalam, manusia dapat berpikir dan mengembangkan pemikirannya di mana dalam hal ini hanya manusia yang dapat melakukannya. Keunikan lain yang dimiliki manusia sebagai makhluk yang diciptakan menurut gambar dan rupa Allah adalah jiwa yang bersifat kekal (lihat Kej 2:7). Lebih daripada itu sebagai manusia yang seperti Penciptanya, manusia telah dijadikan sebagai penguasa atas bumi ini. Sebagai wakil Allah dia menggali dan mengolah kekayaan ciptaan Allah untuk digunakan sebagai pelayanan bagi Allah (lihat Kej 1:27-31).

Karakteristik ini berlaku dalam batas-batas tertentu bagi semua manusia dalam dunia ini oleh karena manusia sebelum kejatuhan ke dalam dosa merupakan manusia menurut gambar dan rupa Allah secara khusus. Sebelum berdosa, manusia merupakan makhluk menurut gambar dan rupa Allah yang sempurna.

...Allah telah menjadikan manusia yang jujur (Pengk 7:29)

Sebelum kejatuhannya ke dalam dosa, manusia merupakan gambar dan rupa Allah yang tanpa dosa. Di taman Eden Adam dan Hawa hidup secara harmonis dengan Allah. Mereka berjalan di hadapan Allah tanpa malu. Paulus menjelaskan tahap ini sebagai:

pengetahuan yang benar menurut gambar Khaliknya (Kol 3:10).

Di bagian yang lain Paulus mengatakan bahwa apabila seseorang diperbaharui menurut karakter Adam yang semula, maka ia telah:

diciptakan ... di dalam kebenaran dan kekudusan yang sesungguhnya (Efe 4:24).

Dari bagian Firman Tuhan ini dua kualitas yang penting dari manusia sebelum jatuh dalam dosa dapat kita lihat. Pertama, dia mempunyai "pengetahuan yang benar" (Kol 3:10). Dengan kata lain, Adam dan Hawa tidak pernah melupakan perbedaan Pencipta dan ciptaan dalam hubungan dengan pengetahuan mereka. Mereka bergantung pada penyataan Allah akan diri-Nya sendiri sebagai sumber dari kebenaran mereka, dan mereka menyamakan semua pemikiran mereka dengan standar dari kebenaran yang dinyatakan oleh Allah. Oleh karena itu Adam dapat diberi tugas yang sukar, yaitu untuk memelihara taman dan menamai setiap binatang di bumi. Dia secara sadar menyadari akan kebutuhannya untuk mendengarkan Allah dalam setiap keadaan apabila ia menghendaki pengetahuan yang benar. Sebelum kejatuhan dalam dosa pengetahuan manusia akan kebenaran dibarengi dengan karakter moralitasnya, di mana Adam memiliki "pengetahuan yang benar dan suci." Adam mengerti bahwa karena sifat dari penciptaan-Nya, maka dia harus mempelajari apa yang sepatutnya dan yang tidak sepatutnya dari Allah.

Oleh karena bersandar pada pengetahuan Allah, maka Adam dan Hawa sebelum jatuh dalam dosa taat secara sempurna kepada semua perintah Allah dan hidup secara damai dengan DIA. Dalam segala keadaan, manusia sebelum jatuh ke dalam dosa mengetahui kebenaran dan hidup sesuai dengan kebenaran itu.


Menaklukkan Segala Pikiran kepada Kristus -- Pelajaran 3 Karakter Manusia Sebelum Jatuh Dalam Dosa [Indeks 00000]

PELAJARAN 3 KARAKTER MANUSIA SEBELUM JATUH DALAM DOSA [Daftar Isi 00004]
00021 A. Manusia dalam Rupa dan Gambar Allah
00022 B. Tanpa Dosa dan Fana
00023 C. Logika, Allah dan Manusia

B. Tanpa Dosa dan Fana

Meskipun manusia diciptakan menurut gambar dan rupa Allah yang sempurna sebelum kejatuhan, namun manusia adalah manusia yang fana dan terbatas. Allah adalah Allah yang maha ada (lihat 1Ra 8:27; Yes 66:1) tetapi manusia terbatas oleh fisiknya dalam keberadaan yang terbatas. Allah adalah Allah yang mahakuasa (lihat Maz 115:3); tidak ada yang dapat mengatasi atau melampaui kuasa-Nya. Oleh karena itu, sehebat-hebatnya teknologi mutakhir yang telah dicapai untuk menunjukkan kehebatan manusia tetap tidak dapat menandingi kemahakuasaan Allah. Di hadapan Allah manusia tetap jauh lebih lemah dan terbatas.

Demikian juga halnya dengan keterbatasan pengetahuan manusia dibandingkan dengan pengetahuan Allah yang lengkap dan sempurna (lihat Ayu 37:15; Maz 139:12; Ams 15:3; Yer 23:23-24). Sebagaimana penulis surat Ibrani mengatakan:

Dan tidak ada suatu makhluk pun yang tersembunyi di hadapan-Nya, sebab segala sesuatu telanjang dan terbuka di depan mata Dia dan kepada-Nya kita harus memberikan pertanggungan jawab (Ibr 4:13).

Bahkan Adam akan setuju dengan Yesaya yang mengatakan:

Seperti tingginya langit dan bumi, demikianlah tingginya jalan-Ku dari jalanmu dan rancangan-Ku dari rancanganmu (Yes 55:9).

Tentu saja dibandingkan dengan pengetahuan Allah, maka pikiran manusia "hanyalah seumpama nafas" (Maz 94:11). Akibatnya manusia terbatas dalam pengertiannya oleh apa yang dinyatakan oleh Allah dan harus puas dengan pengetahuan yang tidak lengkap atau sempurna.

Hal-hal yang tersembunyi ialah bagi Tuhan, Allah kita, tetapi hal-hal yang dinyatakan ialah bagi kita dan bagi anak-anak kita sampai selama-lamanya, supaya kita melakukan segala perkataan hukum Taurat ini (Ula 29:29).

Pengertian mengenai keterbatasan pengetahuan manusia membawa kita kepada hal yang penting dalam diskusi yang berikutnya. Walaupun Adam tidak mengetahui segala sesuatu, dia tetap memiliki pengetahuan yang benar (lihat Kol 3:10). Pengertian manusia akan segala sesuatu yang ia ketahui dibatasi oleh perspektifnya akan waktu dan perubahan-perubahan yang terjadi dalam hal-hal yang ia ketahui. Keterbatasan-keterbatasan ini merupakan bagian dari sifat penciptaan manusia.

Namun kita harus ingat bahwa sebelum jatuh ke dalam dosa pengetahuan yang dimiliki oleh Adam berasal dari Allah dalam kebergantungannya kepada penyataan Allah. Oleh karena itu segala sesuatu yang diketahui oleh Adam, diketahuinya dengan benar, sebab ia datang pada sumber kebenaran untuk memperolehnya, yaitu Allah. Sangat nyata bahwa keterbatasan manusia tidak membuat ia tidak mampu untuk mengetahui kebenaran. Sepanjang pengetahuan yang didapatkan oleh manusia itu berasal dari Allah, maka pengetahuan itu pasti benar.

Oleh karena keterbatasannya, maka Adam harus menghadapi misteri dalam kehidupannya, "hal-hal yang tersembunyi" (Ula 29:29) yang ia tidak dapat ketahui. Dari fakta ini kita dapat melihat bahwa manusia yang sempurna pun tidak mampu untuk menyusun/menyimpulkan setiap aspek dari pengetahuan yang didapatnya ke dalam suatu paket yang baik dan sempurna; selalu ada titik buntu dalam pemikirannya, yaitu paradoks-paradoks dan kesulitan-kesulitan yang tidak dapat dipecahkan oleh akal pemikiran manusia. Namun sebagaimana besarnya misteri ini, pengetahuan manusia dalam tahap ini tetap dapat diperhitungkan dan dipertanggung-jawabkan kepastian dan kebenarannya.

Kepastian dan keyakinan Adam terletak pada penyataan Allah, tidak pada kemampuannya untuk mengetahui yang terpisah dari pengetahuan Allah. Pengetahuan Allah yang sempurna dalam segala sesuatu mengabsahkan pengetahuan manusia yang terbatas sepanjang manusia bergantung kepada Allah. Mari kita melihat contoh dari suatu misteri yang kita hadapi atau temui pada jaman ini.

Inkarnasi dari Juruselamat kita Tuhan Yesus Kristus merupakan suatu hal yang penuh dengan misteri. Kita mengakui bahwa Dia adalah Allah dan juga manusia. Kita dapat mengerti kesejatian dari ke-Tuhanan-Nya dan kesejatian dari kemanusiaan-Nya sampai pada taraf tertentu, tetapi apabila kita mencoba untuk menyelidiki lebih lanjut implikasi dari pengajaran ini, maka kita akan terbentur pada batas kemampuan kita untuk mengerti. Misalnya, dapatkah kita menjelaskan bagaimana Yesus "bertambah dalam hikmat-Nya" (Luk 2:52) apabila Dia adalah Allah yang Mahatahu? Apakah kita dapat menjelaskan bagaimana Yesus yang adalah Allah dapat mati di atas kayu salib? Kita dapat berusaha sekuat tenaga untuk menjawab pertanyaan ini, namun orang yang jujur segera akan menyadari bahwa pertanyaan- pertanyaan ini dan juga pertanyaan-pertanyaan yang lain dan semacamnya adalah di luar batas kemampuannya untuk mengerti.

Meskipun kita tidak dapat menyelami semua konsep ini, namun kita dapat yakin bahwa Yesus adalah 100% Allah dan juga 100% manusia, dan bahwa Ia bertambah dalam hikmat dan kemudian Ia mati. Keyakinan ini bukan bergantung kepada ketidakmampuan kita untuk mengerti secara tuntas, melainkan karena keyakinan kita terletak pada penyataan Allah.

Semakin kita bertambah mengerti akan kebenaran kristiani, kita akan menemukan bahwa di akhir setiap pengajaran dari Firman Tuhan terlihat fakta ketidakmampuan manusia untuk menyelami secara tuntas konsep-konsep dalam hubungannya dengan konsep-konsep kebenaran yang lain. Ada banyak hal-hal yang kelihatannya berlawanan satu dengan yang lain dalam kebenaran kristiani, tetapi hal ini tidak boleh menyebabkan kita meragukan pengajaran Alkitab. Ada dua alasan mengapa kita tidak boleh meragukan pengajaran Alkitab.

Pertama, hal itu harus membuat kita sadar akan keterbatasan diri kita. Manusia harus menyadari keberadaan mereka sebagai makhluk ciptaan dan bersama Paulus menyatakan kalimat berikut ini:

O, alangkah dalamnya kekayaan, hikmat dan pengetahuan Allah! Sungguh tak terselidiki keputusan-keputusan-Nya dan sungguh tak terselami jalan-jalan-Nya! (Rom 11:33).

Kedua, Alkitab tidak seharusnya diragukan pada saat kita tidak dapat mencocokkan satu dengan yang lain. Penyataan Alkitab merupakan pemikiran Allah di mana bagi- Nya tidak ada satu hal pun yang bersifat misteri. Allah dapat menuntaskan konsep-konsep yang paling sukar yang tidak dapat dituntaskan oleh pemikiran manusia. Tidak ada satu hal pun yang misteri bagi Allah; Dia mengetahui segala sesuatu dengan sempurna. Misteri merupakan keterbatasan dari makhluk ciptaan, bukan Pencipta. Sepanjang kita bergantung kepada Dia dalam pengetahuan kita, misteri yang paling besar pun tidak akan menghalangi kita dari kebenaran


Menaklukkan Segala Pikiran kepada Kristus -- Pelajaran 3 Karakter Manusia Sebelum Jatuh Dalam Dosa [Indeks 00000]

PELAJARAN 3 KARAKTER MANUSIA SEBELUM JATUH DALAM DOSA [Daftar Isi 00004]
00021 A. Manusia dalam Rupa dan Gambar Allah
00022 B. Tanpa Dosa dan Fana
00023 C. Logika, Allah dan Manusia

C. Logika, Allah dan Manusia

Suatu hal yang terus menerus timbul dalam suatu diskusi dan yang mempengaruhi apologetika alkitabiah adalah peranan logika dalam hubungan antara Allah dan manusia. Dalam pelajaran ini kita akan membatasi pada sebagian kecil dari pertanyaan-pertanyaan yang ada. Bagian-bagian lain akan disimpan untuk diskusi yang akan datang.

Adam diciptakan sebagai makhluk yang dapat berpikir dan mengembangkan pemikirannya, hal ini mencerminkan hikmat Allah dan juga membedakan dia dengan binatang (lihat 2Pe 2:12, Yud 10). Kita telah pelajari bahwa di taman Eden Adam telah menggunakan akal budinya dalam kebergantungan-Nya kepada Allah. Dia membangun pola berpikirnya sesuai dengan petunjuk Allah. Adam pasti menggunakan logika meskipun dalam bentuk yang sederhana, dan ia menggunakannya dalam ketaklukannya kepada Allah. Dia tidak pernah mengabaikan kebergantungannya kepada Allah dengan berpikir logikanya yang mampu untuk memberikan kepada dia penjelasan dan pengetahuan untuk terpisah dari Allah. Akibatnya, penggunaan Adam dalam kemampuannya untuk menggunakan akal budinya selalu tunduk pada keterbatasan dan pimpinan penyataan Allah. Allah selalu dilihat sebagai dasar dari kebenaran dan gembala dari kebenaran, oleh karena pada saat itu Adam masih dalam keadaan manusia yang diciptakan menurut gambar Allah dan tanpa dosa.

Dari peranan akal budi berdasarkan logika yang dimiliki oleh manusia sebelum dosa masuk ke dalam dunia, maka ada beberapa pengamatan dapat kita lakukan. Pertama, menggunakan akal budi dan mengembangkan pemikiran itu bukanlah merupakan sesuatu yang salah dan jahat. Kekristenan telah mendapat berbagai macam serangan dari mereka yang mengklaim bahwa segala sesuatu harus "masuk akal" dan "ilmiah."

Beberapa orang Kristen berpikir bahwa perlindungan satu-satunya adalah dengan cara menolak ilmu pengetahuan dan pemakaian akal budi serta menganggap ke dua hal itu sebagai sesuatu yang jahat. Penggunaan akal budi bukanlah merupakan sesuatu yang jahat, sebab di dalam taman Eden, Adam juga menggunakan akal budinya dan dia mengembangkan pemikirannya. Adamlah yang menamai binatang- binatang dan yang memelihara taman.

Yang perlu diperhatikan adalah apabila pemakaian akal budi dan pengembangan pemikiran manusia itu dilakukan secara berdiri sendiri atau terlepas dari Allah, maka hal-hal itu akan memimpin kepada ketidakbenaran dan kesalahan. Tetapi apabila kedua hal itu dipergunakan dalam kebergantungan kepada penyataan Allah, maka kebenaran yang akan diketemukan. Menggunakan akal budi dan mengembangkan pemikiran itu sendiri tidaklah berlawanan dengan iman atau kebenaran.

Kedua, logika tidaklah berada di atas fakta perbedaan antara Pencipta dengan ciptaan. Pada saat kita berbicara tentang manusia dalam menggunakan akal budinya, kita harus ingat bahwa logika hanya merupakan refleksi dari hikmat dan pengetahuan Allah. Meskipun dalam Firman Tuhan, Allah merendahkan diri dan menyatakan diri-Nya dengan istilah yang sesuai dengan daya pikir, logika manusia, namun itu tidak berarti logika manusia berada di atas atau sejajar dengan Allah dan juga tidak merupakan bagian dari keberadaan Allah.

Logika dalam bentuk-bentuk yang paling kompleks dan tajam tetap berada dalam ruang lingkup ciptaan dan kualitasnya sesuai dengan kualitas manusia yang diciptakan menurut gambar dan rupa Allah, bukan dengan kualitas Allah itu sendiri.

Oleh karena logika merupakan bagian dari ciptaan maka logika memiliki keterbatasan. Pertama terlihat dari logika sebagai sistem yang selalu dalam proses berubah dan berkembang. Bahkan ada beberapa sistem logika yang dalam titik tertentu berlawanan satu sama lain. Bahkan tidak ada definisi dari "kontradiksi" yang diakui secara universal. Meskipun apabila semua manusia dapat sepakat dalam satu sistem untuk mengembangkan suatu pemikiran, logika manusia tidak dapat dipergunakan sebagai hakim untuk menentukan kebenaran dan ketidakbenaran.

Kekristenan pada hal-hal tertentu dapat dikatakan masuk akal dan logis tetapi logika menemui batas kemampuan pada saat diperhadapkan dengan hal-hal seperti inkarnasi dari Kristus, dan doktrin Tritunggal. Logika bukanlah Allah dan tidak boleh diberikan penghormatan yang hanya dimiliki oleh Allah saja. Kebenaran hanya ditemukan pada penghakiman Allah bukan pada pengadilan logika.

Oleh karena itu kita harus berhati-hati untuk menghindari dua ekstrim yang biasanya diambil dalam hubungan dengan penggunaan akal budi dan logika. Di satu pihak ada manusia yang menolak untuk menggunakan akal budi dan setuju pada iman yang buta. Di lain pihak, ada manusia yang memberikan logika sejumlah ruang untuk berdiri sendiri dan terlepas dari Allah. Kedua posisi tersebut tidak sesuai dengan karakter manusia sebelum kejatuhan. Manusia diciptakan sebagai makhluk yang dapat berpikir dan mengembangkan pemikirannya tetapi dia diharapkan untuk menyadari keterbatasan pemikirannya dan kebergantungan akan logikanya kepada Penciptanya.

Karakter manusia sebelum dosa masuk ke dalam dunia merupakan dasar untuk tugas berapologetika. Meskipun pada saat ini tidak ada seorang pun di dunia ini yang sama sekali lepas dari dosa, namun ada kualitas manusia sebelum kejatuhan terbawa sampai hari ini. Pada saat kita membela iman kristiani kita berhubungan dengan laki-laki dan perempuan keturunan dari Adam. Oleh karena itu penting bagi kita untuk mempunyai pengertian yang kuat akan keadaan manusia sebelum kejatuhan.

Pertanyaan-pertanyaan Sebagai Bahan Evaluasi:

  1. Sebutkan ketiga kategori yang harus kita ketahui dalam hubungan dengan karakter manusia!
  2. Apakah arti dari pernyataan bahwa manusia diciptakan menurut gambar dan rupa Allah?
  3. Jelaskan pandangan Adam dalam hubungan dengan pengetahuan yang dimilikinya dan keputusan moral yang dilakukannya sebelum dosa masuk ke dalam dunia. Apakah saudara dapat mendukung jawaban saudara dengan Firman Tuhan?
  4. Bagaimana menjelaskan bahwa pengetahuan manusia dibatasi oleh kefanaannya?
  5. Mengapa ada misteri-misteri yang tidak dapat dimengerti secara tuntas oleh manusia? Dapatkah saudara memberikan salah satu contoh dari misteri ini?
  6. Bagaimana kita dapat mendapatkan suatu kepastian akan sesuatu apabila ada misteri-misteri yang tidak dapat kita mengerti?
  7. Apakah dua implikasi mengenai penggunaan logika yang dapat kita ambil dari Adam sebelum kejatuhannya?


Menaklukkan Segala Pikiran kepada Kristus -- Pelajaran 4 Karakter Manusia yang Berdosa [Indeks 00000]

PELAJARAN 4 KARAKTER MANUSIA YANG BERDOSA [Daftar Isi 00004]
00025 A. Kejatuhan Umat Manusia
00026 B. Akibat Kejatuhan Manusia dalam Dosa
00027 C. Ketidakkonsistenan dan Permukaan Kebenaran

Tetapi manusia duniawi tidak menerima apa yang berasal dari Roh Allah, karena hal itu baginya adalah suatu kebodohan; dan ia tidak dapat memahaminya, sebab hal itu hanya dapat dinilai secara rohani (1Ko 2:14).

Pada pelajaran yang terdahulu kita telah mendiskusikan karakter manusia sebelum kejatuhan ke dalam dosa namun pengertian kita akan manusia tidaklah lengkap apabila kita tidak mempelajari akibat-akibat dari kejatuhan atas diri manusia. "Pengetahuan tentang diri kita sendiri pertama adalah berdasarkan apa yang telah diberikan pada waktu penciptaan..., kedua kita perlu mengingat akan keadaan kita yang menyedihkan dan tidak menyenangkan setelah kejatuhan Adam."[1]

Karakter dari manusia telah berubah di bawah kutuk dosa. Manusia tidak lagi merupakan gambar Allah yang sempurna; manusia tidak lagi hidup dan berpikir sebagaimana halnya dengan Adam dan Hawa sebelum jatuh dalam dosa. Di dalam pelajaran berikut ini dengan lebih jelas akan kita lihat bagaimana dosa telah sangat mempengaruhi manusia, sebagai akibatnya manusia telah menyangkali kebergantungannya secara mutlak kepada Allah. Untuk dapat mengerti akan kondisi manusia yang seperti ini, pertama pelajaran ini akan mendiskusikan awal mula dari kejatuhan manusia dan kemudian tahap-tahap selanjutnya setelah kejatuhan itu.


Menaklukkan Segala Pikiran kepada Kristus -- Pelajaran 4 Karakter Manusia yang Berdosa [Indeks 00000]

PELAJARAN 4 KARAKTER MANUSIA YANG BERDOSA [Daftar Isi 00004]
00025 A. Kejatuhan Umat Manusia
00026 B. Akibat Kejatuhan Manusia dalam Dosa
00027 C. Ketidakkonsistenan dan Permukaan Kebenaran

A. Kejatuhan Umat Manusia

Allah telah membuat laki-laki dan perempuan menurut gambar-Nya dan telah menempatkan mereka di taman Eden. Pada waktu Adam dan Hawa menyadari akan keberadaan mereka sebagai makhluk ciptaan Allah, mereka dengan senang hati telah mendedikasikan diri mereka untuk melayani Allah. Waktupun berlalu dan kesetiaan manusia kepada Allah pun diuji. Allah telah menempatkan pohon pengetahuan baik dan jahat di tengah-tengah taman dan berkata:

tetapi pohon pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat itu, janganlah kau makan buahnya, sebab pada hari engkau memakannya pastilah engkau mati (Kej 2:17).

Dalam hal ini banyak hal yang perlu dipertaruhkan oleh manusia daripada hanya sekedar suatu penahanan diri untuk tidak makan buah tertentu. "Pada mulanya Adam telah menyangkali pohon pengetahuan baik dan jahat untuk menguji ketaatannya dan membuktikan bahwa ia dengan sukarela berada di bawah perintah Allah."[2] Allah telah berkata dan mewahyukan kehendak-Nya dalam hubungan dengan pohon yang terlarang itu. Adam dan Hawa ditempatkan pada posisi pengujian kesadaran mereka untuk mengakui atau menyangkali otoritas Allah dan kebergantungan mereka akan Dia.

Pasal ketiga dari kitab Kejadian berpusat pada kejatuhan manusia. Ular, yang dijelaskan dalam bagian lain dari Alkitab adalah si Iblis (lihat Kej 3:15; Rom 16:20), menghampiri Hawa dan mencobai dia untuk mengabaikan perintah Allah. Dengan memperhadapkan Hawa kepada pilihan yang paling penting dalam hidupnya, Iblis berkata:

Sekali-kali kamu tidak akan mati, tetapi Allah mengetahui, bahwa pada waktu kamu memakannya matamu akan terbuka, dan kamu akan menjadi seperti Allah, tahu tentang yang baik dan yang jahat (Kej 3:4-5).

Perkataan Iblis jelas bertolak-belakang dengan wahyu Allah. Hawa diperhadapkan pada suatu pilihan: siapakah yang dapat dipercaya? Allah mengatakan "kamu akan mati" dan ular itu mengatakan, "kamu tidak akan mati." Perempuan itu harus percaya pada salah satu dari dua pernyataan yang berlawanan itu. Kemudian ular yang licik itu tidak puas hanya dengan mengatakan bahwa Allah membuat kesalahan. Dia bahkan menyarankan Hawa bahwa apabila ia memakan buah itu maka perbedaan akan Pencipta dengan ciptaan akan hilang. "Kamu akan menjadi seperti Allah," (Kej 3:5) Iblis mengatakan dengan penuh kesombongan.

Hawa telah tertipu oleh tipuan dari ular yang licik. Kita dapat mengatakan bahwa tindakan Hawa ini merupakan tindakan yang sangat bodoh, tetapi rupanya pencobaan untuk menjadi seperti Allah terlalu besar untuk dihindari. Setelah semua penghormatan Hawa kepada Penciptanya digoncangkan, Hawa memutuskan bahwa dia tidak perlu lagi untuk bergantung kepada Allah untuk mengetahui pengetahuan yang benar demikian juga untuk petunjuk yang berkenaan dengan moralitas.

Ular telah mempertanyakan akan keabsahan dan kemampuan Allah dalam hal-hal ini dan Hawa telah termakan oleh saran-sarannya. Sebelumnya, Hawa telah menerima wahyu Allah dengan pengakuan akan kebergantungannya secara mutlak kepada Allah namun sekarang dia telah memutuskan bahwa kebergantungan kepada Allah merupakan suatu pilihan. Pembacaan yang teliti dari Kej 3:6 memperlihatkan inti dari kesalahan Hawa.

Perempuan itu melihat, bahwa buah pohon itu baik untuk dimakan dan sedap kelihatannya, lagi pula pohon itu menarik hati karena memberi pengertian. Lalu ia mengambil dari buahnya dan dimakannya dan diberikannya juga kepada suaminya yang bersama-sama dengan dia, dan suaminya pun memakannya.

Hawa tidak secara langsung menolak Firman Allah dan juga tidak secara langsung menerima perkataan dari si ular. Melainkan dia mengamati pohon itu sendiri dan kemudian memutuskan karakter dari pohon itu berdasarkan pengertiannya sendiri. Dia berkata kepada dirinya sendiri, "Mengapa mendengarkan kepada orang lain? Saya akan membuat hukum bagi diri saya sendiri; Saya akan memutuskan sendiri!" Dengan melakukan ini, maka Hawa menolak perbedaan antara Pencipta dan ciptaan. Dia menyamaratakan wahyu dari Allah yang berdiri sendiri dengan perkataan si ular dan menempatkan dirinya di atas mereka berdua sebagai hakim.

Hawa lalu memberikan buah itu kepada Adam. Adam memakannya dan umat manusia jatuh di bawah kuasa dosa. Ini kemudian merupakan inti dari dosa; manusia memberontak melawan kebergantungannya kepada Allah dalam segala sesuatu dan manusia berasumsi bahwa dia mampu untuk berdiri sendiri tanpa Allah.

Sangat penting untuk diingat bahwa perbedaan Pencipta dan ciptaan tetap berlangsung meskipun manusia memilih untuk mengakuinya atau tidak. Adam dan Hawa tidak menjadi lebih kurang dalam kebergantungan mereka kepada Allah setelah kejatuhannya, dibandingkan dengan keberadaan mereka sebelum jatuh dalam dosa. Mereka hanya menolak untuk mengakui kebergantungan mereka. Seorang anak balita dapat menipu dirinya sendiri untuk berpikir bahwa dia tidak memerlukan orang tuanya tetapi penyangkalannya ini tidak membedakan dia dengan seorang anak yang bergantung kepada orang tuanya.

Sama juga halnya dengan Adam dan Hawa yang berpikir mereka berdiri sendiri terlepas dari Allah, tetapi kenyataannya mereka tetap membutuhkan Allah dalam segala sesuatu, bahkan untuk kemampuan menolak Allah. Persyaratan Allah bagi Adam dan Hawa adalah supaya mereka mengakui kebergantungan mereka dan hidup sesuai dengan kebenaran ini. Mereka telah gagal untuk memenuhi tuntutan Allah dan jatuh ke dalam dosa. Mereka berpikir dirinya cukup bijak, mereka telah menjadi bodoh, sebab Firman Allah ternyata benar; dan mereka mati.


Menaklukkan Segala Pikiran kepada Kristus -- Pelajaran 4 Karakter Manusia yang Berdosa [Indeks 00000]

PELAJARAN 4 KARAKTER MANUSIA YANG BERDOSA [Daftar Isi 00004]
00025 A. Kejatuhan Umat Manusia
00026 B. Akibat Kejatuhan Manusia dalam Dosa
00027 C. Ketidakkonsistenan dan Permukaan Kebenaran

B. Akibat Kejatuhan Manusia dalam Dosa

Kejatuhan manusia ke dalam dosa di taman Eden bukan merupakan kejadian masa lalu yang terpisah dari masa kini dalam arti hanya mempunyai akibat yang sedikit bagi manusia yang hidup pada masa kini; peristiwa kejatuhan telah membuat semua manusia berada di bawah keterikatan dosa.

Sebab itu, sama seperti dosa telah masuk ke dalam dunia oleh satu orang, dan oleh dosa itu juga maut, demikianlah maut itu telah menjalar kepada semua orang, karena semua orang telah berbuat dosa (Rom 5:12).

Sejak kelahiran semua manusia telah dicemarkan oleh dosa (lihat Maz 51:5; Efe 2:3). Sebagaimana Adam dan Hawa yang telah menolak perbedaan antara Pencipta dengan ciptaan, semua manusia pun telah menyangkal wahyu Allah baik melalui semua ciptaan maupun melalui wahyu khusus (Firman Tuhan).

Paulus menjelaskan mengenai penolakan manusia akan wahyu melalui penciptaan dalam Rom 1:18-32. Di mana Paulus mengatakan bahwa meskipun ciptaan dengan jelas menyatakan karakter Allah dan kehendak-Nya, namun manusia yang tidak percaya telah menindas "kebenaran dengan kelaliman" (ay. 18). Mereka menolak untuk mengakui Allah yang telah mewahyukan diri-Nya melalui ciptaan, sebab "pikiran mereka menjadi sia-sia dan hati mereka yang bodoh menjadi gelap" (ay. 21). "Mereka berbuat seolah-olah mereka penuh hikmat, tetapi mereka telah menjadi bodoh" (ay. 22) sebab mereka memilih untuk menyembah "makhluk dengan melupakan Penciptanya yang harus dipuji selama-lamanya, amin" (ay. 25). Oleh karena "mereka tidak merasa perlu untuk mengakui Allah, maka Allah menyerahkan mereka kepada pikiran-pikiran yang terkutuk, ..." (ay. 28). Manusia yang telah jatuh ke dalam dosa menolak untuk mengakui penyataan Allah dalam semua aspek ciptaan.

Orang-orang tidak percaya juga tidak memberikan tempat yang sewajarnya pada wahyu khusus Allah. Tuhan Yesus menggambarkan bagaimana Israel menolak kebergantungannya pada wahyu khusus Allah dalam perumpamaan tentang penggarap- penggarap kebun anggur (lihat Mat 21:33-44). Penggarap-penggarap kebun anggur memperoleh mata pencaharian mereka dari kemurahan hati yang mempunyai tanah tetapi mereka menolak untuk menghormati dia. Sebagai akibatnya si pemilik tanah mengutus utusan-utusan khusus kepada si petani. Bahkan, Ia telah mengutus Anak- Nya. Namun si petani membenci mereka dan membunuh mereka semua. Sama halnya dengan semua manusia yang seharusnya tunduk kepada wahyu khusus Allah melalui Firman Tuhan, sebaliknya mereka telah menolaknya. Dosa telah mencengkeram manusia sedemikian rupa sehingga manusia tidak mampu lagi untuk menundukkan dirinya kepada Firman Allah.

Sebab keinginan daging adalah perseteruan terhadap Allah, karena ia tidak takluk kepada hukum Allah; hal ini memang tidak mungkin baginya (Rom 8:7).

Oleh karena itu manusia dalam keberadaannya sebagai manusia yang berdosa tidak mampu lagi untuk memahami wahyu Allah.

ia tidak dapat memahaminya, sebab hal itu hanya dapat dinilai secara rohani." (1Ko 2:14).

Manusia tidak menundukkan diri mereka kepada Wahyu Allah. Manusia telah mengikuti teladan dari Adam dan Hawa yang mengira bahwa segala sesuatu harus diukur oleh "garis pengukur dari kebodohan kedagingan mereka"[3].

Kegagalan manusia untuk mengakui wahyu Allah dalam alam semesta dan untuk menerima Firman Tuhan sebagai alat untuk mengenal Allah dan mengetahui kehendak- Nya telah membuat manusia dalam posisi yang sulit. Yeremia menyerukan pada jamannya sebagai berikut:

Sesungguhnya, mereka telah menolak Firman Tuhan, maka kebijaksanaan apakah yang masih ada pada mereka? (Yer 8:9).

Apa yang dapat kita lihat apabila mata kita tertutup? Apa yang dapat memuaskan kedahagaan kita apabila sumur kita kering? Tidak ada! Sama halnya dengan hikmat dan pengetahuan. Allah sendiri "mengajar manusia akan pengetahuan" (Maz 97:4) melalui Wahyu-Nya. Apabila kita menolak Firman-Nya, itu berarti kita menolak semua kebenaran dan secara prinsipil kita tidak mengetahui apa-apa selain ketidakbenaran.

Takut akan Tuhan adalah permulaan pengetahuan (Ams 1:7).

Mereka yang percaya akan hati nuraninya sendiri (Ams 28:26) dan tidak mempunyai kerinduan untuk pengertian yang benar (Ams 18:2) adalah bodoh. Dia membenci pengetahuan (Ams 1:29) dan perkataan yang berpengetahuan tidak akan dapat ditemukan pada bibirnya (Ams 10:18; 14:7; 19:1). Oleh karena penolakan mereka akan wahyu Allah, maka manusia:

hidup lagi sama seperti orang-orang yang tidak mengenal Allah dengan pikirannya yang sia-sia dan pengertiannya yang gelap, jauh dari hidup persekutuan dengan Allah, karena kebodohan yang ada di dalam mereka dan karena kedegilan hati mereka (Efe 4:17-18).

Atas dasar ini dikatakan bahwa:

Tuhan mengetahui rancangan-rancangan orang berhikmat; sesungguhnya semuanya sia-sia belaka (1Ko 3:20).

Selama manusia terus menerus berpaling daripada Wahyu Allah akan diri-Nya sendiri dan kehendak-Nya, manusia tidak akan mampu untuk tiba pada pengetahuan yang benar akan diri mereka sendiri, dunia, dan Allah.


Menaklukkan Segala Pikiran kepada Kristus -- Pelajaran 4 Karakter Manusia yang Berdosa [Indeks 00000]

PELAJARAN 4 KARAKTER MANUSIA YANG BERDOSA [Daftar Isi 00004]
00025 A. Kejatuhan Umat Manusia
00026 B. Akibat Kejatuhan Manusia dalam Dosa
00027 C. Ketidakkonsistenan dan Permukaan Kebenaran

C. Ketidakkonsistenan dan Permukaan Kebenaran

Akibat dari dosa dalam kehidupan orang-orang yang tidak percaya sangat jelas dapat terlihat dari penolakan akan kebenaran yang diwahyukan melalui Firman Tuhan atau secara sembarangan menyalahtafsirkan dunia di sekelilingnya. Namun tidak semua pemikiran dan pernyataan dari orang-orang tidak percaya dapat diartikan demikian. Bagaimana orang-orang tidak percaya dapat berpikir dan mengekspresikan ide-ide yang benar? Orang-orang percaya dan orang-orang tidak percaya kedua-duanya menyatakan bahwa dua tambah dua adalah empat. Sangat sedikit, apabila ada, orang yang menyangkali bahwa ada kata-kata yang tercetak pada halaman ini. Bahkan ada beberapa peristiwa di Alkitab yang menyatakan bahwa orang-orang yang telah jatuh ke dalam dosa dapat memiliki kebenaran (lihat Mat 23:1 dan seterusnya: Kis 17:28). Bagaimana kita dapat mengerti hal-hal ini dalam hubungan dengan penolakan manusia yang berdosa akan Allah sebagai sumber kebenaran?

Pemecahan masalah ini terletak pada pengamatan lebih dekat pada kondisi manusia yang telah jatuh dan dua aspek dari pengetahuannya. Pertama, meskipun orang- orang tidak percaya menolak wahyu Allah mengenai diri-Nya, mereka tidak dapat secara terus menerus konsisten dalam penolakan ini. Dasar dari ketidakkonsistenan dalam taraf tertentu dari orang-orang yang telah jatuh ke dalam dosa ini adalah karena manusia berdosa tetap merupakan gambar Allah dan tetap memiliki banyak kemampuan-kemampuan yang ada sejak pada mulanya. (lihat Kej 9:6; Yak 3:9). Manusia tetap dapat berpikir dan mengembangkan pemikirannya dan berargumentasi; dia tetap dapat mengerti mengenai dunia. Oleh karena anugerah umum Allah telah menahan akibat dosa dan pencemaran, sehingga orang- orang non Kristen tetap dapat berpikir dan bertindak/bereaksi sesuai dengan peninggalan akibat-akibat dari keberadaan mereka sebagai gambar Allah tanpa mengakui Allah sebagai Pencipta mereka.

Apabila bangsa-bangsa lain yang tidak memiliki hukum Taurat oleh dorongan diri sendiri melakukan apa yang dituntut hukum Taurat, maka walaupun mereka tidak memiliki hukum Taurat, mereka menjadi hukum Taurat bagi diri mereka sendiri. Sebab dengan itu mereka menunjukkan, bahwa isi hukum Taurat ada tertulis di dalam hati mereka dan suara hati mereka turut bersaksi dan pikiran mereka saling menuduh atau saling membela (Rom 2:14, 15).

Manusia yang telah jatuh ke dalam dosa memulai dengan pendapatnya akan ketidakbergantungan dirinya pada Allah dan kemampuan untuk mengetahui kebenaran terpisah dari Allah. Apabila ia mengembangkan asumsi ini secara terus menerus dengan konsisten, maka dia tidak akan menemukan pengetahuan yang benar sebab kebergantungan kepada Allah adalah jalan satu-satunya untuk mendapatkan kebenaran. Namun orang-orang tidak percaya tidak berhasil dan telah gagal untuk konsisten dan sering kali berbalik pada sisa pengetahuannya akan Allah dan dunia. Oleh karena itu mereka sering kali berpikir dan berkata hal-hal yang dalam pengertian tertentu dapat kita katakan sebagai kebenaran.

Sejalan dengan ketidaksinambungan usaha orang-orang tidak percaya untuk menahan dan menyangkali wahyu Allah, maka kita dapat mengerti kemampuan mereka untuk mengetahui kebenaran pada saat kita melihat karakter dari pemahaman mereka akan kebenaran. "Kapasitas dari manusia yang telah jatuh ke dalam dosa untuk mengerti ... merupakan sesuatu yang tidak stabil dan transisi dalam pandangan Allah ..."[4] Orang-orang tidak percaya mampu untuk mengetahui kebenaran hanya oleh karena ketidaksinambungan mereka dalam prinsip-prinsip berpikir mereka yang berdosa dan hal ini menyebabkan pengetahuan mereka hanya secara permukaan terlihat benar.

Berikut ini adalah analogi yang akan menolong kita untuk lebih mengerti. Perkataan Tuhan Yesus kepada orang Farisi yang sering kali ditujukan kepada perbedaan antara perilaku mereka secara luar dengan motivasi mereka dari dalam hati. Nilai dari tugas rohani yang sangat besar telah dicemari oleh motivasi mereka yang merasa diri paling benar dan sombong. Amsal mengatakan bahwa:

Korban orang fasik adalah kekejian bagi Tuhan. tetapi doa orang jujur dikenan- Nya (Ams 15:8).

Orang-orang Farisi memiliki kerohanian yang hanya terlihat dari luar saja namun kesucian mereka atau kerohanian mereka telah dicemari oleh apa yang ada di belakang tindakan yang terlihat dari luar.

Perbedaan yang serupa itu dapat kita terapkan dalam area pengetahuan secara umum. Kita tidak boleh pernah merasa puas dengan penampilan yang kelihatannya merupakan pernyataan yang benar dari manusia yang berdosa. Kita harus berhati- hati akan apa yang terletak di balik ide-ide yang dipertunjukkan. Misalnya, Saksi Yehova dengan jujur dapat mengatakan, "Yesus adalah Tuhan." Kita semua akan setuju dengan pernyataan ini sebagai hal yang benar secara permukaan. Namun, Saksi Yehova menolak ke-Tuhanan dari Kristus dan berpendapat bahwa ke- Tuhanan dari Kristus merupakan keberadaan-Nya sebagai malaikat yang khusus. Oleh karena itu, kita harus mempertimbangkan dan menyatakan bahwa pernyataan mereka tidak benar.

Alasan kita dapat menyetujui dan pada saat yang sama menyangkali suatu pernyataan disebabkan oleh perbedaan antara permukaan pernyataan dengan apa yang ada di balik pernyataan itu. Pemisahan ini dapat dinyatakan dalam pengertian apa yang dikatakan oleh seseorang dibedakan dengan apa yang dimaksudkan oleh seseorang dengan apa yang dikatakannya, atau pernyataan akan sesuatu sebagai suatu fakta dibedakan dengan fakta yang sebenarnya.

Salah satu cara untuk menyelidiki suatu pernyataan adalah dengan cara selalu menanyakan apa yang dimaksudkan dengan apa yang dikatakan atau apa yang dipikirkan. Manusia yang telah jatuh ke dalam dosa dapat mengatakan bahwa dunia ini bulat namun apa yang dimaksudkan "dunia" oleh mereka? Apakah merupakan hasil ciptaan Allah yang dinyatakan oleh Firman Tuhan atau sebagai hasil dari proses evolusi yang berlangsung sangat lama? Mereka dapat mengatakan bahwa kejujuran adalah baik dan pembunuhan adalah jahat. Namun apa yang mereka maksudkan dengan "baik dan jahat?" Apakah baik dan jahat yang didefinisikan oleh hukum Allah atau hukum-hukum yang lain? Sama halnya dengan pohon yang indah yang baru saja di tanam di tanah yang beracun, demikian juga dengan orang tidak percaya yang tidak stabil dalam penyangkalan akan kebenaran dan kembali kepada wahyu Allah yang tidak dapat disangkali. Tanah kemandirian mereka yang terpisah dari Allah dapat terlihat benar dari permukaan. Kadang-kadang kita harus melihat jauh ke dalam sebelum kita dapat menemukan pengertian yang salah.

Akar dari setiap ide dan pernyataan yang dikemukakan oleh orang tidak percaya adalah berdasarkan asumsi bahwa "Saya tidak bergantung kepada Allah dan mengetahui hal ini dari diri saya sendiri terpisah dari Allah dan pertimbangan kehendak-Nya".

Untuk menyimpulkan pandangan yang tepat dari pernyataan yang benar yang dibuat oleh orang tidak percaya, dapat dikatakan bahwa mereka benar dan juga salah. Orang-orang tidak percaya mungkin dapat berpikir dan berbicara tentang kebenaran dalam pengertian bahwa pemikiran mereka kadang-kadang sebenarnya berasal dari wahyu Allah yang tidak dapat dihindari dan dihasilkan dari anugerah umum Allah melalui kualitas manusia sebagai gambar Allah yang tidak dapat disangkali. Lebih daripada itu, mereka benar dalam pengertian bahwa wahyu Allah memang sebenarnya mengiyakan pernyataan mereka dari permukaan. Diharapkan melalui kebenaran yang mereka dapatkan secara permukaan, kebenaran permukaan ini dapat memimpin mereka kepada pengakuan akan Allah dan ketaatan kepada Dia.

Bersamaan dengan pernyataan bahwa orang tidak percaya itu benar, kita dapat juga mengatakan pernyataan-pernyataan orang-orang tidak percaya adalah tidak benar. Oleh karena pernyataan-pernyataan itu bukan merupakan hasil dari kerelaan untuk taat kepada wahyu Allah melainkan sebagai hasil dari penyangkalan akan fakta perbedaan Pencipta dengan ciptaan.

Pernyataan-pernyataan orang tidak percaya itu dinyatakan tidak benar oleh karena struktur pemikiran mereka, memimpin mereka kepada pengertian yang salah, dan membawa mereka jauh dari penyembahan kepada Allah. Pada dasarnya dapat dikatakan bahwa komitmen kepada kemandirian manusia menyalahkan semua pernyataan orang tidak percaya.

Pengertian akan kondisi manusia setelah kejatuhannya ke dalam dosa dan keberadaan orang-orang yang tetap dalam ketidakpercayaan merupakan hal yang sangat penting bagi pembelaan kekristenan. Kesadaran akan ketidakadaan harapan dan keterbatasan pemikiran orang-orang tidak percaya menyediakan petunjuk dan memberikan keyakinan kepada orang-orang percaya dalam mempertahankan imannya.

Pertanyaan-pertanyaan Sebagai Bahan Evaluasi:

  1. Apakah inti dari kegagalan Hawa di taman Eden? Bagaimana dosa ini dapat merupakan akar dalam setiap kehidupan orang-orang tidak percaya?
  2. Bagaimana reaksi orang-orang tidak percaya pada wahyu Allah dalam setiap aspek ciptaan-Nya? dan wahyu khusus Allah?
  3. Apakah akibat dari komitmen kepada kemandirian pada pengetahuan dan moralitas dari orang-orang tidak percaya? Apakah saudara dapat mendukung jawaban saudara dengan Firman Allah?
  4. Mengapa orang-orang yang telah jatuh ke dalam dosa dapat menyatakan kebenaran dan mempertunjukkan perbuatan yang baik?
  5. Dalam pengertian apa sebenarnya orang-orang tidak percaya tidak bicara mengenai kebenaran? Dalam pengertian apakah pernyataan mereka yang benar adalah salah?

Catatan Kaki:

[1] John Calvin, Institutes, II, 1, 1.
[2] Ibid, II,1,4.
[3] Ibid, I,2,2.
[4] Ibid, I, 5, 1.


Menaklukkan Segala Pikiran kepada Kristus -- Pelajaran 5 Karakter Manusia Setelah Ditebus oleh Kristus [Indeks 00000]

PELAJARAN 5 KARAKTER MANUSIA SETELAH DITEBUS OLEH KRISTUS [Daftar Isi 00004]
00028 A. Kebalikan dari Kejatuhan
00029 B. Pembaharuan Melalui Kelahiran Baru
00030 C. Orang Percaya dan Dosa yang Masih Tertinggal

Jadi siapa yang ada di dalam Kristus, ia adalah ciptaan baru: yang lama sudah berlalu, sesungguhnya yang baru sudah datang (2Ko 5:17).

Kalau bukan karena anugerah Allah, setiap orang akan terhilang dalam dosa dan berada di bawah penghakiman Allah. Namun Allah dengan kemurahan-Nya yang besar telah mengutus anak-Nya yang Ilahi, Yesus Kristus, untuk membayar hutang dosa dengan mati di atas kayu salib dan untuk memulai suatu periode yang baru dalam kehidupan dengan kebangkitan-Nya. Semua orang yang percaya kepada-Nya dilepaskan dari kutuk murka Allah dan masuk ke dalam berkat Allah. Pengamatan kita akan manusia tidaklah lengkap apabila kita belum mempertimbangkan karakter manusia yang telah ditebus oleh Allah dalam Kristus.

A. Kebalikan dari Kejatuhan

Kita dapat melihat bahwa aplikasi dari keselamatan dalam kehidupan seseorang merupakan kebalikan dari apa yang terjadi sebagai akibat dari kejatuhan. Inti dari kejatuhan Hawa adalah kehendak untuk mandiri dan terlepas daripada Allah dengan cara menolak secara sukarela untuk menundukkan diri kepada Firman Tuhan. Hawa menolak fakta perbedaan antara Pencipta dengan ciptaan dengan berpikir bahwa ia dapat mengetahui kebenaran melalui pemikirun barunya sendiri terpisah dari Allah. Hal sebaliknya terjadi pada kehidupan dari seseorang yang percaya kepada Kristus. Dengan jelas Paulus menyatakannya sebagai berikut:

Oleh karena dunia oleh hikmat Allah, tidak mengenal Allah oleh hikmatnya, maka Allah berkenan menyelamatkan mereka yang percaya oleh kebodohan pemberitaan Injil (1Ko 1:21).

Penggunaan akan hikmat manusia sebagai standar dari kebenaran, seperti apa yang dilakukan oleh Hawa, hanya akan membawa kita jauh dari Allah dan membawa kita kepada ketidakbenaran. Sebaliknya salib sebagai jalan keselamatan yang mengakibatkan kita berpaling dari kemandirian dan pikiran berdosa supaya kita mendapatkan pengetahuan yang benar mengenai Allah. Hawa berpikir bahwa dirinya sebagai manusia yang dapat berdiri sendiri dan melihat dirinya sebagai hakim yang tertinggi. Namun pada saat kita percaya dengan kesungguhan kepada Kristus, kita menyadari kebergantungan kita kepada Firman Tuhan sebagai hikmat yang tidak ada bandingannya dan sebagai kebenaran. Penerimaan Firman Tuhan ini merupakan permulaan dari penebusan dalam Kristus.

Jadi, iman timbul dari pendengaran, dan pendengaran oleh firman Kristus (Rom 10:17).

Kebalikan dari kejatuhan tidak berhenti pada tanda pertobatan, melainkan meliputi keseluruhan dari proses penebusan. Seseorang yang percaya akan berita dari Injil bersama dengan Paulus meyakini bahwa:

Sebaliknya: Allah adalah benar, dan semua manusia pembohong (Rom 3:4).

Berbeda dengan manusia berdosa yang cenderung untuk meninggalkan pengetahuan yang benar dan menyatakan hal yang salah (sebagai akibat dari kemandirian yang terlepas daripada Allah), maka orang-orang percaya memegang kepercayaan bahwa Firman Allah selalu dapat dipercaya oleh karena Allah selalu benar. Sebagaimana yang dikatakan oleh Yesaya:

Aku, Tuhan, selalu berkata benar, selalu memberitakan apa yang lurus (Yes 45:19).

Firman Allah dapat dipercaya dan orang yang percaya kepada Kristus mengakui kepercayaannya secara total kepada Firman Tuhan. Lepas daripada apa yang terlihat, lepas daripada nasihatnasihat orang lain, dan lepas daripada pencobaan dari Iblis, orang percaya menegaskan bahwa:

Tidak ada yang kudus seperti Tuhan, sebab tidak ada yang lain kecuali Engkau dan tidak ada gunung batu seperti Allah kita (1Sa 2:2).

Sikap terhadap Firman Tuhan yang merupakan kebalikan dari apa yang terjadi pada waktu kejatuhan dibuat lebih jelas dengan perkataan Paulus kepada orang-orang Korintus:

Sebab aku cemburu kepada kamu dengan cemburu Ilahi. Karena aku telah mempertunangkan kamu kepada satu laki-laki untuk membawa kamu sebagai perawan suci kepada Kristus. Tetapi aku takut, kalau-kalau pikiran kami disesatkan dari kesetiaan kamu yang sejati kepada Kristus, sama seperti Hawa diperdayakan oleh ular itu dengan kelicikannya (2Ko 11:2-3).

Pada ayat-ayat ini Paulus memperingatkan orang-orang di Korintus untuk tidak berpaling dari khotbahnya mengenai Firman Tuhan, mereka harus setia hanya kepada Kristus semata-mata. Paulus memperingatkan mereka dengan cara ini oleh karena ia takut atau kuatir mereka akan jatuh pada tipu muslihat yang sama yang telah digunakan oleh si ular pada waktu mencobai Hawa. Paulus takut mereka akan berpaling dari "kesederhanaan dan ketulusan penyembahan kepada Kristus" (2Ko 11:3).

Sebelum jatuh dalam dosa, Hawa hanya mendengarkan kepada Firman Allah dengan penyembahan yang hanya tertuju pada Allah. Pada waktu kejatuhan dia telah berpaling dari Firman Allah. Sebagai orang Kristen, kita secara terus menerus menerima Firman Kristus dengan penyembahan yang tanpa berprasangka. Kita harus melakukan kebalikan dari apa yang Hawa lakukan pada waktu ia berdosa. Ditebus oleh Kristus berarti mengalami kebalikan dari apa yang terjadi pada waktu kejatuhan.


Menaklukkan Segala Pikiran kepada Kristus -- Pelajaran 5 Karakter Manusia Setelah Ditebus oleh Kristus [Indeks 00000]

PELAJARAN 5 KARAKTER MANUSIA SETELAH DITEBUS OLEH KRISTUS [Daftar Isi 00004]
00028 A. Kebalikan dari Kejatuhan
00029 B. Pembaharuan Melalui Kelahiran Baru
00030 C. Orang Percaya dan Dosa yang Masih Tertinggal

B. Pembaharuan Melalui Kelahiran Baru

Pada saat kita memikirkan mengenai keselamatan dalam Kristus, biasanya kita hanya memikirkan tentang akibat dari percaya kepada Dia bagi kehidupan kekal kita. Hal ini penting, namun untuk lebih tepatnya, saat ini kita perlu memfokuskan dengan lebih teliti pada kepentingan kebalikan dari kejatuhan dan akibatnya pada karakter manusia dalam hal pengetahuan dan moralitas.

Tuhan Yesus mengatakan kepada Nikodemus persyaratan untuk memasuki kerajaan Allah dengan mengatakan sebagai berikut:

Kamu harus dilahirkan kembali (Yoh 3:7).

Kelahiran baru harus terjadi pada diri orang tidak percaya. Sebagaimana ia telah lahir di dalam Adam demikian pula ia telah jatuh dalam belenggu dosa, sebagai suatu permulaan, kelahiran baru harus terjadi. Paulus menyatakannya sebagai berikut:

Jadi siapa yang ada di dalam Kristus, ia adalah ciptaan baru: yang lama sudah berlalu, sesungguhnya yang baru sudah datang (2Ko 5:17).

Pada saat kita diselamatkan dari dosa-dosa kita, kita tidak hanya dilahirkan baru secara pribadi; namun kita memasuki suatu ruang lingkup keberadaan yang baru (ciptaan yang baru). Oleh karena itu, seluruh kehidupan orang percaya adalah untuk mengalami perubahan yang berawal dari kelahiran baru.

Paulus menggunakan istilah "ciptaan yang baru" dalam pengertian suatu perintah oleh karena hal ini menunjuk kepada hubungan penebusan dengan asal mula keadaan ciptaan sebeluh kejatuhan. Pada saat dunia dan manusia mulai diciptakan mereka belum dicemari oleh dosa. Namun sebagai akibat dari manusia yang memilih untuk berdiri sendiri terlepas daripada Allah, maka seluruh ciptaan telah jatuh ke dalam dosa. Pekerjaan penebusan dari Kristus dapat dikatakan merupakan pembaharuan manusia dan dunia untuk dapat kembali kepada posisi mereka yang semula pada waktu pertama diciptakan.

yang telah diciptakan menurut kehendak Allah di dalam kebenaran dan kekudusan yang sesungguhnya (Efe 4:24).

dan telah mengenakan manusia baru yang terus menerus diperbaharui untuk memperoleh pengetahuan yang benar menurut gambar Khaliknya (Kol 3:10).

Orang-orang percaya dalam Kristus diperbaharui menurut sifat mereka yang semula sebagai manusia yang diciptakan menurut gambar Allah. Mereka diberikan kebenaran, kesucian, dan pengetahuan yang benar, di mana semua itu telah hilang pada waktu kejatuhan. Perhatian khusus harus diberikan pada fakta bahwa pembaharuan melalui kelahiran baru tidak hanya meliputi sebagian dari manusia. Melainkan meliputi seluruh karakternya, bahkan proses berpikirnya.

Kami mematahkan setiap siasat orang dan merubuhkan setiap kubu yang dibangun oleh keangkuhan manusia untuk menentang pengenalan dan menaklukkannya kepada Kristus (2Ko 10:5).

Orang-orang Kristen pada kenyataannya diperbaharui sampai pada tahap tertentu dalam setiap aspek pribadi mereka kepada keberadaan asal mula sebelum kejatuhan. Kita tidak diselamatkan untuk sekedar berada dalam keadaan yang manis dan menyenangkan. Namun kita diperbaharui sebagai ciptaan baru dan dikembalikan kepada asal mula keberadaan kita sebagai gambar Allah melalui kelahiran baru.

Sebagai gambar Allah yang telah direstorasi, manusia yang telah ditebus merindukan untuk melakukan apa yang adil pada wahyu Allah dalam semua ciptaan dan Firman Tuhan. Dia menyadari bahwa tidaklah cukup hanya mengetahui bahwa hujan merupakan kondensasi dari air yang menguap. Maka dia akan bertanya apakah hujan itu dan bagaimana ia menyatakan karakter dan kehendak Allah. Apabila tidak ada dosa, hal ini tidak akan menjadi masalah. Manusia cukup hanya mengamati dunia dan mengenal Allah melaluinya. Namun oleh karena dosa "maka diperlukan penolong yang lebih baik ditambahkan untuk memimpin kita pada Pencipta alam semesta ini secara langsung."[1]

Penolong yang lebih baik adalah Firman Tuhan. Orang Kristen berkewajiban mendedikasikan diri untuk menyelidiki Firman Tuhan oleh karena kebenaran di dalamnya akan memimpin kita kepada pengetahuan akan keselamatan. Dan kebenaran-kebenaran itu juga akan memimpin kita kepada pengetahuan akan ciptaan menurut apa yang diwahyukan oleh Allah dan kehendak-Nya atas manusia. Ini tidak berarti bahwa Alkitab menjadi suatu buku pedoman dari ilmu pengetahuan alam. Dengan kata lain sepertinya orang Kristen tidak perlu lagi melihat pada dunia dan cukup hanya dengan membaca Alkitab untuk menemukan kebenaran ilmiah.

Firman Tuhan memberikan prinsip-prinsip dasar secara umum di mana semua penyelidikan akan dunia ini harus berdasarkan atasnya. Misalnya pengetahuan yang sejati mengenai hujan menyatakan kepada kita akan kemurahan Allah dan bagaimana Allah mengharapkan kita untuk memperlakukan musuh kita dengan kebaikan (Mat 5:45 dan seterusnya). Tentu saja penyelidikan secara ilmiah pada sifat dari hujan akan secara intensif menjelaskan pengertian orang Kristen akan hal-hal ini namun pengetahuan yang benar dari hujan ditemukan berdasarkan penyelidikan yang didasarkan pada Firman Tuhan dan dipimpin oleh Firman Tuhan.

Sebagai ciptaan yang telah diperbaharui, orang Kristen merindukan untuk mempertahankan fakta perbedaan Pencipta dengan ciptaan dalam hal pengetahuan dan moralitas. Sehingga orang Kristen dapat memberikan perlakuan yang tepat pada wahyu Allah.


Menaklukkan Segala Pikiran kepada Kristus -- Pelajaran 5 Karakter Manusia Setelah Ditebus oleh Kristus [Indeks 00000]

PELAJARAN 5 KARAKTER MANUSIA SETELAH DITEBUS OLEH KRISTUS [Daftar Isi 00004]
00028 A. Kebalikan dari Kejatuhan
00029 B. Pembaharuan Melalui Kelahiran Baru
00030 C. Orang Percaya dan Dosa yang Masih Tertinggal

C. Orang Percaya dan Dosa yang Masih Tertinggal

Kehidupan orang Kristen bukannya tanpa kesalahan. Meskipun ia telah diperbaharui kembali kepada kondisi asalnya, pembaharuan ini tidaklah sempurna sampai kedatangan Tuhan Yesus yang kedua kalinya. Orang Kristen berkecimpung dalam peperangan yang dahsyat antara kebenaran dan dosa. Paulus menjelaskan konflik ini sebagai berikut:

Sebab keinginan daging berlawanan dengan keinginan Roh dan keinginan Roh berlawanan dengan keinginan daging karena keduanya bertentangan sehingga kamu setiap kali tidak melakukan apa yang kamu kehendaki (Gal 5:17).

Roh Kudus yang tinggal di antara orang-orang percaya berada dalam peperangan dengan pemikiran daging manusia. Sebagai akibatnya, ada dua prinsip yang bekerja dalam diri orang percaya, yang satu kepada ketaatan dan yang lain pada ketidaktaatan. Walaupun orang Kristen berusaha untuk bergantung pada Allah dengan memperhatikan wahyu-Nya untuk mendapatkan pengetahuan dan moralitas, namun ia gagal untuk melaksanakan keinginannya secara terus menerus. Pada waktu tertentu orang Kristen dapat kembali kepada dosa yang terjadi pada waktu kejatuhan dengan memberontak atau mengabaikan fakta perbedaan Pencipta dengan ciptaan.

Penurunan ini dengan sendirinya memperlihatkan penolakan akan pengakuan atas wahyu Allah dalam segala sesuatu termasuk Firman Tuhan. Sebagaimana orang tidak percaya tidak dapat terlepas sepenuhnya dari kualitas penciptaan sebagai manusia yang diciptakan menurut gambar Allah, demikian pula orang Kristen tidak dapat terlepas sepenuhnya dari dosa yang masih tertinggal dalam hidupnya. Dia tidak konsisten dengan prinsipnya akan kebergantungan secara total kepada Allah dan oleh karenanya ia tetap dapat melakukan kesalahan dalam pemikiran dan tindakannya.

Dengan alasan ini maka orang Kristen secara berulang-ulang didorong untuk menghindari dan menolak dosa. Paulus berkata:

bahwa kamu telah mati bagi dosa, tetapi kamu hidup bagi Allah dalam Kristus Yesus. Sebab itu hendaklah dosa jangan berkuasa lagi di dalam tubuhmu yang fana, supaya kamu jangan lagi menuruti keinginannya (Rom 6:11, 12).

Dan dalam bentuk pernyataan yang positif ia berkata:

Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu (Rom 12:2).

Kebergantungan kepada Allah untuk pengetahuan dan moralitas tidak datang secara otomatis bagi orang Kristen. Hal ini harus disertai dengan usaha yang serius, di mana kita sungguh berusaha untuk mendapatkan "penyucian di mana tanpa itu tidak ada seorang pun akan dapat melihat Allah" (Ibr 12:14). Ini merupakan tugas yang panjang dan sulit namun kita harus berusaha secara terus menerus apabila kita ingin mengenal Allah dan kehendak-Nya. Pada saat kita berpikir bahwa kemampuan orang Kristen untuk mengetahui kebenaran disebabkan oleh kelahiran baru Ian berpaling dari kejatuhan, kita juga harus ingat bahwa dosa masih mempengaruhi kehidupan orang Kristen.

Karakter manusia yang telah ditebus oleh Kristus merupakan pengertian yang - dasar bagi apologetika alkitabiah. Pekerjaan Kristus di atas kayu salib dan dalam kebangkitan-Nya telah memperbaharui pengetahuan yang sejati dan kebenaran bagi orang yang percaya kepada-Nya. Meskipun dosa masih ada, namun orang yang telah ditebus oleh Kristus dapat bergantung kepada Allah untuk pengetahuan dan moralitasnya.

Pertanyaan-pertanyaan Sebagai Bahan Evaluasi:

  1. Apa yang dimaksudkan dengan kelahiran baru dapat menghasilkan kebalikan dari posisi manusia setelah jatuh ke dalam dosa?
  2. Dalam pengertian apa manusia yang telah ditebus direstorasi pada keadaan manusia sebelum kejatuhan?
  3. Bagaimana akibat kebalikan dan restorasi yang dialami oleh orang percaya terhadap wahyu Allah dalam segala sesuatu dan dalam Firman Tuhan?
  4. Bagaimana dosa yang tertinggal masih mempengaruhi pengetahuan dan moralitas orang-orang percaya?

Catatan Kaki:

[1] John Calvin, Institutes, I,6, 1.


Menaklukkan Segala Pikiran kepada Kristus -- Pelajaran 6 Pandangan Orang Tidak Percaya [Indeks 00000]

PELAJARAN 6 PANDANGAN ORANG TIDAK PERCAYA [Daftar Isi 00004]
00032 A. Struktur Filsafat Non-Kristiani
00033 B. Dilema Orang-orang Tidak Percaya
00034 1. Pemikiran Berkenaan dengan Allah
00035 2. Pemikiran Mengenai Dunia di Luar Diri Manusia
00036 3. Pemikiran Mengenai Manusia

Hati-hatilah supaya jangan ada yang menawan kamu dengan filsafatnya yang kosong dan palsu menurut ajaran turun temurun dan roh-roh dunia, tetapi menurut Kristus (Kol 2:8).

Dari pengamatan kita yang singkat akan karakter manusia, maka merupakan suatu fakta bahwa ada dua macam kumpulan manusia yang hidup dalam dunia pada hari ini. Kedua macam group ini memegang pandangan yang berlawanan mengenai Allah, dunia, dan diri mereka sendiri. Dua pandangan ini akan disebut filsafat kristiani yang berakar pada kebergantungan secara total kepada Allah dan filsafat non kristiani yang berakar kepada kemandirian terlepas dari Allah.

Pandangan-pandangan ini difokuskan kepada hal-hal yang berhubungan dengan apa yang dikatakan "hal-hal agamawi" dan "masalah-masalah teologis." Kedua pandangan ini mempengaruhi setiap aspek dari kehidupan orang-orang yang terlibat di dalamnya. Kita akan meringkaskan pandangan-pandangan dasar dari filsafat non Kristen dan kita akan memperhatikan filsafat Kristen pada pelajaran yang berikutnya.


Menaklukkan Segala Pikiran kepada Kristus -- Pelajaran 6 Pandangan Orang Tidak Percaya [Indeks 00000]

PELAJARAN 6 PANDANGAN ORANG TIDAK PERCAYA [Daftar Isi 00004]
00032 A. Struktur Filsafat Non Kristiani
00033 B. Dilema Orang-orang Tidak Percaya
00034 1. Pemikiran Berkenaan dengan Allah
00035 2. Pemikiran Mengenai Dunia di Luar Diri Manusia
00036 3. Pemikiran Mengenai Manusia

A. Struktur Filsafat Non Kristiani

Kejanggalan filsafat orang tidak percaya merupakan hasil dari karakter mereka yang non Kristen. Dalam Efe 4:17-19, Paulus menjelaskan keberadaan orang tidak percaya untuk menyatakan bentuk filsafat yang dapat dihasilkan oleh mereka. Mereka berjalan:

Sama seperti orang-orang yang tidak mengenal Allah dengan pikirannya yang sia- sia dan pengertiannya yang gelap, jauh dari hidup persekutuan dengan Allah, karena kebodohan yang ada di dalam mereka dan karena kedegilan hati mereka. Perasaan mereka telah tumpul, sehingga mereka menyerahkan diri kepada hawa nafsu dan mengerjakan dengan serakah segala macam kecemaran.

Orang-orang tidak percaya tetap berada di bawah kutuk dosa. Mereka menyangkali fakta perbedaan Pencipta dengan ciptaan dan memalingkan diri mereka dari Allah supaya terlepas dari Allah, maka akibatnya mereka hidup dalam kesia-siaan. Semua usaha mereka adalah kegelapan dan tidak murni. Oleh karena itulah Paulus pada bagian lain menjelaskan filsafat orang tidak percaya sebagai berikut:

Hati-hatilah supaya jangan ada yang menawan kamu dengan filsafatnya yang kosong dan palsu menurut ajaran turun temurun dan roh-roh dunia, tetapi menurut Kristus (Kol 2:8).

Kita harus berhati-hati dalam menafsirkan apa yang dikatakan oleh Paulus untuk mendapatkan pengertian yang tepat. Dalam pernyataannya itu Paulus tidak melawan filsafat secara umum; ia sendiri dapat dikatakan sebagai seorang ahli filsafat. Yang Paulus lawan adalah filsafat orang tidak percaya sebab filsafat yang berdasarkan akan penyerahan kepada kemandirian akan mengklaim kebenaran namun sebenarnya yang ditawarkan hanyalah kehancuran dan kematian yang kekal.

Oleh karena itu, Paulus menyatakan filsafat orang tidak percaya sebagai "penipu yang kosong." Banyak yang tertipu oleh pandangan-pandangan orang-orang yang hidup tanpa Kristus. Namun akhirnya mereka suatu hari akan menemukan kekosongan yang sebenarnya terdapat di sana. Telah banyak orang-orang penting dari kalangan orang tidak percaya yang telah menyumbangkan hal yang berarti pada pengetahuan manusia dan kehidupan, namun secara keseluruhan filsafat yang dihasilkan oleh orang-orang tidak percaya tidak mempunyai kekuatan apa-apa selain daripada penipuan yang kosong.

Mungkin kita berpikir bahwa Paulus terlalu berlebihan dalam mengomentari soal ini, namun perkataannya yang berikut ini membuktikan sebaliknya:

Hati-hatilah supaya jangan ada yang menawan kamu dengan filsafatnya yang kosong dan palsu menurut ajaran turun temurun dan roh-roh dunia, tetapi menurut Kristus (Kol 2:8).

Lepas daripada nilai yang dapat ditemukan dalam berbagai macam aspek dari pemikiran orang tidak percaya, satu hal yang membuat semua itu dapat dikatakan omong kosong dan penipuan, yaitu persamaan komitmen mereka kepada filsafat yang harus berdasarkan kepada kemandirian manusia. Filsafat yang dihasilkan oleh orang tidak percaya tidak berdasarkan pada hal yang netral. Namun berdasarkan kepada kesetiaan atas "tradisi manusia" dan "prinsip-prinsip dasar dari dunia." Tidak ada yang benar selain dapat dibuktikan memang benar oleh pemikiran manusia yang mandiri.

Untuk lebih jelasnya Paulus menunjukkan karakter filsafat orang tidak percaya dengan mengatakan bahwa filsafat mereka sesuai dengan standar manusia "bukan Kristus." Dengan kata lain, semua orang yang tidak percaya telah menolak Kristus dengan tegas dan bersikeras untuk mempertahankan kemandirian mereka. Termasuk orang-orang yang mengambil posisi netral, mereka juga telah menolak pernyataan Kristus sebagai Tuhan dari alam semesta yang tidak perlu dipertanyakan lagi. Dengan mengatakan kekristenan mungkin benar sama halnya dengan mengatakan kekristenan mungkin tidak benar.

Allah menuntut kesetiaan total pada Firman-Nya. Melalui perkataannya Paulus telah menyusup kepada bagian yang inti dari filsafat orang tidak percaya. Lepas dari ketidakstabilan yang tidak disengaja, orang tidak percaya tidak pernah berpikir atau bertindak selain daripada sesuai dengan prinsip yang berdasarkan kemandirian mereka. Hanya pada saat orang tidak percaya itu dipanggil oleh Allah dan dilahirkan baru maka dia akan melakukan yang sebaliknya. Sesuai dengan pengertian ini, maka filsafat orang tidak percaya dapat diumpamakan seperti gedung besar yang terletak hanya di atas sepotong batu kemandirian.

Komitmen kepada kemandirian merupakan hal yang sangat dasar bagi filsafat orang tidak percaya. Meskipun orang-orang tidak percaya berusaha menyangkali kenyataan ini, setiap alasan yang dikemukakan untuk mendukung komitmen mereka pada dasarnya berdasarkan hal itu. Apabila orang tidak percaya ditantang untuk memberikan alasan untuk komitmen agama mereka, maka dia akan menjawab dengan berbagai macam cara. Namun dia akan selalu menjawab dengan alasan yang dianggap sah berdasarkan tolok ukur kemandirian mereka. Dia dapat membantah bahwa pengalamannya menyatakan akan kemandiriannya, namun kepercayaannya pada pengalaman sebagai kriteria dari kebenaran itu sendiri berdasarkan pada kemandirian.

Pada dasarnya orang tidak percaya berusaha untuk mengangkat dirinya sendiri dan mendukung komitmen mereka dengan kemandirian. Oleh karena itu filsafat orang tidak percaya dapat diperumpamakan dengan sebuah bangunan yang atapnya mendukung fondasinya; tidak ada dasar yang kokoh di bawahnya. Filsafat orang tidak percaya dibangun berdasarkan "tradisi manusia."


Menaklukkan Segala Pikiran kepada Kristus -- Pelajaran 6 Pandangan Orang Tidak Percaya [Indeks 00000]

PELAJARAN 6 PANDANGAN ORANG TIDAK PERCAYA [Daftar Isi 00004]
00032 A. Struktur Filsafat Non Kristiani
00033 B. Dilema Orang-orang Tidak Percaya
00034 1. Pemikiran Berkenaan dengan Allah
00035 2. Pemikiran Mengenai Dunia di Luar Diri Manusia
00036 3. Pemikiran Mengenai Manusia

B. Dilema Orang-orang Tidak Percaya

Pada waktu manusia menolak fakta perbedaan Pencipta dengan ciptaan dan menyerahkan dirinya kepada kemandirian terlepas dari Allah, manusia telah melenyapkan semua kemungkinan untuk mendapatkan pengetahuan yang benar. Manusia diperhadapkan kepada suatu dilema yang tidak dapat dihindari oleh orang-orang tidak percaya dan yang menyatakan kefanaan dari pemikiran yang berdosa. Suatu analogi dapat kita lihat pada teater Yunani kuno di mana aktor yang sama sering kali harus memainkan bermacam-macam peran dengan cara memakai topeng yang berganti-ganti. Demikian juga halnya dengan orang tidak percaya yang buta, tuli, dan bisu secara rohani, mereka terpaksa harus memakai dua topeng. Pada saat berpaling daripada Allah, orang tidak percaya menyatakan keyakinan yang mutlak bahwa fakta perbedaan Pencipta dengan ciptaan-Nya menurut Alkitab adalah tidak benar; oleh karena itu ia memakai topeng "keyakinan yang mutlak." Namun pada saat berpaling daripada Allah orang tidak percaya berada pada posisi di mana ia tidak nmempunyai dasar yang kuat/kokoh untuk pengetahuan dan oleh karena itu harus menggunakan topeng "ketidakyakinan yang mutlak."

Pada suatu saat orang tidak percaya memakai topeng yang satu dan saat lain memakai yang lain. Sesungguhnya di balik topeng itu orang tidak percaya diperhadapkan kepada suatu dilema yang tidak dapat dipecahkan di mana kedua- duanya pada saat yang sama yakin secara mutlak dan tidak yakin secara mutlak. Pembukaan atau upaya menyingkapkan topeng orang tidak percaya dan memperlihatkan dilema ini kepada mereka, merupakan bagian yang penting dalam pembelaan alkitabiah bagi kekristenan. Oleh karena itu kita akan melihat dilema orang tidak percaya ini dengan lebih teliti.

Pada satu pihak, apabila orang tidak percaya mengklaim bahwa ia memiliki keyakinan yang mutlak, dia dapat melakukan itu hanya dengan cara mengabaikan ketidakyakinannya yang mutlak. Sebagaimana telah digambarkan terdahulu, keyakinan merupakan suatu hal yang mustahil bagi orang tidak percaya sebab dia telah menolak satu-satunya sumber pengetahuan yang benar dan mengakibatkan dia berada pada spekulasi yang terbatas.

Apabila orang tidak percaya bersikeras untuk berpegang kepada pandangannya, maka dia harus melakukannya dengan cara mengabaikan secara total akan kesadarannya yang terbatas dan pemberontakkannya kepada Allah. Pada pihak yang lain apabila orang tidak percaya mengklaim ketidakyakinan yang mutlak, dengan mempertanyakan kemungkinan manusia untuk mengetahui, maka hal itu hanya dapat dilakukan dengan cara mengabaikan bahwa pandangannya secara kenyataan merupakan suatu pernyataan dari keyakinan yang mutlak.

Sering kali keadaan ini diperlihatkan oleh orang tidak percaya sebagai usaha untuk menghindari kesombongan dan suatu dogma (memutlakkan sesuatu). Mereka akan mengatakan bahwa kita tidak yakin akan apa yang kita pikir kita tahu atau bahwa kita hanya akan sampai kepada "pengetahuan yang berdasarkan suatu kemungkinan." Pernyataan yang seperti itu kelihatannya seperti "kerendahan hati" pada permukaannya, tetapi sebenarnya merupakan pernyataan keyakinan yang mutlak dan pada saat yang sama ketidakyakinan yang mutlak.

Orang tidak percaya yang mengklaim ketidakyakinan yang mutlak untuk pengetahuan manusia mengatakan: "Merupakan keyakinan yang mutlak bahwa tidak ada keyakinan- keyakinan yang mutlak." Orang-orang tidak percaya secara terus menerus berpegang kepada pandangan ini hanya apabila ia mengabaikan bagaimana ia harus berkeyakinan secara mutlak untuk berpegang kepadanya.

Akan sangat menolong pada titik ini untuk menggambarkan lebih lanjut bagaimana filsafat orang tidak percaya itu memperlihatkan dilema secara berganti-ganti dari berpegang kepada keyakinan yang total kepada ketidakyakinan yang total. Penjelasan akan diberikan berdasarkan tiga hal utama dari pemikiran manusia: Allah, dunia di luar manusia, dan manusia sendiri. Penjelasan ini bukan merupakan penjelasan yang mendalam, oleh karena kita hanya akan memperlihatkan beberapa contoh untuk mendukung gambaran yang akan diberikan. Hal-hal ini sangat penting bagi apologetika alkitabiah dan akan didiskusikan lebih lanjut dalam pelajaran yang berikutnya.


Menaklukkan Segala Pikiran kepada Kristus -- Pelajaran 6 Pandangan Orang Tidak Percaya [Indeks 00000]

PELAJARAN 6 PANDANGAN ORANG TIDAK PERCAYA [Daftar Isi 00004]
00032 A. Struktur Filsafat Non Kristiani
00033 B. Dilema Orang-orang Tidak Percaya
00034 1. Pemikiran Berkenaan dengan Allah
00035 2. Pemikiran Mengenai Dunia di Luar Diri Manusia
00036 3. Pemikiran Mengenai Manusia

1. Pemikiran Berkenaan dengan Allah

Salah satu hal di mana filsafat orang tidak percaya dapat dilihat keterbatasannya adalah dalam hal pertanyaan mereka akan keberadaan Allah. Pada satu pihak, orang tidak percaya mungkin seorang ateis, yang berpegang kepada keyakinan yang mutlak bahwa Allah tidak ada. Untuk berpegang kepada pandangan ini, orang tidak percaya berusaha untuk mengabaikan fakta keterbatasannya dalam penyelidikan akan seluruh alam semesta dan mendorong dia bahwa pada dasarnya mereka tidak yakin secara mutlak akan keberadaan Allah. Oleh karena orang tidak percaya belum menyelidiki semua kemungkinan yang membuktikan keberadaan Allah, maka dia tidak dapat yakin secara mutlak bahwa Allah tidak ada.

Walaupun demikian, ini tidak berarti bahwa orang tidak percaya dapat dengan aman mengklaim bahwa keberadaan Allah tidak dapat dipastikan. Dengan mengambil pernyataan yang bersifat agnostik ini dia telah terdampar pada dilema yang sama sebagai seorang ateis. Orang tidak percaya berpegang kepada pandangan ketidakyakinan secara mutlak ini dengan mengabaikan bahwa pandangan agnostik meliputi keyakinan yang mutlak, bahwa Allah tidak menyatakan diri- Nya dengan cara yang dituntut oleh orang-orang tidak percaya, di mana Allah menyatakan diri-Nya untuk menuntut pengakuan dan ketaatan dari semua manusia. Orang Agnostik sangat yakin bahwa keberadaan Allah merupakan sesuatu yang tidak pasti. Sebagai akibatnya orang tidak percaya tidak dapat menyangkali atau mengklaim tidak mengetahui akan keberadaan Allah tanpa memperlihatkan kefanaan dari pemberontakkannya kepada Allah.


Menaklukkan Segala Pikiran kepada Kristus -- Pelajaran 6 Pandangan Orang Tidak Percaya [Indeks 00000]

PELAJARAN 6 PANDANGAN ORANG TIDAK PERCAYA [Daftar Isi 00004]
00032 A. Struktur Filsafat Non Kristiani
00033 B. Dilema Orang-orang Tidak Percaya
00034 1. Pemikiran Berkenaan dengan Allah
00035 2. Pemikiran Mengenai Dunia di Luar Diri Manusia
00036 3. Pemikiran Mengenai Manusia

2. Pemikiran Mengenai Dunia di Luar Diri Manusia

Dilema dari filsafat orang-orang tidak percaya dapat dilihat pula dari apa yang dikatakan oleh mereka mengenai lingkungan ciptaan di sekitar mereka. Klaim akan keyakinan yang mutlak telah dikemukakan, misalnya, pada waktu mereka mengatakan bahwa dunia ini dalam pengertian tertentu merupakan dunia yang teratur dan dapat dimengerti. Mereka yakin secara mutlak bahwa keteraturan yang telah diamati benar-benar merupakan suatu realitas yang nyata pada dunia ini. Namun orang tidak percaya diperhadapkan kepada suatu fakta bahwa ia belum menyelidiki dan tidak dapat menyelidiki keseluruhan dari dunia di luar dirinya begitu rupa sehingga ia dapat menghindari ketidakpastian yang mutlak.

Kenyataan akan hal-hal yang tidak diketahui mengundang pertanyaan akan segala sesuatu yang diklaim dan diketahui oleh orang-orang tidak percaya. Keyakinan yang mutlak mengenai dunia luar sering kali menyangkut pendapat bahwa dunia tidak memiliki keteraturan dan dikuasai atau dikontrol oleh sesuatu yang kebetulan tidak dapat dimengerti oleh manusia. Sangat nyata bahwa pada saat orang tidak percaya menyangkal kemungkinan dari mengetahui dunia dalam bentuk seperti ini, dia membuat pertanyaan akan kepastian yang mutlak akan karakter dari dunia. Dia mengetahui dengan pasti bahwa dunia tidak teratur dan hanya merupakan suatu hasil dari kebetulan. Sekali lagi orang tidak percaya diperhadapkan pada dilema antara kepastian yang mutlak dan ketidakpastian yang mutlak pada saat yang sama.


Menaklukkan Segala Pikiran kepada Kristus -- Pelajaran 6 Pandangan Orang Tidak Percaya [Indeks 00000]

PELAJARAN 6 PANDANGAN ORANG TIDAK PERCAYA [Daftar Isi 00004]
00032 A. Struktur Filsafat Non Kristiani
00033 B. Dilema Orang-orang Tidak Percaya
00034 1. Pemikiran Berkenaan dengan Allah
00035 2. Pemikiran Mengenai Dunia di Luar Diri Manusia
00036 3. Pemikiran Mengenai Manusia

3. Pemikiran Mengenai Manusia

Bukanlah merupakan hal yang mengejutkan apabila orang tidak percaya memperlihatkan kefanaan dari pemikiran mereka mengenai Allah dan dunia luar. Namun kita perlu melihat bahwa mereka tidak dapat melepaskan diri dari problema yang sama pada saat mereka berbicara mengenai diri mereka sendiri. Posisi kepastian yang mutlak diambil kapan saja oleh orang tidak percaya dalam usaha untuk menjelaskan mengenai manusia. Dengan berbagai macam cara orang tidak percaya menyelewengkan gambaran manusia secara alkitabiah sebagai manusia menurut gambar Allah dan menggantikannya dengan konsep mereka sendiri yang terlepas dari kebergantungan kepada Allah.

Manusia dapat dikatakan sebagai allah atau hanya merupakan binatang. Dia dapat dipertimbangkan sebagai makhluk yang penting atau tidak penting. Apapun masalahnya, orang tidak percaya sebenarnya membuat klaim yang serupa, yaitu berpegang kepada kepastian yang mutlak dan mengabaikan fakta keterbatasan dari penyelidikan mereka sebagai manusia, dan akhirnya mengembalikan diri mereka kepada ketidakpastian yang mutlak.

Pada pihak yang lain, beberapa orang tidak percaya mungkin yakin bahwa manusia tidak dapat pasti untuk mengetahui siapa dirinya. Namun ketidakpastiannya yang mutlak merupakan pernyataan yang pasti secara mutlak bahwa karakter manusia yang sebenarnya tidak dapat diketahui dengan pasti. Bahkan pemikiran-pemikiran orang tidak percaya mengenai sifat dari keberadaannya sendiri menempatkan dia pada dilema dari semua pemikiran yang berontak kepada Allah.

Apapun yang manusia klaim dan akui, orang tidak percaya tidak dapat menghindari dilema antara berpegang pada kepastiannya yang mutlak dan ketidakpastiannya yang mutlak. Akibatnya, dia tidak dapat berbicara apapun mengenai Allah, dunia, atau manusia, sebab ia tidak yakin akan hal-hal itu. Filsafat orang tidak percaya berdasarkan kepada komitmen untuk berdiri sendiri dan komitmen itu telah membawa manusia kepada kefanaan dan tidak adanya pengharapan.

Dalam berapologetika kita berhadapan dengan orang tidak percaya dan cara berpikir mereka. Oleh karena itu sangat penting bagi kita untuk mengetahui karakter dari pandangan mereka. Struktur dan dilema dari pemikiran orang- orang tidak percaya dijelaskan di sini tidak secara menyeluruh, tetapi hal- hal yang telah dijelaskan adalah benar bagi semua pemikiran orang tidak percaya dan harus dimengerti oleh orang Kristen yang akan berapologetika.

Pertanyaan-pertanyaan Sebagai Bahan Evaluasi:

  1. Jelaskan bagaimana pengertian filsafat orang tidak percaya didasarkan pada komitmen atas kemandirian mereka terlepas dari Allah?
  2. Mengapa komitmen kepada kemandirian tidak dapat didukung kebenarannya?
  3. Apakah dilema yang harus dihadapi oleh semua orang tidak percaya?
  4. Jelaskan dilema pemikiran orang tidak percaya berkenaan dengan Allah, dunia, dan manusia!


Menaklukkan Segala Pikiran kepada Kristus -- Pelajaran 7 Pandangan Orang Kristen [Indeks 00000]

PELAJARAN 7 PANDANGAN ORANG KRISTEN [Daftar Isi 00004]
00037 A. Struktur Pandangan Orang Kristen
00038 B. Jawaban Bagi Dilema Orang Tidak Percaya
00038 1. Mengenai Allah
00038 2. Mengenai Dunia
00038 3. Mengenai Manusia
00039 C. Mitos dari Netralitas

Hati-hatilah supaya jangan ada yang menawan kamu dengan filsafatnya yang kosong dan palsu menurut ajaran turun temurun dan roh-roh dunia, tetapi menurut Kristus (Kol 2:8).

Pada pelajaran yang terakhir kita telah mempelajari struktur dasar dan dilema yang tidak dapat dihindari oleh pandangan orang tidak percaya. Pada pelajaran berikut ini kita akan membandingkan perbedaan dari filsafat orang tidak percaya dengan filsafat Kristen. Ini akan dilakukan dengan terlebih dahulu menunjukkan karakter dari filsafat Kristen dan kemudian mendiskusikan hubungan yang timbul di antara kedua pandangan tersebut.

A. Struktur Pandangan Orang Kristen

Berbeda dengan orang tidak percaya, orang Kristen memiliki kemampuan untuk menghindarkan diri daripada kesia-siaan yang berasal dari kegelapan. Seperti yang dikatakan oleh rasul Paulus:

Kita tidak menerima roh dunia, tetapi roh yang berasal dari Allah, supaya kita tahu, apa yang dikaruniakan Allah kepada kita (1Ko 2:12).

Orang-orang Kristen mampu untuk mengetahui dan mengikuti kebenaran dari wahyu Allah. Oleh karena itu mereka dapat menghasilkan filsafat yang tidak berdasarkan pandangan dari kemandirian manusia. Orang-orang Kristen benar-benar dapat mengembangkan suatu filsafat yang berkenan kepada Allah. Hal ini disebabkan pada komitmen agamawi mereka yang bersandar pada cara pandang kristiani.

Setelah menjelaskan filsafat non kristiani seperti yang telah kita baca di Kol 2:8, Paulus selanjutnya menyatakan sifat dari komitmen agamawi yang merupakan dasar dari filsafat kristiani.

Sebab dalam Dialah (Kristus) berdiam secara jasmaniah seluruh kepenuhan ke- Allahan, dan kamu telah dipenuhi di dalam Dia. Dialah kepala semua pemerintah dan penguasa (Kol 2:9-10).

Dalam ayat-ayat ini Paulus memberikan alasan-alasan mengapa orang percaya harus memiliki filsafat kristiani yang sesuai dengan Kristus. Ia memberikan tiga prinsip yang penting sehubungan dengan hal ini.

Pertama, "di dalam Dia seluruh kepenuhan Ilahi tinggal." Kristus adalah penyataan Allah dalam bentuk fisik oleh karena itu filsafat manusia harus berdasarkan kepada komitmen kepada Kristus dan Firman-Nya yang diwahyukan di dalam Alkitab. Hanya Allah yang mengetahui alam semesta ini secara mendalam dan menyeluruh; hanya Dia yang dapat mengajarkan kebenaran kepada manusia. Oleh karena Kristus adalah Allah, maka kita harus menyerahkan diri kita kepada Dia apabila kita ingin memiliki pandangan yang bukan hanya sekedar tipuan yang kosong.

Kedua, "di dalam Dia kamu telah menjadi sempurna." Hanya melalui persekutuan dengan Kristus dengan iman maka kita dimungkinkan untuk dapat melihat Allah, dunia, dan diri kita sendiri dengan tepat dan benar. Lepas daripada iman kepada Kristus sebagai komitmen dasar dalam hidup kita maka kita tidak akan mendapatkan filsafat yang benar.

Alasan ketiga yang diberikan Paulus untuk mendapatkan filsafat sesuai dengan Kristus adalah "Dia adalah kepala dari segala pemerintah dan penguasa." Apabila kita lebih mempercayai suatu prinsip yang tidak bergantung secara total kepada Allah sebagai dasar pemikiran kita, maka ini sama halnya dengan menganggap bahwa ada otoritas lain yang melebihi Kristus. Padahal sebenarnya tidak ada pengadilan yang dapat mengadili Kristus. Tidak ada hakim di atas Dia.

Oleh karena itu, segala sesuatu yang dinyatakan oleh Kristus harus diterima tanpa dipertanyakan lagi sebab Dialah yang memiliki otoritas mutlak/terakhir dalam segala sesuatu. Setiap aspek dari filsafat kristiani harus bersandar kepada komitmen seseorang kepada kebergantungan kepada Allah. Filsafat kristiani dapat dibandingkan dengan suatu bangunan yang besar yang didukung oleh satu tiang yang bergantung kepada Kristus.

Komitmen orang Kristen kepada kebergantungan kepada Allah sering kali disalahmengertikan dalam dua hal: Pertama, komitmen kepada Kristus sering kali dikira hanya dilaksanakan apabila kita melibatkan diri dengan hal-hal yang berhubungan dengan persoalan-persoalan gerejawi. Oleh karena itu persoalan- persoalan yang kita golongkan pada keduniawian tidaklah perlu didasarkan pada komitmen kita pada kebergantungan secara mutlak kepada Allah. Pandangan ini sangatlah tidak benar, sebab sesungguhnya komitmen kepada kebergantungan secara mutlak kepada Allah harus dilaksanakan dalam setiap aspek kehidupan manusia. Contohnya dalam bercocok tanam orang-orang percaya harus menyadari bahwa pengetahuannya adalah berasal dari Allah.

Bukankah setelah meratakan tanahnya, ia menyerakkan jintan hitam dan menebarkan jintan putih, menaruh gandum jawawut dan jelai kehitam-hitaman dan sekoi di pinggirnya? Mengenai adat kebiasaan ia telah diajari, diberi petunjuk oleh Allahnya (Yes 28:25-26).

Semua hikmat dan pengetahuan kita berasal dari Allah.

yang memberi kita akal budi melebihi binatang di bumi, dan hikmat melebihi burung di udara? (Ayu 35:11).

Orang Kristen berusaha untuk bergantung kepada Allah dalam segala sesuatu supaya ia dapat mengatasi segala sesuatu sesuai dengan prinsip berikut ini:

Dan segala sesuatu yang kamu lakukan dengan perkataan atau perbuatan, lakukanlah semuanya itu dalam nama Tuhan Yesus, sambil mengucap syukur oleh Dia kepada Allah, Bapa kita (Kol 3:17).

Kedua, komitmen kepada kebergantungan secara total kadang-kadang disalahmengertikan dalam pengertian bahwa filsafat kristiani hanyalah sekedar mendengar kepada Firman Tuhan dan berdoa. Namun sebenarnya, orang-orang Kristen tidak mendapatkan keseluruhan dari filsafat mereka hanya dari Alkitab dan berdoa, walaupun kedua hal itu sangat penting. Orang Kristen juga melihat dunia dan menemukan jawaban atas pertanyaannya setelah secara aktif melakukan pengamatan dan penyelidikan.

Allah tidak mewahyukan jawaban secara terinci di dalam Alkitab atas setiap pertanyaan yang dikemukakan oleh manusia. Allah memang memberikan kepada kita petunjuk-petunjuk batasan sebagai pedoman untuk membangun filsafat kita. Pada waktu Allah memerintahkan nabi Nuh untuk membangun sebuah bahtera, petunjuk tertentu diberikan melalui wahyu khusus, namun hal-hal yang terinci dipelajari dengan menerapkan prinsip-prinsip yang diberikan kepada kondisi yang ada. Misalnya, Allah mengatakan kepada nabi Nuh untuk memplester bahtera itu, namun jumlah dari aspal yang harus dipergunakan tidak diberitahukan oleh Allah. Oleh karena itu nabi Nuh harus menentukan jumlah aspal yang diperlukan dengan melihat seberapa banyak yang diperlukan untuk menjaga bahtera dari kebocoran. Orang percaya diperintahkan untuk "menaklukkan bumi dan memerintah..." (Kej 1:28), tetapi petunjuk secara terinci untuk melaksanakan setiap aspek dari hal itu tidak diberikan dalam Firman Tuhan. Filsafat kristiani bukan hanya membaca Alkitab dan berdoa. Tetapi merupakan sebuah konstruksi yang dibangun berdasarkan prinsip Firman Tuhan.

Tidak seperti orang tidak percaya, orang-orang Kristen memiliki dasar yang kuat di bawah komitmen agamawi mereka yaitu kebergantungan secara mutlak kepada Allah. Memang pada saat orang Kristen berusaha untuk membenarkan kebergantungannya dengan memakai fakta-fakta tertentu, maka fakta-fakta tersebut juga akan berdasarkan kebergantungan manusiawi. Misalnya, orang Kristen akan mengatakan bahwa keterbatasannya dalam kemampuan dibandingkan dengan kebesaran alam semesta merupakan alasan untuk bergantung kepada Allah. Dan alasan ini dapat diterima oleh manusia lainnya apabila kebergantungan manusia kepada Allah telah diterima dan diakui oleh mereka.

Sama halnya dengan filsafat orang tidak percaya maka dalam filsafat kristiani terdapat juga sirkulasi. Tetapi ada satu hal yang penting yang membedakan keduanya, yaitu prinsip kebergantungannya tidak pada dirinya sendiri sebagai pendukung yang terakhir, melainkan terletak pada dasar yang kokoh dari Allah dan wahyu-Nya. Apabila dipertanyakan mengapa ia bergantung kepada Allah, orang Kristen akan menjawab bahwa hal itu disebabkan karena ia diperintahkan untuk berbuat demikian oleh Firman Allah, dan bahwa Alkitab mempunyai otoritas bagi orang Kristen sebab itu merupakan Firman Allah. Ia akan mengklaim bahwa ia mengetahui Alkitab adalah Firman Allah melalui kesaksian dari Roh Kudus dan pekerjaan penebusan dari Kristus. Allah, Kristus, dan Roh Kudus, dan Alkitab adalah otoritas akhir yang saling mengokohkan, sebab tidak ada otoritas lain kepada siapa otoritas terakhir ini harus menghadap atau diadili. Sejauh pemikiran orang percaya mereka percaya bahwa tidak ada seorang pun yang lebih besar daripada Allah, oleh karena itu Allah hanya bertanggung jawab atas otoritas-Nya kepada diri-Nya sendiri.

Tuduhan yang seringkali diberikan untuk menentang orang Kristen dalam hal ini adalah bahwa komitmen orang Kristen terhadap kebergantungan kepada Allah merupakan hasil keputusan yang mandiri. Dengan perkataan lain, orang tidak percaya menyatakan bahwa di balik kebergantungan kepada Allah maka sebenarnya proses kemandirian orang Kristen yang memutuskan bahwa kekristenan merupakan pilihan yang terbaik. Memang kalau dilihat dari sudut pandang orang tidak percaya kelihatannya seakan-akan inilah yang sebenarnya terjadi. Namun sebenarnya, orang Kristen menyadari bahwa kenyataannya tidaklah demikian. Orang Kristen tidak berdasarkan kemandiriannya pada waktu menyerahkan dirinya untuk bergantung kepada Allah. Dia telah diberikan anugerah kelahiran baru dari Allah terlepas daripada kehendaknya sendiri. Oleh karena anugerah Allah maka dia dimungkinkan untuk menyerahkan dirinya kepada kebergantungan secara total kepada Allah.

Hal itu tidak bergantung kepada kehendak orang atau usaha orang, tetapi kepada kemurahan hati Allah (Rom 9:16).

Tidak ada pemilihan yang didasarkan pada kemandirian manusia yang terlibat dalam pemutusan untuk mendedikasikan diri kepada Kristus. Allah Pencipta yang berbicara bagi diri-Nya sendiri melalui wahyu-Nya adalah satu-satunya dasar di mana iman Kristen dibangun.

Baik orang Kristen maupun orang tidak percaya sama-sama terlibat dalam sirkulasi-sirkulasi pemikiran, hal ini tidak dapat dihindari. Namun, suatu perbedaan yang sangat penting perlu dicatat dan diperhatikan. Sirkulasi pemikiran orang tidak percaya berisi usaha untuk membenarkan asumsi yang dihasilkan dari pemikiran yang mandiri dan hasil dari ketidakmampuan orang berdosa untuk melakukan yang lain kecuali hal-hal yang terlepas daripada iman dalam Kristus.

Sirkulasi pemikiran orang Kristen terdiri dari pengakuan bahwa tidak ada yang lebih tinggi daripada otoritas Allah dan Firman-Nya. Sirkulasi pemikiran orang tidak percaya merupakan bukti daripada pemikiran yang fana dan salah yang berusaha dan bergumul untuk mendukung dirinya sendiri. Sedangkan sirkulasi pemikiran orang Kristen adalah bukti dari pemikiran yang telah diserahkan untuk kembali kepada Allah sebagai Pencipta dari segala sesuatu sehingga tidak dibutuhkan dukungan lebih lanjut untuk membenarkan sirkulasi pemikirannya. Perbedaan-perbedaan ini membentuk jurang pemisah yang besar antara ke dua pandangan di dunia ini yang akan bertumpukan satu dengan yang lainnya melalui jamahan anugerah kelahiran baru daripada Allah.


Menaklukkan Segala Pikiran kepada Kristus -- Pelajaran 7 Pandangan Orang Kristen [Indeks 00000]

PELAJARAN 7 PANDANGAN ORANG KRISTEN [Daftar Isi 00004]
00037 A. Struktur Pandangan Orang Kristen
00038 B. Jawaban Bagi Dilema Orang Tidak Percaya
00038 1. Mengenai Allah
00038 2. Mengenai Dunia
00038 3. Mengenai Manusia
00039 C. Mitos dari Netralitas

B. Jawaban Bagi Dilema Orang Tidak Percaya

Filsafat kristiani menyediakan kelepasan dari kesia-siaan dilema orang tidak percaya. Dalam Kristus dasar bagi kepastian manusia dan jawaban atas ketidakpastian dapat ditemukan. Filsafat kristiani didukung oleh komitmen kepada kebergantungan kepada Allah yang terletak kepada Allah dan wahyu-Nya. Oleh karena Allah dilihat sebagai sumber dari segala pengetahuan, maka orang Kristen tidak diperhadapkan kepada masalah pasti dan tidak pasti yang tidak terpecahkan. Memang ada kepastian dan ketidakpastian dalam filsafat kristiani, namun itu semua ada di bawah bimbingan ke-Tuhanan Kristus.

Di satu pihak orang Kristen akan merasa pasti akan pengetahuan manusia selama ia bergantung kepada wahyu Allah. Mendasari filsafat kita atas Allah dan wahyu-Nya berarti menerima secara pasti hal-hal itu telah diwahyukan. Berbeda dengan orang tidak percaya, maka kepastian orang Kristen tidak dihancurkan oleh apa yang ia tidak ketahui. Sebab Allah mengetahui segala sesuatu secara mendalam dan menyeluruh, oleh karena itu Ia dapat menyediakan pengetahuan yang cukup bagi manusia bahkan dalam keterbatasan manusia sekalipun. Selama manusia bergantung kepada wahyu Allah untuk mengerti akan Allah, dunia, dan dirinya sendiri, maka ia akan mengetahuinya dengan benar tanpa disertai takut akan salah.

Di pihak lain, memang ada ketidakpastian dalam diri orang Kristen. Sebab dia menyadari bahwa ia tidak mampu untuk meresapi pengetahuan dari segala sesuatu. Ini berkenaan dengan hal-hal yang melampaui akal budinya dan yang belum dinyatakan oleh Allah kepada manusia. Dalam hal-hal seperti itu orang Kristen mengakui ketidakpastian tetapi tetap percaya kepada hikmat Allah dan pengertian- Nya yang sempurna. Contohnya, orang percaya tidak mampu untuk memecahkan misteri dari ke-Tuhanan dan kemanusiaan Tuhan Yesus. Namun ia percaya bahwa hal itu bukan merupakan suatu misteri bagi Allah dan hal itu pasti benar oleh karena Allah yang mengatakannya. Kebergantungan kepada Allah ialah mempercayai Dia dalam hal-hal di mana kita tidak dapat dengan sepenuhnya memahaminya. Ini berarti orang Kristen dapat dikatakan memiliki ketidakpastian yang bergantung kepada pengetahuan Allah yang sempurna.

Supaya kita dapat melihat dengan jelas perbedaan antara kepastian dan ketidakpastian di antara orang Kristen dan orang tidak percaya, maka kita akan melihat beberapa gambaran dari sudut pandang orang Kristen dalam hal-hal ini. Orang tidak percaya berada dalam dilema kepastian yang mutlak dan ketidakpastian yang total. Orang Kristen sebaliknya menemukan pemecahan atas kesulitan ini dengan memiliki kepastian dan ketidakpastian yang bergantung pada pengetahuan Allah. Kita akan melihat bagaimana pemecahan ini sehubungan dengan konsep kristiani dari Allah, dunia dan manusia.

1. Mengenai Allah

Orang Kristen memiliki kepastian yang bergantung kepada Allah mengenai keberadaan dan karakter Allah oleh karena ia menerimanya melalui wahyu Allah dalam Alkitab. Allah telah berfirman dan menyatakan diri-Nya bahwa Ia dapat dikenali oleh mereka yang menyerahkan dirinya untuk percaya kepada Anak-Nya. Namun demikian orang Kristen memiliki ketidakpastian yang bergantung kepada Allah oleh karena ia tidak mengetahui segala sesuatu mengenai Allah. Allah telah merahasiakan sebagian mengenai diri-Nya; dan juga dosa yang tersisa dalam kehidupan orang-orang percaya menahan dia untuk mengetahui apa yang telah diwahyukan sebagaimana seharusnya. Namun demikian, ketidakpastian ini tidak menghancurkan segala sesuatu yang dapat diketahui oleh orang Kristen mengenai Allah sebab Allah memiliki semua pengertian dan pengetahuan, dan filsafat kristiani bergantung kepada wahyu dari Allah yang mengetahui segala sesuatu.

2. Mengenai Dunia

Filsafat kristiani tidak terperangkap pada dilema pemikiran non Kristen pada waktu memikirkan mengenai dunia di luar dirinya. Kepastian yang bergantung kepada Allah dapat ditemukan dalam pandangan kristiani sebab Alkitab mengajarkan bahwa Allah yang telah menciptakan dunia yang teratur ini. Orang Kristen dapat mengerti tentang dunia ini sebab Allah telah menyediakan garis- garis petunjuk dalam Alkitab untuk dapat mengerti dunia ini.

Ketidakpastian yang bergantung kepada Allah hadir dalam pandangan kristiani untuk beberapa alasan. Membutuhkan waktu untuk menerapkan pengajaran Alkitab ke dalam setiap aspek dari keseluruhan alam semesta ini. Lebih daripada itu, kehadiran dosa menyebabkan kemungkinan orang Kristen mengabaikan Alkitab atau salah mengerti akan dunia, Alkitab, atau kedua-duanya. Akibatnya, filsafat kristiani memiliki kebergantungan kepastian dan kebergantungan ketidakpastian dalam mempertimbangkan dunia di luar dirinya.

3. Mengenai Manusia

Dalam mempertimbangkan mengenai dirinya sendiri, orang Kristen kembali diperhadapkan pada kepastian dan ketidakpastian dalam kebergantungan pada Allah. Orang Kristen mengetahui bahwa ia merupakan gambar Allah karena Allah mewahyukannya dalam Alkitab. Namun demikian sebagaimana adanya hal-hal yang tidak diketahui dalam dunia demikian juga ada misteri mengenai diri kita sendiri di mana orang Kristen tidak mampu untuk memahaminya. Lebih daripada itu dosa menyebabkan orang percaya salah mengerti dan kadang-kadang menolak kebenaran dari karakter mereka sendiri. Namun demikian, orang Kristen menyerahkan dirinya kepada suatu pengertian bahwa Allah mengerti secara menyeluruh akan karakter manusia. Oleh karena itu, pada saat orang Kristen dalam ketidakpastian yang bergantung kepada Allah, ia pada saat yang sama juga berada dalam kepastian yang bergantung kepada Allah.

Orang tidak percaya telah menghancurkan hubungan mereka dengan Allah, oleh karena itu mereka telah jatuh kepada suatu perangkap yaitu dilema dari penghakiman Allah. Sebaliknya orang Kristen telah dipersatukan dengan Allah dan telah menemukan kepercayaan kepada diri sendiri di dalam Dia yang dibutuhkan untuk kepastian dan pemecahan dari ketidakpastian mereka.


Menaklukkan Segala Pikiran kepada Kristus -- Pelajaran 7 Pandangan Orang Kristen [Indeks 00000]

PELAJARAN 7 PANDANGAN ORANG KRISTEN [Daftar Isi 00004]
00037 A. Struktur Pandangan Orang Kristen
00038 B. Jawaban Bagi Dilema Orang Tidak Percaya
00038 1. Mengenai Allah
00038 2. Mengenai Dunia
00038 3. Mengenai Manusia
00039 C. Mitos dari Netralitas

C. Mitos dari Netralitas

Setelah kita melihat perbedaan dari filsafat kristiani dan non kristiani, maka adalah penting bagi kita untuk melihat bahwa hanya kedua pandangan ini yang dapat diambil atau dimiliki oleh manusia. Oleh karena itu sesungguhnya tidak ada daerah netral di antara kedua filsafat ini. Sebaliknya dari perspektif alkitabiah, sebagian dari baik orang Kristen maupun orang tidak percaya gagal untuk mengenali tidak adanya posisi netral, atau tempat untuk berdiri di luar posisi berpihak kepada kemandirian atau kepada kebergantungan. Tidak semua orang tidak percaya mengklaim netralitas oleh karena sebagian dengan tegas menyatakan komitmen mereka kepada kepercayaan agamawi mereka. Namun demikian, khususnya dalam kerangka berpikir di abad ke-20 yang menghargai ilmu pengetahuan, banyak orang tidak percaya mengklaim bahwa mereka sukar sekali untuk tiba pada keyakinan mereka setelah melihat ke dunia dari pandangan yang netral. Hampir tidak pernah suatu hari berlalu tanpa kita mendengar seseorang mengatakan, "Saya hanya ingin berhubungan dengan fakta objektif sebagaimana adanya. Saya ingin menghindar dari pertanyaan-pertanyaan yang bersifat rohani/agamawi." Walaupun kalimat ini dinyatakan dengan ketulusan namun orang tidak percaya ini sebenarnya sangat jauh dari keberadaan netral. Oleh karena sebenarnya yang terjadi adalah gagal untuk menyadari bahwa usaha mencari daerah netral adalah merupakan penolakan kepada Kristus. "Kejujuran yang netral" yang mereka kemukakan hanyalah merupakan bentuk lain dari penyerahan kepada kemandirian terlepas dari kebergantungan kepada Allah. Sebagaimana yang dikatakan oleh Tuhan Yesus:

Siapa tidak bersama Aku, ia melawan Aku dan siapa tidak mengumpulkan bersama Aku, ia menceraiberaikan (Mat 12:30).

Meskipun kelihatannya aneh, sebenarnya ada juga orang Kristen yang sering kali berusaha untuk menemukan tempat netral. Bahkan konsep daerah netral di antara orang tidak percaya dan orang Kristen telah merupakan konsep dasar yang banyak dipakai dalam apologetika di masa lampau. Pada dasarnya, orang-orang Kristen kadang-kadang secara salah berusaha mencari titik pertemuan atau dasar yang sama di antara orang percaya dan orang tidak percaya di mana di atasnya mereka dapat membangun kredibilitas kristiani. Sangatlah penting dalam perkembangan apologetika untuk melihat beberapa hal yang dikatakan atau dianggap sebagai konsep netral dan melihat mengapa mereka sebenarnya sama sekali tidak netral.

Konsisten dalam logika merupakan prinsip yang disuguhkan di mana orang percaya dan orang tidak percaya bersepakat. Apabila kita bermaksud untuk memperlihatkan kebenaran kekristenan kepada orang tidak percaya, maka kita dapat memberikan logika dari kepercayaan kepada Allah, Kristus, dan Alkitab. Dengan suatu pengharapan bahwa melalui penjelasan berdasarkan logika ini dapat meyakinkan atau memenangkan mereka kalau tidak ke dalam kerajaan Allah paling tidak ke arah itu. Namun, kita harus memperhatikan bahwa walaupun orang Kristen dan orang tidak percaya mungkin setuju akan keharusan pemikiran yang teratur, namun pengertian kristiani akan keterbatasan dan fungsi dari logika sangat berbeda dengan apa yang dimengerti oleh orang-orang tidak percaya. Pemikiran manusia, dalam bentuk yang paling murni dan yang paling lengkap tetap tidak lebih dari pemikiran makhluk yang diciptakan Allah dan yang telah dipengaruhi oleh bentuk dari pemikiran seseorang. Logika tidak ada yang bersifat netral.

Kadang-kadang pengalaman yang dialami disarankan sebagai daerah netral. Pemikiran ini menganggap bahwa orang tidak percaya dan orang Kristen melihat dan mendengar hal-hal yang sama. Oleh karena itu daerah netral dalam hal ini dapat dipakai sebagai dasar. Namun demikian kita harus ingat bahwa walaupun keduanya mungkin diperhadapkan kepada informasi yang sama, orang Kristen berdedikasi untuk mengerti informasi tersebut melalui terang dari wahyu Allah, sedangkan orang tidak percaya cenderung untuk salah mengerti/menanggapi akan dunia ini oleh karena komitmen mereka pada kemandirian.

Sebenarnya tidak ada fakta dari ilmu pengetahuan di mana orang percaya dan orang tidak percaya memegangnya dengan kesepakatan. Baik dalam psikologi, biologi, sejarah, matematika, filsafat, teologi, dan lain-lain, fakta-fakta ilmiah pada dasarnya dimengerti secara berlainan oleh orang Kristen dan orang tidak percaya, oleh karena itu mereka tidaklah netral. Tidak ada daerah netral untuk berbicara mengenai "fakta-fakta" tanpa pengaruh dari komitmen dasar kita. Baik kita mengerti suatu fakta sebagai orang Kristen atau mengerti fakta itu sebagai orang tidak percaya.

Ketidaksetujuan kadang-kadang diajukan melawan pendapat ini, yaitu dengan mempertanyakan bagaimana orang Kristen dapat berkomunikasi secara efektif dengan orang tidak percaya apabila pendapat di atas itu benar. Jawaban atas pertanyaan terletak pada fakta bahwa meskipun tdak ada netralitas dan tidak ada titik temu di antara orang percaya dan orang tidak percaya, namun kita memiliki persamaan-persamaan, yaitu dunia di mana kita hidup, keberadaan kita sebagai manusia yang diciptakan menurut gambar Allah, dan penawaran Injil yang bersifat anugerah.

Orang Kristen dan orang tidak percaya sama-sama hidup dalam dunia yang sama. kita berjalan pada tempat berjalan kaki yang sama, belanja di toko yang sama dan makan makanan yang sama. Dalam pengertian ini kita dapat melakukan fungsi secara mekanis yang sama dalam dunia ini. Sebagai gambar Allah, manusia yang telah jatuh tetap dapat berargumentasi, berpikir, merasakan sesuatu, dan dapat menggunakan bahasa manusia. Akibatnya, kita dapat berkomunikasi dan benar-benar sampai kepada kesepakatan meskipun hanya secara luarnya saja, sebab perbedaan kita yang radikal tetap ada. Lebih daripada itu, sebagai manusia yang diciptakan menurut gambar Allah, orang tidak percaya mengenal Allah dan tuntutan-Nya dalam hati mereka. Walaupun mereka berusaha untuk menyangkalinya, namun setiap fakta dari ciptaan berbicara kepada mereka tentang Allah. Bahkan pembicaraan orang Kristen yang berbicara mengenai kesadaran akan Allah menyebabkan mereka tidak dapat luput dari kesadaran akan Allah.

Oleh karena itu kita hanya dapat berkomunikasi secara efektif dengan orang tidak percaya disebabkan oleh kekuatan dari pekerjaan kelahiran baru yang dilakukan oleh Roh Kudus yang selalu hadir dan bekerja. Melalui Injil yang berbicara kepada telinga yang tuli Roh Kudus membuka hati dan membawa seseorang kepada iman di dalam Kristus. Pengakuan akan konsep mitos netralitas tidak akan menghancurkan semua pengharapan untuk komunikasi yang efektif dengan orang tidak percaya. Sebenarnya, hanya dengan kesadaran tidak adanya netralitas maka kita mulai berkomunikasi dengan orang tidak percaya dengan cara yang relevan dengan kebutuhan mereka akan Kristus.

Ada dua pandangan yang berlawanan dalam dunia pada masa kini. Tanpa pengakuan akar adanya perspektif-perspektif ini maka apologetikk alkitabiah tidak dapat dikembangkan.

Pertanyaan-pertanyaan Sebagai Bahan Evaluasi:

  1. Apakah komitmen dasar dari filsafat kristiani?
  2. Bagaimana orang Kristen harus berusaha untuk membenarkan komitmen mereka?
  3. Mengapa sangat penting untuk bersandar kepada Allah dan Firman Tuhan sebagai dasar yang kokoh dari komitmen kita?
  4. Bagaimana sirkulasi pemikiran orang Kristen berbeda dengan sirkulasi pemikiran orang tidak percaya?
  5. Apakah pemecahan orang Kristen dalam dilema pemikiran non Kristen?
  6. Mengapa kepastian dan ketidakpastian yang bergantung kepada Allah saling melengkapi dalam sistem berpikir kristiani?
  7. Jelaskanlah bagaimana orang tidak percaya dan orang Kristen kadang-kadang mengklaim akan adanya daerah netral di antara mereka?
  8. Apabila tidak ada daerah netral, bagaimana orang percaya dapat berkomunikasi secara efektif dengan orang tidak percaya?


Menaklukkan Segala Pikiran kepada Kristus -- Pelajaran 8 Sikap dan Tindakan [Indeks 00000]

PELAJARAN 8 SIKAP DAN TINDAKAN [Daftar Isi 00004]
00041 A. Kehidupan yang Konsisten
00042 B. Pendekatan yang Hati-hati
00043 1. Ketegasan yang Lembut
00044 2. Tantangan yang Disertai dengan Rasa Hormat
00045 3. Jawaban yang Langsung pada Sasaran
00046 4. Perhatian yang Serius pada Persiapan
00047 C. Prosedur yang Benar dan Tepat

Tetapi kuduskanlah Kristus di dalam hatimu sebagai Tuhan! Dan siap sedialah pada segala waktu untuk memberi pertanggungan jawab kepada tiap-tiap orang yang meminta pertanggungan jawab dari kamu tentang pengharapan yang ada padamu, tetapi haruslah dengan lemah lembut dan hormat, dan dengan hati nurani yang murni, supaya mereka, yang memfitnah kamu karena hidupmu yang saleh dalam Kristus, menjadi malu karena fitnahan mereka itu (1Pe 3:15-16).

Setelah kita melihat beberapa aspek dari pengajaran Alkitab mengenai manusia dan filsafat mereka, sekarang kita akan menaruh perhatian kepada hal-hal yang bersangkut-paut secara lebih langsung kepada praktek berapologetika. Pemikiran- pemikiran yang telah dibahas sejauh ini sangatlah penting sebagai latar belakang untuk membela iman, namun ada hal lain yang perlu dijelaskan yaitu mengenai "bagaimana" dalam melakukan apologetika secara alkitabiah. Pada pelajaran ini kita akan memusatkan perhatian kita pada sikap-sikap dasar dan tindakan yang penting dalam membela iman.

Pada pelajaran yang terdahulu kita melihat bahwa di dalam 1Pe 3:15 dinyatakan bahwa mempersiapkan diri untuk pembelaan Injil merupakan tanggung-jawab dari setiap orang Kristen. Kalau kita memperhatikan lebih dalam akan ayat ini maka kita akan melihat bahwa ayat ini juga mengemukakan bahwa kita tidak hanya diperintahkan untuk memberi jawab tetapi kita juga diberikan petunjuk yang bernilai dalam hal bagaimana kita melaksanakan pembelaan itu.

Sehubungan dengan sikap dan tindakan dalam berapologetika Petrus memberikan tiga hal yang perlu diperhatikan. Pertama, Petrus mendiskusikan akan kebutuhan metode yang alkitabiah, di mana ia berkata, "Kuduskanlah Kristus sebagai Tuhan" (1Pe 3:15). Kedua, dia menunjuk kepada sikap-sikap yaitu "lembut dan hormat" (1Pe 3:15) pada waktu kita berhadapan dengan orang tidak percaya. Ketiga, dia berbicara mengenai kepentingan akan "hati nurani yang baik" dan "tingkah laku yang baik di dalam Kristus" (1Pe 3:16). Melalui ketiga hal yang dikemukakan oleh Petrus kita dapat melihat bahwa Alkitab berbicara banyak mengenai apologetika dalam hubungan dengan hidup kita, penyampaian kita, dan metode-metode kita.


Menaklukkan Segala Pikiran kepada Kristus -- Pelajaran 8 Sikap dan Tindakan [Indeks 00000]

PELAJARAN 8 SIKAP DAN TINDAKAN [Daftar Isi 00004]
00041 A. Kehidupan yang Konsisten
00042 B. Pendekatan yang Hati-hati
00043 1. Ketegasan yang Lembut
00044 2. Tantangan yang Disertai dengan Rasa Hormat
00045 3. Jawaban yang Langsung pada Sasaran
00046 4. Perhatian yang Serius pada Persiapan
00047 C. Prosedur yang Benar dan Tepat

A. Kehidupan yang Konsisten

Kehidupan yang konsisten dalam diri orang Kristen setiap hari merupakan suatu hal yang tidak boleh tidak ada atau tidak boleh dihilangkan dalam apologetika alkitabiah. Sering kali orang Kristen sangat tertarik untuk memikirkan cara berapologetika atau teori untuk mendukung apologetika sehingga mereka lupa bahwa kehidupan mereka mempengaruhi pembelaan mereka. Pengabaian akan hal ini yang sering kali melemahkan apologetika kristiani, pembelaan menjadi kosong oleh karena tidak disertai kesaksian yang nyata dari kehidupan yang suci.

Menyadari akan hal ini Petrus memperingatkan para pembacanya untuk hidup dengan "hati nurani yang baik" sedemikian rupa sehingga mereka dapat memperlihatkan "tingkah laku di dalam Kristus" (1Pe 3:16). Dunia non Kristen sering kali menghakimi nilai dari Injil dengan mengamati konsistensi kehidupan dalam diri orang-orang percaya. Pembelaan kita akan Injil di gereja, tempat pekerjaan, atau di rumah tidak menjadi efektif oleh karena kehidupan kita yang tidak konsisten. Pada suatu waktu kita dapat mendengar orang Kristen membela iman di hadapan orang tidak percaya dan bersamaan dengan itu ia menyerang saudara seimannya yang berselisih pendapat dalam hal yang tidak terlalu penting. Orang Kristen seperti ini sering kali tidak menyadari bahwa serangan mereka terhadap saudara seimannya sebenarnya telah menghalangi pembelaan iman mereka. Bahkan sebenarnya tidak ada pnghalang yang lebih besar bagi apologetika kristiani selain daripada perkelahian dan percekcokan yang terjadi dalam gereja.

Tuhan Yesus menyatakan keprihatinan-Nya akan akibat tidak adanya kesatuan dalam gereja sebagai suatu kesaksian kepada dunia dengan mengatakan:

Aku di dalam mereka dan Engkau di dalam Aku supaya mereka sempurna menjadi satu, agar dunia tahu, bahwa Engkau yang telah mengutus Aku dan bahwa Engkau mengasihi mereka, sama seperti Engkau mengasihi Aku. (Yoh 17:23).

Kita harus memenuhi gereja-gereja dengan kasih kristiani dan kesatuan apabila kita mau meyakinkan dunia yang tidak percaya ini. Satu faktor yang sering kali menghalangi orang Kristen dari membela iman dalam pekerjaan dan sekolah adalah kegagalan mereka untuk tidak bercela di hadapan teman-teman dan atasan mereka. Seorang karyawan yang telah mabuk dalam pesta Natal kantornya akan sangat sukar untuk dengan berani berdiri demi Injil pada saat "arti yang sebenarnya tentang Natal" didiskusikan pada hari Senin pagi berikutnya. Seorang murid Kristen akan menemukan kesulitan untuk membela kekristenan di hadapan kelasnya, kalau pada hari sebelumnya dia telah ditemukan menyontek dalam melakukan pekerjaan rumahnya. Di kalangan tetangga kita, keharmonisan dari keluarga kita, kebersihan dan kerapihan dari rumah kita, dan keramahan serta kesediaan untuk memberikan pertolongan kepada tetangga semua itu mempengaruhi kemampuan kita untuk memberikan pembelaan yang efektif akan iman kita. Pada saat area dalam kehidupan kita ini tidak sesuai dengan standar Firman Tuhan maka pembelaan kita akan gagal pula. Nama Kristus akan dipermalukan dan Dia akan menjadi bahan cemoohan dan hinaan oleh karena kita.

Demikian juga halnya dengan kesaksian dalam segi-segi yang sangat pribadi dari kehidupan orang Kristen, semua itu akan menguatkan atau melemahkan pembelaan kita akan kekristenan. Membaca Alkitab setiap hari dan berdoa merupakan hal yang sangat vital dalam apologetika alkitabiah. Menurut Maz 1, orang yang benar adalah mereka yang:

kesukaannya ialah Taurat Tuhan, dan yang merenungkan Taurat itu siang dan malam (Maz 1:2).

Kita harus melibatkan diri kita setiap hari dalam membaca dan menerapkan Firman Tuhan dalam kehidupan kita. Kalau tidak kita akan tersesat dari jalan orang benar dan menjadikan kata-kata pembelaan kita suatu kemunafikan belaka. Lebih daripada itu, sebagaimana yang akan kita lihat, pusat dari metode alkitabiah dari pembelaan iman merupakan kemampuan untuk menjawab bantahan dari orang tidak percaya dengan jawaban yang berdasarkan Firman Tuhan. Tanpa pengetahuan akan Firman Tuhan maka pembelaan alkitabiah secara praktis sangatlah tidak mungkin.

Selain itu, kehidupan doa yang setia dan tekun merupakan kunci dari apologetika yang efektif. Kekristenan bukanlah merupakan agama yang tidak melibatkan persetujuan yang bersifat pribadi dan yang dibela dengan argumentasi yang kaku. Tetapi merupakan hubungan pribadi yang dinamis dari orang percaya dengan Allah melalui Kristus. Dalam doa kita memanggil Allah, "Bapa kami yang ada di dalam surga." Kehidupan doa akan membawa seseorang dekat kepada Allah dan kesadaran akan kuasa Roh Kudus-Nya yang hidup. Paulus berkata:

Tetaplah berdoa (1Te 5:17).

Hanya melalui kehidupan kita yang penuh dengan doa maka kita akan melihat perkembangan apologetika alkitabiah dalam kehidupan kita. Hal ini harus diterapkan dalam praktek secara nyata dalam membela iman. Terlalu sering orang Kristen mempelajari apologetika lalu merasa bahwa mereka mampu dan kemudian bersandar pada kemampuan diri sendiri dalam berapologetika. Kepercayaan kepada diri sendiri ini memperlihatkan bahwa mereka tidak mengakui kebutuhan dan kepentingan untuk bergantung kepada pertolongan Allah dalam menghadapi orang tidak percaya dalam situasi seperti itu. Meskipun mereka mungkin merasa yakin dan bekerja keras dalam membela iman, jarang sekali orang Kristen yang mempunyai sikap seperti itu melihat buah dari hasil pekerjaan mereka. Mereka mungkin berhasil menggoncangkan orang tidak percaya tetapi mereka tidak akan mungkin mempertobatkan mereka dengan kekuatan mereka sendiri. Kita harus berdoa dengan setia sebelum kita menghadapi lawan kita dan setelah kita berbicara dengan mereka, biarlah kita tetap hanya bergantung kepada Kristus saja.

Kepentingan akan kehidupan orang Kristen yang berjalan seturut dengan Firman Tuhan tidak dapat tidak harus ditekankan dengan sungguh-sungguh. Oleh karena tanpa itu, semua usaha kita dalam berapologetika akan menjadi sia-sia. Kita mungkin dapat mencoba untuk berbicara kepada orang tidak percaya mengenai surga, namun apabila kita hidup seperti orang yang akan menuju ke neraka, maka kita akan sangat sukar berharap untuk berhasil. Pembela yang terbesar dari iman akan jatuh apabila mereka kurang setia dalam kehidupan sebagai orang percaya.


Menaklukkan Segala Pikiran kepada Kristus -- Pelajaran 8 Sikap dan Tindakan [Indeks 00000]

PELAJARAN 8 SIKAP DAN TINDAKAN [Daftar Isi 00004]
00041 A. Kehidupan yang Konsisten
00042 B. Pendekatan yang Hati-hati
00043 1. Ketegasan yang Lembut
00044 2. Tantangan yang Disertai dengan Rasa Hormat
00045 3. Jawaban yang Langsung pada Sasaran
00046 4. Perhatian yang Serius pada Persiapan
00047 C. Prosedur yang Benar dan Tepat

B. Pendekatan yang Hati-hati

Dalam 1Pe 3:15, 16 Petrus berbicara mengenai cara pendekatan yang harus kita miliki dalam apologetika alkitabiah. Petrus mengatakan bahwa kita harus melakukannya "dengan lembut dan hormat." Petrus mengingatkan kita bahwa kita harus berhati-hati apabila berbicara kepada orang tidak percaya. Pendekatan kita akan merubah dunia pada saat kita membela iman kita. Bahkan, kadang-kadang suatu pendekatan berbicara lebih keras daripada perkataan yang kita sampaikan.

Ada banyak contoh dari orang tidak percaya yang tidak diyakinkan oleh argumentasi tetapi oleh sikap dari si pembela iman yang berbicara kepada mereka. Ada banyak bagian dalam Firman Tuhan yang memberikan petunjuk untuk pendekatan kita. Kita akan melihat beberapa dan meringkaskan pengajaran mereka.

Hiduplah dengan penuh hikmat terhadap orang-orang luar, pergunakanlah waktu yang ada. Hendaklah kata-katamu senantiasa penuh kasih, jangan hambar, sehingga kamu tahu, bagaimana kamu harus memberi jawab kepada setiap orang (Kol 4:5-6).

Ingatkanlah mereka supaya mereka tunduk pada pemerintah dan orang-orang yang berkuasa, taat dan siap untuk melakukan setiap pekerjaan yang baik. Janganlah mereka memfitnah, janganlah mereka bertengkar, hendaklah mereka selalu ramah dan bersikap lemah lembut terhadap semua orang (Tit 3:1-2).

Hindarilah soal-soal yang dicari-cari, yang bodoh dan tidak layak. Engkau tahu bahwa soal-soal itu menimbulkan pertengkaran, sedangkan seorang hamba Tuhan tidak boleh bertengkar, tetapi harus ramah terhadap semua orang. Ia harus cakap mengajar, sabar dan dengan lemah lembut dapat menuntun orang yang suka melawan, sebab mungkin Tuhan memberikan kesempatan kepada mereka untuk bertobat dan memimpin mereka sehingga mereka mengenal kebenaran, dan dengan demikian mereka menjadi sadar kembali, karena terlepas dari jerat Iblis yang telah mengikat mereka pada kehendaknya (2Ti 2:23-26).

Perlu diketahui bahwa ayat-ayat ini hanya merupakan sebagian kecil dari Firman Tuhan yang dapat dihubungkan dengan pendekatan yang tepat dalam apologetika dan tidaklah mungkin untuk menarik semua implikasi dari bagian-bagian ini. Namun demikian ada beberapa petunjuk yang disarankan dalam hal ini. Setiap petunjuk ini dirancang untuk menolong setiap pembela iman untuk menghindari ekstrim yang sering kali timbul para saat menghadapi non Kristen.


Menaklukkan Segala Pikiran kepada Kristus -- Pelajaran 8 Sikap dan Tindakan [Indeks 00000]

PELAJARAN 8 SIKAP DAN TINDAKAN [Daftar Isi 00004]
00041 A. Kehidupan yang Konsisten
00042 B. Pendekatan yang Hati-hati
00043 1. Ketegasan yang Lembut
00044 2. Tantangan yang Disertai dengan Rasa Hormat
00045 3. Jawaban yang Langsung pada Sasaran
00046 4. Perhatian yang Serius pada Persiapan
00047 C. Prosedur yang Benar dan Tepat

1. Ketegasan yang Lembut

Kelihatannya tidaklah dapat dihindari bahwa orang Kristen akan mendekati orang tidak percaya kadang-kadang dengan terlalu tegas/keras atau terlalu lembut. Kita telah melihat apa yang dikatakan oleh Petrus bahwa kita harus membela iman kita dengan "kelembutan" (1Pe 3:15) dan Paulus memberitahukan Timotius "dengan kelembutan memperbaiki mereka yang berada dalam posisi lawan" (2Ti 2:25). Para pembela iman yang berusaha untuk menaati prinsip kebenaran Firman Tuhan ini kadang-kadang berpikir bahwa kelembutan sama dengan bertindak tidak yakin atau ragu-ragu akan kebergantungannya kepada Allah. Dalam kasus-kasus ini orang Kristen mungkin akan dicobai untuk membuat pernyataan sebagai berikut, "Wah, saya tidak tahu dengan pasti bahwa kekristenan itu benar..." atau "Saya kira ada kemungkinan saya salah..." Oleh karena itu orang-orang percaya seperti ini harus diingatkan akan ketegasan yang harus mereka miliki.

Kelembutan tidak berarti kompromi tetapi berpegang secara teguh kepada kebenaran Firman Kristus. Di pihak lain, sebagian orang Kristen, meyakini akan kebutuhan ketegasan dari keyakinannya, oleh karena itu ia menyerang orang tidak percaya dengan menembakkan peluru yang bertubi-tubi. Dengan menganggap dirinya sebagai pahlawan pemberita Injil yang tidak terkalahkan, mereka mencari orang tidak percaya, dan menyerang dia tanpa belas kasihan dan berusaha untuk mendorong dia ke dalam kerajaan Allah. Orang-orang seperti ini harus diperingati akan petunjuk alkitabiah mengenai kelembutan dalam mendekati non Kristen. Memang kita tidak melayani orang tidak percaya dengan benar apabila kita tidak menyampaikan tuntutan dari Injil dengan ketegasan kepadanya. Sama halnya dengan kita akan memanggil dan memberitahu teman yang hampir jatuh dari suatu bukit atau pinggir jurang, maka kita harus tegas dalam menghadapi orang tidak percaya. Namun kita harus pula lembut, sebab tarikan yang terlalu mengejutkan bukannya akan menyelamatkan seseorang tetapi akan membuat dia terjatuh ke dalam jurang. Ketegasan yang lembut dari seorang teman yang penuh kasih akan membimbing teman yang buta ke tempat yang aman dalam dunia ini, yaitu keamanan yang dari Kristus.


Menaklukkan Segala Pikiran kepada Kristus -- Pelajaran 8 Sikap dan Tindakan [Indeks 00000]

PELAJARAN 8 SIKAP DAN TINDAKAN [Daftar Isi 00004]
00041 A. Kehidupan yang Konsisten
00042 B. Pendekatan yang Hati-hati
00043 1. Ketegasan yang Lembut
00044 2. Tantangan yang Disertai dengan Rasa Hormat
00045 3. Jawaban yang Langsung pada Sasaran
00046 4. Perhatian yang Serius pada Persiapan
00047 C. Prosedur yang Benar dan Tepat

2. Tantangan yang Disertai dengan Rasa Hormat

Petrus juga mengatakan bahwa kita harus membela iman kita dengan "hormat" (1Pe 3:15) dalam hal ini hormat terhadap orang tidak percaya. Namun pendapat ini juga disalahmengertikan oleh kebanyakan pembela iman. Terlalu sering orang-orang Kristen memiliki konsep bahwa menghormati orang tidak percaya berarti mereka tidak dapat menantang mereka: "Dia jauh lebih pandai daripada saya, saya bahkan tidak dapat mulai berbantah dengan dia." Memang benar menurut ukuran manusia orang Kristen dipandang sebagai orang yang berada di bawah tingkatan secara harkat dan intelektual dari orang tidak percaya.

"Ingat saja, saudara-saudara, bagaimana keadaan kamu, ketika kamu dipanggil: menurut ukuran manusia tidak banyak orang yang bijak, tidak banyak orang yang berpengaruh, tidak banyak orang yang terpandang." (1Ko 1:26).

Namun tidak berarti bahwa kita tidak perlu menantang mereka bahkan orang yang terhebat sekalipun di antara mereka. Kita harus "memberi jawab kepada setiap orang" (Kol 4:5, 6), "mengoreksi mereka yang berada di pihak lawan" (2Ti 2:25). Kita harus siap dan bersedia untuk menantang orang tidak percaya. Bahkan salah satu pekerjaan yang paling penting dari seorang pembela iman adalah menantang orang tidak percaya sedemikian rupa sehingga ia menyadari bahwa tidak ada alasan baginya untuk sombong atau percaya akan kemampuannya. Kita harus membuat mereka menyadari bahwa dia hanyalah manusia biasa.

Sebagian orang Kristen memberikan tantangan tetapi gagal untuk memberikan penghormatan atau penghargaan kepada mereka. Orang Kristen meremehkan orang tidak percaya dengan berkata kepada dirinya sendiri, "Bagaimanapun hebatnya mereka berpikir, orang tidak percaya ini bukanlah apa-apa. Dia adalah orang bodoh. Hanya sayalah yang memiliki kebenaran." Sikap seperti ini seringkali dapat dilihat pada murid yang berpikiran bahwa gurunya yang adalah orang tidak percaya adalah sangat bodoh dan tidak berpengharapan, lalu menantang gurunya dengan sikap yang sombong dan merasa lebih hebat atau lebih tinggi daripada mereka. Orang-orang percaya seperti ini harus diperingati akan petunjuk Alkitab mengenai menghormati dan menghargai. Kita harus "tidak menganggap rendah seorang pun ... perlihatkan penghargaan kepada setiap orang" (Tit 3:2). Kita memang harus menantang orang tidak percaya untuk meninggalkan jalan-jalan kemandirian mereka dan untuk percaya kepada Kristus demi keselamatan mereka, tetapi kita harus melakukannya dengan penuh penghormatan. Tantangan yang disertai dengan penghormatan adalah suatu aspek yang penting dari pendekatan yang berhati-hati.


Menaklukkan Segala Pikiran kepada Kristus -- Pelajaran 8 Sikap dan Tindakan [Indeks 00000]

PELAJARAN 8 SIKAP DAN TINDAKAN [Daftar Isi 00004]
00041 A. Kehidupan yang Konsisten
00042 B. Pendekatan yang Hati-hati
00043 1. Ketegasan yang Lembut
00044 2. Tantangan yang Disertai dengan Rasa Hormat
00045 3. Jawaban yang Langsung pada Sasaran
00046 4. Perhatian yang Serius pada Persiapan
00047 C. Prosedur yang Benar dan Tepat

3. Jawaban yang Langsung pada Sasaran

Masalah lain yang sering kali timbul dalam pendekatan kepada orang tidak percaya adalah kecenderungan untuk mengabaikan pertanyaan-pertanyaannya dan mendorong percakapan ke arah tujuan si pembela iman itu sendiri atau sebaliknya mengikuti kemanapun arah dari garis pemikiran orang tidak percaya. Di satu pihak, ada pandangan yang mengatakan bahwa kita harus "memberi jawab kepada setiap orang" (1Pe 3:15) dan ini berarti kemanapun arah dari pembicaraan, orang Kristen harus mengikutinya. Memang usaha untuk menjawab setiap pertanyaan-pertanyaan orang tidak percaya itu dilakukan berdasarkan ketulusan dan maksud yang baik. Namun tidak ada dukungan Alkitab untuk berpendapat bahwa kita harus menjawab setiap pertanyaan tanpa terkecuali.

Menjawab setiap orang, sebagaimana yang dikatakan oleh Petrus, tidak sama dengan menjawab setiap pertanyaan. Sebenarnya, Petrus memberitahukan Timotius untuk "menolak spekulasi yang berdasarkan kebodohan, karena itu akan menghasilkan pertengkaran" (2Ti 2:23). Kita harus bersiap sedia untuk menjawab pertanyaan dari orang tidak percaya tetapi secara hati-hati menghindari pertanyaan-pertanyaan yang hanya akan memimpin kepada perdebatan yang tidak ada gunanya. Sebaliknya kita harus mengarahkan pembicaraan kita dengan orang tidak percaya sehingga "Allah akan menganugerahkan kepada mereka pertobatan" (2Ti 2:25). Kita harus memiliki tujuan yang pasti, yaitu memimpin orang yang tersesat kepada Kristus. Kita tidak boleh tertarik untuk memamerkan kemampuan kita untuk berdebat dan bertengkar. Kita harus memilih menjawab pertanyaan-pertanyaan yang diajukan dan melanjutkan garis pemikiran yang akan mengarahkan pembicaraan itu kepada masalah yang harus dikemukakan, yaitu percaya kepada Kristus dan takluk atau menyerahkan diri kepada Dia sebagai Tuhan.


Menaklukkan Segala Pikiran kepada Kristus -- Pelajaran 8 Sikap dan Tindakan [Indeks 00000]

PELAJARAN 8 SIKAP DAN TINDAKAN [Daftar Isi 00004]
00041 A. Kehidupan yang Konsisten
00042 B. Pendekatan yang Hati-hati
00043 1. Ketegasan yang Lembut
00044 2. Tantangan yang Disertai dengan Rasa Hormat
00045 3. Jawaban yang Langsung pada Sasaran
00046 4. Perhatian yang Serius pada Persiapan
00047 C. Prosedur yang Benar dan Tepat

4. Perhatian yang Serius pada Persiapan

Berapologetika secara alkitabiah merupakan hal yang sukar untuk didiskusikan, karena bersangkut paut dengan prinsip Alkitab dalam hubungan dengan dunia dalam situasi yang berubah-ubah. Kesulitan ini telah menyebabkan pembela- pembela dari iman lari dari satu ekstrim ke ekstrim yang lain. Satu pandangan mengatakan bahwa kita harus sangat memperhatikan akan pribadi dari orang tidak percaya kepada siapa kita akan melakukan pendekatan sehingga kita harus menghindari semua struktur pendekatan untuk berapologetika. Sebagian orang akan mengatakan: "Tidak akan ada 'sistem' atau 'metode' di mana akan selalu berhasil, oleh karena itu jangan mempersiapkan suatu metode sama sekali." Walaupun ini dimaksudkan dengan ketulusan, namun orang percaya ini lupa petunjuk Firman Tuhan bahwa kita harus mempersiapkan diri dalam membela iman kita dan orang percaya ini tidak menyadari bahwa hanya kreativitas yang luar biasa dan bakat yang khusus tidak cukup untuk mengatakan segala sesuatu tanpa suatu kerangka berpikir yang dimengerti sebelumnya.

Di pihak lain, ada orang yang melihat pentingnya untuk metode dan petunjuk- petunjuk alkitabiah, setelah mengadakan suatu penyelidikan, lalu berdasarkan penyelidikan tersebut diterapkan setiap metode dengan teliti dalam setiap situasi. Paulus dalam Kol 4:5, 6 berbicara mengenai masalah ini. Kita harus berjalan dengan "hikmat" dalam menghadapi orang tidak percaya. Bertindak dengan hikmat, artinya kita harus "dibumbui dengan garam." Kemudian kita akan dapat "mengetahui bagaimana (kita) harus menjawab/menanggapi setiap orang." Hikmat dalam berapologetika melibatkan baik bumbu persiapan alkitabiah untuk menangani setiap situasi dan fleksibilitas dalam menghadapi setiap situasi dan orang-orang dengan penuh perhatian dan kasih kristiani.

Kebutuhan dari seseorang yang lanjut usia, yang sedang menghadapi kematian di tempat tidurnya akan berbeda dengan kebutuhan dari seorang mahasiswa. Pertanyaan mereka akan berbeda dan kita harus siap untuk memberikan jawab kepada keduanya secara pribadi. Dengan persiapan yang sungguh-sungguh seorang pembela iman akan dapat menangani orang-orang yang berbeda, dalam keadaan yang berbeda, dengan cara yang berkenan kepada Allah dan berguna bagi sesamanya.

Ada banyak hal lain yang berhubungan dengan sikap kita dan tindakan kita pada saat kita bertemu dengan orang tidak percaya. Kita baru menjamah sebagian kecil dari banyak hal penting lainnya. Evaluasi yang dilakukan secara terus menerus dengan diterangi oleh Firman Tuhan adalah salah satu cara untuk memastikan suatu pendekatan yang hati-hati. Pendekatan ini akan menyediakan dasar untuk apologetika alkitabiah yang efektif dan berhasil.


Menaklukkan Segala Pikiran kepada Kristus -- Pelajaran 8 Sikap dan Tindakan [Indeks 00000]

PELAJARAN 8 SIKAP DAN TINDAKAN [Daftar Isi 00004]
00041 A. Kehidupan yang Konsisten
00042 B. Pendekatan yang Hati-hati
00043 1. Ketegasan yang Lembut
00044 2. Tantangan yang Disertai dengan Rasa Hormat
00045 3. Jawaban yang Langsung pada Sasaran
00046 4. Perhatian yang Serius pada Persiapan
00047 C. Prosedur yang Benar dan Tepat

C. Prosedur yang Benar dan Tepat

Sebagai tambahan pada kehidupan yang konsisten dan pendekatan yang hati-hati, apologetika alkitabiah harus mengikuti prosedur yang benar juga. Bentuk jawaban yang kita berikan dalam menanggapi pertanyaan orang tidak percaya sangatlah penting untuk pembelaan kekristenan. Untuk mengembangkan metode yang tepat, kita harus tetap ingat akan prinsip dasar dari Firman Tuhan yang telah didiskusikan dalam pelajaran yang terdahulu. Akan sangat menolong untuk mengulang beberapa hal yang berkenaan dengan hal ini lagi:

  1. Apologetika alkitabiah dibangun atas dasar metode yang berdasarkan pengajaran Firman Tuhan.

Alkitab berbicara banyak hal dalam hubungan dengan apologetika. Alkitab memberikan latar belakang teologis untuk memberikan dasar-dasar dan tujuan untuk membela iman. Teologi dari Alkitab menyediakan petunjuk umum yang mana harus mendasari semua metode apologetika. Lebih daripada itu, ada banyak petunjuk- petunjuk khusus untuk prosedur tertentu yang harus dipergunakan oleh orang percaya pada saat dikonfrontasi oleh orang tidak percaya. Sebagai tambahan dari prinsip-prinsip yang berguna ini, Firman Tuhan juga memberikan banyak contoh- contoh bagaimana hamba-hamba Allah di masa yang lampau dalam membela iman mereka dan kita harus mempelajari teladan ini untuk dipikirkan pada saat kita mengembangkan prosedur yang benar. Hal yang dasar bagi apologetika alkitabiah adalah apologetika itu harus berdasarkan Firman Tuhan.

Apologetika alkitabiah menuntut orang percaya untuk mengajukan kepercayaan kekristenan dengan keyakinan yang pasti bahwa segala sesuatu yang dipercayainya adalah benar dan dapat dipertanggungjawabkan.

Pada saat kita membela iman, kita mendasari pembelaan kita atas kebenaran kekristenan dan menjawab orang tidak percaya berdasarkan kebenaran itu. Prosedur yang tepat mulai dengan keyakinan yang kokoh bahwa Yesus adalah Tuhan (1Pe 3:15) dan bahwa Firman-Nya adalah benar dan tidak perlu diragukan. Orang Kristen tidak boleh mengakui kemungkinan bahwa Kristus bukan Tuhan sebab itu berarti ia terbatas dan mungkin akan menemukan suatu 'fakta' baru yang akan menjatuhkan kekristenan. Dia harus mengetahui dengan pasti bahwa imannya benar oleh karena Allah, yang mengetahui segala sesuatu, telah menyatakannya demikian.

Pembela iman Kristen sering kali tercobai untuk meninggalkan prinsip ini dengan berargumentasi bahwa kekristenan hanyalah suatu "hipotesa yang mungkin saja" atau berargumentasi bahwa kekristenan "mungkin benar." Untuk melanjutkan atau mengembangkan pendapat ini sama saja dengan mengakui bahwa adalah mungkin agama Kristen itu tidak benar. Metode seperti ini tidak dapat diterima oleh pembela iman alkitabiah. Kita harus berdiri teguh dalam posisi kebergantungan kita kepada Allah pada waktu kita membela iman kita.

Apologetika alkitabiah harus mempertahankan akan perbedaan antara Pencipta dengan ciptaan.

Orang-orang Kristen harus selalu ingat bahwa pada saat mereka membela iman kepercayaan mereka, akal budi manusia tidak boleh diperlakukan sebagai otoritas akhir atau otoritas tertinggi. Tujuan Bari apologetika adalah untuk memimpin manusia pada kebergantungan secara mutlak kepada Allah. Oleh karena itu, kita tidak boleh mendorong mereka untuk tetap berpegang pada kemandirian mereka dan menjadi hakim untuk menentukan apakah kekristenan dapat dibenarkan atau tidak. Seringkali apologetika hanya menantang orang tidak percaya untuk membersihkan beberapa kekurangan-kekurangan dari kemandirian cara berpikir mereka. Sedangkan dengan jelas Firman Tuhan tidak pernah menyatakan bahwa manusia berhak untuk menjadi hakim akan pernyataan-pernyataan yang dikemukakan oleh Tuhan Yesus. Manusia terus didorong untuk meninggalkan kebodohan mereka dalam memberontak kepada Allah dan mengakui kebergantungan mereka secara mutlak kepada Allah.

Apologetika alkitabiah memberikan tempat kepada akibat dosa dan kelahiran baru atas kemampuan manusia untuk mengetahui hal yang benar dan untuk memberikan keputusan moral yang benar.

Orang tidak percaya menolak Allah sebagai sumber kebenaran; di pihak lain, orang Kristen, mengakui kebergantungan mereka kepada Allah dan Firman-Nya dan berusaha untuk menaklukkan diri secara total kepada Dia. Dengan alasan ini, maka tidak ada "fakta netral" di mana di atasnya orang Kristen dapat membangun suatu pemikiran bagi iman kristiani. Tidak ada batu loncatan seperti itu untuk iman. Orang Kristen berusaha untuk mengerti semua fakta-fakta berdasarkan terang dari Firman Tuhan sedangkan orang tidak percaya berusaha untuk menolak semua pengakuan akan Allah. Pengakuan akan karakter dari semua "fakta" yang bergantung kepada pengetahuan Allah dan bertindak sesuai dengan pengakuan tersebut merupakan prosedur yang tepat untuk membela iman.

Apologetika alkitabiah berusaha untuk mengkomunikasikan secara efektif dan meyakinkan orang tidak percaya bahwa ia merupakan gambar Allah dan menyadari akan keterbatasannya sebagai makhluk ciptaan Allah.

Sejarah apologetika diwabahi oleh pemikiran bahwa akal budi atau logika yang memungkinkan orang tidak percaya menjadi yakin akan kekristenan. Pada faktanya, hal ini telah merupakan kesulitan bagi sebagian besar prosedur apologetika. Apabila kita mengikuti metode alkitabiah, maka kita harus ingat bahwa komunikasi yang efektif datang dari fakta bahwa manusia yang telah jatuh ke dalam dosa tetap merupakan gambar Allah dan oleh karena itu manusia mengetahui akan adanya Allah walaupun mereka menolak untuk mengakui Dia sebagai Allah dalam hidup mereka. Kapan saja kita melakukan pendekatan kepada orang tidak percaya dengan penuh keyakinan, hal itu tidak disebabkan oleh karena pemikiran mereka yang masuk akal dan logis. Kita dapat berbicara dengan dia berdasarkan siapakah dia sebenarnya dan apa yang ia telah ketahui.

Kelima bentuk prinsip ini merupakan latar belakang yang baik untuk perkembangan prosedur yang tepat dalam pelajaran yang akan datang. Kalau kita selalu mengingat prinsip-prinsip ini maka sesungguhnya tidaklah sukar untuk membangun metode alkitabiah.

Dalam pelajaran ini kita telah diperkenalkan kepada praktek untuk membela iman kristiani. Walaupun pandangan-pandangan ini hanya merupakan pendahuluan, namun perlu diingat bahwa kehidupan kita, pendekatan, dan prosedur adalah aspek yang penting bagi apologetika alkitabiah.

Pertanyaan-pertanyaan Sebagai Bahan Evaluasi:

  1. Apakah pengaruh dari kesaksian hidup kita sebagai orang Kristen terhadap pembelaan iman kita?
  2. Sebutkan tiga prinsip untuk diingat pada saat kita mendekati orang tidak percaya. Apakah saudara dapat mendukungnya dengan Firman Tuhan?
  3. Apakah kelima prinsip alkitabiah yang harus menjadi petunjuk bagi prosedur kita dalam membela iman? Dapatkah saudara mendukung hal ini dengan Firman Tuhan?


Menaklukkan Segala Pikiran kepada Kristus -- Pelajaran 9 Taktik yang Terkenal [Indeks 00000]

PELAJARAN 9 TAKTIK YANG TERKENAL [Daftar Isi 00004]
00049 A. Peranan Akal Budi Manusia
00050 B. Cara Pembelaan
00050 1. Keberadaan Allah
00051 2. Ke-Tuhanan Kristus
00052 3. Otoritas dari Alkitab

Hiduplah dengan penuh hikmat terhadap orang-orang luar, pergunakanlah waktu yang ada. Hendaklah kata-katamu senantiasa penuh kasih, jangan hambar, sehingga kamu tahu, bagaimana kamu harus memberi jawab kepada setiap orang (Kol 4:5-6).

Sepanjang sejarah gereja telah banyak buku-buku yang ditulis berkenaan dengan apologetika dan berbagai macam metode untuk membela iman pun telah banyak dikembangkan. Paulus memperingatkan jemaat di Kolose untuk menggunakan "hikmat dalam menghadapi orang luar" (Kol 4:5). Apabila kita mau mengikuti petunjuk Paulus, maka kita harus mempelajari semua pendekatan untuk membela iman dengan Firman Tuhan sebagai patokannya.

Dalam pelajaran ini kita akan memperhatikan pendekatan yang biasa dikategorikan pada apologetika injili dan yang banyak dikenal di kalangan kaum injili dan organisasi-organisasi kampus. Penyelidikan ini tidak akan menyeluruh dan mendalam tetapi hanya akan mendiskusikan hal-hal yang dianggap penting dalam metode ini. Walaupun pada umumnya dalam evaluasi ini, kita akan melihat beberapa hal yang negatif dalam taktik populer ini, namun ada banyak hal yang baik dan pekerjaan yang berguna yang telah dikerjakan oleh mereka yang telah bekerja keras dalam bidang ini. Motivasi mereka murni dan kebanyakan pekerjaan mereka adalah berarti. Namun demikian, adalah penting untuk melihat kegagalan besar dari metode mereka. "Buku Know Why You Believe" oleh Paul E. Little merupakan buku kecil yang telah ditulis dengan baik dan menampilkan metode apologetika yang banyak dikenal. Buku ini akan digunakan sebagai bahan dalam penyelidikan kita.


Menaklukkan Segala Pikiran kepada Kristus -- Pelajaran 9 Taktik yang Terkenal [Indeks 00000]

PELAJARAN 9 TAKTIK YANG TERKENAL [Daftar Isi 00004]
00049 A. Peranan Akal Budi Manusia
00050 B. Cara Pembelaan
00050 1. Keberadaan Allah
00051 2. Ke-Tuhanan Kristus
00052 3. Otoritas dari Alkitab

A. Peranan Akal Budi Manusia

Inti pengajaran dari apologetika-apologetika yang populer adalah pandangan yang tidak alkitabiah dari akal budi manusia. Apabila ada hal yang perlu diperhatikan sebagai yang paling penting dalam pembelaan Little atas kekristenan, adalah nilai yang ditempatkan atas kemampuan akal manusia. Sebagai akibatnya, Little memberi judul bab pertama dari bukunya "Apakah kekristenan itu masuk akal?" dan menyarankan bahwa ada dua pandangan yang salah dalam hal ini di kalangan orang Kristen pada masa kini. Yang pertama ia sebutkan sebagai "anti intelektual" di mana Injil dipandang sebagai "paling tidak bukan dalam area rasio atau dapat dikatakan tidak masuk akal."[1] Di pihak lain, ada pandangan yang mengatakan bahwa menjadi orang Kristen semata-mata merupakan "proses akal budi,"[2] pertobatan kepada kekristenan tidak lain hanyalah merupakan persetujuan dari akal budi kepada pandangan-pandangan dalam agama tertentu. Kedua hal tersebut "sama-sama merupakan pandangan yang salah."[3]

Dalam menghadapi kedua pandangan yang ekstrim ini Little mengajukan titik pandang yang ketiga. Di mana ada unsur akal budi dalam pertobatan yang berisi "pengertian akan tubuh kebenaran yang rasional,"[4] sedangkan dalam hal pilihan moral, seseorang harus bergantung kepada Roh Kudus sebagai unsur tambahan atas pertobatan yang sejati. Sesuai dengan argumentasi yang dikemukakan oleh Little, dapat ditarik kesimpulan menurut Little, masalah manusia tidak terletak pada kemampuan akal budinya, melainkan pada masalah pemilihan akan kekristenan.

They don't want to believe it .... It is primarily a matter of the will. (Mereka tidak bersedia untuk mempercayainya .... itu semata-mata hanya merupakan masalah kehendak)[5]

Dengan kata lain Little mengatakan bahwa:

Faith in Christianity is based on evidence. It is reasonable faith. Faith in the Christian sense goes beyond reason not against it. (Iman dalam kekristenan adalah berdasarkan atas bukti. Iman kekristenan adalah iman yang masuk akal. Iman dalam pengertian kristiani adalah melampaui akal bukan bertolak belakang dengan akal budi)[6]

Sebagai kesimpulannya, ia beragumentasi bahwa sesungguhnya "kekristenan adalah rasional atau masuk akal."[7]

Pandangan Little mengenai akal budi memiliki beberapa kesulitan-kesulitan besar. Pertama, perlu diingat bahwa akal budi manusia yang telah jatuh dalam dosa tidak dapat dipandang sebagai bergantung secara mutlak kepada Allah. Little mendorong pembela iman Kristen untuk mengajukan kekristenan sebagai pandangan untuk diselidiki dan dihakimi dengan akal budi manusia yang mandiri. Iman tidaklah berdasarkan kepada kesaksian Allah sendiri tetapi berdasarkan atas bukti yang ditangkap oleh akal budi yang mandiri.

Kedua, akal budi tidak dipandang sebagai yang telah dicemari oleh kejatuhan manusia ke dalam dosa. Masalah manusia menurut Little bukanlah meliputi kebutaan manusia akan kebenaran tetapi ketidaksediaan mereka untuk memilih kebenaran yang sebenarnya dapat diketahui atau dimengerti secara sepenuhnya. Sebagai akibatnya, Little memperlakukan analisa rasionalitas dan logika sebagai sesuatu yang netral baik bagi orang Kristen maupun orang tidak percaya. Bukti-bukti yang masuk akal dan argumentasi-argumentasi merupakan alat-alat yang netral di mana orang tidak percaya dapat diyakinkan akan keabsahan kekristenan. Sejauh apa yang dimaksudkan oleh Little, maka para pembela iman hanya perlu untuk menolong orang-orang tidak percaya untuk berpikir lebih jelas dan lebih rasional dalam kemandiriannya, sampai mereka diyakinkan akan kebenaran kekristenan.

Perlu dikatakan bahwa pandangan Little yang berhubungan dengan akal budi manusia ini bertolak belakang dengan pandangan Alkitab yang telah dijelaskan pada pelajaran-pelajaran yang terdahulu. Kejatuhan manusia meliputi keseluruhan manusia, di mana semua aspek dari pribadi manusia telah dicemari oleh dosa. Sebagai akibatnya, akal budi bukanlah merupakan hakim dari kebenaran, hanya Allah yang dapat bertindak sebagai hakim dalam hal ini. Lebih daripada itu, dosa juga telah mempengaruhi umat manusia sedemikian rupa sehingga kemampuan akal budinya tidaklah netral. Orang Kristen berusaha untuk menggunakan akal budi mereka dalam kebergantungan kepada Allah. Orang tidak percaya berusaha untuk berdiri sendiri dalam pemikirannya. Oleh karena itu tidak ada daerah netral di mana di atasnya kita dapat berhubungan dengan orang tidak percaya.

Sesungguhnya akal budi manusia dapat merupakan penghalang dan juga penolong dalam iman kepada Kristus. Sebagaimana apa yang dikatakan oleh St. Agustinus, "Percaya supaya kamu dapat mengerti." Untuk meletakkan iman kita pada pemikiran yang mandiri adalah sama dengan pemberontakan melawan Allah. Akal budi harus berdasarkan kepada iman kita yang diserahkan kepada Kristus, dan iman kita harus bersandar hanya kepada Allah.


Menaklukkan Segala Pikiran kepada Kristus -- Pelajaran 9 Taktik yang Terkenal [Indeks 00000]

PELAJARAN 9 TAKTIK YANG TERKENAL [Daftar Isi 00004]
00049 A. Peranan Akal Budi Manusia
00050 B. Cara Pembelaan
00050 1. Keberadaan Allah
00051 2. Ke-Tuhanan Kristus
00052 3. Otoritas dari Alkitab

B. Cara Pembelaan

Ciri dari taktik pembelaan yang serupa dengan apa yang disajikan oleh Little merupakan suatu kecenderungan untuk meyakinkan orang tidak percaya akan iman kekristenan dengan cara membicarakan tiga aspek dari iman secara terpisah dan membiarkan aspek yang satu memimpin kepada aspek yang lain. Ketiga aspek ini adalah keberadaan Allah, ketuhanan Kristus, dan otoritas dari Alkitab.

1. Keberadaan Allah

Prioritas utama dari pendekatan Little adalah pembuktian akan keberadaan Allah. Dia menyajikan beberapa bukti untuk keberadaan Allah. Pertama, adalah fakta bahwa "mayoritas terbesar dari umat manusia dalam segala jaman dan semua tempat, telah mempercayai akan semacam allah atau allah-allah."[8] Kedua, hukum dari sebab dan akibat menunjuk kepada sebab pertama atau "sebab yang tidak disebabkan."[9] Ketiga, adalah argumentasi bahwa rancangan yang hebat dari dunia menunjuk kepada adanya perancang yang bersifat ilahi.[10] Walaupun bukti-bukti ini hanya merupakan "indikasi dari Allah"[11] dan bukan bukti dalam pengertian yang jelas, Little mendasarkan pernyataannya untuk percaya kepada keberadaan Allah berdasarkan argumentasi ini.

Masalah-masalah dengan pendekatan semacam ini adalah banyak. Pertama, Little tidak memperhitungkan kebergantungan akal budi manusia kepada Allah. Dalam menghadapi realitas keberadaan Allah orang tidak percaya didorong untuk bertindak seakan-akan dia adalah Allah dan dapat menghakimi pertanyaan mengenai keberadaan Allah secara mandiri. Orang tidak percaya, menurut Little, tidak memerlukan perubahan yang radikal dalam pendekatannya kepada keberadaan Allah, dia hanya memerlukan untuk membersihkan beberapa kesulitan dalam pemikirannya.

Kedua, tidak ada pengakuan yang diberikan akibat dari dosa atas proses pemikiran dari orang tidak percaya. Semua argumentasi dalam alam semesta tidak akan membawa orang tidak percaya kepada kebenaran, dia harus bertobat terlebih dahulu. Pada dasarnya, walaupun bukti-bukti akan keberadaan Allah yang disuguhkan oleh Little telah atau dapat meyakinkan orang percaya, namun filsuf-filsuf non Kristen sejak dahulu telah menolak dan tidak memperhitungkan argumentasi tersebut. Dari sudut pandang orang tidak percaya pendapat tentang "bukti-bukti" akan keberadaan Allah tidaklah meyakinkan.

Ketiga, Little berpikir dalam asumsi bahwa ada kemungkinan bagi orang tidak percaya yang bersedia untuk merenungkan ciptaan, untuk dapat melihat Allah melalui ciptaan. Alkitab mengajarkan bahwa semua umat manusia termasuk mereka yang tidak merenungkan ciptaan secara serius, dapat mengetahui akan keberadaan Allah yang dinyatakan dalam Alkitab melalui ciptaan. Maka usaha untuk meyakinkan orang tidak percaya akan keberadaan Allah sebagai karakter yang terlepas dari Alkitab, sebagaimana yang dikatakan oleh Little, adalah sama dengan memimpin orang itu jauh dari pengetahuan yang benar akan Allah menurut Firman Tuhan. Untuk alasan-alasan ini maka argumentasi akan keberadaan Allah yang dikemukakan oleh Little secara jelas bertolak belakang dengan prinsip-prinsip dari Firman Tuhan.


Menaklukkan Segala Pikiran kepada Kristus -- Pelajaran 9 Taktik yang Terkenal [Indeks 00000]

PELAJARAN 9 TAKTIK YANG TERKENAL [Daftar Isi 00004]
00049 A. Peranan Akal Budi Manusia
00050 B. Cara Pembelaan
00050 1. Keberadaan Allah
00051 2. Ke-Tuhanan Kristus
00052 3. Otoritas dari Alkitab

2. Ke-Tuhanan Kristus

Setelah keberadaan Allah dinyatakan dan dikokohkan, tahap selanjutnya bagi Little adalah pembuktian keunikan pandangan kristiani bahwa Yesus adalah Allah yang menyatakan diri dalam daging. Little membuktikannya dengan cara mendiskusikan klaim dari Kristus sendiri mengenai keilahian-Nya dan mujizat dari kebangkitan-Nya. Menurut Little ada empat cara untuk menanggapi kesaksian Tuhan Yesus akan diri-Nya sendiri. Dia adalah seorang pembohong, Dia adalah orang yang hilang ingatan, Dia hanya sebuah legenda, atau Dia adalah benar Allah yang menyatakan diri dalam daging.

Dalam menjelaskan mengenai pendapat bahwa Yesus adalah pembohong Little mengatakan:

Even those who deny his deity affirm that they think Jesus was a great moral teacher. They fail to realize those two statements are a contradiction. (Bahkan mereka yang menolak ke-Tuhanan Yesus mengakui Yesus sebagai guru besar dalam hal moral. Orang-orang yang mengemukakan pernyataan ini tidak menyadari bahwa kedua pernyataan yang mereka kemukakan adalah bertolak belakang).[12]

Dalam menanggapi pendapat bahwa Yesus sakit jiwa atau hilang ingatan ia berargumentasi sebagai berikut:

But as we look at the live of Christ, we see no evidence of abnormality and unbalance we find in the deranged person. (Kalau kita memperhatikan kehidupan Kristus, maka kita tidak menemukan suatu bukti, akan ketidaknormalan dan ketidakseimbangan dalam diri Kristus, yang kita dapatkan dalam diri orang yang tidak normal).[13]

Dalam menanggapi ide bahwa Yesus yang mengklaim sifat keilahiannya hanyalah merupakan sebuah legenda, Little menyatakan:

The legend theory does not hold water in the light of the early date of the Gospel manuscripts. (Teori dari legenda tidak dapat dipertanggungjawabkan atau dipertahankan dengan penjelasan dari waktu penulisan naskah-naskah kitab Injil).[14]

Jadi sebagai kesimpulan Little mengklaim bahwa "Yesus telah berbicara kebenaran hanyalah merupakan alternatif yang lain yang harus diakui."[15]

Sekali lagi argumentasi Little telah gagal untuk menantang orang-orang tidak percaya. Bukannya menekankan kepentingan akan pertobatan dan iman sebagai dasar dari pengetahuan yang benar. Little bertindak sepertinya orang tidak percaya hanya memerlukan untuk berpikir secara logis akan klaim daripada Yesus untuk dapat menemukan kebenaran.

Walaupun argumentasi yang diberikan oleh Little menyodorkan pemikiran baru yang bernilai bagi orang Kristen, dan dalam banyak hal telah menolong dalam mempertahankan iman, namun orang tidak percaya tentu saja dapat menyangkal argumentasi Little apabila mereka melihat dari sudut pandang mereka sebagai orang tidak percaya.

Sebenarnya Little melalui argumentasinya, tidak menghilangkan sama sekali kemungkinan dari pandangan orang berdosa yang berpikir bahwa Kristus adalah pembohong, orang sakit ingatan, atau hanya sebuah legenda. Oleh karena tidak semua orang tidak percaya yang percaya bahwa Yesus adalah guru moral yang besar. Tidak semua orang akan setuju bahwa cara hidup yang tidak biasa yang diajarkan oleh Yesus tidak mempunyai kualitas yang berbeda dengan orang yang sakit ingatan. Tidak semua orang akan menerima penemuan tanggal penulisan dari catatan kitab Injil sebagai bukti yang meyakinkan dari sifat, fakta, isi, dari kitab Injil, khususnya yang berkenaan dengan hal-hal supranatural dan mujizat-mujizat. Lebih daripada itu, orang tidak percaya tentu saja tidak akan pernah bersedia dipaksa untuk berpikir secara logis supaya percaya bahwa Kristus adalah benar-benar Anak Allah. Motivasi Little sangat bernilai, tetapi pendekatannya tidak sesuai dengan prinsip alkitabiah dalam membela iman.

Selain Yesus mengklaim sendiri akan ke-Tuhanan-Nya, Little juga mengajukan akan kebangkitan Kristus sebagai bukti akan keilahian-Nya. Memang benar bahwa:

Jesus Supreme credential to authenticate his claim to deity was his resurrection from the dead. (Kredibilitas Yesus yang tertinggi untuk meyakinkan keotentikan dari klaim-Nya akan keillahian-Nya adalah kebangkitan-Nya dari kematian).[16]

Kalau Kristus tidak pernah dibangkitkan dari kematian, maka iman kita sebagai orang Kristen akan menjadi sia-sia. Namun Little salah mengerti inti dari kebangkitan, dengan mengatakan bahwa kalau kebangkitan Kristus dapat dibuktikan secara sejarah, maka Ke-Tuhanan Kristus dapat dibuktikan. Dia berusaha dengan berbagai macam cara untuk mengobrak-abrik pendapat yang salah mengenai kebangkitan. Bersandar kepada catatan Alkitab sebagai petunjuknya, ia berargumentasi bahwa kubur yang kosong adalah bukti dari kebenaran kristiani yang tidak dapat disangkali. Tubuh Kristus tidak mungkin dicuri. Perempuan-perempuan itu tidak mungkin pergi ke kubur yang salah. Yesus benar-benar telah mati, dan kebangkitan-Nya tidak mungkin hanya suatu halusinasi. Menurut pendapat Little:

The only theory that adequately explains the empty tomb is the resurrection of Jesus Christ from the dead. (Teori satu-satunya yang dapat dengan tepat menjelaskan kubur yang kosong adalah kebangkitan dari Yesus Kristus dari kematian).[17]

Sekali lagi argumentasi dari Little adalah benar dan masuk akal apabila ditinjau dari sudut pandang orang Kristen tetapi hanya berarti kecil atau tidak sama sekali bagi orang tidak percaya.

Argumentasi Little berdasarkan bukti-bukti secara lebih jelas dapat dilihat dari "bantahan" Little akan berbagai penjelasan-penjelasan dari kebangkitan dengan dasar data dari Alkitab, di mana sumber informasi mengenai bantahan akan kebangkitan Kristus diajukan Little untuk dipertanyakan. Misalnya, sebagai tanggapan dari pemikiran bahwa Yesus telah dikubur hidup-hidup, Little membantah bahwa kalau memang demikian maka tubuh Yesus yang terbungkus dan batu yang menutup kubur Yesus merupakan penghalang yang besar untuk dapat ditembusi oleh tubuh seorang yang lemah.

Sangat jelas, bahwa apabila orang tidak percaya mempertanyakan keakuratan dari catatan Alkitab mengenai kematian Kristus, sangatlah tidak tepat untuk menjawabnya dengan catatan Alkitab yang lain. Oleh karena argumentasi itu sendiri tidak akan menjawab sanggahan dari orang tidak percaya sesuai dengan pertanyaan yang diajukan. Selain itu meskipun Little dapat membuktikan bahwa kebangkitan Yesus merupakan peristiwa sejarah, hal itu tidak secara otomatis membuktikan ke-Tuhanan dari Kristus. Selain Alkitab, tradisi dari agama-agama lain juga mengklaim bahwa banyak orang telah dibangkitkan dari kematian. Oleh karena itu, peristiwa kubur yang kosong dapat diartikan dengan berbagai macam pengertian. Tanpa penjelasan dari Firman Tuhan tentang kebangkitan, maka kebangkitan dapat diartikan dalam banyak hal. Yang pasti hati orang yang tidak percaya akan mengartikan fakta kubur kosong, dengan pengertian yang berbeda dari apa yang diartikan oleh Firman Tuhan.

Lepas dari kebergantungan kepada wahyu daripada Allah, maka peristiwa kebangkitan tidak akan membuktikan apa-apa. Itulah sebabnya Petrus pada waktu hari raya Pentakosta di Yerusalem, tidak membawa para pendengarnya untuk menaruh perhatian pada fakta mengenai kubur kosong dengan berkata: "Lihatlah, kubur itu telah kosong. Sekarang cobalah sanggah bahwa Yesus bukanlah Kristus!" Petrus tahu bahwa penafsiran yang salah mengenai kubur kosong telah mulai beredar pada waktu itu. Oleh karena itu, sebaliknya ia berbicara mengenai nubuat dalam Perjanjian Lama kepada saudara-saudaranya orang Yahudi ini, dengan berkata:

Sebab bukan Daud yang naik ke sorga, malah Daud sendiri berkata: Tuhan telah berfirman kepada Tuanku: Duduklah di sebelah kanan-Ku, sampai Kubuat musuh-musuh-Mu menjadi tumpuan kaki-Mu (Kis 2:34-35).

Kita harus mengingat faktor ini pada saat kita membicarakan tentang kebangkitan Kristus pada masa kini, yaitu apabila kita menghapuskan pengertian Alkitab, maka kebangkitan tidaklah membuktikan apa-apa. Namun apabila dinyatakan dalam konteks kebenaran Firman Tuhan, maka pernyataan itu dapat merupakan dasar dari iman yang menyelamatkan. Kerangka berpikir ini dapat diterapkan pada metode Little, di mana orang-orang tidak percaya tidak akan dapat dipimpin kepada iman dalam Kristus dengan didorong untuk berpikir secara mandiri. Pada dasarnya, pendekatan Little hanya mendorong orang tidak percaya untuk mengamati dan menyelidiki kebenaran Allah tentang kebangkitan berdasarkan kriteria dari sejarah dan logika. Walaupun informasi Alkitab diperkenalkan di dalam proses Little mengajukan bantahannya, namun hal itu telah dilakukan tanpa pengakuan akan kebutuhan untuk kebergantungan secara total kepada kebenaran Firman Tuhan. Sebagai akibatnya, taktik untuk membela kebangkitan Kristus dan ke-Tuhanan-Nya tidaklah dapat mencapai sasaran.


Menaklukkan Segala Pikiran kepada Kristus -- Pelajaran 9 Taktik yang Terkenal [Indeks 00000]

PELAJARAN 9 TAKTIK YANG TERKENAL [Daftar Isi 00004]
00049 A. Peranan Akal Budi Manusia
00050 B. Cara Pembelaan
00050 1. Keberadaan Allah
00051 2. Ke-Tuhanan Kristus
00052 3. Otoritas dari Alkitab

3. Otoritas dari Alkitab

Tahap terakhir dari pembelaan iman Little adalah dalam hal mempertahankan otoritas Alkitab. Little menggunakan cukup banyak waktu untuk menjelaskan topik ini. Dia mulai dengan menyebutkan kesaksian dari Alkitab itu sendiri akan penulisannya yang illahi. Kemudian dia memperingatkan pembaca dengan mengatakan:

While the statements and claims of the Scriptures are not proof of themselves, they are a significant body of data which cannot be ignored. (Apabila pernyataan dan klaim-klaim dari Alkitab bukanlah bukti untuk dirinya sendiri, maka ada data lain yang berarti yang tidak dapat diabaikan).[18]

Setelah menjelaskan pendapatnya dari teks Alkitab, Little menyimpulkan sebagai berikut:

There are, then, a number of pieces of evidence on which one can reasonably base his belief that the Bible is the Word of God. (Ada beberapa bukti yang masuk akal yang dapat dipakai sebagai dasar bagi seseorang untuk percaya bahwa Alkitab adalah Firman Tuhan).[19]

Selanjutnya Little menjelaskan mengenai pemeliharaan dan keabsahan dari teks Perjanjian Lama dan Baru. Arkeologi dan ilmu pengetahuan dilaporkan mendukung otoritas Alkitab dan tidak memberikan bukti yang melawannya. Dalam hal ini, Little dengan tepat menyatakan:

In everything we read and in everything we hear we must ask, "What is this person's presupposition?" so that we may interpret his conclusion in this light. (Dalam segala sesuatu yang kita baca dan kita dengar kita harus bertanya "Apakah presuposisi dari orang ini?" supaya kita dapat menafsirkan kesimpulannya sesuai dengan presuposisinya).[20]

Namun demikian, ternyata dalam prakteknya Little sedikit sekali atau sama sekali tidak ada usaha untuk menerapkan pernyataan yang telah disebutkan di atas pada waktu Little membela otoritas Alkitab. Dalam bukunya Little sama sekali tidak menyatakan bahwa presuposisi orang Kristen dan orang tidak percaya akan Alkitab sehubungan dengan ilmu pengetahuan pada dasarnya berbeda. Little hanya mengatakan bahwa ada sedikit perbedaan-perbedaan.

Akhirnya otoritas dari Alkitab tetap merupakan sesuatu yang tidak pasti, paling sedikit secara teori, dalam setiap penemuan ilmiah. Apologetika Little tidak dapat mempertahankan, kredibilitas dari Alkitab sebab ia membuktikannya berdasarkan bukti ilmiah, di mana dengan memakai bukti ilmiah yang sama juga dapat menghancurkan pembelaan imannya, sebab oleh orang tidak percaya akan ditafsirkan secara bertolak belakang dengan penafsiran Little. Otoritas Alkitab tidak boleh pernah bergantung kepada verifikasi dari manusia sebab Alkitab merupakan Firman Allah yang tidak dipertanyakan.

Masalah dari taktik yang biasa dipakai oleh kebanyakan pembela-pembela iman masa kini dapat dikatakan terletak pada masalah "otoritas." Para pembela iman harus melihat dengan jelas bahwa orang tidak percaya berada dalam kebutuhan untuk meninggalkan komitmennya terhadap kemandirian dan harus berbalik kepada iman akan otoritas dari Kristus. Apabila kepercayaan Kristus didasarkan pada kestabilan secara logika, bukti-bukti sejarah, argumentasi ilmiah, dan sebagainya, Kristus juga tetap harus diterima sebagai otoritas yang tertinggi. Maka itu berarti bahwa dasar-dasar itu lebih berotoritas daripada Kristus sendiri. Dengan kata lain, apabila kepercayaan kepada kebenaran kristiani terjadi setelah kebenaran-kebenaran Kristus diproses melalui "mesin penilaian" kemandirian manusia, maka ini berarti bahwa penilaian manusia tetap merupakan otoritas yang tertinggi.

Oleh karena itu walaupun kita dapat mengambil keuntungan dari pekerjaan para pembela iman yang mendukung taktik populer ini, namun kita harus meninggalkan atau mengabaikan pendekatan dasar dari apologetika alkitabiah mereka.

Pertanyaan-pertanyaan Sebagai Bahan Evaluasi:

  1. Mengapa sangat penting untuk memperhatikan secara teliti akan berbagai macam cara membela iman yang ditawarkan pada masa kini?
  2. Jelaskan peranan dari akal budi manusia dalam pendekatan Little terhadap apologetika!
  3. Sebutkanlah tiga tahap dari metode yang dikemukakan oleh Little!
  4. Sebutkanlah beberapa kritik dari pandangan Little yang harus kita ingat!

Catatan Kaki:

[1] Paul Little, Know Why You Believe, (Downers Grove, III.: InterVarsity Press, 1968), h.2.
[2] Ibid.,h.3.
[3] Ibid.,h.1.
[4] Ibid.,h.3.
[5] Ibid.,h.4.
[6] Ibid.,h.5.
[7] Ibid.,h.6.
[8] Ibid.,h.8.
[9] Ibid.,h.9.
[10] Ibid.,h.10.
[11] Ibid.,h.12.
[12] Ibid.,h.17.
[13] Ibid.,h.18.
[14] Ibid.
[15] Ibid.
[16] Ibid.,h.21.
[17] Ibid.,h.27.
[18] Ibid.,h.31.
[19] Ibid.,h.38
[20] Ibid.,h.79


Menaklukkan Segala Pikiran kepada Kristus -- Pelajaran 10 Struktur Dasar dari Pembelaan Alkitabiah [Indeks 00000]

PELAJARAN 10 STRUKTUR DASAR DARI PEMBELAAN ALKITABIAH [Daftar Isi 00004]
00054 A. Penginjilan dan Apologetika
00055 B. Dua Hal Pembenaran
00056 1. Argumentasi dengan Kebenaran
00057 2. Argumentasi Berdasarkan Kebodohan

Janganlah menjawab orang bebal menurut kebodohannya, supaya jangan engkau sendiri menjadi sama dengan dia. Jawablah orang bebal menurut kebodohannya, supaya jangan ia menganggap dirinya bijak (Ams 26:4, 5).

Mengamati kesalahan-kesalahan yang telah dilakukan oleh pembela iman lain seperti yang telah kita lakukan dalam pelajaran terdahulu, memang ada manfaatnya, tetapi tugas kita yang lebih penting adalah mengembangkan pembelaan kekristenan secara alkitabiah dan secara positif. Oleh karena itu, dalam pelajaran ini kita akan berusaha untuk mengajukan struktur dasar dari sebuah apologetika berdasarkan petunjuk yang dapat kita temui di dalam Firman Tuhan. Namun sebelum kita memulainya haruslah diingat bahwa Alkitab tidak memberikan kepada kita petunjuk secara terinci mengenai langkah demi lahgkah dalam membela iman. Oleh karena itu, sangatlah penting untuk mengakui bahwa struktur yang diajukan dalam pelajaran ini hanyalah salah satu dari sekian banyak prinsip- prinsip alkitabiah yang telah ada. Sehingga saran-saran dari pelajaran ini mungkin dapat menolong bagi sebagian orang, namun tidak demikian bagi yang lain. Sebab pada waktu tertentu hanya sebagian dari ide-ide ini yang akan cocok dalam situasi tertentu. Namun apapun pendekatan yang diadopsi, kita harus pasti bahwa metode ini sejalan dengan prinsip alkitabiah yang telah kita diskusikan pada pelajaran terdahulu.


Menaklukkan Segala Pikiran kepada Kristus -- Pelajaran 10 Struktur Dasar dari Pembelaan Alkitabiah [Indeks 00000]

PELAJARAN 10 STRUKTUR DASAR DARI PEMBELAAN ALKITABIAH [Daftar Isi 00004]
00054 A. Penginjilan dan Apologetika
00055 B. Dua Hal Pembenaran
00056 1. Argumentasi dengan Kebenaran
00057 2. Argumentasi Berdasarkan Kebodohan

A. Penginjilan dan Apologetika

Hal penting dalam struktur dari pembelaan alkitabiah adalah relasi apologetika dengan penginjilan. Banyak praktek-praktek yang tidak alkitabiah timbul dari kesalahmengertian hubungan antara apologetika dengan penginjilan. Penginjilan dan apologetika adalah sama dalam beberapa hal. Keduanya merupakan tanggung jawab dari orang-orang percaya. Semua orang percaya bertanggung jawab untuk menyebarkan Injil Kristus dan membelanya dengan kelakuan dan perkataan mereka. Penginjilan dan apologetika keduanya berasumsi bahwa ada kerelaan dari orang tidak percaya untuk mendengar dan mendiskusikan otoritas Kristus akan kehidupan- Nya. Baik penginjil maupun pembela iman jangan sampai melemparkan mutiara yang berharga (kebenaran) ke hadapan mereka yang tidak lain hanya ingin menghina/mengejek Kristus (lihat Mat 7:6). Namun perlu diingat, bahwa baik dalam penginjilan maupun apologetika, orang Kristen berhubungan dengan mati dan hidupnya seseorang.

Kebanyakan orang berpikir bahwa apologetika hanya merupakan permainan intelektual di mana tidak ada sesuatupun yang dikorbankan atau dirugikan, selain daripada menang atau kalah dalam suatu argumentasi. Namun seperti apa yang telah dikatakan sebelumnya, sama halnya dengan penginjilan dalam apologetika kita juga menawarkan kepada orang tidak percaya, suatu pemilihan antara keselamatan atau hukuman Allah. Dan sama halnya dengan penginjilan alkitabiah, apologetika alkitabiah pun tidak dapat menjamin pertobatan orang berdosa. Segala usaha kita dan argumentasi kita yang terbaik tidak akan memenangkan orang tidak percaya, tanpa ia dijamah oleh anugerah Allah sehingga ia dimungkinkan untuk rela dan bersedia percaya. Belajar mengenai apologetika tidak akan membuat seorang pun secara otomatis menjadi pemenang jiwa, hanya anugerah Allah yang dapat membuat Injil efektif.

Hubungan yang erat antara penginjilan dan apologetika dapat kita lihat dalam Firman Tuhan. Di dalam Kis 26:2, Paulus menyatakan pembelaannya di hadapan Raja Agripa. Pada waktu itu Paulus mengajukan Injil Kristus sebagai bagian inti kalau tidak dapat dikatakan sebagai klimaks dari pembelaannya:

bahwa Mesias harus menderita sengsara dan bahwa Ia adalah yang pertama yang akan bangkit dari antara orang mati, dan bahwa Ia akan memberitakan terang kepada bangsa ini dan kepada bangsa-bangsa lain (Kis 26:23).

Di bagian lain Paulus menulis kepada Timotius mengenai pembelaannya yang pertama akan kekristenan, di mana dia menyebutkan bahwa ia berharap dalam pembelaannya "proklamasi akan secara sepenuhnya dicapai, dan kiranya semua orang tidak percaya dapat mendengar" (2Ti 4:17). Dengan kata lain, apologetika dari Paulus akanlah lengkap apabila itu memenuhi kebutuhan dari proklamasi Injil kepada orang tidak percaya. Dalam keadaan yang bagaimanapun juga, pembelaan iman harus dihubungkan dengan deklarasi dari Kabar Baik bahwa keselamatan dari dosa dan kematian telah datang melalui kematian dan kebangkitan Yesus, Anak Allah.

Apabila persamaan yang dimiliki oleh apologetika dan penginjilan selalu kita ingat, maka konsep umum yang salah dapat dihindari. Apologetika bukanlah merupakan suatu usaha untuk mengkonfrontasi pikiran orang tidak percaya belaka dan mengabaikan kehendak dan emosi untuk penginjilan. Pada saat kita membela iman dengan benar kita tidak hanya berargumentasi untuk kekristenan dalam mempersiapkan untuk tahap selanjutnya di mana kita akan menantang orang tidak percaya untuk berbalik kepada Kristus untuk keselamatan. Melainkan, apologetika mengkonfrontasi keseluruhan pribadi dari orang tidak percaya dengan tuntutan Allah dalam Kristus. Membela Injil tidak hanya merupakan suatu pendahuluan untuk menawarkan Injil, tapi mengandung deklarasi dari Injil.

Bersamaan dengan kepentingan untuk memberikan perhatian akan hubungan apologetika dengan penginjilan kita juga perlu untuk membuat pemisahan di antara kedua hal ini. Kalau kita tidak melakukannya, maka akan mengakibatkan dua macam kecenderungan. Pada satu pihak, orang percaya akan cenderung untuk meninggalkan segala usaha untuk membela iman dan menggantikannya dengan hanya berkhotbah mengenai iman. Apabila apologetika dan penginjilan adalah sama, orang Kristen mungkin akan menolak untuk menjawab pertanyaan dari orang tidak percaya dan mengatakan: "Kamu harus percaya akan apa yang saya katakan karena kamu harus percaya!" Pemikiran di atas berbeda jauh dengan apa yang telah dilakukan oleh Kristus dan para murid-Nya. Mereka menanggapi sanggahan dari para lawan mereka dengan sangat serius.

Pada pihak lain, gagal untuk memisahkan apologetika dan penginjilan akan mengakibatkan orang Kristen berpikir bahwa ia harus selalu memberikan penjelasan yang panjang lebar sebelum dapat meyakinkan orang tidak percaya untuk percaya kepada Kristus. Apabila orang tidak percaya mendekati orang Kristen yang semacam itu dan mengatakan bahwa ia mau percaya, orang Kristen itu akan menjawab, "Tunggu dulu! Saudara tidak dapat betul-betul percaya sampai saya dapat menjawab sanggahan yang biasanya diajukan mengenai Kristus oleh yang lain." Sedangkan Paulus, dalam menanggapi hal yang sama, hanya menjawab. "Percaya dalam Tuhan Yesus, dan kamu akan diselamatkan" (Kis 16:31).

Menyamakan secara total antara apologetika dengan penginjilan sering kali akan memimpin kepada praktek dan metode yang tidak alkitabiah. Oleh karena itu, perhatian harus diberikan untuk membedakan satu dengan yang lainnya.

Adalah menolong untuk melihat perbedaan di antara apologetika dengan penginjilan dalam hal tujuan. Penginjilan lebih dimaksudkan kepada proklamasi dari penghakiman yang akan datang dan kabar baik dari keselamatan dalam kematian dan kebangkitan Kristus. Orang tidak percaya diberitahukan dengan istilah yang pasti:

Barangsiapa percaya kepada Anak, ia beroleh hidup yang kekal, tetapi barangsiapa tidak taat kepada Anak, ia tidak akan melihat hidup, melainkan murka Allah tetap ada di atasnya (Yoh 3:36).

Sedangkan apologetika lebih memperhatikan atau bertujuan untuk membenarkan klaim ini. Kita membuat pembelaan "kepada setiap orang yang bertanya kepada kita untuk memberikan jawaban akan pengharapan yang ada di dalam kita" (1Pe 3:15). Dalam pengertian ini, maka dapat dikatakan bahwa penginjilan lebih berhubungan dengan apa yang harus kita percaya dan apologetika lebih berhubungan dengan mengapa kita harus percaya. Tentu saja kedua bidang ini banyak menaruh perhatian yang sama, namun dapat dikatakan bahwa apologetika merupakan kelanjutan dari penginjilan, oleh karena apologetika berusaha untuk mempertahankan dan meyakinkan orang tidak percaya akan berita penghakiman dan pengharapan yang telah disajikan dalam Injil.

Dengan dasar ini maka kita dapat menunjukkan dengan lebih jelas bagaimana kita harus memulai dan mengakhiri pembelaan iman Kristen. Seperti yang telah dikatakan dalam 1Pe 3:15, kita diberitahukan bahwa persiapan kita untuk berapologetika harus dipraktekkan pada saat kita diminta untuk menjawab mengapa orang Kristen mempunyai pengharapan. Dalam percakapan biasa dengan orang tidak percaya kesempatan-kesempatan untuk berapologetika mungkin timbul sebagai sebuah hasil dari diskusi akan suatu hal tertentu atau suatu bahan perdebatan.

Pada saat orang Kristen memberikan pandangannya dalam hal ini, ia mempunyai kesempatan untuk memperlihatkan pendapatnya dari sudut iman Kristennya dan pada saat yang sama menyatakan akan kesetiaannya pada kebergantungan yang mutlak kepada Kristus. Dan pembelaannya akan diakhiri dengan sebuah tantangan bagi orang tidak percaya untuk menyerahkan diri kepada Injil Kristus.

Misalnya orang percaya akan mengekspresikan pendapatnya mengenai perang, hukuman mati, atau isu-isu lainnya. Apapun tanggapan yang akan diberikan, apabila percakapan ini berlangsung cukup panjang, orang percaya akan terlibat dalam membela komitmen dia kepada Kristus dari mana pandangannya bersumber. Pada saat pembelaanya dimulai, maka pembelaannya harus berhubungan dengan Injil dan harus menuju kepada tantangan yang efektif akan kemandirian dari manusia yang berdosa dan mengajak dia untuk bertobat.

Apologetika masuk dalam pembicaraan di antara orang tidak percaya dan orang Kristen, pada saat dirasakan ada kebutuhan untuk pembelaan iman. Dan saat itu dipakai untuk melayani dan mengabarkan Injil dengan cara yang efektif dan meyakinkan akan kabar baik dari Kristus.


Menaklukkan Segala Pikiran kepada Kristus -- Pelajaran 10 Struktur Dasar dari Pembelaan Alkitabiah [Indeks 00000]

PELAJARAN 10 STRUKTUR DASAR DARI PEMBELAAN ALKITABIAH [Daftar Isi 00004]
00054 A. Penginjilan dan Apologetika
00055 B. Dua Hal Pembenaran
00056 1. Argumentasi dengan Kebenaran
00057 2. Argumentasi Berdasarkan Kebodohan

B. Dua Hal Pembenaran

Ams 26:4, 5 memberikan beberapa petunjuk yang menolong untuk membenarkan klaim dari Injil. Ada petunjuk praktis yang kaya dalam ayat-ayat ini. Dalam kedua ayat ini kita diberitahukan bagaimana kita harus menjawab orang yang berada dalam kebodohan. Kitab Amsal banyak membicarakan mengenai orang bodoh. Dikatakan bahwa pada dasarnya, orang bodoh merupakan orang yang mempertanyakan hikmat Allah yang dapat dipercaya, yang telah diwahyukan kepada manusia. Orang bodoh telah menolak takut kepada Allah dan semua hikmat-Nya.

Dalam hal berapologetika, orang bodoh dapat dikatakan sebagai orang tidak percaya yang meminta orang-orang Kristen untuk membela iman Kristen mereka. Kita diberitahukan, di pihak lain, jangan "menjawab orang bodoh dengan kebodohannya" (ayat 4). Dengan kata lain, kita harus menjawab orang tidak percaya tanpa meninggalkan kebergantungan kita kepada wahyu Allah. Kita harus menjawab mereka dari sudut pandang filsafat kristiani. Di pihak lain, Amsal mengajarkan bahwa kita harus menjawab "orang bodoh berdasarkan kebodohannya" (ayat 5).[1] Pernyataan ini mengandung pengertian bahwa kita harus membela iman Kristen dengan menggunakan sudut pandang filsafat orang tidak percaya. Kita akan melihat akan dua pengertian ini dalam hubungan membenarkan klaim dari iman Kristen.


Menaklukkan Segala Pikiran kepada Kristus -- Pelajaran 10 Struktur Dasar dari Pembelaan Alkitabiah [Indeks 00000]

PELAJARAN 10 STRUKTUR DASAR DARI PEMBELAAN ALKITABIAH [Daftar Isi 00004]
00054 A. Penginjilan dan Apologetika
00055 B. Dua Hal Pembenaran
00056 1. Argumentasi dengan Kebenaran
00057 2. Argumentasi Berdasarkan Kebodohan

1. Argumentasi dengan Kebenaran

Argumentasi dengan kebenaran pada dasarnya adalah menjawab sanggahan dan pertanyaan-pertanyaan orang tidak percaya tentang kredibilitas klaim dari orang Kristen dari sudut pandang alkitabiah. Perhatikan alasan dari penulis Amsal yang mengatakan bahwa kita harus berargumentasi dengan kebenaran.

Janganlah menjawab orang bebal menurut kebodohannya, supaya jangan engkau sendiri menjadi sama dengan dia (Ams 26:4).

Orang tidak percaya yang bodoh tidak mempunyai pengharapan untuk terlepas dari akibat-akibat dosa dalam kehidupannya. Dia tidak dapat menemukan Allah dengan filsafatnya, bahkan dia tidak dapat mengetahui mengenai dirinya sendiri atau dunia dengan benar. Apabila orang Kristen gagal untuk mengenali kepentingan dari argumentasi dengan kebenaran, ia pula akan terikat pada kesia-siaan yang sama. Terlalu sering orang Kristen berusaha untuk membenarkan kekristenan dengan menyangkali argumentasi berdasarkan kebenaran dalam metode apologetika yang mereka pakai, sehingga mereka menjadi seperti orang tidak percaya yang bodoh.

Kebingungan yang seperti itu akan dapat dihindari apabila kita memberikan tempat yang benar untuk argumentasi dengan kebenaran. Di Atena, Paulus memulai pembelaannya akan karakter yang benar dari Allah dengan argumentasi dari sudut pandang Kristen. Ia mengatakan:

Sebab ketika aku berjalan jalan di kotamu dan melihat-lihat barang-barang pujaanmu, aku menjumpai juga sebuah mezbah dengan tulisan: Kepada Allah yang tidak dikenal. Apa yang kamu sembah tanpa mengenalnya, itulah yang kuberitakan kepada kamu. Allah yang telah menjadikan bumi dan segala isinya, Ia, yang adalah Tuhan atas langit dan bumi, tidak diam dalam kuil- kuil buatan tangan manusia (Kis 17:23-24).

Juga dalam Kis 22, Paulus memulai pembelaannya dengan menyajikan cerita pertobatannya dari sudut pandang Kristen. Apakah kita memulai atau tidak argumentasi kita dengan argumentasi kebenaran dalam setiap situasi tidaklah penting, tetapi yang pasti sangat penting dalam berapologetika secara alkitabiah kita tidak pernah meninggalkan sudut pandang Kristen dalam setiap argumentasi kita.

Dengan argumentasi dari sudut pandang Kristen, orang Kristen akan dapat memperlihatkan bahwa komitmen kebergantungannya kepada Allah, tidak akan mengecewakan atau menyebabkan seseorang frustrasi tetapi dapat menyebabkan seseorang dapat hidup dengan bebas dari kesia-siaan yang disebabkan oleh kuasa dosa. Seperti yang dikatakan oleh Paulus:

Tetapi Paulus menjawab: Aku tidak gila, Festus yang mulia! Aku mengatakan kebenaran dengan pikiran yang sehat! (Kis 26:25).

Argumentasi dengan kebenaran dapat dan akan mengambil bentuk-bentuk yang lain pada saat kita melakukan pendekatan dalam berbagai macam situasi, tetapi apapun bentuk yang diberikan, tanggapan yang diberikan harus berdasarkan wahyu Allah dalam Firman Tuhan. Dengan alasan ini maka merupakan suatu keharusan bahwa pembela iman harus belajar dengan sungguh-sungguh, sehingga dapat mendalami dan mengenali Alkitab dengan baik. Seseorang tidak mungkin dapat berargumentasi dengan kebenaran apabila ia tidak mengetahui akan kebenaran. Setiap aspek dari Firman Tuhan dapat dipergunakan dalam berapologetika, dan keefektifan seorang pembela iman akan bergantung kepada seberapa jauh kemampuannya, untuk secara tepat menggunakan "Firman kebenaran" (2Ti 2:15).

Dalam Firman Tuhan terdapat kebenaran dari Roh Kudus yang akan meyakinkan orang tidak percaya akan kebutuhan mereka, akan Juru Selamat dan kecukupan kematian Kristus dan kebangkitan-Nya untuk keselamatan. Sebagai hamba yang taat kita harus tidak "menjawab orang bodoh berdasarkan kebodohannya" melainkan berdasarkan kebenaran dari Firman Tuhan.

Pada dasarnya ada tiga tahap dalam argumentasi berdasarkan kebenaran. Pertama, orang Kristen harus mengakui bahwa jawabannya berasal dari kepercayaannya kepada Kristus sebagai Tuhan dan Juru Selamat. Pengakuan ini dapat disajikan dalam bentuk pernyataan yang sederhana atau dengan penjelasan yang lebih panjang lebih dari pengalaman pertobatannya. Apapun kasusnya, salah satu cara terbaik untuk menghindari kebingungan yang akan timbul, adalah dengan memulai argumentasi berdasarkan kebenaran dengan pernyataan yang jelas berdasarkan komitmen kepada Kristus.

Langkah yang kedua dari argumentasi kebenaran dapat mengambil satu atau dua bentuk. Apabila pada satu saat si pembela iman tidak mengetahui data alkitabiah yang cukup untuk memberikan tanggapan secara kristiani, ia tidak boleh putus asa. Kekristenan menyediakan suatu penjelasan bahkan untuk kebodohan kita. Kita mungkin tidak tahu oleh karena keterbatasan kita sebagai manusia. Namun secara pasti kita dapat menyatakan bahwa kalau kita ingin mendapatkan jawaban yang benar, hal itu harus dilakukan berdasarkan kebergantungan kepada wahyu Allah. Misalnya, kebanyakan orang Kristen tidak mempunyai pengetahuan tentang bukti ilmiah yang mendukung atau yang melawan evolusi. Namun, hal ini tidak akan pernah dapat membuat orang Kristen meragukan akan kepastian dari catatan Alkitab mengenai penciptaan.

Pada waktu orang Kristen tidak dimungkinkan untuk mengetahui segala sesuatu, saat itu ia mengetahui sumber dari segala sesuatu dan dapat meletakkan kepercayaan mereka kepada Pencipta langit dan bumi dan melawan kesalahan yang berasal dari ketidakpercayaan. Hal-hal yang tidak diketahui tidak akan menakutkan orang Kristen yang bergantung secara mutlak kepada pengetahuan Allah, sebab Allah mengetahui segala sesuatu tanpa terkecuali, dan wahyu-Nya dapat dipercayai secara mutlak. Oleh karena itu argumentasi berdasarkan kebenaran dapat diterapkan dalam situasi yang bagaimanapun juga. Kebenaran itu tidak akan pernah gagal, oleh karena itu harus disajikan meskipun kita tidak memiliki pengetahuan yang cukup.

Di pihak lain, apabila orang percaya mengetahui jawaban atas sanggahan orang tidak percaya, maka jawabannya harus berdasarkan iman kekristenan, dan ia harus membenarkan posisi kekristenan. Pendirian dari pandangan kekristenan yang ditunjukkan dalam Alkitab dan jawaban-jawaban yang ada di sana, sedikit banyak harus dimasukkan dalam argumentasi kebenaran. Apabila dilihat dari terang Firman Tuhan, maka dunia luar dan pengalaman pribadi seorang Kristen mendukung pendirian kristiani. Dunia dan manusia keadaannya adalah seperti apa yang dinyatakan oleh Firman Tuhan, oleh karena itu orang Kristen harus melihat kebenaran ini dan menggunakan aspek-aspek dari penciptaan untuk menggambarkan dan mendukung posisi alkitabiah. Namun ini tidak berarti bahwa bukti-bukti yang ditemukan di luar Alkitab adalah alat yang netral yang dapat digunakan tanpa komitmen kepada Allah. Bukti-bukti di luar Alkitab, sebagaimana halnya bukti-bukti alkitabiah, harus dimengerti dalam konteks kristiani.

Sebagai orang percaya dalam Kristus kita diyakinkan bahwa Alkitab berbicara dengan sebenarnya berkenaan dengan dunia dan pengalaman-pengalaman pribadi orang percaya, dan hubungan antara Firman Tuhan dengan kehidupan ini dapat dilihat dari posisi kristiani, di mana kekristenan terlepas dari kesia-siaan pemikiran yang berdosa. Dengan kerangka pemikiran inilah, maka kita dapat mengerti pembelaan rasul Paulus akan kebangkitan Kristus dalam 1Ko 15:3-8.

Pada dasarnya, ada tiga tahap dari argumentasi yang dipergunakan oleh Paulus dalam ayat-ayat ini. Pertama (ayat 3-4), dia berargumentasi bahwa kematian Kristus, penguburan-Nya, dan kebangkitan-Nya adalah sesuai dengan Perjanjian Lama dan tradisi para rasul. Paulus berargumentasi bahwa, "Dia telah dibangkitkan pada hari yang ketiga menurut Firman Tuhan" (1Ko 15:4). Kedua, di ayat 5-7, Paulus mengajukan argumentasi dari sejarah luar yang didukung oleh klaim-klaim dari banyak saksi mata. Dia menyatakan dengan berani bahwa Kristus "memperlihatkan diri kepada lebih dari lima ratus saudara pada satu waktu" (1Ko 15:6).

Ketiga, di ayat 8, Paulus mendukung kebenaran dari kebangkitan Kristus melalui pengalaman pribadinya di perjalanan menuju Damsyik. "Dia menyatakan diri-Nya kepadaku juga" (1Ko 15:8). Di sini kita melihat bahwa Paulus dengan penuh keyakinan berargumentasi hanya dari sudut pandang kekristenan dan bukan dari sudut pandang netral. Lebih daripada itu, kita harus melihat bahwa Paulus tidak berargumentasi berdasarkan kemungkinan dari kebangkitan. Bukti dari Firman Tuhan membuat fakta kebangkitan Kristus merupakan kepastian bukan suatu kemungkinan. Meskipun fakta ini merupakan kebenaran yang pasti, namun kita juga harus menyadari akan fakta bahwa para rasul juga tidak ragu-ragu untuk menggunakan bukti-bukti di luar Alkitab, yang digunakan berdasarkan terang Firman Tuhan.

Sejalan dengan teladan yang diberikan oleh Paulus, maka pada dasarnya ada tiga sumber bukti-bukti yang dapat kita pergunakan dalam berargumentasi berdasarkan kebenaran. Kita dapat mendukung klaim kekristenan dengan bukti dari Firman Tuhan, dari dunia luar, dan dari pengalaman pribadi kita. Berikut ini kita akan melihat dengan lebih teliti akan setiap sumber bukti ini.

a. Bukti dari Firman Tuhan

Orang Kristen melihat Alkitab sebagai Firman Tuhan yang berotoritas ilahi dalam menanggapi pertanyaan-pertanyaan yang harus dijawab. Oleh karena itu mendukung pandangan kekristenan berdasarkan fakta-fakta di dalam Firman Tuhan merupakan dukungan yang sangat penting. Untuk memberikan bukti berdasarkan terang Firman Tuhan tidak berarti hanya sekedar mengutip suatu ayat yang "membuktikan" inti dari suatu pertanyaan. Sering kali metode yang semacam itu sebenarnya tidak membuktikan apa-apa. Pada waktu menjawab pertanyaan yang diajukan, dukungan Alkitab yang diberikan harus dicapai dengan proses menghubungkan prinsip-prinsip alkitabiah, atau apa yang disebut logika alkitabiah.

Apapun kasusnya, apabila orang Kristen telah mengerti dengan tepat dan benar isu-isu dan dukungan alkitabiah untuk suatu posisi, maka itu berarti pandangannya telah didukung dengan benar. Dalam Firman Tuhan kita dapat menemukan bagaimana Allah menanggapi pertanyaan-pertanyaan dan bantahan- bantahan, cara tanggapan Allah ini sangat penting untuk membela kekristenan.

b. Bukti dari dunia luar

Apabila kita melihat dari terang Firman Tuhan, sebenarnya dunia luar menyediakan banyak fakta-fakta untuk mendukung pandangan kekristenan. Tentu saja, kita harus sangat berhati-hati pada saat menggunakan bukti- bukti semacam ini, sebab sering kali justru orang percaya akan gagal untuk mengerti dunia di sekitarnya dengan benar. Bukti-bukti dari dunia luar kadang-kadang menghasilkan atau membuktikan sesuatu lain daripada apa yang mereka pikirkan untuk dibuktikan. Misalnya, pada masa lalu orang Kristen, berdasarkan bukti-bukti yang diketahui pada waktu itu menyatakan bahwa putaran matahari mengelilingi bumi "membuktikan" bahwa bumi dan segala penghuninya merupakan pusat, di mana fakta ini sesuai dengan rencana Allah untuk alam semesta. Sekarang, ilmu pengetahuan memperlihatkan bahwa bumi sebenarnya yang berputar mengelilingi matahari.

Apa yang dulu secara tidak tepat dipergunakan sebagai bukti untuk kekristenan sekarang tidak lagi dapat diterima, bahkan oleh orang Kristen sendiri. Oleh karena itu, perhatian harus diberikan dalam menggunakan atau tidak menggunakan bukti-bukti dari dunia luar.

Bukti-bukti dari luar dengan kehati-hatian harus dipergunakan di mana dimungkinkan dalam membela kekristenan.

Agama Kristen memang mempengaruhi cara di mana orang percaya memandang dunia luar dan fakta ini harus diketahui dengan jelas. Orang-orang Kristen tidak mempercayai kekristenan berdasarkan pengabaian akan fakta-fakta, seperti yang disangka oleh beberapa teolog moderen. Namun kepercayaan mereka adalah berdasarkan fakta-fakta yang ditafsirkan dengan benar, bukan berdasarkan kesalahan penafsiran dari fakta-fakta oleh manusia yang berdosa. Kerangka berpikir ini mengajak dan mendorong kita untuk menggunakan ilmu pengetahuan, sejarah, dan argumentasi berdasarkan logika secara tepat untuk mendukung pandangan kekristenan.

Ada kecenderungan dari pembela iman Kristen untuk mendasarkan jatuh bangunnya kekristenan di atas bukti-bukti ini. Pandangan seperti ini meninggalkan satu-satunya cara untuk mendapatkan pengertian yang benar akan bukti-bukti, yaitu komitmen kepada Kristus dan Firman-Nya. Di pihak lain, beberapa orang percaya yang berkehendak untuk berpegang secara teguh kepada komitmen mereka berpikir bahwa bukti-bukti dari luar itu tidak ada gunanya. Cara berpikir seperti ini telah gagal untuk melihat kecukupan otoritas Firman Tuhan yang mencakup segala sesuatu, sehingga manusia dapat mendapatkan pengertian yang benar dari dunia ini. Menurut Firman Tuhan bukti-bukti luar adalah penting. Paulus sendiri sering menggunakannya. Misalnya, dia berbicara mengenai pengetahuan akan Allah di Listra dengan menunjuk kepada keteraturan dunia luar, dengan mengatakan:

namun Ia bukan tidak menyatakan diri-Nya dengan berbagai-bagai kebajikan, yaitu dengan menurunkan hujan dari langit dan dengan memberikan musim-musim subur bagi kamu. Ia memuaskan hatimu dengan makanan dan kegembiraan (Kis 14:17).

Dia juga menyatakan kepada Festus:

Raja juga tahu tentang segala perkara ini, sebab itu aku berani berbicara terus terang kepadanya. Aku yakin, bahwa tidak ada sesuatupun dari semuanya ini yang belum didengarnya, karena perkara ini tidak terjadi di tempat yang terpencil (Kis 26:26).

Injil Yohanes meletakkan tekanan yang besar pada bukti-bukti sejarah atau tanda-tanda akan keilahian Yesus.

Yohanes mengatakan dengan terus terang:

Memang masih banyak tanda lain yang dibuat Yesus di depan mata murid- murid-Nya, yang tidak tercatat dalam kitab ini, tetapi semua yang tercantum di sini telah dicatat, supaya kamu percaya, bahwa Yesuslah Mesias, Anak Allah, dan supaya kamu oleh imanmu memperoleh hidup dalam nama-Nya (Yoh 20:30-31).

Apabila dipergunakan dengan benar, maka bukti-bukti dari luar merupakan bagian yang vital dari argumentasi berdasarkan kebenaran.

c. Bukti dari pengalaman pribadi

Ada satu lagi sumber dari bukti yang dapat dipergunakan oleh orang percaya dalam argumentasi berdasarkan kebenaran, yaitu bukti dari pengalaman pribadi akan iman Kristennya. Bukti-bukti dari dunia luar biasanya didapatkan berdasarkan penyelidikan umum dari satu hal ke satu hal yang lain, tetapi bukti-bukti dari pengalaman pribadi biasanya merupakan hal yang bersifat pribadi. Aspek kehidupan pribadi seperti pengalaman pertobatan dan pengalaman pertumbuhan pribadi seorang percaya dalam hubungan dengan Allah, merupakan dua dari dasar-dasar argumentasi penting lainnya, yang dapat digunakan. Sering kali Paulus membela iman dengan menceritakan pengalamannya dalam perjalanan ke Damsyik (Kis 26:12-20). Dia menyajikan pertemuannya secara pribadi dengan Kristus sebagai suatu fakta yang harus diterima sebagai kebenaran berdasarkan pengakuannya. Tentu saja pertobatan yang sejati harus terlihat dalam perubahan hidup dari seorang percaya, tetapi pertobatan dan kelanjutan hubungan yang intim dengan Roh Kudus merupakan sumber-sumber dari bukti yang tidak dapat disangkali. Di mana pengalaman pribadinya dengan Tuhan akan mempengaruhi orang Kristen dalam memandang segala sesuatu.

Setelah penyajian dari bukti-bukti kita di atas, maka sekarang kita akan memasuki tahap ketiga dari argumentasi berdasarkan kebenaran. Harus disadari bahwa dalam kebanyakan kasus, orang tidak percaya tidak akan terpuaskan dengan pembenaran yang diberikan berdasarkan tahap ke dua dari argumentasi berdasarkan kebenaran. Dalam kasus yang demikian, maka argumentasi berdasarkan kebenaran harus berjalan setahap lebih jauh.

Pada waktu pembelaan alkitabiah telah diberikan adalah penting untuk memperlihatkan fakta bahwa alasan orang tidak percaya menolak bukti orang Kristen, adalah disebabkan oleh komitmen mereka kepada kemandirian. Setiap pemikiran yang bertolak belakang dengan kekristenan dihasilkan oleh orang tidak percaya yang menghendaki untuk berdiri sendiri dalam pemikiran mereka, dan menjadikan pemikiran mereka yang mandiri menjadi hakim dalam menentukan kebenaran.

Kita hidup di jaman di mana banyak orang tidak percaya berpikir bahwa mereka dalam posisi netral dan objektif. Oleh karena itu, kita harus menampilkan dasar komitmen mereka. Ini dapat dilakukan dengan cara mengajukan beberapa pertanyaan secara beruntun. Orang Kristen harus menyatakan bahwa pada dasarnya orang tidak percaya telah mendedikasikan dirinya kepada kemandirian. Buatlah orang tidak percaya untuk menyadari kemandirian mereka dengan cara mengajukan pertanyaan-pertanyaan ini: "Mengapa kamu mempercayai hal itu?" atau "Bagaimana kamu mengetahui hal itu?" teras ajukan pertanyaan-pertanyaan mereka sampai mereka menyadari akan kemandirian mereka.

Orang tidak percaya berpikir dan percaya seperti itu oleh karena mereka telah menentukan hal itu benar secara mandiri. Misalnya, orang tidak percaya dapat berargumentasi bahwa Allah orang Kristen itu tidak ada. Apabila kita bertanya "Mengapa?" dia mungkin akan berkata, "Sebab kamu telah memberikan kepada saya bukti-bukti yang tidak meyakinkan." Apabila kita bertanya lagi mengapa dia berpikir bahwa bukti-bukti itu tidak meyakinkan, dia akan mengakui bahwa bukti-bukti itu tidak cocok dengan kriteria kebenarannya yang berdasarkan kemandirian. Apabila kita pertanyakan mengapa dia menerima kriteria kebenarannya sebagai tolok ukur, maka dia akan memperlihatkan bahwa itu adalah hasil dari keputusannya sendiri untuk melihat segala sesuatu tanpa takluk kepada Alkitab dan Allah.

Dengan menyatakan fakta komitmen kepada kemandirian dari orang tidak percaya, orang Kristen menyatakan kebenaran bahwa semua manusia telah dipilih untuk berpihak kepada Kristus atau melawan Kristus. Garis pemisah ini sangat jelas dan pintu terbuka untuk mendemonstrasikan tidak adanya pengharapan dari cara berpikir orang tidak percaya.

Secara ringkas dapat dikatakan bahwa argumentasi berdasarkan kebenaran adalah menjawab sanggahan orang tidak percaya dengan tanggapan-tanggapan kristiani. Pada dasarnya hal itu dilakukan dalam, tiga tahap. Pertama, orang Kristen harus mengakui bahwa semua pendapatnya adalah berdasarkan iman kepercayaannya kepada Kristus dan di dalam Kristus. Kedua, dia harus memberikan bukti kristiani atau penjelasan mengenai ketidaktahuannya dalam hal-hal tertentu terlebih dahulu. Ketiga, harus diperlihatkan alasan mengapa orang tidak percaya tidak menerima pandangan kristiani, yaitu oleh karena kondisi mereka yang berdosa dan kesetiaan mereka kepada kemandirian mereka. Apabila kita selalu mengingat ketiga tahap ini, maka tidaklah sukar bagi kita untuk membangun suatu argumentasi berdasarkan kebenaran- kebenaran untuk membela kekristenan.


Menaklukkan Segala Pikiran kepada Kristus -- Pelajaran 10 Struktur Dasar dari Pembelaan Alkitabiah [Indeks 00000]

PELAJARAN 10 STRUKTUR DASAR DARI PEMBELAAN ALKITABIAH [Daftar Isi 00004]
00054 A. Penginjilan dan Apologetika
00055 B. Dua Hal Pembenaran
00056 1. Argumentasi dengan Kebenaran
00057 2. Argumentasi Berdasarkan Kebodohan

2. Argumentasi Berdasarkan Kebodohan

Ams 26:4, 5 juga mengatakan bahwa kita harus berargumentasi berdasarkan kebodohan. Kita harus menjawab orang tidak percaya berdasarkan sudut pandang dan pandangan mereka sendiri. Tujuan dari argumentasi semacam itu bukan untuk mendirikan pandangan kristiani secara positif melainkan untuk mendemonstrasikan kebodohan dari pemikiran orang berdosa.

Jawablah orang bebal menurut kebodohannya, supaya jangan ia menganggap dirinya bijak (Ams 26:5).

Pembela iman Kristen berusaha menggunakan bukti-bukti dan argumentasi- argumentasi yang dapat dimiliki oleh sistem pemikiran orang tidak percaya, dengan tujuan mematahkan keyakinan orang tidak percaya kepada dirinya sendiri. Orang tidak percaya tidak mempunyai hikmat, kemandiriannya hanyalah merupakan suatu tipuan. Kekecewaan orang tidak percaya pada cara berpikir mereka akan muncul, pada saat orang Kristen secara efektif memperlihatkan kepada dia, bahwa penolakannya kepada Kristus adalah berdasarkan pada kontradiksi pada dirinya sendiri, dan inilah yang membuat mereka frustrasi, cara berpikir seperti ini, tidak akan memimpin mereka kepada pengertian yang benar akan dirinya sendiri, dunia, ataupun Allah.

Filsafat non Kristen ada di bawah penghakiman Allah, filsafat ini tidak dapat menolong tetapi akan menghancurkan dirinya sendiri. Yeremia mengomentari tentang akibat yang akan terjadi dari pemikiran yang berdosa sebagai berikut:

Kejahatannya akan menghajar engkau, dan kemurtadanmu akan menyiksa engkau! Ketahuilah dan lihatlah, betapa jahat dan pedihnya engkau meninggalkan Tuhan, Allahmu; dan tidak gemetar terhadap Aku, demikianlah firman Tuhan Allah semesta alam (Yer 2:19).

Mereka yang meninggalkan Allah dikoreksi dan dibuktikan oleh usaha mereka sendiri. Pemazmur juga berdoa sebagai berikut:

Biarlah mereka menanggung kesalahan mereka, ya Allah, biarlah mereka jatuh karena rancangannya sendiri; buanglah mereka karena banyaknya pelanggaran mereka sebab mereka memberontak terhadap Engkau (Maz 5:10).

Lebih jauh kita dapat baca:

Bangsa-bangsa terbenam dalam pelubang yang dibuatnya, kakinya tertangkap dalam jaring yang dipasangnya sendiri. Tuhan telah memperkenalkan diri-Nya, Ia menjalankan penghakiman; orang fasik terjerat dalam perbuatan tangannya sendiri (Maz 9:15, 16).

Semua rencana yang jahat, kelicikan, dan usaha-usaha orang tidak percaya berbalik melawan diri mereka sendiri pada saat penghakiman Allah dinyatakan kepada mereka. Kesia-siaan yang diwariskan ini diperlihatkan kepada orang tidak percaya oleh orang Kristen pada saat ketidakstabilan di dalam sistem cara berpikir dari orang tidak percaya dipertunjukkan. Dalam hal ini seorang pembela iman menjadi utusan dari penghakiman yang menyatakan kepada orang tidak percaya, bahwa penolakan mereka kepada Kristus akan menghasilkan tiada pengharapan dan kesia-siaan.

Sebagaimana halnya dengan argumentasi berdasarkan kebenaran maka argumentasi berdasarkan kebodohan juga memiliki tiga tahap dasar. Setelah kita memperlihatkan fakta bahwa orang tidak percaya telah mendedikasikan diri kepada kemandirian terlepas dari Allah, kesia-siaan dari posisinya dapat diperlihatkan dengan mempertanyakan keabsahan dari kemandiriannya. Apabila orang tidak percaya berusaha untuk membenarkannya atau mencoba untuk berargumentasi bahwa kemandiriannya tidak membutuhkan pembenaran, tidaklah sukar untuk memperlihatkan bahwa tanggapannya itu sendiri adalah pengaruh dari komitmen kepada kemandirian. Tanyakanlah kepadanya mengapa ia berpikiran bahwa tanggapannya memiliki keabsahan. Dari jawabannya kita dapat melihat bahwa dia hanya memberikan gambaran bagaimana kesetiaannya kepada kemandirian telah menyebar ke semua aspek dalam dirinya. Apabila orang tidak percaya berkata bahwa komitmennya kepada kemandirian tidak dapat dibenarkan, maka orang Kristen dapat bertanya kepada dia mengapa dia tetap berpegang secara setia kepada hal itu.

Apapun kasusnya, tidaklah sukar untuk memperlihatkan kepada orang tidak percaya bahwa ia telah mendedikasikan diri mereka kepada kemandirian secara buta, dan mereka telah menyangkal kekristenan dengan alasan yang tidak dapat dibenarkan. Lebih daripada itu, orang tidak percaya sendiri menghadapi keputusasaan, sebab mereka berharap untuk berpegang kepada posisi yang masuk akal dalam melawan kekristenan, tetapi pada saat yang sama mereka terperangkap dalam lingkaran yang menghancurkan dirinya sendiri. Lingkaran ini hanya dapat diputuskan dengan percaya kepada Injil.

Orang tidak percaya memang berargumentasi secara melingkar, demikian juga halnya dengan orang Kristen. Tahap kedua dan ketiga dalam argumentasi berdasarkan kebodohan berusaha untuk membuat nyata bahwa sirkulasi pemikiran orang Kristen dan sirkulasi pemikiran orang tidak percaya adalah sama sekali berbeda. Sirkulasi pemikiran Kristen menyediakan jawaban akan tujuan manusia di dunia, sedangkan sirkulasi pemikiran orang tidak percaya melemparkan manusia ke dalam lingkaran ketidakkonsistenan dan kontradiksi dalam dirinya sendiri. Kesia-siaan dari ketidakpercayaan tidak hanya terlihat pada komitmen kepada kemandirian, tetapi juga terlihat dalam sanggahan-sanggahan tertentu yang diajukan oleh orang tidak percaya untuk menentang kekristenan.

Tahap yang kedua dalam argumentasi berdasarkan kebodohan dilakukan bergantung kepada macam dari sanggahan yang orang tidak percaya ajukan. Di satu pihak, apabila orang tidak percaya membuat klaim akan kepastian yang mutlak, maka kita harus memperlihatkan kepada dia akan ketidakpastian yang mutlak akan pernyataannya. Sedangkan di pihak lain, apabila orang tidak percaya membuat klaim akan ketidakyakinan yang mutlak, maka kita harus memperlihatkan kepada mereka akan kepastian yang mutlak dari posisi mereka. Dengan kata lain, kita harus memperlihatkan kepada orang tidak percaya bahwa pandangannya dihancurkan oleh ketidakpastian mereka yang mutlak dan kepastian mereka yang mutlak, yang harus mereka yakini pada saat yang sama. Kita akan melihat bagaimana kerangka berpikir orang tidak percaya ini diterapkan pada pandangan mereka akan Allah, dunia, dan manusia.

a. Sanggahan berkenaan dengan Allah dan Wahyu-Nya

Orang tidak percaya tidak dapat memiliki kepastian akan pandangannya mengenai Allah dan Wahyu-Nya, karena dia tidak mengetahui dan tidak dapat mengetahui secara mendalam akan semua ciptaan, demikian juga Allah sendiri. Ketidaktahuannya ini memaksa dia untuk tidak pasti secara mutlak. Orang tidak percaya dapat tidak pasti juga, sebab untuk tidak pasti berarti dia harus pasti tidak pasti, dan orang tidak percaya tidak dapat memiliki kepastian semacam itu. Kebanyakan orang tidak percaya dapat memperlihatkan realitas dari dilema ini dengan menunjukkan ketidaktahuan mereka dalam hal-hal agamawi. Oleh karena itu mereka tidak dapat berbicara secara konsisten mengenai Allah maupun Wahyu-Nya.

b. Sanggahan berkenaan dengan dunia

Sering sekali orang tidak percaya membantah kekristenan dengan dasar pertimbangan yang berkenaan dengan dunia luar. Namun demikian orang tidak percaya tidak dapat berpegang kepada suatu posisi yang pasti karena dia tidak dapat memperhitungkan semua faktor-faktor dan kemungkinan- kemungkinan peristiwa yang menyebabkan sesuatu terjadi dalam alam semesta ini. Dan dia juga tidak dapat tidak pasti secara pasti pada posisinya mengenai karakter dari dunia. Akhirnya orang tidak percaya hanya jatuh ke dalam dilema ini. Sebab selalu ada ide baru dan penemuan baru mengenai dunia ini, di mana membuat orang tidak percaya berada pada posisi yang pasti dan tidak pasti, pada saat yang sama. Sesungguhnya tidaklah mungkin bagi mereka untuk terlepas dari problem ini.

c. Sanggahan berkenaan dengan manusia

Sama halnya dengan posisi orang tidak percaya akan Allah dan dunia, maka pandangan mereka akan manusia pun adalah berdasarkan kepastian yang tidak pasti dan berdasarkan ketidakpastian yang pasti. Akibatnya, pada saat orang tidak percaya membantah kekristenan atas dasar pandangannya akan manusia, pada saat yang sama dia akan memperlihatkan ketidakmampuannya untuk berpegang kepada posisinya secara konsisten.

Tahap kedua dari argumentasi berdasarkan kebodohan dapat diringkaskan sebagai berikut. Orang Kristen dapat berusaha untuk memperlihatkan ketidakmampuan orang tidak percaya untuk memiliki kepastian dengan menunjukkan bahwa orang tidak percaya belum menyelidiki semua fakta-fakta dalam alam semesta ini. Dia dapat melakukan ini dengan cara menunjukkan beberapa fakta atau bukti yang dapat diterima oleh orang tidak percaya, di mana nantinya akan mendukung pandangan kristiani. Sangatlah penting bagi orang Kristen untuk menunjukkan bahwa orang tidak percaya tidak dapat menyelidiki semua fakta-fakta itu, sebab keterbatasannya membuat penyelidikan secara meyeluruh menjadi tidak mungkin.

Keterbatasan fakta-fakta memungkinkan orang percaya untuk salah dalam mengambil kesimpulan, sehingga orang tidak percaya tidak dapat memastikan secara mutlak bahwa fakta itu benar-benar melawan posisi kekristenan. Apabila dia berharap untuk berpegang kepada posisinya, dia berbuat itu secara buta, dengan tujuan memilih untuk melawan Kristus, dan bukan berdasarkan fakta.

Posisi akan ketidakpastian secara total dapat diringkaskan dengan mengatakan bahwa tidak cukup fakta untuk membuat seseorang meyakini sesuatu. "Kamu terlalu dogmatis, kita tidak dapat mengatakan secara pasti akan semua itu," kata orang tidak percaya kepada orang Kristen. Mungkin sanggahan ini kelihatannya cukup beralasan. Namun, ini harus dilihat bahwa pada saat orang tidak percaya berkata tidak ada cukup fakta, dia berada pada posisi yang sama dengan orang tidak percaya lain, yang berkata bahwa fakta-fakta itu melawan kekristenan. Satu jawaban yang paling baik untuk menanggapi bantahan orang tidak percaya, adalah dengan mengatakan, "Kamu belum melihat cukup fakta untuk mengetahui secara pasti bahwa kami harus tidak pasti." Apabila orang tidak percaya menjawab bahwa ia tidak pasti akan sanggahannya juga, maka pernyataannya bukanlah merupakan sanggahan sama sekali. Melainkan hanya merupakan pernyataan akan keraguannya secara pribadi, dan bukan merupakan keharusan untuk ragu.

Berdasarkan hal ini kita dapat melihat bahwa orang tidak percaya tidak dapat mengatakan bahwa suatu fakta melawan kekristenan, demikian pula orang tidak percaya juga tidak dapat melawan kekristenan berdasarkan tidak cukupnya fakta, oleh karena dia tidak dapat mempunyai keyakinan yang mutlak akan kedua pernyataannya itu. Orang yang belum diselamatkan terperangkap dalam dilema yang tiada berujung ini. Dia tidak dapat pasti atau tidak pasti secara konsisten. Dia terperangkap oleh pandangannya sendiri atau taktiknya sendiri.

Tahap ketiga dari argumentasi berdasarkan kebodohan menyatakan mengapa orang tidak percaya menghadapi kesia-siaan. Itu disebabkan oleh komitmennya kepada kemandirian, dan penyangkalannya akan perbedaan Pencipta dengan ciptaan, sehingga ia terperangkap oleh sistemnya sendiri. Dalam penutup dari argumentasi berdasarkan kebodohan, orang Kristen harus menantang komitmen orang tidak percaya akan kemandiriannya. Perlawanan melawan Allah harus dikonfrontasikan dengan kebutuhannya untuk bertobat dan iman kepada Kristus. Oleh karena itu, dalam banyak kasus apologetika alkitabiah dimulai dengan Injil, dan seharusnya diakhiri dengan Injil pula.

Hal-hal dalam pelajaran ini adalah sangat penting walaupun hanya disajikan dalam bentuk garis besar. Contoh-contoh akan diberikan dalam pelajaran- pelajaran yang berikut. Perhatian harus diberikan dalam hal-hal ini oleh karena banyak pertimbangan-pertimbangan yang mana mungkin dalam kasus tertentu diperlukan untuk memperpendek atau merubah garis besar yang diberikan di sini. Namun demikian, semua kasus yang telah dibicarakan dalam pelajaran ini harus dikuasai oleh orang percaya sebaik mungkin sesuai dengan kemampuannya. Pengetahuan dari dasar struktur yang disarankan di sini akan sering terbukti tidak dapat dikesampingkan oleh pembela iman Kristen.

Pertanyaan-pertanyaan Sebagai Bahan Evaluasi:

  1. Dalam pengertian bagaimana apologetika dan penginjilan adalah serupa?
  2. Mengapa kita dapat menyebut apologetika sebagai "pengembangan dari penginjilan?"
  3. Kapan kita harus memulai membela iman kita?
  4. Apakah dua bentuk penyajian yang dijelaskan dalam Ams 26:4, 5?
  5. Apakah tiga tahap dasar dalam argumentasi berdasarkan kebenaran?
  6. Apakah tiga tahap dasar dalam argumentasi berdasarkan kebodohan?
  7. Bagaimana seharusnya sebuah pembelaan berdasarkan alkitabiah dimulai dan diakhiri?

Catatan Kaki:

[1] Terjemahan NASB dalam ayat ini telah gagal untuk menunjukkan arti dari semula. Saya mengikuti terjemahan RSV.


Menaklukkan Segala Pikiran kepada Kristus -- Pelajaran 11 Pembelaan Iman (1) [Indeks 00000]

PELAJARAN 11 PEMBELAAN IMAN (1) [Daftar Isi 00004]
00059 A. Sanggahan-sanggahan Berkenaan dengan Allah
00059 1. Keberadaan Allah
00060 2. Problema dari Kejahatan
00061 B. Sanggahan-sanggahan Berkenaan dengan Ajaran Mengenai Kristus
00061 1. Ke-Tuhanan Kristus
00062 2. Kebangkitan Kristus

Kami mematahkan setiap siasat orang dan merubuhkan setiap kubu yang dibangun oleh keangkuhan manusia untuk menentang pengenalan akan Allah. Kami menawan segala pikiran dan menaklukkannya kepada Kristus (2Ko 10:5).

Setelah mempelajari struktur dasar dari apologetika berdasarkan Firman Tuhan, maka sekarang kita akan melihat struktur ini dengan lebih terinci. Dalam pelajaran ini dan dalam dua pelajaran yang berikutnya kita akan membicarakan beberapa kasus yang mungkin akan timbul dalam percakapan dengan orang tidak percaya. Harus diingat bahwa kita akan melihat hanya suatu contoh dari kemungkinan tantangan-tantangan dan jawaban-jawaban. Tujuan dari pelajaran ini adalah untuk memberikan beberapa saran-saran dasar yang dapat menolong untuk apologetika alkitabiah yang efektif. Bentuk dari tanggapan-tanggapan yang ditawarkan bergantung kepada kemampuan dari si pembela iman, yang diharapkan akan terus belajar untuk mengembangkan argumentasinya sendiri, sehingga dia akan menjadi berpengalaman dalam pembelaan iman.


Menaklukkan Segala Pikiran kepada Kristus -- Pelajaran 11 Pembelaan Iman (1) [Indeks 00000]

PELAJARAN 11 PEMBELAAN IMAN (1) [Daftar Isi 00004]
00059 A. Sanggahan-sanggahan Berkenaan dengan Allah
00059 1. Keberadaan Allah
00060 2. Problema dari Kejahatan
00061 B. Sanggahan-sanggahan Berkenaan dengan Ajaran Mengenai Kristus
00061 1. Ke-Tuhanan Kristus
00062 2. Kebangkitan Kristus

A. Sanggahan-sanggahan Berkenaan dengan Allah

Sangatlah nyata bahwa satu dari kunci permasalahan dalam apologetika adalah kebenaran tentang Allah. Sering kali kasus akan kebutuhan untuk berapologetika timbul oleh karena pertanyaan-pertanyaan mengenai Allah.

1. Keberadaan Allah

Perdebatan di antara orang Kristen dan orang tidak percaya pada dasarnya adalah mengenai keberadaan Allah. Meskipun sanggahan-sanggahan berkenaan dengan Allah diajukan dalam berbagai bentuk, namun akar pertanyaan orang tidak percaya adalah: "Mengapa saya harus percaya bahwa Allah orang Kristen itu ada?"

a. Argumentasi berdasarkan kebenaran

Ada tiga tahap untuk berargumentasi berdasarkan kebenaran. Setiap tahap ini adalah penting untuk membela keberadaan Allah.

Tahap 1: Orang Kristen harus mengakui bahwa dasar kepercayaannya akan keberadaan Allah menurut pandangan kekristenan, adalah berdasarkan imannya kepada Kristus.

Tahap 2: Para pembela iman kemudian harus meneruskannya dengan menyajikan fakta-fakta dari sudut pandang kristiani, untuk membawa orang percaya akan keberadaan Allah.

Bukti dari Alkitab

1) Alkitab menyatakan akan keberadaan Allah dan bekerja di atas realitas dari keberadaan-Nya tanpa memberikan penjelasan panjang lebar mengenai bukti-bukti, untuk membuktikan keberadaan Allah (Kej 1:1). Sehingga meskipun tidak ada bukti-bukti dari luar akan keberadaan Allah, Allah akan tetap ada. Dengan kata lain, keberadaan Allah tidak akan bergantung atau ditentukan oleh bukti-bukti dari luar Alkitab.

2) Kepercayaan akan keberadaan Allah merupakan permulaan dari segala hikmat dan pengertian (Ams 1:8). Allah adalah dasar dari pengetahuan dan pengertian yang benar, jadi bukan kerangka berpikir manusia yang menjadi dasar pengetahuan yang benar.

3) Alkitab mengajarkan bahwa hanya orang bodoh yang akan menyangkali keberadaan Allah (Maz 14:1). Saudara harus menjadi buta untuk tidak dapat melihat fakta kepentingan akan keharusan keberadaan Allah. Tanpa Allah, tidak ada sesuatupun yang akan terjadi, bahkan pertanyaan mengenai keberadaan-Nya pun tidak akan pernah ada.

4) Fakta bahwa nubuat-nubuat dalam Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru telah digenapi dan sedang digenapi memperlihatkan kepada kita bahwa Allah orang Kristen ada dan sedang bekerja dalam segala sesuatu sesuai dengan kehendak-Nya.

Bukti dari Dunia Luar

5) Allah secara jelas dinyatakan melalui alam semesta dalam dunia ini (Maz 19:1; Rom 1:18). Keteraturan dari dunia menyatakan keteraturan hikmat Allah. Hal-hal yang baik dalam dunia memperlihatkan akan kemurahan Allah. Keindahan dari dunia memperlihatkan kemuliaan Allah. Dunia di sekitar kita memberikan banyak bukti untuk percaya akan keberadaan Allah.

6) Kemampuan yang besar pada manusia justru mendemonstrasikan akan keberadaan Allah dan karakter-Nya sebagai Pencipta.

7) Orang Kristen juga mengetahui bahwa Allah ada oleh karena Dia telah memberikan anugerah-Nya kepadanya. Dan Allah telah menyatakan kehadiran- Nya sedemikian rupa melalui berita Injil, sehingga tidak akan disalahmengertikan oleh orang Kristen. Ada banyak orang Kristen yang telah mengalami kehadiran Allah secara menakjubkan dan luar biasa. Mereka tahu dan mengklaim dengan yakin bahwa Allah ada.

Tahap 3: Orang percaya harus menyadari bahwa dalam banyak situasi argumentasi-argumentasi ini tidak akan meyakinkan. Oleh karena itu ia harus menjelaskan kepada orang tidak percaya bahwa argumentasi ini tidak meyakinkan mereka, oleh karena mereka setia kepada kemandirian. Kemudian orang Kristen meneruskan argumentasinya dengan memperlihatkan komitmen mereka dengan proses yang telah dijelaskan dalam pelajaran yang lalu.

b. Argumentasi Berdasarkan Kebodohan

Argumentasi berdasarkan kebodohan akan berusaha untuk memperlihatkan kepada orang tidak percaya bahwa ia tidak memiliki dasar yang kokoh, sehingga dia dapat menolak untuk percaya akan keberadaan Allah orang Kristen.

Tahap 1: Orang Kristen harus memperlihatkan bahwa komitmen orang tidak percaya kepada kemandirian di mana di atasnya semua sanggahan mereka dialaskan tidak dapat dibenarkan. Orang tidak percaya terperangkap dalam perangkapnya sendiri.

Tahap 2: Posisi khusus yang diambil oleh orang tidak percaya dapat juga dikatakan menyerang diri sendiri atau menghancurkan diri sendiri.

Pandangan-pandangan yang mengklaim kepastian yang mutlak

"Tidak ada Allah."

1) Perlihatkan kepada orang tidak percaya bahwa dia belum menyelidiki secara tuntas, dan dia tidak dapat menyelidiki keberadaan Allah di semua tempat.

2) Orang Kristen harus memperlihatkan kepada orang tidak percaya, bahwa ia tidak dapat mengatakan dengan kepastian, bahwa "Tidak ada Allah" oleh karena bukti yang meyakinkan untuk Allah mungkin ada di tempat yang dia belum selidiki.

"Ada allah tetapi bukan merupakan Allah yang dipercayai oleh orang Kristen."

1) Orang percaya dapat bertanya allah macam apa yang sebenarnya dipercaya oleh orang tidak percaya, kemudian nyatakan kepada dia bahwa dia belum menyelidiki semua kemungkinan akan bukti-bukti untuk menyimpulkan karakter Allah.

2) Orang Kristen harus menunjukkan kepada orang tidak percaya, bahwa ia tidak dapat menyelidiki semua bukti yang dapat menjelaskan akan semua pertanyaan mengenai karakter Allah.

3) Oleh karena itu orang tidak percaya tidak boleh mengklaim bahwa pandangannya pasti benar sebab dia tidak dapat memastikan akan pandangannya mengenai Allah.

Pandangan-pandangan yang mengklaim akan ketidakpastian yang mutlak.

"Kita tidak dapat mengetahui apakah Allah itu ada atau tidak ada."

1) Orang Kristen harus memperlihatkan kepada orang-orang tidak percaya bahwa walaupun posisi mereka mungkin terlihat aman dan netral dari permukaan, namun sebenarnya hal itu merupakan pernyataan yang berani dari mereka mengenai Allah dan dunia-Nya. Oleh karena orang tidak percaya mengklaim bahwa Allah tidak menyatakan diri-Nya dengan cara yang dapat diterima oleh semua manusia.

2) Orang percaya kemudian dapat menjelaskan bahwa orang tidak percaya belum menyelidiki ke semua tempat untuk melihat apakah ada bukti yang nyata mengenai Allah. Lebih daripada itu, kita harus menyatakan bahwa ia tidak dapat melakukannya.

3) Orang tidak percaya tidak dapat yakin akan ketidakpercayaannya.

"Kepercayaan akan keberadaan Allah adalah masalah pribadi yang tidak seharusnya diperdebatkan."

1) Orang Kristen harus meminta orang tidak percaya untuk mendemonstrasikan bagaimana membuktikan pernyataan yang menyatakan bahwa ada bukti yang cukup untuk mengetahui bahwa kepercayaan kepada Allah hanyalah merupakan masalah pribadi.

2) Orang Kristen juga harus menyatakan bahwa orang tidak percaya tidak dapat menyimpulkan dengan pasti oleh karena tidak ada cukup bukti untuk mengetahui hal ini dengan pasti. Di balik bulan, misalnya, mungkin ada bukti yang meyakinkan bahwa Allah ada dan bahwa percaya kepada Allah itu bukanlah merupakan masalah kepercayaan pribadi.

3) Oleh karena itu, orang tidak percaya tidak dapat memastikan pandangannya dan dengan demikian sanggahannya tidaklah sah.

Tahap 3: Pendekatan dasar untuk membela keberadaan Allah ini kemudian memimpin kepada hal yang paling penting. Orang tidak percaya ada dalam posisi frustasi disebabkan oleh kedudukan mereka yang setia kepada kemandirian. Oleh karena itu, dia tidak berhak untuk duduk sebagai hakim akan keberadaan Allah. Sesungguhnya dia harus berbalik untuk beriman kepada Kristus dan diselamatkan dari kedudukannya yang tanpa pengharapan.


Menaklukkan Segala Pikiran kepada Kristus -- Pelajaran 11 Pembelaan Iman (1) [Indeks 00000]

PELAJARAN 11 PEMBELAAN IMAN (1) [Daftar Isi 00004]
00059 A. Sanggahan-sanggahan Berkenaan dengan Allah
00059 1. Keberadaan Allah
00060 2. Problema dari Kejahatan
00061 B. Sanggahan-sanggahan Berkenaan dengan Ajaran Mengenai Kristus
00061 1. Ke-Tuhanan Kristus
00062 2. Kebangkitan Kristus

2. Problema dari Kejahatan

Kesulitan lain yang sering kali timbul dalam percakapan dengan orang tidak percaya adalah masalah mengenai kejahatan. Apabila Allah adalah baik dan Allah menciptakan segala sesuatu, maka tentunya ada suatu hal yang salah dengan konsep kristiani mengenai Allah oleh karena ada kejahatan di dalam dunia. Masalah ini harus diteliti dengan baik, supaya kita mendapatkan pandangan alkitabiah mengenai hal ini, yang dapat kita sajikan kepada orang tidak percaya.

a. Argumentasi berdasarkan kebenaran

Tahap 1: Orang percaya harus mengakui bahwa ia akan menanggapi persoalan ini dari sudut pandang kristiani.

Tahap 2: Ada banyak cara pendekatan untuk menjawab masalah ini secara alkitabiah. Kita hanya akan melihat beberapa saja.

Bukti dari Firman Tuhan

1) Allah menciptakan dunia yang baik tetapi manusia telah membuatnya menjadi jahat oleh karena pemberontakan mereka melawan Allah (Kej 1:27; 3:17). Sejalan dengan karakter-Nya Allah hanya memberikan pemberian-pemberian yang baik dan sempurna (Yak 1:17).

2) Manusia menjadi lebih menderita akibat dari kejahatan oleh karena rencana Allah dalam penciptaan mengharuskan manusia untuk menuai apa yang mereka telah taburkan (Kej 6:7).

3) Kejahatan sejalan dengan rencana Allah secara keseluruhan, di mana demi kemuliaan diri-Nya, Allah akan mengalahkan dan menang atas kejahatan (Maz 110:1)

4) Allah tidak pernah mencobai manusia untuk berdosa, bahkan ketika Ia sedang menguji kesetiaan mereka kepada Dia (Yak 1:13).

5) Apa yang Allah lakukan adalah baik, dan ini bukan berarti bahwa aktivitas kebaikan-Nya diukur oleh standar kebaikan manusia. Allah adalah baik oleh karena Dia adalah Allah. Segala sesuatu yang Allah lakukan bagi ciptaan-Nya adalah baik dan kudus (Yak 1:13).

Bukti dari Dunia Luar

6) Allah terus menerus mengatur alam semesta untuk kebaikan manusia (Kej 8:22).

7) Allah secara konstan memberikan pemberian-pemberian yang baik kepada dunia (Yak 1:17).

8) Bahkan fakta bahwa Allah mengijinkan kita untuk dapat terus hidup menunjukkan kebaikan-Nya kepada kita, sebab kita semua sepatutnya menerima kematian (Rom 3:23).

Bukti dari Pengalaman Pribadi

9) Orang-orang percaya di dalam Kristus, berdasarkan pertemuan mereka secara pribadi dengan Kristus, mengetahui bahwa keberadaan dari kejahatan di dalam dunia ini, seharusnya tidak menyebabkan kita mempertanyakan akan kebaikan Allah. Orang-orang percaya mengetahui kebaikan Allah melalui pemberian Anak-Nya yang tunggal kepada kita.

Tahap 3: Perlihatkan kebergantungan orang tidak percaya kepada kemandirian, kemudian jelaskan bahwa penolakannya pada pandangan kristiani mengenai kejahatan, sebenarnya disebabkan oleh komitmen mereka kepada kemandirian itu.

b. Argumentasi Berdasarkan Kebodohan

Argumentasi berdasarkan kebodohan merupakan suatu usaha untuk memperlihatkan tidak dapat diterimanya jalan keluar atau kesimpulan orang tidak percaya akan problema tentang kejahatan.

Tahap 1: Perlihatkan kepada orang tidak percaya bahwa komitmennya tidak memiliki dasar yang kuat untuk mendukungnya.

Tahap 2: Posisi tertentu yang diambil oleh orang tidak percaya, pada akhirnya akan menghancurkan pendapatnya sendiri.

Posisi yang mengklaim kepastian yang mutlak

"Allah adalah jahat."

1) Orang Kristen harus menantang pandangan ini dengan menunjukkan bahwasanya orang tidak percaya belum menyelami dan tidak dapat menyelami secara keseluruhan motivasi dan rahasia dari tujuan-tujuan pemikiran Allah.

2) Oleh karena keterbatasan ini, maka orang tidak percaya tidak boleh mengklaim bahwa Allah adalah jahat, hanya oleh karena ada kejahatan di dalam dunia.

"Oleh karena ada kejahatan di dalam dunia, maka Allah itu sebenarnya tidak ada."

1) Perlihatkan bahwa posisi ini tidak dapat diterima dengan cara menunjukkan bahwa orang tidak percaya belum mendengar dan tidak dapat berharap untuk mendengar setiap penjelasan akan relasi Allah dengan kejahatan.

2) Dia tidak dapat secara mutlak memastikan bahwa tidak ada jalan atau tidak mungkin kejahatan dapat berada di dalam ciptaan yang diciptakan oleh Allah yang baik.

Posisi yang mengklaim ketidakpastian yang mutlak

"Karakter Allah dan keberadaan-Nya sangatlah membingungkan dan memperlihatkan bahwa spekulasi agamawi itu tidak ada artinya."

1) Orang Kristen harus memperlihatkan bahwa posisi ini tidaklah netral, melainkan merupakan posisi yang pasti dalam menentang kekristenan.

2) Fakta bahwa orang tidak percaya yang berpandangan seperti itu belum mengalami dan tidak dapat mengalami semua bukti-bukti yang berkenaan dengan karakter dan keberadaan Allah, menyatakan bahwa mereka tidak dapat bersikeras untuk berdiam diri dalam menghadapi pertanyaan-pertanyaan tentang agamawi.

Tahap 3: Orang tidak percaya seharusnya diberitahu bahwa kesia-siaannya dari pemikirannya adalah disebabkan oleh komitmen mereka akan kemandirian, oleh karena itu ia perlu untuk meninggalkan komitmen kepada kemandirian dan menggantikannya dengan iman kepada Kristus.


Menaklukkan Segala Pikiran kepada Kristus -- Pelajaran 11 Pembelaan Iman (1) [Indeks 00000]

PELAJARAN 11 PEMBELAAN IMAN (1) [Daftar Isi 00004]
00059 A. Sanggahan-sanggahan Berkenaan dengan Allah
00059 1. Keberadaan Allah
00060 2. Problema dari Kejahatan
00061 B. Sanggahan-sanggahan Berkenaan dengan Ajaran Mengenai Kristus
00061 1. Ke-Tuhanan Kristus
00062 2. Kebangkitan Kristus

B. Sanggahan-sanggahan Berkenaan dengan Ajaran Mengenai Kristus

Ada banyak perbantahan yang berkisar tentang pribadi dan pekerjaan Kristus, di antaranya orang-orang Kristen dengan orang-orang tidak percaya. Namun kita hanya dapat memberikan beberapa komentar dalam masalah ini. Oleh karena itu, kita hanya akan membicarakan dua hal yang paling sering dibicarakan.

1. Ke-Tuhanan Kristus

Dalam jaman ini sangat populer untuk percaya bahwa Yesus hidup dan mengajar pada masa lampau, namun menolak klaim-Nya akan keilahian-Nya dan hanya mengakui Kristus sebagai manusia biasa. Posisi kristiani sering kali diperolokkan oleh karena orang Kristen berpegang secara teguh akan kemanusiaan dan keilahian dari Kristus.

a. Argumentasi berdasarkan kebenaran

Tahap 1: Orang percaya harus mengakui bahwa alasannya untuk percaya akan keilahian Kristus terletak pada kesetiaannya kepada Kristus dan Firman- Nya.

Tahap 2: Bukti-bukti kristiani untuk ke-Tuhanan Kristus sangatlah banyak.

Bukti dari Firman Tuhan

1) Yesus disebut "ALLAH" dalam keseluruhan Perjanjian Baru (2Pe 1:1; Tit 2:13; 1Yo 5:20; Yoh 10:30; 20:28; 1:1). Dengan demikian Dia dinyatakan berbeda dari semua ciptaan yang lain.

2) Yesus sendiri mengklaim sebagai Tuhan dari Perjanjian Lama ketika Dia berkata: "sebelum Abraham dilahirkan, SAYA ADA" (Yoh 8:58).

3) Bahkan Perjanjian Lama berbicara akan Juruselamat yang akan datang sebagai "Allah beserta dengan kita" (Yes 7:14) dan "Allah yang Maha-besar" (Yes 9:16).

4) Apabila Yesus bukan Allah melainkan hanya makhluk ciptaan biasa, maka keselamatan sebenarnya dikerjakan oleh ciptaan, bukan dikerjakan oleh Allah sendiri.

Bukti dari Dunia Luar

5) Kedudukan Yesus sebagai Raja atas seluruh dunia dan penguasaan-Nya yang sempurna dalam segala peristiwa memperlihatkan akan kebenaran dari keilahian-Nya.

6) Akibat dramatis dari kehidupan Yesus telah dapat dilihat dalam sejarah manusia dan akan terus dapat dilihat dalam sejarah manusia yang mendemonstrasikan sifat keilahian-Nya.

Bukti dari Pengalaman Pribadi

7) Pada saat laki-laki dan perempuan datang untuk percaya kepada keselamatan dalam Kristus, mereka bertemu Dia dan mengenal Dia tidak hanya sebagai makhluk ciptaan biasa tetapi sebagai Tuhan mereka dan Allah mereka (lihat Yoh 20:28).

Tahap 3: Tunjukkan kepada orang tidak percaya bahwa ia tidak dapat melihat kebenaran akan argumentasi ini oleh karena komitmen agamawi mereka kepada kemandirian.

b. Argumentasi Berdasarkan Kebodohan

Argumentasi berdasarkan kebodohan digunakan untuk memperlihatkan kepada orang tidak percaya bahwa ia tidak mempunyai pilihan lain, selain menerima sesuatu yang berdasarkan tolok ukur kerangka berpikirnya.

Tahap 1: Perlihatkan kepada orang tidak percaya bahwa dia tidak dapat mendukung komitmen kepada kemandiriannya, yang dipakai sebagai dasar untuk semua argumentasinya melawan keilahian Kristus.

Tahap 2: Posisi yang dipilih orang tidak percaya akan membawa dia pada posisi tanpa pengharapan akan kebenaran.

Posisi yang mengklaim Kepastian yang mutlak

"Adalah tidak mungkin bagi Yesus untuk menjadi Allah dan manusia dalam waktu yang bersamaan."

1) Orang percaya harus memperlihatkan kepada orang tidak percaya bahwa sanggahan mereka tidak dapat diterima. Oleh karena orang tidak percaya tidak memiliki pengetahuan yang cukup mengenai semesta alam dan Allah, untuk dapat membuat suatu pernyataan yang pasti seperti itu.

2) Siapakah orang ini, yang belum melihat Yesus dan tidak dapat melihat Yesus, tetapi hendak menguji klaim Yesus akan keilahian-Nya? Apakah manusia biasa memutuskan apa yang mungkin dan apa yang tidak mungkin untuk Allah?

3) Apabila Allah adalah Pencipta dari segala sesuatu tentu saja sangatlah mungkin bagi Dia untuk menjadi manusia apabila Dia menghendaki untuk melakukan hal itu.

"Yesus hanyalah manusia yang baik."

1) Orang percaya dapat memperlihatkan kelemahan dari posisi ini dengan menantang keahlian orang tidak percaya dalam bidang ini. Dia tentunya tidak dapat mendukung kedudukannya dengan bukti sejarah, kecuali dengan bukti sejarah yang telah sangat disalahmengertikan.

2) Orang tidak percaya harus menyadari bahwa ia tidak dapat mengumpulkan cukup bukti yang relevan untuk berpegang teguh kepada kedudukannya.

"Keberadaan Yesus sebagai Anak Allah sama halnya dengan keberadaan semua manusia sebagai anak-anak Allah."

1) Orang tidak percaya belum mengalami dan tidak dapat memiliki cukup pengalaman untuk mengetahui dengan pasti bahwa sebagian dari keberadaan manusia itu diciptakan dan sebagian bersifat ilahi. Ada banyak bukti yang berlawanan dengan hal itu.

2) Orang tidak percaya khususnya yang tidak mampu untuk mengokohkan ide bahwa keberadaan Yesus sebagai Anak Allah sama dengan keberadaan manusia yang lain. Dia tidak pernah mengklaim secara demikian. Firman Allah dengan jelas menyatakan perbedaan dari Yesus dengan manusia lainnya dengan menyebutkan bahwa Yesus adalah Anak Tunggal Allah. Tidak ada dukungan untuk mendukung ketidakpercayaan dalam hal ini.

Pandangan yang mengklaim ketidakpastian yang mutlak

"Kita tidak dapat mengetahui apakah benar Yesus mengklaim diri-Nya sebagai Allah, demikian juga halnya kita tidak dapat mengetahui apakah Dia adalah Allah."

1) Harus diperlihatkan bahwa pandangan ini telah dengan berani mempertanyakan keabsahan dari Firman Tuhan dan bukti-bukti sejarah.

2) Orang tidak percaya harus menyadari bahwa ia tidak dapat menunjukkan bukti-bukti yang cukup berkenaan dengan hal ini, untuk mendukung posisinya.

Tahap 3: Harus diperlihatkan kepada orang tidak percaya bahwa kesia-siaan akan pandangan mereka terletak pada komitmen mereka akan kemandirian. Dia harus meninggalkan kesetiaannya kepada kemandirian dan berpaling kepada iman di dalam Kristus.


Menaklukkan Segala Pikiran kepada Kristus -- Pelajaran 11 Pembelaan Iman (1) [Indeks 00000]

PELAJARAN 11 PEMBELAAN IMAN (1) [Daftar Isi 00004]
00059 A. Sanggahan-sanggahan Berkenaan dengan Allah
00059 1. Keberadaan Allah
00060 2. Problema dari Kejahatan
00061 B. Sanggahan-sanggahan Berkenaan dengan Ajaran Mengenai Kristus
00061 1. Ke-Tuhanan Kristus
00062 2. Kebangkitan Kristus

2. Kebangkitan Kristus

Pada tahun-tahun permulaan dari Injil inti pemikiran dalam banyak kasus adalah pengajaran bahwa Kristus telah dibangkitkan dari kematian. Kebangkitan merupakan hal penting dan sangat vital bagi iman Kristen, oleh karena tanpa hal itu maka tidak akan ada transisi dari kematian kepada kehidupan bagi semua orang. Sebagai akibatnya, kebangkitan merupakan kepercayaan di mana kita harus siap untuk mempertahankannya.

a. Argumentasi berdasarkan kebenaran

Tahap 1: Orang Kristen harus mengakui bahwa kepercayaannya pada kebangkitan Kristus merupakan aspek dasar dari komitmen agamawinya.

Tahap 2: Ada banyak dukungan akan fakta bahwa Yesus telah dibangkitkan.

Bukti dari Firman Allah

1) Kelima kitab Injil mencatat tentang kebangkitan sebagai deklarasi bahwa Kristus adalah Raja dan Juruselamat.

2) Paul mencatat kesaksian-kesaksian saksi mata dari kebangkitan Kristus dan menyatakan hal itu sebagai pilar dari kepercayaan kristiani (1Ko 15:1-24).

3) Yesus telah menubuatkannya (Mat 16:21)

4) Perjanjian Lama telah menubuatkan tentang kebangkitan (Kis 2:25-36; Yes 53:10-12; Maz 16:10).

Bukti dari Dunia Luar

5) Perubahan dari ketakutan dan keraguan menjadi semangat yang berapi-api di antara para rasul hanya dapat disebabkan oleh kebangkitan Tuhan Yesus.

6) Kesaksian dari para saksi mata sebagai data sejarah memberikan bukti yang sangat besar bagi kebangkitan.

Bukti dari Pengalaman Pribadi

7) Di dunia banyak orang yang mengetahui bahwa Yesus telah dibangkitkan, sebab mereka mengetahui kehadiran-Nya dalam hidup mereka.

Tahap 3: Orang Kristen harus mendemonstrasikan bahwa alasan dari argumentasi ini tidak meyakinkan orang tidak percaya adalah disebabkan oleh komitmen mereka kepada kemandirian.

b. Argumentasi Berdasarkan Kebodohan

Tahap 1: Harus diperlihatkan kepada orang tidak percaya bahwa komitmen mereka kepada kemandirian tidak dapat dibenarkan. Sebab tidak ada dasar yang kuat untuk itu.

Tahap 2: Sanggahan-sanggahan tertentu yang diajukan oleh orang tidak percaya adalah sia-sia dan menghancurkan dirinya sendiri.

Posisi-posisi yang mengklaim kepastian yang mutlak

"Yesus tidak mati di atas kayu salib; dan Dia tidak pernah dibangkitkan."

1) Orang tidak percaya tidak dapat memberikan bukti yang cukup untuk mendukung sanggahannya ini.

2) Catatan Alkitab menjelaskan berulang-ulang bahwa Yesus telah mati (Mar 15:44-45).

3) Orang tidak percaya tidak dapat memperoleh dukungan untuk sanggahannya itu.

"Kebangkitan Yesus hanyalah merupakan suatu mitos yang diciptakan oleh murid-murid-Nya."

1) Orang tidak percaya tidak dapat mendukung pandangannya dengan bukti- bukti yang lengkap/cukup.

2) Pandangan mereka hanya merupakan hasil spekulasi.

"Adalah tidak mungkin bagi orang mati untuk bangkit kembali."

1) Orang percaya dapat menunjukkan banyak hal di dalam dunia yang menunjukkan tidak adanya penjelasan ilmiah yang lengkap/cukup.

2) Metode ilmiah yang dipakai sebagai dasar dari sanggahan orang tidak percaya, tidak dapat dipakai sebagai dasar kebenaran.

3) Apabila Allah memang ada mengapa tidak mungkin bagi Dia untuk membangkitkan seseorang dari kematian?

4) Orang tidak percaya tidak memiliki pengalaman yang cukup untuk menyimpulkan bahwa kematian Yesus sangatlah tidak mungkin.

Posisi mengklaim ketidakpastian yang mutlak

"Ada alasan untuk meragukan tentang kebangkitan, walaupun kita tidak dapat memastikan: keraguan ini."

1) Orang Kristen harus memperlihatkan kepada orang tidak percaya bahwa pandangan mereka bertentangan dengan kekristenan, sebab mempertanyakan kebangkitan, walaupun hanya sedetik, berarti mereka telah menolak Kristus.

2) Orang tidak percaya tidak memiliki pengalaman yang cukup untuk dapat memastikan bahwa pengalaman mereka dapat dipakai sebagai dasar untuk meragukan kebangkitan Kristus.

3) Tidak ada alasan untuk meragukan kebangkitan.

Tahap 3: Orang tidak percaya tidak dapat menyanggah kepastian kebangkitan Kristus tanpa menyangkali kenyataan bahwa dirinya sangat membutuhkan keselamatan.

Pertanyaan-pertanyaan Sebagai Bahan Evaluasi:

  1. Apakah tiga tahap dasar dalam argumentasi berdasarkan kebenaran? Dan argumentasi berdasarkan kebodohan?
  2. Bagaimana kita dapat berargumentasi dengan kebenaran dalam hal:
    1. Keberadaan Allah.
    2. Kebaikan Allah.
    3. Ke-Tuhanan Kristus.
    4. Kebangkitan Kristus.
  3. Bagaimana kita dapat berargumentasi berdasarkan kebodohan dalam menanggapi sanggahan-sanggahan berikut ini:
    1. "Kita tidak dapat yakin bahwa Allah itu ada."
    2. "Tidak ada Allah."
    3. "Terlalu banyak kejahatan di dalam dunia untuk menunjukkan bahwa Allah itu ada."
    4. "Apakah tidak mungkin bagi Yesus untuk menjadi Allah dan juga manusia."
    5. "Orang mati tidak dapat hidup kembali."


Menaklukkan Segala Pikiran kepada Kristus -- Pelajaran 12 Pembelaan Iman (2) [Indeks 00000]

PELAJARAN 12 PEMBELAAN IMAN (2) [Daftar Isi 00004]
00063 A. Sanggahan Terhadap Otoritas Alkitab
00064 1. Otoritas dari Alkitab
00065 2. Buku-buku Agama Lain
00066 B. Sanggahan Berkenaan dengan Manusia
00066 1. Manusia dan Dosa
00067 2. Tanggung Jawab Manusia

Sanggahan-sanggahan yang diajukan untuk melawan kekristenan memang sangat banyak sekali, sehingga tidak mungkin dibahas satu persatu di dalam buku ini. Oleh karena itu dalam pelajaran ini kita akan membahas sanggahan-sanggahan yang paling sering diajukan oleh orang-orang tidak percaya.

A. Sanggahan Terhadap Otoritas Alkitab

Otoritas Alkitab biasanya merupakan hal yang sering dipermasalahkan oleh orang tidak percaya, dalam percakapan mengenai penginjilan dan apologetika. Pada saat orang Kristen mengemukakan argumentasi berdasarkan kebenaran, orang tidak percaya dapat melihat dengan jelas, bahwa jawaban-jawaban yang diberikan mengenai kehidupan ini diambil dari Alkitab. Oleh karena orang Kristen tidak mempertanyakan keabsahan dari Alkitab. Dan dia mengakui Alkitab sebagai Firman Allah sendiri.


Menaklukkan Segala Pikiran kepada Kristus -- Pelajaran 12 Pembelaan Iman (2) [Indeks 00000]

PELAJARAN 12 PEMBELAAN IMAN (2) [Daftar Isi 00004]
00063 A. Sanggahan Terhadap Otoritas Alkitab
00064 1. Otoritas dari Alkitab
00065 2. Buku-buku Agama Lain
00066 B. Sanggahan Berkenaan dengan Manusia
00066 1. Manusia dan Dosa
00067 2. Tanggung Jawab Manusia

1. Otoritas dari Alkitab

Walaupun dalam beberapa kasus orang tidak percaya mungkin dapat memberikan pernyataan yang seakan-akan menyetujui pandangan kristiani mengenai otoritas Alkitab, tetapi sering kali pembela iman ditanya: "Mengapa kamu menerima Alkitab sebagai Firman Tuhan, dan mengapa saya harus menerimanya?" Orang Kristen harus bersiap sedia untuk menjawab pertanyaan ini.

a. Argumentasi berdasarkan kebenaran

Tahap 1: Orang Kristen harus mengakui bahwa kepercayaannya akan Alkitab sebagai Firman Allah adalah berdasarkan atas komitmennya kepada Kristus.

Tahap 2: Bukti kristiani untuk percaya akan Alkitab sebagai Firman Allah harus diberikan.

Bukti-bukti dari Firman Tuhan

1) Alkitab diinspirasikan oleh Allah sedemikian rupa sehingga memiliki otoritas dalam segala hal yang dinyatakannya (2Ti 3:14-17).

2) Keharusan untuk percaya pada Firman Allah yang tertulis ini juga dijelaskan (1Ko 14:37; Yoh 5:47; Luk 16:31, 1Yo 4:6).

3) Allah telah menjanjikan untuk memelihara Firman-Nya untuk umat-Nya dalam segala generasi (Mat 5:17; Yoh 10:31; Yes 59:21; Maz 111:7, 8).

4) Penulis Perjanjian Baru selalu menunjuk kepada Perjanjian Lama sebagai petunjuk yang tidak bersalah dan berotoritas.

5) Perjanjian Baru mengklaim otoritas yang sama akan dirinya sendiri sebagaimana dinyatakan dalam Perjanjian Lama (1Ti 5:18; 2Pe 3:16).

6) Sebagai orang Kristen kita menerima Alkitab sebagai Firman Allah yang tidak dapat dihakimi oleh standar apapun juga. Firman Allah berbicara untuk dirinya sendiri, dan tidak perlu diperiksa kebenarannya oleh yang lain selain oleh Allah Bapa, Allah Anak dan Roh Kudus.

7) Ditinjau dari sudut pandang kristiani setiap kesulitan yang tampak dari pengajaran Alkitab, disebabkan oleh kesalahmengertian manusia akan dunia, Alkitab, atau keduanya. Jadi masalahnya bukan terletak pada Alkitab itu sendiri.

8) Kita dapat meyakini bahwa Roh Kudus mengajar kita pada saat kita berusaha dengan sungguh-sungguh untuk mengerti Alkitab. Walaupun kita mungkin tidak jelas dalam beberapa hal tertentu, namun banyak bagian lain di Alkitab yang telah dibuat sejelas mungkin oleh Roh Allah bagi kita.

Bukti-bukti dari dunia luar

9) Sepanjang sejarah Alkitab telah memainkan peranannya dalam perkembangan masyarakat di dunia Barat.

10) Teks Perjanjian Lama dan Baru telah dipelihara sepanjang sejarah dengan ketepatan yang luar biasa.

11) Tidak pernah dibuktikan bahwa ada kontradiksi di antara apa yang dinyatakan oleh Alkitab dengan realitas yang didapati di dunia. Bahkan berulang kali Alkitab ditegaskan kebenarannya oleh penemuan ilmiah.

Bukti berdasarkan pengalaman pribadi

12) Orang Kristen menerima Alkitab sebagai Firman Allah berdasarkan kesaksian Roh Kudus di dalam hati mereka, yang mengklaim bahwa yang dinyatakan oleh Alkitab adalah benar.

13) Setelah kita percaya kepada Kristus melalui pemberitaan Injil, maka kita mulai mendengar suara Allah melalui Alkitab dan menaatinya. Dalam pertumbuhan iman kita, kesaksian dari Roh Kudus diteguhkan terus menerus di dalam hati kita.

14) Kita mengetahui kesaksian Roh Kudus dengan menerima Kristus yang telah diutus oleh Allah Bapa, dan kita mengenal Allah Bapa, Kristus, dan Roh Kudus melalui kesaksian dari Alkitab. Kesemuanya ini bersaksi akan satu sama lain.

Tahap 3: Orang tidak percaya harus disadarkan bahwa ia tidak dapat menerima argumentasi ini oleh karena komitmen mereka kepada kemandirian.

b. Argumentasi Berdasarkan Kebodohan

Tahap 1: Harus diperlihatkan kepada orang tidak percaya bahwa penolakan mereka akan otoritas Firman Tuhan terletak pada asumsi otoritas mereka sendiri yang tidak dapat dibenarkan.

Tahap 2: Kita juga dapat memperlihatkan bahwa cara-cara yang dipakai oleh orang tidak percaya untuk menyangkal otoritas Firman Tuhan, adalah saling menghancurkan.

Posisi-posisi yang mengklaim kepastian yang mutlak

"Alkitab berkontradiksi dengan dirinya sendiri."

1) Orang tidak percaya belum memeriksa Alkitab dan sumber material yang lain dengan cukup sehingga ia dapat mengetahui bahwa dia tidak salah mengerti akan bagian Alkitab yang ia pikir berlawanan. Sebenarnya bagian- bagian yang dianggap berlawanan di Alkitab oleh orang tidak percaya, seringkali melalui sedikit penelitian, maka dapat dilihat bahwa itu semua sebenarnya harmonis.

2) Orang tidak percaya tidak dapat memeriksa Alkitab dan sumber material yang lain dengan cukup untuk mengetahui bahwa ia telah menemukan semua kemungkinan untuk menjelaskan apa yang ia sebutkan kontradiksi.

3) Sebelum ia mendapatkan kepastian yang mutlak bahwa ada kontradiksi- kontradiksi dalam Alkitab dia tidak dapat menolak otoritas dari Alkitab.

"Alkitab bertolak belakang dengan sejarah."

1) Tidak ada orang tidak percaya yang telah menyelidiki arkeologi alkitabiah dan sejarah dengan tuntas, untuk dapat mengetahui dengan pasti bahwa ia tidak salah mengerti akan riset dari sejarah atau Alkitab. Ada banyak contoh di mana riset terdahulu, yang menunjukkan adanya ketidakharmonisan di antara Alkitab dengan kenyataan sejarah, sekarang ditemukan ternyata merupakan suatu kesalahan dari riset sejarah.

2) Adalah tidak mungkin bagi para ahli sejarah untuk mengetahui dengan pasti bahwa pengertian mereka akan penemuan arkeologi adalah tepat. Oleh karena mereka belum mengeksplorasi semua kemungkinan penjelasan atau penafsiran dari penemuannya.

3) Oleh karena kepastian dari hal-hal ini tidak mungkin diketemukan, maka tidak mungkin bagi orang tidak percaya untuk menolak Alkitab dengan kepastian.

"Alkitab bukan Firman Allah oleh karena ditulis oleh manusia."

1) Orang tidak percaya belum dan tidak dapat menyatakan dengan pasti bahwa unsur kemanusiaan dari Alkitab, berarti Alkitab penuh dengan kesalahan. Dia tidak dapat dengan begitu saja mengabaikan pemeliharaan Allah dalam inspirasi Alkitab yang diklaim atau diyakini oleh orang Kristen dengan suatu kepastian.

2) Tidak ada cara bagi orang tidak percaya untuk membuktikan bahwa dia dapat menolak otoritas dari Firman Tuhan oleh karena Alkitab ditulis oleh manusia.

"Alkitab merupakan suatu mitos dan sama sekali tidak ilmiah."

1) Orang tidak percaya belum dan tidak dapat menyelidiki realitas mujizat dengan tuntas, untuk mengetahui bahwa semua itu tidak mungkin. Sebab kalau ia dapat mengetahui segala sesuatu maka ia dapat menemukan mujizat itu benar-benar terjadi sesuai dengan apa yang dicatat di dalam Alkitab.

2) Untuk menyangkali realitas dari mujizat-mujizat dibutuhkan penganalisaan yang lengkap dari setiap klaim dari mujizat, dan penjelasan lengkap dari setiap peristiwa lain yang tidak pernah terjadi di alam semesta ini. Kedua tuntutan ini tidak mungkin dipenuhi oleh orang tidak percaya, oleh karena itu penolakan yang pasti akan Alkitab dalam mujizat, tidak mungkin dilakukan.

Posisi yang mengklaim ketidakpastian yang mutlak

"Alkitab terlalu membingungkan dan tidakjelas."

1) Harus diperlihatkan kepada orang tidak percaya, bahwa mereka belum mempelajari masalah penafsiran Alkitab dengan cukup menyeluruh. Setiap karya tulis dapat ditafsirkan dengan beberapa macam cara. Namun hal itu tidak merubah kenyataan bahwa karya tulis itu memiliki satu pesan yang pasti. Misalnya, dapat dikatakan bahwa domba Maria dari sajak populer yang biasa ditemui di kamar penitipan anak (di Amerika) sebenarnya tidak "kecil". Mungkin sebenarnya Maria sendiri yang sangat besar. Sebuah puisi terbuka untuk penafsiran semacam itu, tetapi penafsiran itu dapat secara nyata berlawanan dengan arti sebenarnya dari puisi itu. Hal yang sama dapat diterapkan dalam banyak penafsiran dari Alkitab.

2) Orang tidak percaya tidak dapat mengatakan dengan pasti akan ketidakmungkinan pengertian yang benar dari Alkitab, sebelum dirinya menyelidiki setiap penafsiran yang pernah ditawarkan. Sehingga sebenarnya adalah mungkin bagi Roh Kudus untuk menyatakan kebenaran dari Alkitab sebagaimana yang diyakini oleh orang Kristen. Orang tidak percaya tidak dapat membuktikan bahwa keyakinan ini tidak benar.

"Alkitab yang asli telah hilang dalam perjalanan sejarah."

1) Harus diperlihatkan kepada orang tidak percaya bahwa mereka belum menyelidiki semua bukti manuskrip yang ada sekarang ini. Orang tidak percaya tidak mampu untuk tidak mempercayai ilmu kritik teks. Oleh karena itu dia tidak dapat menolak otoritas Alkitab berdasarkan asumsi bahwa teks itu telah hilang. Ada banyak bukti yang melawan hal itu.

2) Orang tidak percaya tidak mampu untuk mempunyai kepastian berkenaan dengan teks dari Alkitab, sehingga ia berhak untuk menolak janji Allah akan pemeliharaan Alkitab.


Menaklukkan Segala Pikiran kepada Kristus -- Pelajaran 12 Pembelaan Iman (2) [Indeks 00000]

PELAJARAN 12 PEMBELAAN IMAN (2) [Daftar Isi 00004]
00063 A. Sanggahan Terhadap Otoritas Alkitab
00064 1. Otoritas dari Alkitab
00065 2. Buku-buku Agama Lain
00066 B. Sanggahan Berkenaan dengan Manusia
00066 1. Manusia dan Dosa
00067 2. Tanggung Jawab Manusia

2. Buku-buku Agama Lain

Sering kali orang tidak percaya berargumentasi melawan ide bahwa Alkitab adalah Firman Allah dengan menunjuk kepada kitab-kitab suci yang lain yang juga diyakini sebagai Firman Allah. Orang Kristen sering kali dituduh sebagai orang yang percaya berdasarkan pemilihan dan bukan berdasarkan pemikiran atau sangat tidak adil dalam pemilihannya dari Alkitab oleh karena semua buku itu memiliki otoritas ilahi. Dengan kata lain orang lain mempertanyakan "Mengapa kamu tidak menerima semua buku-buku agama lain yang mengklaim juga sebagai yang diinspirasikan oleh Allah?"

a. Argumentasi berdasarkan kebenaran

Tahap 1: Orang Kristen harus mengakui bahwa jawaban untuk pertanyaan ini mau tidak mau akan berdasarkan komitmennya kepada Kristus.

Tahap 2: Ada beberapa jalur argumentasi untuk pandangan kristiani akan keunikan dari Alkitab.

Bukti dari Alkitab

1) Alkitab mengatakan kepada kita untuk berhati-hati atau waspada terhadap nabi-nabi palsu yang mengklaim berasal dari Allah (Mat 24:24). Alkitab bahkan menyuruh kita untuk berwaspada terhadap pemalsuan Alkitab (2Te 3:17). Orang Kristen harus berdedikasi untuk mengevaluasi semua itu dengan Alkitab sebagai patokannya.

Bukti dari dunia luar

2) Kekristenan adalah agama yang berakar dalam keyahudian dan dalam Yesus dari Nazaret. Sebagai orang Yahudi, Yesus menerima Perjanjian Lama sebagai Firman Allah. Sebagai Juruselamat dari masa yang baru Dia mengutus rasul- rasul-Nya untuk mengatur penulisan Perjanjian Baru. Sama halnya dengan keunikan Tuhan Yesus sebagai Allah, demikian pula halnya dengan keunikan Alkitab sebagai Firman Allah.

Bukti dari pengalaman pribadi

3) Orang Kristen tidak memilih Perjanjian Lama dan Baru sebagai Firman secara mandiri. Dia telah diyakinkan oleh Allah sendiri untuk mempercayai Alkitab, sebagaimana orang tidak percaya akan yakin apabila ia bersedia percaya kepada Kristus.

Tahap 3: Harus diperlihatkan kepada orang tidak percaya bahwa argumentasi-argumentasi berdasarkan kebenaran ini tidaklah akan mendorong mereka untuk percaya, oleh karena komitmen mereka akan kemandirian terlepas dari Allah.

b. Argumentasi Berdasarkan Kebodohan

Tahap 1: Harus diperlihatkan kepada orang percaya bahwa sanggahan mereka berdasarkan komitmen yang tidak berdasar, dan oleh karena itu tidak berbobot.

Tahap 2: Seringkali ada gunanya untuk menantang pandangan yang tertentu dari orang tidak percaya dengan menunjuk kepada masalah ini.

Posisi yang mengklaim kepastian yang mutlak

"Tidak ada kitab agamawi yang memiliki otoritas."

1) Perlihatkan kepada orang tidak percaya bahwa ia belum menyelidiki secara tuntas faktor-faktor untuk dapat membahas masalah ini. Dia bukan ahli dari setiap agama di dunia. Dia tidak dapat mengetahui segala sesuatu yang perlu diketahui baik berkenaan dengan Alkitab maupun berkenaan dengan kitab-kitab suci lainnya yang mengklaim berotoritas.

2) Oleh karena orang tidak percaya sangatlah terbatas maka dia tidak dapat menolak keunikan dari Alkitab.

"Hanya kitab suci saya yang memiliki otoritas."

1) Orang tidak percaya mungkin merupakan anggota dari banyak ajaran-ajaran yang memiliki kitab suci sendiri. Apapun kasusnya, orang tidak percaya pada dasarnya belum dan tidak dapat menyelidiki semua agama di dunia.

2) Dengan alasan ini, maka orang tidak percaya yang mendasarkan imannya pada kemandirian dari Allah yang benar tidak dapat memastikan akan otoritas kitab suci mereka.

Posisi yang mengklaim ketidakpastian yang mutlak

"Saya tidak percaya kita harus mengatakan bahwa kitab suci yang satu lebih baik daripada kitab suci yang lain."

1) Orang tidak percaya yang seperti ini biasanya berusaha untuk netral dalam hubungan dengan orang yang beragama lain. Namun demikian orang Kristen harus memperlihatkan kepada mereka bahwa mereka tidak memiliki dasar yang kuat untuk pandangan mereka. Mereka belum mengalami segala sesuatu yang dibutuhkan untuk memperlihatkan bahwa satu buku tidak lebih baik dari buku yang lainnya.

2) Orang tidak percaya tidak dapat menolak keunikan dari wahyu Alkitab dengan cara ini oleh karena mereka tidak dapat mendukung pendapat mereka sendiri.

Tahap 3: Orang Kristen harus mendemonstrasikan kepada orang tidak percaya bahwa posisinya adalah sia-sia oleh karena komitmen mereka kepada kemandirian. Satu-satunya cara untuk melepaskan diri dari penghakiman Allah adalah dengan pertobatan dan beriman kepada Kristus.

Kita belum meliput semua kemungkinan sanggahan yang ditimbulkan oleh ketidakpercayaan melawan Alkitab. Namun, kasus atau masalah yang paling penting telah kita bicarakan, dan seorang pembela iman harus dapat mempertahankan posisi kristiani dalam hal-hal ini.


Menaklukkan Segala Pikiran kepada Kristus -- Pelajaran 12 Pembelaan Iman (2) [Indeks 00000]

PELAJARAN 12 PEMBELAAN IMAN (2) [Daftar Isi 00004]
00063 A. Sanggahan Terhadap Otoritas Alkitab
00064 1. Otoritas dari Alkitab
00065 2. Buku-buku Agama Lain
00066 B. Sanggahan Berkenaan dengan Manusia
00066 1. Manusia dan Dosa
00067 2. Tanggung Jawab Manusia

B. Sanggahan Berkenaan dengan Manusia

Kategori lain di mana kita dapat menggabungkannya dengan sanggahan yang biasa dikemukakan oleh orang tidak percaya adalah pertanyaan-pertanyaan mengenai pandangan orang Kristen mengenai manusia. Kita akan membicarakan hal ini dengan tiga pertanyaan yang paling dasar.

1. Manusia dan Dosa

Doktrin kristiani mengenai dosa dan penghakiman sering kali menimbulkan sanggahan-sanggahan dari orang tidak percaya. Ada macam-macam pertanyaan yang dikemukakan tetapi pada dasarnya berbunyi demikian, "Mengapa saya harus percaya akan keberdosaan dari manusia?"

a. Argumentasi berdasarkan kebenaran

Tahap 1: Orang percaya harus mengakui bahwa pandangannya akan keberdosaan manusia adalah berdasarkan komitmennya kepada Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamat.

Tahap 2: Bukti kristiani untuk posisi ini sangatlah jelas.

Bukti dari Alkitab

1) Alkitab mengajarkan bahwa semua orang telah berdosa di dalam Adam (Rom 5; 12 dan seterusnya).

2) Semua manusia telah juga berdosa secara pribadi dengan melanggar hukum Allah (Rom 3:23).

3) Bahkan mereka yang tidak pernah mendengar Injil kristiani telah berdosa, oleh karena itu mereka berada di bawah penghakiman Allah (Rom 1:18 dan seterusnya).

Bukti dari dunia luar

4) Apabila kita mempertimbangkan sejarah dari umat manusia, tidaklah sukar untuk melihat akibat-akibat dari dosa. Sejarah ditandai dengan peperangan, pembunuhan-pembunuhan, kejahatan dan kebencian. Walaupun manusia tidaklah sejahat-jahatnya dan yang satu lebih baik dari yang lainnya, namun semua manusia pada dasarnya melawan dan memberontak kepada Allah.

Bukti dari pengalaman pribadi

5) Setiap orang Kristen mengetahui dari pengalaman pertobatannya bahwa manusia memang berdosa.

Tahap 3: Orang tidak percaya harus diberitahukan bahwa bukti-bukti ini tidak cukup berbobot untuk dia oleh karena komitmennya kepada kemandirian.

b. Argumentasi Berdasarkan Kebodohan

Tahap 1: Komitmen pada kemandirian harus diperlihatkan sebagai yang tidak berdasar.

Tahap 2: Sanggahan yang khusus yang dipakai oleh orang tidak percaya merupakan usaha yang sia-sia untuk menyangkal kebenaran.

Posisi-posisi yang mengklaim kepastian yang mutlak

"Saya pikir semua manusia adalah baik dalam hatinya."

1) Harus diperlihatkan kepada orang tidak percaya bahwa dia belum berhubungan dengan semua bukti mengenai karakter manusia. Ada banyak contoh dari manusia yang jahat.

2) Perlihatkan kepada orang tidak percaya bahwa dia tidak dapat mengetahui hati manusia dengan cukup baik untuk memastikan bahwa mereka pada dasarnya baik.

3) Orang tidak percaya tidak dapat menolak pandangan kristiani dalam hal ini, oleh karena mereka tidak dapat pasti mengenai pandangan mereka sendiri.

"Sebagian orang ada yang baik dan ada yang jahat."

1) Orang Kristen harus memperlihatkan kepada orang tidak percaya bahwa pandangannya tidak dapat didukung, oleh karena dia tidak dapat mengetahui alam semesta dengan tuntas, untuk memutuskan secara mandiri antara orang baik dan orang jahat.

2) Untuk dapat membuat klaim yang semacam itu, orang tidak percaya harus berasumsi pada kepastian yang mutlak, sedangkan hal itu tidak dapat ia lakukan oleh karena penolakannya untuk menyerahkan diri kepada Allah.

Posisi yang mengklaim ketidakpastian yang mutlak

"Merupakan kesombongan yang sangat tinggi untuk menyatakan orang lain adalah jahat."

1) Orang Kristen harus memperlihatkan kepada orang tidak percaya bahwa pandangannya tidaklah netral dan berpihak. Dia telah membuat pernyataan yang sangat pasti dan tidak dapat digoyahkan.

2) Orang tidak percaya tidak dapat mengatakan dengan kepastian bahwa kita tidak boleh menghakimi karakter dari manusia. Dia tidak dapat mengumpulkan cukup bukti untuk mendukung pandangannya.

Tahap 3: Orang tidak percaya harus ditantang untuk meninggalkan komitmennya dan berpaling kepada Kristus.


Menaklukkan Segala Pikiran kepada Kristus -- Pelajaran 12 Pembelaan Iman (2) [Indeks 00000]

PELAJARAN 12 PEMBELAAN IMAN (2) [Daftar Isi 00004]
00063 A. Sanggahan Terhadap Otoritas Alkitab
00064 1. Otoritas dari Alkitab
00065 2. Buku-buku Agama Lain
00066 B. Sanggahan Berkenaan dengan Manusia
00066 1. Manusia dan Dosa
00067 2. Tanggung Jawab Manusia

2. Tanggung Jawab Manusia

Hal lain yang sering kali dikemukakan oleh orang tidak percaya adalah berkenaan dengan hubungan antara kedaulatan Allah dengan tanggung-jawab manusia. Orang tidak percaya dapat mengatakan: "Apabila Allah berkuasa dalam segala sesuatu maka kejahatan di dalam dunia merupakan kesalahan-Nya, bukan manusia."

a. Argumentasi berdasarkan kebenaran

Tahap 1: Posisi kristiani berakar dari komitmennya kepada Kristus.

Tahap 2: Jawaban alkitabiah akan masalah ini adalah sederhana dan langsung pada sasaran walaupun sering kali disalahmengertikan.

Bukti dari Alkitab

1) Allah berkuasa atas segala sesuatu, dan Ia bekerja sesuai dengan rencana dan kemuliaan-Nya (Rom 11:36; Efe 1:11).

2) Sebagai Pencipta dari segala sesuatu Allah adalah Hakim yang benar dan adil bagi manusia.

3) Pada saat yang sama manusia telah berdosa dan melanggar hukum Allah, dan Allah mengumumkan penghukuman bagi pelanggar hukum (Rom 2:12).

4) Keadilan Allah dan hikmat-Nya dalam hal ini tidak berhak dipertanyakan oleh ciptaan-Nya (Rom 9:19-21).

5) Penguasaan Allah atas segala sesuatu tidaklah berlawanan dengan tanggung jawab manusia. Namun merupakan dasar tanggung jawab manusia, apabila Allah tidak berkuasa maka Ia tidak berhak untuk meminta pertanggungjawaban atas manusia. Manusia bertanggung jawab kepada Allah oleh karena Allah berdaulat, dia harus taat kepada Allah oleh karena Allah berkuasa atas segala sesuatu. Lebih daripada itu, manusia memiliki arti oleh karena Allah telah menetapkan keberartian bagi manusia berdasarkan kedaulatan-Nya. Tanpa kedaulatan Allah manusia tidak akan memiliki tanggung jawab (lihat Fili 2:12, 13).

Bukti dari dunia luar

6) Kedaulatan Allah diperlihatkan dalam sejarah dengan jelas, pada saat Ia menguasai dan bekerja dalam segala sesuatu sampai pada penyelesaiannya dalam Kristus. Namun terlihat dengan jelas pula peranan manusia baik dalam bagian kecil dalam sejarah maupun dalam bagian yang besar dari sejarah.

Bukti dari pengalaman pribadi

7) Orang percaya mengetahui bahwa realitas tanggung jawabnya berdasar pada kedaulatan Allah. Hubungannya dengan Allah adalah kesatuan dari ketaatan kepada keilahian dan keharmonisan dengan kehendak-Nya. Tanpa kedaulatan dan tanggung jawab, maka pandangan yang seperti itu tidaklah mungkin.

Tahap 3: Nyatakan bahwa orang tidak percaya tidak menerima pandangan ini oleh karena komitmen mereka kepada kemandirian.

b. Argumentasi Berdasarkan Kebodohan

Tahap 1: Komitmen orang tidak percaya kepada kemandirian tidak dapat didukung.

Tahap 2: Posisi yang diambil orang tidak percaya dapat digagalkan oleh dasar yang mereka pakai.

Posisi yang mengklaim kepastian yang mutlak

"Allah tidaklah adil apabila Ia menyatakan kita bersalah."

1) Orang Kristen harus memperlihatkan kepada orang tidak percaya bahwa ia belum menyelidiki setiap penjelasan mengenai penghakiman Allah dan keadilan-Nya. Pada kenyataannya ada penjelasan tetapi tidak ditemukan oleh orang tidak percaya. Oleh karena itu ia tidak dapat pasti akan pandangannya.

2) Orang tidak percaya tidak berada dalam posisi untuk dapat menghakimi keadilan dan penghakiman Allah. Dia tidak dapat pasti akan hal-hal dalam dunia, demikian juga akan hal-hal berkenaan dengan Allah.

"Allah yang Maha Kasih tidak akan menyatakan manusia bersalah."

1) Orang tidak percaya tidak dapat mengetahui bahwa kasih Allah berlawanan dengan tuntutan Allah akan tanggung jawab manusia.

Tahap 3: Orang tidak percaya harus ditantang untuk meninggalkan komitmen mereka kepada kemandirian.

Apapun kasus yang akan dikemukakan, orang tidak percaya sebenarnya tidak memiliki dasar di mana di atasnya mereka dapat membuat sanggahan yang sah kepada pandangan orang Kristen akan kedaulatan Allah dan tanggung jawab manusia.

Dalam pelajaran ini kita telah mengamati beberapa alur argumentasi yang bersangkut paut dengan pandangan kristiani mengenai Alkitab dan manusia. Hal-hal ini hanya merupakan contoh-contoh dari petunjuk-petunjuk yang mungkin dapat diambil. Apabila orang Kristen dapat mengingatkan struktur dasar tanggapan kristiani yang diberikan dalam bagian ini, maka sebenarnya tidaklah sukar untuk menangani sanggahan-sanggahan lain yang dikemukakan oleh orang tidak percaya.

Pertanyaan-pertanyaan Sebagai Bahan Evaluasi:

  1. Apakah tiga tahap dari argumentasi berdasarkan kebenaran? dan argumentasi berdasarkan kebodohan?
  2. Bagaimana saudara akan berargumentasi berdasarkan kebenaran berkenaan dengan hal-hal berikut ini:
    1. Alkitab sebagai Firman Allah.
    2. Keunikan dari Alkitab dibandingkan dengan kitab suci lain.
    3. Keberdosaan semua manusia.
    4. Kedaulatan Allah dan tanggung jawab manusia.
  3. Bagaimana saudara akan berargumentasi berdasarkan kebodohan melawan sanggahan ini:
    1. "Alkitab berlawanan dengan dirinya sendiri."
    2. "Alkitab berlawanan dengan sejarah."
    3. "Alkitab bukanlah Firman Allah oleh karena ditulis oleh manusia."
    4. "Alkitab terlalu bersifat mitos untuk dapat dikatakan sebagai Firman Allah."
    5. "Alkitab terlalu membingungkan untuk dapat dikatakan sebagai Firman Allah."
    6. "Alkitab telah hilang dalam proses penyalinan dan penerjemahan."
    7. "Ada banyak buku agamawi yang lain oleh karena itu Alkitab tidaklah unik."
    8. "Tidak ada buku agamawi yang memiliki otoritas ilahi."
    9. "Hanya kitab suci dari agama saya yang memiliki otoritas."
    10. "Kita harus mengatakan bahwa kitab suci yang satu tidaklah lebih baik dari yang lain."
    11. "Saya pikir semua orang pada dasarnya hatinya baik."
    12. "Ada orang yang baik dan ada yang jahat."
    13. "Saya pikir tidak seharusnya kita menjadi sombong dengan mengatakan bahwa orang lain adalah jahat."
    14. "Allah tidaklah adil apabila Ia menyatakan kita bersalah."
    15. "Allah yang Maha Kasih tidak akan mempersalahkan manusia."


Menaklukkan Segala Pikiran kepada Kristus -- Pelajaran 13 Pembelaan Iman (3) [Indeks 00000]

PELAJARAN 13 PEMBELAAN IMAN (3) [Daftar Isi 00004]
00068 A. Sanggahan-sanggahan yang Berkenaan dengan Dunia
00068 1. Asal Mula dari Dunia
00069 2. Akhir dari Dunia
00070 B. Sanggahan-sanggahan Mengenai Kebutuhan Iman
00071 1. Ketidakpastian Kristiani
00072 2. Kepastian Kekristenan

Dalam pelajaran yang lalu kita telah melihat bagaimana posisi kristiani melawan sanggahan yang biasa dikemukakan oleh orang tidak percaya. Hal-hal yang bersangkut paut dengan dunia dan kebutuhan akan iman jarang diabaikan oleh orang tidak percaya. Kita akan mendiskusikan setiap kasus ini dengan lebih terinci.

A. Sanggahan-sanggahan yang Berkenaan dengan Dunia

Kebanyakan orang memperhatikan mengenai masalah asal mula dan akhir dari dunia. Kekristenan memiliki pandangan yang sangat pasti dalam hal ini, yang harus dipertahankan sepenuhnya. Dalam hal ini pada umumnya orang tidak percaya tidak mengetahui banyak mengenai hal dunia yang ditinjau dari sudut pandang mereka, dan mereka tidak siap untuk menerima pandangan kristiani.

1. Asal Mula dari Dunia

Doktrin alkitabiah dari penciptaan merupakan pusat yang penting dalam iman kristiani. Namun, sejak jaman Charles Darwin berbagai bentuk dari teori evolusi telah menjadi pengajaran-pengajaran dari sebagian besar pemikiran ilmiah. Sebagai akibatnya, sekarang sering kali titik konflik antara orang Kristen dan orang tidak percaya adalah pertanyaan mengenai ciptaan dan evolusi. Sanggahan yang biasa diajukan oleh orang tidak percaya pada dasarnya adalah: "Mengapa saya harus percaya kepada Kristus apabila teori evolusi telah dibuktikan benar?"

a. Argumentasi berdasarkan kebenaran

Tahap 1: Orang Kristen harus mengakui bahwa pandangannya dalam menjawab pertanyaan penciptaan adalah berdasarkan komitmennya kepada Kristus.

Tahap 2: Posisi orang Kristen akan penciptaan secara radikal melawan semua teori evolusi yang terkenal sekarang ini. Adalah sangat sukar untuk menanggapi semua hal yang berhubungan dengan hal ini, tetapi ada beberapa hal tertentu yang harus dipegang tanpa keraguan oleh orang Kristen ataupun kompromi. Oleh karena hal ini kita harus menyajikan bukti-bukti kristiani.

Bukti dari Alkitab

1) Allah menciptakan dunia. Alam semesta tidak terjadi secara kebetulan (Kej 1:1).

2) Pengaturan dari dunia direncanakan dan dikuasai oleh Allah (Kej 1:2 dan seterusnya). Apapun proses yang telah terjadi tidaklah terjadi tanpa suatu rencana; semuanya berada di bawah kontrol Allah.

3) Ada pemisahan yang pasti antara manusia, sebagai gambar Allah dengan binatang, baik dalam hal asal mula (Kej 1:24, 25, 2:7) dan dalam hubungan mereka satu dengan yang lain (Kej 1:26-30; 2:20-23). Tidak ada kesamaan secara biologis di antara nenek moyang manusia dengan binatang.

4) Ilmu pengetahuan yang benar dan usaha untuk mendapatkan pengetahuan yang benar, tidak akan pernah menolak Alkitab dengan memakai "bukti alamiah." Melainkan akan selalu berpegang teguh pada otoritas mutlak dari Alkitab dan menafsirkan bukti ilmiah yang seakan-akan bertentangan dengan Alkitab dengan terang Alkitab.

5) Adanya kesamaan di antara binatang-binatang yang berbeda tidak menunjuk kepada kesamaan nenek moyang melainkan kepada kesamaan bahwa mereka diciptakan oleh satu Pencipta. Sebagaimana hasil karya lukisan seorang artis saling mencerminkan satu dengan yang lain, demikian juga berbagai macam pekerjaan Allah saling mencerminkan satu dengan yang lain, oleh karena semuanya merupakan ciptaan ilahi.

Bukti dari dunia luar

6) Banyak ilmuwan Kristen yang terkemuka mengambil bukti ilmiah yang sama, yang sudah dipergunakan untuk membuktikan evolusi, ternyata mereka tiba pada kesimpulan yang berbeda.

7) Bukti untuk evolusi jauh daripada tuntas atau cukup.

Bukti dari pengalaman pribadi

8) Orang percaya yang mengenal Allah, menyadari bahwa ia bukan binatang, melainkan manusia yang diciptakan menurut gambar dan rupa Allah.

9) Orang percaya juga mengetahui secara pribadi bahwa Allahlah yang menguasai segala sesuatu, bukan kebetulan.

Tahap 3: Orang Kristen harus menunjukkan bahwa argumentasi ini tidak berbobot bagi orang tidak percaya oleh karena komitmen mereka kepada kemandirian.

b. Argumentasi Berdasarkan Kebodohan

Tahap 1: Harus diperlihatkan kepada orang tidak percaya kelemahan dari komitmen kepada kemandirian.

Tahap 2: Ada banyak pendekatan yang dapat dipergunakan untuk menjawab orang tidak percaya dalam hal evolusi.

Kita akan melihat beberapa penyajian dalam hal ini.

1) Perlihatkan kepada orang tidak percaya bahwa ia belum memiliki semua bukti-bukti yang menyokong atau yang melawan evolusi.

a) Kritiklah keabsahan dari sudut ilmu pengetahuan secara umum dalam hal-hal semacam ini.

b) Tunjukkan bahwa ilmuwan-ilmuwan yang percaya kepada evolusi, juga percaya pada hal-hal yang tidak dapat dibuktikan secara ilmiah (misalnya, dunia dikuasai oleh kebetulan; kesamaan membuktikan kesamaan dari nenek moyang).

c) Perlihatkan kepada orang tidak percaya bahwa para ilmuwan sampai sekarang belum dapat memberikan penjelasan yang cukup akan kurangnya bukti-bukti fosil untuk tahap-tahap yang seharusnya menghubungkan tahapan dari proses evolusi.

2) Lebih daripada itu, orang Kristen harus mengingatkan kepada orang tidak percaya bahwa para ilmuwan tidak mungkin dapat menyelidiki semua bukti yang ada, sehingga suatu hari mereka dapat berubah pendapat, seperti yang biasanya terjadi. Dengan alasan ini maka evolusi hanya dapat dikatakan suatu teori, bahkan oleh para pengikutnya, tidaklah heran kalau kita menemukan banyak teori mengenai evolusi.

3) Orang tidak percaya tidak dapat secara pasti menyanggah posisi orang Kristen, oleh karena pandangan mereka sangat tidak pasti.

Tahap 3: Tantanglah orang tidak pecaya dalam komitmen mereka kepada kemandirian.


Menaklukkan Segala Pikiran kepada Kristus -- Pelajaran 13 Pembelaan Iman (3) [Indeks 00000]

PELAJARAN 13 PEMBELAAN IMAN (3) [Daftar Isi 00004]
00068 A. Sanggahan-sanggahan yang Berkenaan dengan Dunia
00068 1. Asal Mula dari Dunia
00069 2. Akhir dari Dunia
00070 B. Sanggahan-sanggahan Mengenai Kebutuhan Iman
00071 1. Ketidakpastian Kristiani
00072 2. Kepastian Kekristenan

2. Akhir dari Dunia

Bersamaan dengan sanggahan mengenai asal mula dunia, orang tidak percaya juga menolak pandangan kristiani akan akhir jaman. Sering kali orang tidak percaya mengolok-olok orang Kristen dengan mengatakan: "Mengapa saya harus percaya bahwa suatu hari akan ada penghakiman?"

a. Argumentasi berdasarkan kebenaran

Tahap 1: Pandangan kristiani akan akhir jaman ditentukan oleh komitmennya kepada Kristus.

Tahap 2: Ada banyak cara untuk berargumentasi berdasarkan kebenaran berkenaan dengan penghakiman terakhir. Kita akan menyebutkan dua hal saja.

Bukti dari Alkitab

1) Alkitab menyatakan secara terbuka bahwa akan datang suatu penghakiman (Mat 25:1 dan seterusnya; Ibr 9:27).

2) Alkitab memberikan banyak sekali contoh saat-saat di mana Allah menghakimi manusia, sebelum merasakan penghakiman yang akan datang.

Bukti dari dunia luar

3) Sistem dari dunia bergerak menuju perwujudan/pelaksanaan dari berkat dan penghakiman.

Bukti dari pengalaman pribadi

4) Orang percaya tiba pada keyakinan akan realitas penghakiman di masa yang akan datang, pada waktu ia pertama percaya kepada Kristus.

Tahap 3: Alasan dari bukti-bukti ini tidak meyakinkan bagi orang tidak percaya oleh karena komitmen mereka kepada kemandirian.

b. Argumentasi Berdasarkan Kebodohan

Tahap 1: Komitmen kepada kemandirian tidak dapat didukung.

Tahap 2: Posisi konflik tertentu dari orang tidak percaya harus diperlihatkan sebagai sia-sia dan menghancurkan dirinya sendiri.

Posisi yang mengklaim kepastian yang mutlak

"Tidak ada penghakiman sebab tidak ada kehidupan setelah kematian."

1) Orang tidak percaya belum memiliki cukup bukti untuk mendukung atau menentang ide dari kehidupan setelah kematian, khususnya berdasarkan penemuan orang tidak percaya yang terakhir pernah mendekati kematian dan kemudian sehat lagi.

2) Dalam hal ini orang tidak percaya hanya menebak bahwa tidak ada kehidupan setelah kematian. Dia belum mati dan dia tidak dapat menyelidiki semua hal dan bukti-bukti berkenaan dengan hal ini.

"Tidak akan ada penghakiman sebab manusia akan mengalami neraka dalam dunia ini."

1) Harus diperlihatkan kepada orang tidak percaya bahwa ia tidak dapat memberikan bukti yang cukup untuk berpegang kepada pandangan ini dengan pasti.

2) Lebih daripada itu, oleh karena keterbatasan pengetahuannya, orang tidak percaya tidak dapat menentukan penghukuman macam apa yang layak diberikan bagi orang yang tidak percaya.

"Tidak ada penghakiman, hanya bencana yang tidak dapat dielakkan yang disebabkan oleh peperangan, polusi, atau kepadatan penduduk yang melampaui batas."

1) Orang tidak percaya tidak memiliki pengalaman yang cukup untuk menolak dengan pasti bahwa Allah berkuasa atas dunia, untuk menjaga kehancuran atau bencana yang terjadi atas dunia.

2) Bahkan kalaupun orang tidak percaya, pandangannya tidak akan menghapuskan pandangan dari orang Kristen.

"Tidak akan ada penghakiman, oleh karena manusia akan mencapai utopia."

1) Tunjukkan kepada orang tidak percaya bahwa mereka tidak memiliki apa- apa selain iman buta bahwa itu adalah benar. Dia tidak dapat mendapatkan kepastian mengenai hal ini.

2) Ingatkan orang tidak percaya akan bukti keberdosaan manusia yang bertolak belakang dengan ide dari utopia.

3) Perlihatkan kepada orang tidak percaya bahwa ia tidak dapat memiliki kepastian akan semua itu oleh karena dia tidak mempunyai pengalaman yang tuntas dalam hal ini.

Posisi yang mengklaim ketidakpastian yang mutlak

"Tidaklah mungkin untuk mengetahui akan peristiwa-peristiwa di balik kubur."

1) Harus diperlihatkan pada orang tidak percaya, bahwa pernyataannya ini merupakan pandangan yang berdasarkan kepastian yang mutlak dalam hal-hal yang terjadi setelah kematian.

2) Orang tidak percaya tidak dapat membuat pernyataan ini, apabila hal itu adalah benar. Apabila kita tidak dapat mengetahui apa-apa mengenai kehidupan setelah kematian, ini berarti kita tidak dapat menyatakan bahwa kita tidak dapat mengetahui apa-apa.

Sangatlah jelas bahwa orang tidak percaya tidak memiliki dasar apapun juga di mana di atasnya ia dapat menyanggah konsep kristiani akan penghakiman yang akan datang. Hanya pandangan kristiani yang selalu dapat dipertahankan.


Menaklukkan Segala Pikiran kepada Kristus -- Pelajaran 13 Pembelaan Iman (3) [Indeks 00000]

PELAJARAN 13 PEMBELAAN IMAN (3) [Daftar Isi 00004]
00068 A. Sanggahan-sanggahan yang Berkenaan dengan Dunia
00068 1. Asal Mula dari Dunia
00069 2. Akhir dari Dunia
00070 B. Sanggahan-sanggahan Mengenai Kebutuhan Iman
00071 1. Ketidakpastian Kristiani
00072 2. Kepastian Kekristenan

B. Sanggahan-sanggahan Mengenai Kebutuhan Iman

Injil kristiani adalah suatu berita yang menuntut iman dari orang yang tidak percaya. Di satu pihak, iman kristiani menuntut akan keyakinan yang pasti akan komitmen pada semua kebenaran yang diwahyukan oleh Allah. Kita harus sepenuhnya meyakini apa yang telah dikatakan oleh Allah. Di pihak lain, iman kristiani menuntut pengakuan akan keterbatasan kita, oleh karena itu dengan rendah hati kita perlu mempercayai Allah akan segala sesuatu yang belum diwahyukan atau yang tidak kita mengerti. Orang Kristen mengakui bahwa pemisahan antara Pencipta dan ciptaan menyebabkan kita bergantung dalam ketidakpastian.

Oleh karena itu Injil menuntut suatu hubungan yang harmonis dari kepastian dan ketidakpastian. Sebagai akibatnya, kebutuhan akan iman sering kali disanggah oleh orang tidak percaya yang terperangkap dalam cara berpikir mereka, yaitu kepastian yang mutlak dan ketidakpastian yang mutlak. Sehubungan dengan penolakan mereka akan Allah, mereka tidak dapat memiliki keyakinan dari kemampuan manusia untuk mengetahui sesuatu. Dilema ini tidak dapat dielakkan oleh mereka. Satu-satunya cara bagi orang tidak percaya untuk menanggulangi kesulitan ini adalah dengan cara mengklaim kepastian atau ketidakpastian, dan mengabaikan keyakinan yang berlawanan dengan apa yang mereka yakini. Akibatnya, orang tidak percaya dapat menyanggah pandangan iman kristiani dengan dua cara: 1) Dengan mengklaim dengan kepastian yang mutlak, mereka akan menyanggah ketidakpastian kristiani. 2) Dengan mengklaim bahwa manusia harus mutlak tidak pasti, mereka akan menyanggah kepastian kristiani. Kita akan berhubungan dengan setiap sanggahan yang mereka pakai sebagai titik tolak dari setiap sanggahan mereka akan kebenaran kristiani.


Menaklukkan Segala Pikiran kepada Kristus -- Pelajaran 13 Pembelaan Iman (3) [Indeks 00000]

PELAJARAN 13 PEMBELAAN IMAN (3) [Daftar Isi 00004]
00068 A. Sanggahan-sanggahan yang Berkenaan dengan Dunia
00068 1. Asal Mula dari Dunia
00069 2. Akhir dari Dunia
00070 B. Sanggahan-sanggahan Mengenai Kebutuhan Iman
00071 1. Ketidakpastian Kristiani
00072 2. Kepastian Kekristenan

1. Ketidakpastian Kristiani

Banyak cara yang diajukan oleh orang tidak percaya untuk mempertanyakan ketidakpastian kristiani, dari sudut kepastian yang dimiliki oleh mereka. Biasanya, orang tidak percaya akan berpikir bahwa iman itu tidak masuk akal dan tidak dapat diterima oleh akal budi. Dia yakin bahwa dia tidak dapat menerima kekristenan oleh karena terlalu banyak hal yang harus mereka terima dengan iman. Apabila kekristenan tidak menuntut penerimaan yang melampaui pengertian dan melampaui akal budi manusia, maka dia akan bersedia untuk menjadi orang Kristen. Oleh karena itu sampai saat ini ia akan bertanya, "Mengapa saya harus menerima kekristenan? Iman adalah terlalu naif."

a. Argumentasi berdasarkan kebenaran

Tahap 1: Orang Kristen harus mengakui bahwa pandangannya akan iman berakar pada komitmennya kepada Kristus.

Tahap 2: Argumentasi berdasarkan kebenaran yang melawan segala bentuk dari sanggahan semacam ini adalah berdasarkan pada pandangan kristiani akan ketidakyakinan.

Bukti dari Alkitab

1) Ada hal-hal yang disembunyikan dari manusia (Ula 29:29).

2) Hanya Allah sendiri yang mengetahui segala sesuatu (Maz 33:13-15; 139:2-12; 147:5; 2Ta 16:9; Yer 17:10).

3) Allah dapat dan harus dipercaya dalam hal-hal tersebut. Allah telah mewahyukan hal-hal yang sepertinya tidak dapat dijelaskan dan tidak dapat didukung oleh hikmat manusia. Tetapi hal-hal yang tidak diketahui oleh kita, diketahui secara sempurna oleh Allah dan kita dapat mempercayai kemampuan-Nya untuk mengerti dengan tepat akan segala sesuatu.

Bukti dari luar

4) Sejarah dari penuntutan manusia akan pengetahuan mengemukakan contoh- contoh dari keterbatasan manusia, sehingga manusia tidak mampu untuk memiliki pengetahuan yang sempurna, hal ini menyatakan kebutuhan manusia akan Allah Yang Maha Tahu yang dinyatakan oleh Alkitab.

Bukti dari pengalaman pribadi

5) Ketika seseorang menjadi Kristen, ia disadarkan akan ketidakmampuan mereka untuk mengetahui segala sesuatu dan akan kebutuhan mereka untuk mempercayai Allah dalam hal-hal yang tidak dapat diketahui.

Tahap 3: Harus diperlihatkan kepada orang tidak percaya bahwa ia tidak dapat menerima bukti-bukti ini oleh karena komitmen mereka kepada kemandirian.

b. Argumentasi Berdasarkan Kebodohan

Tahap 1: Harus diperlihatkan bahwa komitmen orang tidak percaya itu tidak berdasar.

Tahap 2: Melalui argumentasi berdasarkan kebodohan harus diperlihatkan kepada orang tidak percaya bahwa pandangannya akan iman adalah saling berkontradiksi.

1) Harus diperlihatkan kepada orang tidak percaya bahwa oleh karena ia tidak dapat mengetahui segala sesuatu, maka ia sendiri harus memiliki iman yang buta untuk menyanggah ke-Kristenan.

2) Keteguhan orang tidak percaya untuk melawan, pada dasarnya berdasarkan pada asumsi iman.

3) Orang tidak percaya menyanggah pandangannya sendiri apabila ia menyanggah kekristenan oleh karena kekristenan membutuhkan iman. Pada kenyataannya, oleh karena iman kristiani bersandar pada Allah, dan tidak buta melainkan pasti, maka sanggahan orang tidak percaya hanya dapat diterapkan kepada posisi mereka sendiri yang memiliki iman buta.

Tahap 3: Orang tidak percaya harus ditantang untuk meninggalkan komitmen mereka kepada kemandirian.


Menaklukkan Segala Pikiran kepada Kristus -- Pelajaran 13 Pembelaan Iman (3) [Indeks 00000]

PELAJARAN 13 PEMBELAAN IMAN (3) [Daftar Isi 00004]
00068 A. Sanggahan-sanggahan yang Berkenaan dengan Dunia
00068 1. Asal Mula dari Dunia
00069 2. Akhir dari Dunia
00070 B. Sanggahan-sanggahan Mengenai Kebutuhan Iman
00071 1. Ketidakpastian Kristiani
00072 2. Kepastian Kekristenan

2. Kepastian Kekristenan

Orang tidak percaya sering kali menyanggah tuntutan kristiani akan iman dari posisi ketidakpastian yang mutlak. Dalam banyak hal orang tidak percaya menolak untuk percaya kepada Kristus, oleh karena itu harus percaya dengan pasti. Sedangkan orang tidak percaya yakin bahwa tidak mungkin untuk secara pasti meyakini akan ajaran dari iman. Pada dasarnya sanggahan orang tidak percaya adalah sebagai berikut: "Kamu terlalu dogmatis."

a. Argumentasi berdasarkan kebenaran

Tahap 1: Orang Kristen harus mengakui bahwa pandangannya berakar pada komitmen kepada Allah.

Tahap 2: Ada beberapa dasar argumentasi yang tepat untuk kasus ini.

Bukti dari Alkitab

1) Allah telah mewahyukan diri-Nya sendiri melalui Alkitab (2Ti 3:16).

2) Kristus mengklaim diri-Nya sebagai satu-satunya Pengantara kepada Allah Bapa (Yoh 14:6).

3) Kebenaran ilahi tetap untuk selama-lamanya (1Pe 1:24-25).

4) Apa yang telah Allah katakan harus diterima sebagai otoritas yang tanpa salah (Ula 29:29).

Bukti dari dunia luar

5) Dunia dapat dimengerti walaupun tidak dapat dimengerti secara keseluruhan oleh karena pengaturan Allah dan pembentukan yang dilakukan oleh Allah.

Bukti dari pengalaman pribadi

6) Orang percaya di dalam Kristus mengetahui bahwa apa yang telah dikatakan oleh Allah adalah benar dan harus diterima sebagai otoritas yang mutlak.

Tahap 3: Harus diperlihatkan kepada orang tidak percaya bahwa komitmen mereka kepada kemandirian menyebabkan argumentasi ini tidak berbobot di mata mereka.

b. Argumentasi Berdasarkan Kebodohan

Tahap 1: Perlihatkan kepada mereka bahwa komitmen kepada kemandirian tidak dapat dibenarkan.

Tahap 2: Kedudukan dari orang tidak percaya adalah saling menggugurkan diri sendiri dan saling berlawanan dengan dirinya sendiri.

1) Harus diperlihatkan kepada orang tidak percaya bahwa ia tidak dapat menghasilkan cukup bukti untuk mengetahui secara pasti bahwa kekristenan adalah terlalu dogmatik.

2) Orang tidak percaya juga terlalu dogmatik apabila ia menuduh orang percaya terlalu dogmatik. Akibatnya dia menyanggah akan posisinya sendiri.

3) Orang tidak percaya berdedikasi kepada suatu posisi yang tidak pasti, dan kepastian yang didasarkan kepada iman yang buta.

Tahap 3: Orang tidak percaya harus ditantang untuk meninggalkan komitmen mereka kepada kemandirian, yang telah menempatkan mereka kepada dilema semacam ini.

Meskipun orang-orang tidak percaya akan menolak iman kristiani berdasarkan sudut pandang mereka akan kepastian yang mutlak dan ketidakpastian yang mutlak, maka sebenarnya mereka bertolak belakang dengan dirinya sendiri apabila mereka melakukan hal itu.

Pertanyaan-pertanyaan Sebagai Bahan Evaluasi:

  1. Coba jelaskan tiga tahap dalam berargumentasi berdasarkan kebenaran dan kebodohan?
  2. Bagaimana saudara dapat berargumentasi berdasarkan kebenaran untuk: a. Asal mula dari dunia? b. Akhir dari dunia? c. Kepastian dari iman. d. Ketidakpastian dari iman.
  3. Bagaimana saudara dapat berargumentasi berdasarkan ketidaktahuan melawan sanggahan-sanggahan sebagai berikut:
    1. "Evolusi membuktikan bahwa kekristenan adalah tidak benar."
    2. "Tidak akan ada penghakiman."
    3. "Kekristenan adalah terlalu naif."
    4. "Kekristenan adalah terlalu dogmatik."


Menaklukkan Segala Pikiran kepada Kristus -- Pelajaran 14 Sebuah Perumpamaan Berapologetika [Indeks 00000]

PELAJARAN 14 SEBUAH PERUMPAMAAN BERAPOLOGETIKA [Daftar Isi 00004]
00074 Pelajaran 14 Sebuah Perumpamaan Berapologetika (lanjutan 1)
00075 Pelajaran 14 Sebuah Perumpamaan Berapologetika (lanjutan 2)
00076 Pelajaran 14 Sebuah Perumpamaan Berapologetika (lanjutan 3)
00077 Pelajaran 14 Sebuah Perumpamaan Berapologetika (lanjutan 4)

Ada seorang laki-laki bernama Takberdaya. Pada waktu ia mendengar Injil, ia lalu menerima Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamat. Dengan penuh sukacita dan penuh semangat Takberdaya berkunjung kepada tetangga di sebelah rumahnya, yaitu Sipasti dan Siragutakbertuhan. Tuan dan Nyonya Takbertuhan dulunya merupakan kawan terdekat Takberdaya sebelum ia menjadi Kristen. Pada waktu Takberdaya sampai di pintu depan rumah Takbertuhan, dia teringat bahwa pada waktu yang lampau, malam-malam pertemuan mereka sering dipergunakan untuk mengolok-olok semua tetangga Kristen mereka. Takberdaya berharap bahwa Sipasti dan Siragu akan menemukan kehidupan baru di dalam Kristus yang telah diberikan dengan cuma-cuma oleh Tuhan. Sipasti dan Siragu telah mendengar apa yang telah terjadi pada diri Takberdaya, dan mereka bermaksud untuk merubah pikiran Takberdaya. Konfrontasi di antara mereka pun tidak dapat dielakkan. Takberdaya berusaha untuk memberitahu Takbertuhan akan kebutuhan mereka untuk diselamatkan, tetapi Sipasti dan Siragu selalu memotong setiap pembicaraannya dengan sanggahan.

"Kamu tidak sungguh-sungguh percaya bahwa agamamu benar, bukan?" kata Sipasti. "Percakapan agamawi ini sangat menggelikan. Kamu dan saya tahu bahwa kekristenan merupakan suatu kepercayaan yang tidak ilmiah. Takberdaya! Kamu tentu tidak mengharapkan saya untuk percaya sesuatu yang tidak dapat dibuktikan."

Takberdaya sangat terkejut, sebab dia sendiri tidak memiliki kesulitan sebanyak itu pada waktu ia mendengar Injil, "Mungkin itu semua hanya oleh karena kekerasan hati dari Sipasti," pikir Takberdaya dalam hatinya. Siragu ternyata tidak lebih baik dalam reaksinya terhadap apa yang dikatakan oleh Takberdaya.

"Begini Takberdaya, saya tahu kamu tulus dan bermaksud baik, tetapi menurut saya kita sebenarnya tidak dapat pasti dalam hal agama. Ada ribuan agama di dalam dunia ini. Kita tidak dapat menentukan yang mana yang lebih baik daripada yang lain," kata Siragu. "Kamu sangat sombong, kalau kamu mengatakan bahwa kita harus percaya kepada Yesus untuk dapat bersekutu dengan Allah. Pemikiranmu terlalu sempit. Kalau saya, saya akan berusaha untuk lebih rendah hati."

Tanggapan Siragu membuat Takberdaya berpikir: "Mungkin saya tidak menyelidiki kekristenan dengan cukup teliti sebelum menyerahkan hidup saya kepada Kristus. Rupanya saya terlalu naif. Dan saya terlalu dogmatis." Lalu Takberdaya meninggalkan Takbertuhan dengan putus asa dan penuh kebingungan.

Dalam perjalanan pulang, Takberdaya bertemu dengan teman Kristennya yang baru, yang bernama Pencarifakta. Pencarifakta selalu membawa buku-buku dan kertas- kertas ke mana pun ia pergi. Sebab ia selalu berpikir: "Siapa tahu ada fakta- fakta baru yang telah diketemukan." Ketika Takberdaya menceritakan pengalamannya. Pencarifakta sangat simpati, oleh karena ia pun pernah memberitakan Injil kepada kawannya dan kecewa karena kawannya menolak Injil yang ia beritakan. Pencarifakta berkata: "Penyebab dari kegagalanmu adalah kurangnya peluru untuk mendukung kesaksianmu. Kamu membutuhkan fakta-fakta untuk meyakinkan orang tidak percaya." Kemudian keduanya bicara cukup panjang lebar mengenai bukti-bukti yang mendukung kekristenan. Pencarifakta telah menemukan dan memiliki daftar yang panjang dari fakta-fakta dalam ilmu pengetahuan yang mendukung kekristenan. Takberdaya sangat tergerak dan kagum akan keteguhan yang dimiliki oleh Pencarifakta. Lalu dia mengundang Pencarifakta untuk ikut bersama dia kembali menjumpai suami istri Takbertuhan.


Menaklukkan Segala Pikiran kepada Kristus -- Pelajaran 14 Sebuah Perumpamaan Berapologetika [Indeks 00000]

PELAJARAN 14 SEBUAH PERUMPAMAAN BERAPOLOGETIKA [Daftar Isi 00004]
00074 Pelajaran 14 Sebuah Perumpamaan Berapologetika (lanjutan 1)
00075 Pelajaran 14 Sebuah Perumpamaan Berapologetika (lanjutan 2)
00076 Pelajaran 14 Sebuah Perumpamaan Berapologetika (lanjutan 3)
00077 Pelajaran 14 Sebuah Perumpamaan Berapologetika (lanjutan 4)

Pelajaran 14 Sebuah Perumpamaan Berapologetika (lanjutan 1)

Takbertuhan sangat gembira bertemu dengan Takberdaya lagi, dan mereka juga menerima Pencarifakta dengan senang hati. Pencarifakta diperkenalkan sebagai "orang Kristen yang mengetahui fakta-fakta." Hal ini sangat menyenangkan pasangan Takbertuhan sebab mereka pikir, sekarang mereka dapat mengerti pemikiran dari Takberdaya.

"Takberdaya mengatakan bahwa kalian bukan orang Kristen." Pencarifakta memulai pembicaraan. "Apakah ada alasan tertentu yang menyebabkan kalian tidak mau mempercayai Kristus? Saya telah menemukan banyak sekali fakta-fakta yang dapat membuat kekristenan masuk akal."

Sambil tersenyum Sipasti berkata: "Coba jelaskan mengapa kami harus percaya bahwa Allah ada." Pencarifakta mengambil daftar bukti-bukti akan keberadaan Allah dan mulai membacakannya dengan penuh kepastian kepada Sipasti: 1) Hampir setiap orang berpikir tentang Allah atau semacamnya. 2) Hukum sebab akibat memperlihatkan bahwa harus ada penyebab yang bersifat ilahi untuk dunia ini. 3) Keteraturan dari alam semesta ini menunjukkan kepada Allah sebagai Perancangnya.

Sipasti menunjuk ke lemari buku di ruangan itu dan berkata: "Tahukah engkau bahwa sudah cukup lama argumentasi kuno itu telah disanggah? Kamu tidak dapat membangun suatu kepercayaan akan keberadaan Allah hanya karena banyak orang yang percaya kepada hal itu. Orang-orang telah percaya banyak hal pada masa yang lalu, di mana kemudian terbukti mereka salah. Di samping itu, siapakah yang bisa berkata bahwa seluruh dunia ini harus ada penyebab yang bersifat ilahi? Hukum sebab akibat dapat diperdebatkan, dan kalau pun kita akui, maka hukum itu menunjuk kepada hal natural yang menjadi penyebabnya, bukan penyebab ilahi. Lebih dari itu, saya percaya bahwa rancangan dari dunia dapat terjadi oleh karena kebetulan atau usaha dari dewa-dewa, bukan hanya disebabkan oleh Allahmu! Apabila kamu tidak dapat memberikan argumentasi yang lebih dari itu, saya kuatir fakta-faktamu tidak terlalu meyakinkan, Pencarifakta."

Pencarifakta dengan rasa cemas berpaling kepada Siragu. Siragu pun mengutarakan pendapatnya: "Pencarifakta, saya tidak sepasti Sipasti, tetapi saya tahu bahwa argumentasimu tidaklah cukup. Sesungguhnya sangatlah sukar untuk mengetahui dengan pasti apakah Allah ada atau tidak ada. Saya melihat bukti-bukti yang mendukung dan melawan keberadaan Allah. Jadi saya pikir, kalau manusia mau jujur terhadap dirinya sendiri, seharusnya ia berdiam diri dalam hal ini." Pencarifakta agak kecewa mendengar tanggapan dari pasangan suami isteri Takbertuhan ini, tetapi dia belum menyerah.

Pencarifakta kemudian meneruskan argumentasinya: "Mari kita sekedar mengadakan pengandaian untuk berargumentasi apakah Allah ada." Siragu dan Sipasti menyetujuinya. Pencarifakta pun berkata: "Saya pikir Yesus adalah Allah yang datang dalam daging dan Alkitab adalah Firman Tuhan." Sipasti dan Siragu menanggapi: "Fakta-fakta semacam yang kamu miliki untuk mendukung pengakuan- pengakuan itu?" Pencarifakta segera menyodorkan alasannya: "Yesus mengklaim diri-Nya sebagai Allah dan Dia bukan seorang gila dan juga bukan seorang pembohong. Jadi, Dia pasti Allah."

Sipasti tidak tahan lagi untuk tetap berdiam diri: "Tunggu dulu Pencarifakta, saya bukan orang gila dan saya bukan pembohong, tetapi kalau saya yakin bahwa saya adalah Allah dan saya mengatakannya, itu kan tidak membuktikan saya adalah Allah. Lagi pula ahli-ahli sejarah yang terkenal memperdebatkan apakah Yesus pernah hidup di dunia ini, dan kalau Dia pernah hidup di dunia ini, apakah Dia benar-benar pernah mengklaim diri-Nya sebagai Allah. Kamu tidak dapat membuktikan bahwa Yesus adalah Allah berdasarkan klaim-Nya. Kamu harus mencari fakta-fakta yang lebih baik, Tuan Pencarifakta."

"Bagaimana dengan kebagkitan-Nya, bukankah kubur yang kosong menyatakan bahwa Dia adalah Allah?" Pencarifakta masih tidak mau menyerah. Sipasti membantah: "Begini Pencarifakta, dibutuhkan lebih banyak lagi fakta-fakta yang dapat kamu berikan kepada saya, untuk membuat saya yakin bahwa Yesus telah dibangkitkan. Saya yakin dengan pasti bahwa ada penjelasan yang lebih baik untuk itu daripada menyatakan bahwa Yesus adalah Allah."

Kini giliran Siragu mengemukakan pendapatnya: "Saya harus tidak setuju lagi dengan dirimu dalam hal ini, Pencarifakta. Mitos-mitos dari agama-agama sangat banyak dan tidak masuk akal. Oleh karena itu tidak mungkin untuk dapat mengetahui yang mana yang benar. Agak sedikit ngotot, Pencarifakta berkata: "Alkitab mengatakan bahwa semua itu adalah benar dan saya dapat membuktikan bahwa Alkitab itu patut dipercaya. Tidak ada kontradiksi di Alkitab. Alkitab telah dibuktikan benar oleh ahli-ahli sejarah dan ilmuwan-ilmuwan. Bahkan Alkitab sendiri mengklaim dirinya sebagai Firman Allah."


Menaklukkan Segala Pikiran kepada Kristus -- Pelajaran 14 Sebuah Perumpamaan Berapologetika [Indeks 00000]

PELAJARAN 14 SEBUAH PERUMPAMAAN BERAPOLOGETIKA [Daftar Isi 00004]
00074 Pelajaran 14 Sebuah Perumpamaan Berapologetika (lanjutan 1)
00075 Pelajaran 14 Sebuah Perumpamaan Berapologetika (lanjutan 2)
00076 Pelajaran 14 Sebuah Perumpamaan Berapologetika (lanjutan 3)
00077 Pelajaran 14 Sebuah Perumpamaan Berapologetika (lanjutan 4)

Pelajaran 14 Sebuah Perumpamaan Berapologetika (lanjutan 2)

Sipasti dengan cepat menanggapi: "Tapi itu tidak berarti apa-apa bagi saya. Oleh karena saya pikir di Alkitab banyak sekali terdapat kontradiksi. Coba jelaskan pada saya logikanya dari Yesus adalah manusia dan pada saat yang sama juga Allah! Selain itu banyak lagi catatan-catatan yang berotoritas yang mengatakan bahwa ada perbedaan yang jelas di antara sejarah, ilmu pengetahuan, dan Alkitab. Siragu menyimpulkan: "Saya yakin kamu bermaksud baik tetapi rupanya kamu belum dapat memberikan argumentasi yang meyakinkan."

Takberdaya lalu angkat bicara: "Pencarifakta, ternyata kamu sama takberdayanya seperti saya. Saya pikir kamu benar-benar tahu bagaimana membela iman kepercayaanmu."

"Saya pikir juga begitu." Pencarifakta mengakui, lalu ia berkata: "Rupanya saya tidak pernah menemui orang tidak percaya yang dapat berpikir setangkas ini. Kita harus pulang dan mencari lebih banyak fakta-fakta yang dapat kita pakai." "Apa gunanya, kamu saja pergi sendiri untuk mencari fakta-fakta. Sebab ternyata fakta-fakta itu sangat sedikit membantu saya." Kata Takberdaya dengan kecewa. Lalu keduanya pun pamit kepada suami isteri Takbertuhan dan pulang dengan mengambil jalan yang terpisah.

Keesokan harinya Takberdaya bertemu dengan tetangganya, seorang Kristen yang bernama Imansaja. Setelah mendengarkan penuturan dari Takberdaya tentang apa yang telah dialaminya tadi malam, lalu Imansaja menanggapi: "Tentu saja itu yang terjadi, si Pencarifakta telah mengambil cara yang salah. Memang kita tidak dapat berargumentasi dengan orang tidak percaya untuk membawa dia kepada iman. Yang hanya dapat kita lakukan adalah memberitakan Injil dan menuntut mereka untuk percaya."

Takberdaya menyadari bahwa apa yang dikatakan Imansaja memang ada benarnya. Semua fakta-fakta Pencarifakta ternyata tidak dapat meyakinkan suami isteri Takbertuhan. "Mari kita ke rumah Takbertuhan untuk melihat apakah caramu lebih baik dari cara Pencarifakta," ajak Takberdaya. Lalu pergilah mereka berdua untuk berhadapan dengan pasangan Takbertuhan.

"Bapak dan ibu Takbertuhan, saya ingin kalian berkenalan dengan Imansaja," Takberdaya memperkenalkan temannya. Saat itu pasangan Takbertuhan sudah curiga pada semua teman-teman Takberdaya, tetapi mereka tidak mau dianggap tidak sopan, oleh karena itu mereka terima kedua tamunya dengan setengah hati.

Imansaja mulai menjelaskan iman kepercayaannya kepada Kristus: "Saya ingin kalian melupakan apa yang telah dikatakan oleh Pencarifakta kemarin. Sebab adalah salah untuk membuktikan kekristenan kepada kalian dengan menggunakan bukti-bukti. Kekristenan memang tidak masuk akal, sebab kekristenan semata-mata adalah masalah iman. Kalian perlu mengetahui bahwa pada dasarnya ilmu pengetahuan dan pemikiran manusia adalah jahat. Untuk mengenal Allah kalian hanya harus percaya apa yang dikatakan oleh Alkitab dengan iman. Sebab apabila kita mencoba memikirkan secara mendalam mengenai klaim-klaim dari Kristus maka kita tidak akan pernah mengenal kebenaran."

"Lalu kenapa saya harus percaya kepada Alkitab?" tanya Sipasti. "Kamu harus percaya kepada Alkitab, sebab salah kalau kamu tidak mempercayainya," jawab Imansaja. "Maksud kamu, kami harus mengorbankan pemikiran kami?" tanya Sipasti. "ya!" jawab Imansaja dengan tegas. "Wah, saya tidak tahu apa pandangan Siragu, tapi kalau saya sih, saya yakin bahwa kalian sebenarnya tahu bahwa kekristenan itu tidak masuk akal, oleh karena itu kamu mengatakan bahwa pemakaian akal budi untuk mengerti kekristenan itu Salah," tanggap Sipasti dengan penuh keyakinan.

"Wah saya juga kelihatannya harus setuju dengan Sipasti, sebab kalau saya tidak dapat memakai akal budi saya untuk mengerti kekristenan, lalu bagaimana saya bisa memutuskan benar atau tidaknya? Sebab kalau saya berpikir berdasarkan pandanganmu, maka agama-agama lain sama benarnya dengan agama yang kamu percayai. Terus terang saya mengalami kesulitan untuk menerima pandangan Pencarifakta, namun pandangan kamu bukan sulit untuk diterima, tetapi benar- benar tidak mungkin diterima," Siragu menjelaskan pendapatnya.

Akhirnya dengan penuh kekecewaan Takberdaya menarik Imansaja untuk pulang. Siang harinya Takberdaya bertemu dengan Kristenteguh. Langsung saja pengalaman dengan pasangan Takbertuhan menjadi topik pembicaraan mereka berdua. "Kris, saya benar- benar kecewa, ternyata iman kekristenan itu tidak dapat dipertahankan kebenarannya," keluh Takberdaya. "Tunggu dulu, kenapa kamu berkata begitu," potong Kristenteguh. "Sesungguhnya kekristenan dapat dipertahankan, persoalannya adalah kamu telah bertemu dengan orang-orang yang tidak tahu bagaimana cara yang benar dalam mempertahankan iman kekristenan. Alkitab memerintahkan kita untuk selalu siap untuk memberi jawab kepada siapa saja yang mempertanyakan iman kepercayaan kita (1Pe 3:15)," Kristenteguh meyakinkan Takberdaya.

"Saya tahu bahwa saya percaya kepada Kristus, tetapi pasangan Takbertuhan telah berhasil menghancurkan argumentasi dari Pencarifakta dan Imansaja," Takberdaya mengemukakan alasan kekecewaannya. "Ya, saya kenal kedua saudara itu. Mereka bermaksud baik dan telah berusaha dengan keras, tetapi cara mereka tidaklah alkitabiah. Saya tidak dapat menjamin bahwa pasangan Takbertuhan akan menjadi orang percaya, tetapi saya dapat menjanjikan bahwa pendekatan yang alkitabiah akan memberikan cukup banyak alasan bagi mereka untuk menerima pandangan Kristen. Dan saya yakin Pendekatan ini akan meneguhkan iman kepercayaanmu," Kristenteguh meyakinkan Takberdaya dengan penuh ketulusan.

"Kris, saya terus terang sekarang ini sangat sukar untuk mempercayaimu, tetapi saya pikir tidak ada salahnya kalau memberimu kesempatan juga. Apa sih pendekatanmu?" tanya Takberdaya. Kris lalu menjelaskan kepada Takberdaya mengenai pembelaan iman yang alkitabiah dan bagaimana pendekatan ini akan menghasilkan suatu bentuk pembicaraan yang berbeda. "Pertama, kamu harus menyadari bahwa argumentasi Pencarifakta dan Imansaja itu ada benarnya. Pencarifakta benar pada waktu ia mengatakan bahwa kekristenan dapat dipertahankan secara rasional. Berargumentasi secara rasional dengan orang tidak percaya merupakan bagian yang penting dalam pembelaan alkitabiah. Imansaja juga telah mengemukakan hal yang penting. Dia mengandalkan otoritas Alkitab sebab memang manusia tidak memiliki otoritas untuk menghakimi Firman Allah. Manusia seharusnya menerima Firman Tuhan yang diberitakan kepadanya tanpa mempertanyakan otoritas-Nya."

"Namun bagaimana ke dua cara berpikir itu dapat dipertemukan?" tanya Takberdaya tak mengerti. "Alkitab menyediakan jawaban bagi pertanyaanmu! Di dalam Ams 26:4-5 dikatakan: 'Jangan menjawab orang bebal menurut kebodohannya, supaya jangan engkau sendiri menjadi sama dengan dia. Jawablah orang bebal menurut kebodohannya, supaya jangan ia menganggap dirinya bijak,' jawab Kris. "O, saya mengerti sekarang!" teriak Takberdaya kegirangan sebab dia melihat titik terang. "Di satu pihak kita menyajikan kebenaran dari Alkitab yang tidak dapat dipertanyakan, sehingga kita menjaga diri kita untuk tidak menjadi sama seperti orang tidak percaya. Dan di pihak lain, kita berargumentasi dan berusaha untuk meyakinkan orang tidak percaya dari sudut pandangnya. Benar?" Takberdaya berusaha untuk mengerti maksud Kris. "Hampir, tanggap Kris. Kita menggunakan pemikiran dan argumentasi dalam keduanya, namun kita berargumentasi berdasarkan kebenaran dulu dan kemudian kita berargumentasi berdasarkan kebodohan. Kita menyajikan jawaban yang alkitabiah dan bukti-bukti dari sudut pandang Kristen, dan kita berusaha untuk menghancurkan keyakinan orang tidak percaya dengan menggunakan pandangannya untuk melawan dia," Kris menyelesaikan tanggapannya. "Wah, mari kita segera ke rumah Takbertuhan!" ajak Takberdaya dengan tidak sabar.

Setibanya Takberdaya dan Kristenteguh di rumah Takbertuhan, Sipasti dan Siragu berkata bahwa mereka bersedia untuk berbicara mengenai kekristenan satu kali lagi dengan teman-teman Takberdaya. "Takberdaya mengatakan pada saya bahwa kalian berdua mempunyai kesulitan untuk mempercayai kebenaran dari kekristenan," Kris memulai pembicaraan, lalu ia meneruskan dengan bertanya: "apakah ada alasan khusus yang membuat kalian tidak mau percaya Kristus sebagai Tuhan dan Juruslamat?" "Tentu saja ada alasannya," jawab Sipasti dengan tegas, lalu dia kemukakan alasannya: "saya tidak percaya bahwa Allah itu ada, apalagi segala hal yang dikatakan mengenai Yesus dan salib. Kenapa saya harus percaya akan keberadaan Allah?"


Menaklukkan Segala Pikiran kepada Kristus -- Pelajaran 14 Sebuah Perumpamaan Berapologetika [Indeks 00000]

PELAJARAN 14 SEBUAH PERUMPAMAAN BERAPOLOGETIKA [Daftar Isi 00004]
00074 Pelajaran 14 Sebuah Perumpamaan Berapologetika (lanjutan 1)
00075 Pelajaran 14 Sebuah Perumpamaan Berapologetika (lanjutan 2)
00076 Pelajaran 14 Sebuah Perumpamaan Berapologetika (lanjutan 3)
00077 Pelajaran 14 Sebuah Perumpamaan Berapologetika (lanjutan 4)

Pelajaran 14 Sebuah Perumpamaan Berapologetika (lanjutan 3)

"Baiklah saya mulai dengan menyatakan bahwa alasan-alasan saya untuk percaya kepada Allah berdasar pada komitmen saya pada Kristus. Waktu saya menjadi seorang Kristen saya memiliki kesadaran akan keberadaan Allah yang tidak saya miliki sebelumnya," Kris memulai pembicaraannya. "Ya, tetapi pernyataan anda tidak menjawab pertanyaan saya," potong Sipasti. "Tunggu dulu, saya belum selesai! Saya percaya Allah ada berdasarkan kesaksian dari Alkitab. Sesungguhnya saya tidak dapat membayangkan keberadaan dunia yang seperti ini terpisah dari aktivitas penciptaan Allah. Ke mana pun saya memandang, saya selalu melihat pekerjaan Allah dan kuasa-Nya," Kris melanjutkan penjelasannya.

"Kalau itu argumentasi terbaik yang dapat kamu sodorkan, ternyata kamu tidak lebih baik dari Imansaja. Kamu mengharapkan saya untuk percaya sesuatu yang tidak masuk akal," Sipasti menyatakan ketidakpuasannya. Kemudian Kristenteguh menanggapi dengan penuh pengertian: "Pernyataanmu dapat saya mengerti, namun dari sudut pandang saya sebagai orang Kristen, percaya kepada Allah adalah sangat masuk akal. Tetapi saya tetap tidak heran kalau kamu tidak percaya, sebab kamu telah mendedikasikan cara berpikirmu pada kemandirian." "Saya tidak mengerti maksudmu, saya hanya melihat pada fakta dan mengatakan apa adanya dari yang saya lihat," sanggah Sipasti.

"Sipasti, saya mendedikasikan diri pada Firman Allah dan bergantung pada Allah untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan saya, tetapi kamu menyelidiki dan melihat segala sesuatu dengan tidak bergantung pada Firman Allah. Coba sekarang jelaskan pada saya mengapa kamu tidak percaya pada Allah?" tanya Kris.

"Oleh karena tidak ilmiah."

"Mengapa kamu pikir bahwa keharusan menurut patokan ilmiah merupakan jalan untuk mendapat kebenaran?"

"Sebab Itu satu-satunya pemikiran yang masuk akal." jawab Sipasti.

"Masuk akal untuk siapa?"

"Untuk saya!"

"Nah, kau telah menempatkan dirimu sebagai hakim yang berotoritas untuk memutuskan mana yang benar dan mana yang tidak benar, dan itulah sebabnya kamu tidak mau menerima sudut pandang kristiani," Kris membuktikan pernyataannya.

"Memang saya telah memutuskan berdasarkan pemikiran saya sendiri untuk menolak kekristenan, tetapi sebenarnya anda juga melakukan hal yang sama, anda telah memutuskan untuk mempercayainya berdasarkan keputusan dan pemilihanmu sendiri." Sipasti membela diri.

"Tidak, tidak sama!" sanggah Kris. "Setelah saya menjadi orang Kristen, saya mempelajari bahwa Allah yang memilih saya dan memungkinkan saya untuk percaya kepada-Nya. Jadi ternyata saya tidak memilih Dia berdasarkan kemandirian."

"Kamu katakan demikian berdasarkan apa yang dikatakan oleh Alkitab, dan menurut saya itu tidak benar. Nah, lagi-lagi kamu menentang pandangan kristiani berdasarkan kemandirianmu. Saya mau tanya sekarang, kenapa kamu berpikir secara mandiri, dan kamu pikir berdasarkan kemandirian itu kamu dapat mengetahui kebenaran tanpa harus menaklukkan diri pada Allah dan Firman-Nya?" Kris mempertanyakan pertanyaan Sipasti.

"Oleh karena saya pikir semua pembicaraan mengenai kebergantungan kepada Allah adalah tidak masuk akal."

"Ya, kamu katakan tidak masuk akal oleh karena kemandirianmu. Kamu menyimpulkan berdasarkan pemikiranmu sendiri."

"Lalu, apa salahnya?"

"Kamu belum menjelaskan dasar dari komitmenmu pada kemandirian. Kamu telah berargumentasi dalam lingkaran dengan mengatakan bahwa kamu percaya bahwa kamu mandiri oleh karena kamu memutuskannya secara mandiri. Sehingga apa pun yang kamu katakan, kamu tidak dapat membenarkan komitmen yang mendasari semua yang kamu percayai."

"Kamu kan juga begitu."

"Tidak! saya tidak mengklaim bahwa saya adalah otoritas yang tertinggi. Allah adalah otoritas tertinggi. Allah yang mendukung pernyataan-pernyataan saya. Saya tahu bahwa ini dilihat sebagai kebodohan dari sudut pandangmu, tetapi menurut saya sudut pandangmu adalah bodoh dan tidak konsisten, tidak konsisten bukan hanya pada pandangan saya tetapi juga pada pandangan kamu sendiri."

"Kenapa kamu berkata begitu?"


Menaklukkan Segala Pikiran kepada Kristus -- Pelajaran 14 Sebuah Perumpamaan Berapologetika [Indeks 00000]

PELAJARAN 14 SEBUAH PERUMPAMAAN BERAPOLOGETIKA [Daftar Isi 00004]
00074 Pelajaran 14 Sebuah Perumpamaan Berapologetika (lanjutan 1)
00075 Pelajaran 14 Sebuah Perumpamaan Berapologetika (lanjutan 2)
00076 Pelajaran 14 Sebuah Perumpamaan Berapologetika (lanjutan 3)
00077 Pelajaran 14 Sebuah Perumpamaan Berapologetika (lanjutan 4)

Pelajaran 14 Sebuah Perumpamaan Berapologetika (lanjutan 4)

"Komitmenmu pada kemandirian tidak berdasar dan kamu katakan kamu ingin berpikir secara ilmiah dan logis. Saya pikir ini kamu tidak akan terlepas dari dilema ini."

"Ya, saya melihat maksudmu. Tapi, saya tetap yakin bahwa kepercayaan kepada Allah tidak ilmiah, sebab tidak ada bukti-bukti untuk keberadaan Allah."

"Apakah kamu pernah menyelidiki ke semua tempat di jagad raya ini di setiap saat untuk mencari Allah?"

"Tidak pernah!"

"Kalau begitu kamu tidak dapat mengatakan secara pasti bahwa ilmu pengetahuan adalah berlawanan dengan kekristenan. Sebab kamu tidak dapat mengetahui semua bukti-bukti, jadi kamu tidak dapat yakin bahwa Allah tidak ada." "saya tahu bahwa ilmu pengetahuan telah menyatakan bahwa evolusi adalah benar dan Allah tidak dapat ada kalau evolusi itu benar."

"Evolusi hanyalah suatu teori, dan sebelum ilmuwan tahu segala sesuatu yang seharusnya diketahui. Kita tidak dapat mengerti secara tepat atau menyetujui klaim mereka. Jadi Sipasti, kamu tidak dapat memastikan klaim mereka. Sebenarnya, oleh karena kamu terbatas pada dirimu sendiri dan menolak untuk bergantung pada Allah, maka terbukti bahwa kamu tidak dapat pasti dalam hal apapun juga. Kalau kamu ingin pasti akan sesuatu hal, maka kamu harus mengabaikan problema ini dan memiliki iman buta pada dirimu sendiri. Dan kamu tidak akan pernah sampai pada kepastian."

Siragu tidak dapat tinggal diam lagi: "Sipasti, ini yang saya mau kamu mengerti dari dahulu. Tetapi, Kris sama kasusnya dengan Sipasti, kamu juga tidak dapat memastikan pendapatmu. Sebab kita tidak akan dapat menemukan bukti-bukti yang cukup untuk mengetahui segala sesuatu dengan pasti, termasuk perdebatan mengenai keberadaan Allah. Kamu tidak akan pernah menemukan kepastian."

"Saya tidak setuju denganmu, Siragu. Saya tahu Allah ada sebab Allah telah berbicara melalui Firman-Nya. Dia mengetahui segala sesuatu dan kalau kita bergantung kepada Dia, maka saya dapat mengetahui sesuatu itu benar, walaupun saya tidak mengetahui segala sesuatu," Kris menanggapi.

"Ya, tetapi kita tidak dapat memastikan bahwa Allah benar-benar telah mewahyukan diri-Nya atau bahwa Dia ada. Saya pikir karena kita tidak dapat memastikan, maka kita tidak perlu membicarakan mengenai hal ini," Siragu merasa bahwa sebaiknya dia berada di posisi netral.

"Siragu, persoalan kamu adalah kamu ingin menjadi si peragu dan cari amannya, sehingga kamu tidak mau berpihak kemanapun juga. Tetapi, kamu sangat pasti bahwa kamu harus tidak pasti akan segala sesuatu. Kamu sebenarnya sama saja dogmatisnya dengan Sipasti."

"Saya tidak mengerti maksudmu, Kris."

"Kamu tidak mempunyai pengetahuan yang cukup untuk dapat memastikan bahwa kita harus tidak pasti akan segala sesuatu. Kamu tidak dapat memastikan bahwa kami tidak dapat mengetahui tentang Allah sampai kamu telah menyelidiki ke segala tempat dan tahu bahwa pengetahuan semacam itu tidaklah mungkin." Lalu Kris melanjutkan: "Kalian berdua sebenarnya melakukan hal yang sama dan melakukan kesalahan yang sama. Sipasti merasa pasti bahwa dia benar, tetapi dia tidak dapat memakai keterbatasan dan pengetahuannya yang tidak pasti sebagai dasar dari kepastiannya. Siragu pasti bahwa dia benar, tetapi dia tidak mempunyai dasar untuk mengetahui hal itu dengan pasti. Kalian berdua mengabaikan fakta yang begitu nyata untuk berpegang pada pandanganmu."

"Tetapi Kris, kamu harus mengakui bahwa ini yang terbaik yang dapat kita lakukan," Sipasti mengakui.

"Saya tidak setuju dengan pendapatmu," kata Kris. Lalu dia melanjutkan: "Kamu sebenarnya mempunyai pilihan untuk mengabaikan masalah ini, jadi gila, bunuh diri, atau menjadi orang Kristen. Kristus dapat menyelamatkanmu dari kesia-siaan ini. Dia dapat memberikan pengharapan dan arti dari kehidupan ini, kalau kamu mau untuk percaya akan kematian dan kebangkitan-Nya cukup untuk keselamatanmu. Serahkan dirimu untuk bergantung secara mutlak kepada-Nya."

"Wah, kamu telah mempertuhankan posisimu dengan baik sekali." Siragu mengakui. "Tetapi kami tidak berkeinginan menjadi orang Kristen."

"Injil telah ditawarkan kepadamu. Saya harap kamu akan mempertimbangkan klaim dari Kristus dengan serius. Di dalam Yoh 3:36 Yesus berkata: "Barangsiapa percaya kepada Anak, ia beroleh hidup yang kekal, tetapi barangsiapa tidak taat kepada Anak, ia tidak akan melihat hidup, melainkan murka Allah tetap di atasnya."

Ke Atas


sabdaspace.org Tentang Kami | Kontak Kami | Bukutamu | Link |

Laporan Masalah/Saran | Disclaimer | Hak Cipta 2005-2017 Yayasan Lembaga SABDA (YLSA) | E-mail: webmastersabda.org
Bank BCA Cabang Pasar Legi Solo - No. Rekening: 0790266579 - a.n. Yulia Oeniyati